9

1085 Words
“Apa kau akan terus melanjutkan rencana gila mu, itu?” Wisnu bertanya dingin. Ekspresi pria itu datar dengan pandangan lurus ke arah sang istri. “Kenapa? Kau masih ingin terus memaksa ku untuk hamil dan melahirkan seorang anak? Bukannya dulu kau selalu mengatakan tidak apa jika kita tidak memiliki anak, kau bilang hidup bersama ku sudah lebih dari cukup,” balas Diandra santai. Dulu, lebih tepatnya sewaktu Wisnu melamar Diandra. Wanita itu pernah menyinggung soal keturunan, ia pernah mengatakan pada Wisnu jika mungkin saja mereka tidak akan memiliki anak setelah menikah nantinya, dan Wisnu menjawab jika ia tidak merasa keberatan dengan hal itu. Pria itu mengatakan jika ia tidak terlalu memikirkan soal keturunan, ia akan mengikuti pilihan Diandra jika memang dirinya tidak ingin atau mungkin saat itu Wisnu berpikir belum, ingin memiliki seorang anak. Namun keadaan berbalik setelah keduanya menikah selama beberapa waktu. Keluarga terus mendesak agar mereka lekas memiliki anak, dan dari sanalah pertengkaran juga perdebatan mereka dimulai. “Kita tidak bisa membahasnya di sini,” ucap Wisnu. Pria itu bangkit dan mendekati sang istri, menarik tangannya dan membawanya ke luar studio. “Kau gila! Apa yang kau lakukan!” Diandra berteriak sambil meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Wisnu. Seolah tuli, Wisnu sama sekali tidak memperdulikan teriakan Diandra, ia tetap menggandeng wanita itu dan memasukkannya ke dalam mobil. “Kau gila, kau mau membawa ku ke mana!!” Lagi-lagi Wisnu mengabaikan teriakkan sang istri. Ia justru memilih untuk mengunci pintu mobil dan melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, meninggalkan studio dengan beberapa staf yang terlihat kebingungan karena ulahnya. “Wisnu!! Kau mau membawa ku ke mana!!” Mobil yang dikendarai Wisnu berhenti mendadak pada sisi jalan, membuat Diandra terantuk ke arah depan dan hampir menabrak dashboard. “Kau mau membunuhku?” Wisnu menoleh. Sorot matanya tajam namun juga terluka disaat bersamaan. Diandra terdiam, ia sadar jika selama pernikahannya Wisnu tidak pernah lagi menunjukkan ekspresi seperti sekarang. Ia hanya menunjukkan ekspresi dingin juga tegas, juga tersenyum di beberapa kesempatan yang langka. Ekspresi Wisnu juga senyum pria itu hanya ada di awal pernikahan mereka saja, sebelum perdebatan soal keturunan membuat hubungan keduanya memburuk juga menjauh. Berusaha untuk tidak terlarut dengan perasaanya sendiri, Diandra memilih untuk memalingkan wajah. “Aku minta maaf." Diandra tertegun mendengar perkataan Wisnu, pria itu berkata lirih dengan suara bergetar. “Aku terlalu memaksa mu, bahkan aku lupa dengan janjiku sendiri di masa lalu. Aku malu untuk mengakuinya, tapi aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berusaha untuk mengulur waktu, memberikan penjelasan yang logis pada orang tua kita untuk tidak terlalu memaksa soal keturunan, tapi,” Perkataan Wisnu terhenti, pria itu menghela napas beberapa kali. “Mereka mengatakan sesuatu yang tidak aku sukai soal dirimu, dan aku tidak bisa menerima itu begitu saja. Aku tidak suka saat wanita yang ku cintai direndahkan oleh orang lain.” “Apa mereka mengira aku mandul, dan meminta mu untuk menceraikan ku?” Ekspresi terkejut nampak jelas di wajah Wisnu. Melihat bagaimana reaksi Wisnu saat ini membuat Diandra terkekeh sumbang, dan tanpa sadar satu bulir air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya. “Jadi benar mereka mengatakan hal itu padamu.” “Dari mana kau tahu mereka memintaku untuk menceraikan mu?” Diandra berbalik, ia menatap Wisnu lamat-lamat. “Kau tidak tahu bukan, Ibu mu