08

1105 Words
Dehaman Chandra jadi suara pertama yang terdengar setelah beberapa saat. Baik Wisnu maupun Aruna sama-sama saking mengalihkan pandangan dengan raut berbeda. Aruna, gadis itu menghela napas gugup juga terbatuk kecil. Sementara Wisnu, pria itu tampak santai seolah tidak terjadi sesuatu. "Nah, karena kalian sudah benar-benar bertemu. Dan kau, Aruna. Kau juga sudah melihat soal surat kontrak perjanjian, jadi sekarang bisa kita lanjutkan ke tahap selanjutnya?" Aruna terdiam mendengar perkataan Chandra. Entah untuk yang keberapa kali, perasaan ragu itu hinggap di hatinya. Meski ia tahu apa yang ia lakukan saat ini takkan dipedulikan oleh orang tua juga keluarganya, namun perasaan ragu itu terus membuatnya resah. Pertanyaan sama yang terus muncul di kepalanya seolah seperti kaset rusak yang begitu sulit untuk diperbaiki. Apa yang ia lakukan saat ini sudah benar? Apa tindakannya bukanlah sebuah kesalahan? "Aruna? Ia terkejut saat tangan Chandra melambai di depan wajahnya. Gadis itu tergagap dan bertanya. " Ya?" "Bagaimana keputusan mu? Ini kesempatan terakhir untukmu mematangkan keputusan," ucap Chandra dengan senyum kecil. Belum sempat Aruna menjawab, celetuk ringan yang berasal dari Wisnu membuatnya menoleh ke arah pria itu dengan cepat. "Jika kau ragu cukup katakan tidak, dan kembalikan uang yang sudah kau gunakan untuk membayar hutang. Aku tidak butuh orang yang penuh dengan keragu-raguan seperti mu." Kesal. Aruna mendecih, gadis itu memberikan reaksi yang cukup berani pada pria yang berprofesi sebagai CEO itu. "Saya bukan orang yang suka meragu, lagipula keputusan saya tetap sama sedari awal. Saya menerima tawaran itu," sahut Aruna yakin. Tapi kemudian, terdengar kekehan kecil yang berasal dari Wisnu. Pria itu menutup mulutnya sejenak sebelum kemudian mengalihkan atensinya pada Aruna. "Kau yakin dengan perkataan mu? Tapi ku rasa ekspresi dan gerak tubuhmu mengatakan hal sebaliknya, nona." Skak mat! Aruna hanya bisa diam dengan ekspresi wajah kesal bukan main. Ia ingin mengelak tentu saja, tapi apa yang dikatakan Wisnu adalah kebenaran. "Ekhem! Bisa kita sudahi saja perdebatan ini? Lebih baik sekarang kalian berdua tanda tangani saja surat kontrak ini, aku lelah melihat kalian berdebat!" Chandra menyodorkan dua lembar kertas berisikan surat perjanjian. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini surat tersebut terlihat jauh lebih niat daripada sebelumnya. "Lalu surat apa yang ku tandatangani sebelumnya?" Aruna bertanya setelah selesai membubuhkan tanda tangan. Chandra tersenyum kecil, sambil menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak terasa gatal pria itu berkata. "Hanya sebagai simulasi dan tes untuk meyakinkan dirimu saja," jawabnya tertawa kecil. Aruna menganga tidak percaya. Ia menatap Chandra heran sambil berpikir. Apa pria ini benar-benar seorang tangan kanan CEO sekelas Wisnu? Atau, apa orang kaya melakukan hal ini pada semua kontrak kerja sama? Saat Aruna masih terlarut dengan pertanyaan dalam kepalanya, suara kursi yang ditarik membuatnya kembali sadar. Wisnu berdiri, pria itu melirik ke arah Aruna selama beberapa detik sebelum kembali fokus pada ponselnya. "Kau mau ke mana?" Chandra bertanya dengan wajah heran. Wisnu yang sebelumnya sibuk dengan ponselnya sendiri menoleh, ia memperhatikan Aruna selama beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan Chandra. "Diandra membutuhkan ku," jawabnya pendek. Kemudian pria itu melangkah pergi dengan acuh, ia bahkan tidak berpamitan pada dua orang lainnya yang hanya diam di tempat. "Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan anak itu. Sikapnya memang cukup kurang ajar dan tidak sopan, tapi dibalik itu dia benar-benar hanya bocah ingusan yang mudah sekali terbujuk oleh kata-kata," ucap Chandra. Aruna hanya diam, namun wajahnya jelas sekali menunjukkan raut ke-tidak percayaan. *** Sementara itu di tempat lain. Mobil hitam mengkilat yang dikendarai oleh Wisnu sampai di sebuah pelataran gedung bertingkat. Pria itu melangkah keluar sambil memakai kaca mata hitam. Ia melangkahkan kakinya dengan tegas, masuk ke dalam lift dan menekan angka delapan di sana. Pintu lift terbuka, di depan pintu sudah ada seorang wanita dengan pakaian rapi yang menyambut Wisnu. Keduanya berjalan beriringan, sampai di sebuah pintu berwarna abu-abu mereka masuk ke dalam dengan diam. Ruangan yang merupakan sebuah studio itu nampak sibuk dengan banyaknya orang yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka sendiri. Wisnu dan wanita di belakangnya terus berjalan dengan sesekali mengangguk pada beberapa orang yang menyapa mereka dengan hormat. Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sampai di sebuah ruangan dengan papan bertuliskan staff only. Tanpa ragu Wisnu membuka pintu tersebut, membuat empat orang yang ada di sana menoleh dengan serempak. Pria itu berjalan mendekat, lebih tepatnya ke arah seorang wanita dengan baju merah menyala yang juga tengah menatap ke arah si pria. "Siapa yang memberitahu mu?" tanya nya. Wisnu tidak lantas menjawab. Pria itu justru melepas kacamata hitamnya dan memberikan kode lewat sorot mata. Paham, wanita yang bersamanya sejak tadi, yang mana juga sebagai asisten pribadi sangat istri meminta tiga orang lainnya untuk keluar dari ruangan tersebut. Saat ini tersisa lah Wisnu dan juga Diandra. Keduanya hanya saling diam selama beberapa saat. Wisnu hanya terdiam pada salah satu kursi, sementara Diandra, wanita itu diam sembari memperhatikan sangat suami dari pantulan kaca rias di depannya. "Kali ini masalah apalagi yang kamu bikin?" ucapan Wisnu jadi hal pertama yang Diandra dengar. Nada bicara pria itu terdengar datar dan lirih, ia tahu jika suaminya itu tengah menahan kesal saat ini. "Kau tahu jelas apa yang membuatku melakukannya. Bukankah kau sudah mendengarnya sejak semalam?" balas Diandra sarkas. Wanita itu melipat tangannya di depan d**a, memperhatikan Wisnu dari cermin dengan mata memincing. Keduanya memang tengah terlibat sebuah adu argumen sejak kemarin. Pertengkaran keduanya dipicu lantaran Wisnu yang tanpa sengaja menyinggung soal keturunan di hadapan wanita itu, sedangkan Diandra sendiri enggan untuk memiliki anak. Ia bukannya benar-benar enggan untuk memiliki keturunan bersama Wisnu. Hanya saja pekerjaanya sebagai seorang model profesional mengharuskannya memiliki proporsi tubuh yang ideal dan cantik. Diandra berpikir, jika seandainya ia benar-benar mengandung dan melahirkan nantinya makan tubuh indah yang sudah susah payah ia jaga selama ini akan rusak. Tentu saja Diandra tidak ingin hal itu terjadi. Perjuangannya untuk bisa sampai seperti sekarang tidaklah mudah, ia tidak ingin menghancurkan semuanya hanya karena ia yang harus hamil dan melahirkan. Sebenarnya Wisnu sendiri tidak terlalu menuntut soal keturunan pada Diandra, pria itu mau untuk menunggu sampai sang istri merasa siap dan yakin untuk mengandung. Namun hal itu tidak berlaku bagi keluarga besarnya. Berkali-kali sang Ibu bertanya padanya soal Diandra yang belum juga hamil. Wanita baya itu teramat sering memberi nasehat padanya maupun Diandra untuk segera memiliki keturunan. Dan karena hal itulah setiap kali Wisnu ataupun orang tuanya tanpa sengaja menyinggung soal anak, maka pertengkaran antara Wisnu dan Diandra terjadi. Sampai pada puncaknya malam tadi. Keduanya kembali bertengkar, bahkan lebih hebat dari sebelumya. Hal itu terjadi lantaran Diandra yang mengatakan jika beberapa bulan ke belakang ia telah meminta tolong pada seseorang untuk mencari seorang yang bisa menjadi Ibu pengganti untuk memberikannya keturunan. Dan berkat kerja samanya dengan Chandra, maka terpilihlah Aruna, yang memang kebetulan memiliki titik lemah yang begitu mudah untuk dikendalikan oleh mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD