Suasana saat itu begutu canggung. Secangkir kopi di cangkir sudah mulai mendingin, beberapa hidangan kecil lainnya sama sekali belum tersentuh sejak dihantarkan. Aruna menunduk. Sudah sejak tadi ia melakukannya, entah kenapa dirinya merasa begitu takut untuk mendongakkan kepala. Terlebih saat ia tahu jika sepasang paruh baya di depannya adalah orang tua Diandra. Wanita yang secara tidak langsung juga menjadi madunya, meski hanya berstatus siri. "Jadi, kau yang bernama Aruna?" wanita baya itu membuka suara. Penampilannya elegant dengan baju berwarna merah, rambutnya yang dipotong pendek menambah kesan itu. Terlebih aksesoris kalung juga cincin yang menempel di tubuhnya, kian menjelaskan status sosialnya yang tinggi. "Iya, Nyonya," jawab Aruna lirih. "Tidak perlu memanggilku Nyonya. Ka