mendatangi ku di studio. Mengajakku berbicara yang berujung dengan mempermalukan ku, mengatakan dengan suara keras jika aku mandul hingga meminta ku untuk meninggalkan mu ataupun membujukku agar menceraikan ku. Tapi apa kau tahu sesuatu yang lebih sakit daripada itu?” Ucapan Diandra terjeda, ia menahan sesak juga perih saat ingatan hari itu kembali di kepalanya. “Wanita itu mengatakan jika aku belum menjadi seorang istri sepenuhnya jika aku tidak memiliki seorang anak, dan ia berkata jika aku tidak pantas untukmu,” sambungnya. Masih jelas teringat dalam kepala Diandra bagaimana perasaanya hari itu. Ia malu, marah tapi tidak bisa melakukan apapun. Dan semenjak itulah beredar rumor kurang sedap soal dirinya di sekitaran studio. “Kau tahu aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan,” ujar Diandra dengan suara lirih. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan kini sudah sepenuhnya mengalir, ia tidak bisa lagi menampung kesedihan yang menumpuk dalam hatinya. Sementara itu Wisnu hanya bisa diam mematung, ia tidak tahu jika Ibunya bisa berlaku seperti itu mengingat bagaimana senangnya saat dirinya dulu memperkenalkan juga mengatakan jika ia akan menikah dengan Diandra. Pria itu kemudian merengkuh sang istri, membiarkannya menangis dalam pelukannya dengan sesekali ia usap juga kecup pucuk kepalanya. “Maaf, maafkan aku.” *** Mobil yang dikendarai Wisnu berhenti di pekarangan rumah. Pria itu turun bersama Diandra dan berjalan menuju pintu utama. Saat keduanya memasuki area ruang tamu, Wisnu juga Diandra mendapati Aruna yang tengah mengobrol bersama Chandra. Keduanya nampak dekat hingga tidak menyadari kehadiran Wisnu juga Diandra. “Ekham!” Dua manusia yang tengah asyik berdiskusi itu menoleh, terlihat jelas perbedaan raut wajah diantara mereka saat melihat pasangan suami istri tersebut. “Hai, Di,” sapa Chandra meski agak canggung. Berbeda dengan Chandra, Aluna justru kembali bersikap seperti awal. Ia memilih menunduk dan diam seribu bahasa. Diandra berjalan mendekat, ia duduk di samping Aruna yang sama sekali tidak mau melihat ke arahnya. Entahlah, Aruna hanya merasa jika dirinya benar-benar rendah hanya dengan melihat Diandra sekilas saja. “Jadi kau yang bernama Aruna, cantik,” puji Diandra dengan senyum tipis. Wanita itu kemudian memeluk Aruna dan membisikkan sesuatu di telinga wanita itu, membuatnya dengan spontan menoleh ke arah Wisnu yang rupanya tengah memperhatikan mereka. Keempat orang itu duduk berhadapan di ruang tamu, atmosfer yang ada di sekitar merek nampak berbeda dari dua sisi. Jika Diandra juga Chandra nampak santai, maka tidak dengan Aruna dan Wisnu. “Jadi, Diandra sudah menceritakan semuanya padamu?” Itu Chandra yang bertanya. Wisnu hanya membalas pria itu dengan anggukan. “Seperti yang sudah dikatakan Diandra, kau dan Aruna akan terlibat kerja sama. Dan ku harap mulai sekarang kalian bisa menerima satu sama lain, mau bagaimanapun juga rahasia ini harus tetap aman dari keluargamu dan keluarga Diandra,” terangnya. Semuanya mengangguk terkecuali Aruna. Ia masih belum paham apa yang dimaksud oleh Chandra saat itu, dan lagi apakah Diandra tahu soal kerja sama antara dirinya dan Wisnu? “Aku tahu semuanya. Bahkan yang meminta Chandra untuk mencari mu adalah aku, ada hal yang membuat ku sampai melakukan hal ini dan melibatkan mu. Maaf karena aku kau harus mendapatkan kesulitan.” Seolah mengerti, Diandra menjelaskan dengan singkat. Namun meski begitu, Aruna masih bertanya-tanya soal apa maksud sebenarnya dari wanita di hadapannya ini. Dan lagi, kenapa harus dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD