Wisnu membanting berkas ke arah meja dengan keras, menarik dasi yang terasa mencekik leher. "Kamu bisa kerja tidak?! Masa membuat laporan semudah itu tidak bisa juga!" bentuknya pada seorang karyawan. "Maafkan saya, pak," sahut karyawan itu menunduk. "Saya tidak mau tahu, laporan ini harus direvisi hari ini juga. Berikan lagi padaku sebelum pukul tiga, dan semuanya harus benar." Sang karyawan hanya mengangguk sebelum undur diri. Wisnu menghela napas, meletakkan kepala pada sandaran kursi dan meraup wajahnya sendiri. Kepalanya mendadak terasa berdenyut, pusing bukan main. Bukan hanya soal pekerjaan, melainkan juga soal urusan rumah tangganya. Ia masih tidak mengerti kemana arah tujuan rencana Diandra sebenarnya. Wisnu rasa ia sudah menuruti semua permintaan wanita itu, termasuk untuk

