Pukul sepuluh saat Aruna dan Chandra keluar dari hotel tempat mereka menginap. Di parkiran sudah terparkir sebuah mobil SUV hitam yang menunggu mereka berdua.
"Terima kasih," ucap Aruna gugup saat Chandra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuknya.
Ia masih belum terbiasa mendapatkan perlakuan demikian oleh orang lain, terlebih ia dan Chandra hanyalah dua orang asing yang bertemu belum lama.
"Pak, saya mendapat pesan dari Tuan Wisnu untuk menyampaikan berkas ini pada Pak Chandra dan Nona Aruna."
Sang supir menyerahkan dua map ke arah Chandra yang duduk di kursi belakang bersama Aruna.
Pria itu mengernyit, ia menerima berkas tersebut yang rupanya berisi perjanjian kontrak antara Wisnu dan Aruna.
"Memangnya Wisnu kemana?" tanya Chandra penasaran.
"Kurang tahu, Pak. Saya hanya menyampaikan pesan saja," sahut Sang supir yang diangguki oleh Chandra.
"Kalau begitu, antarkan kami ke cafe dekat kantor saja, pak," pinta Chandra dengan sopan.
Tidak lama kemudian mobil yang ditumpangi mereka benar-benar melaju.
Perjalanan ke tempat yang dimaksud memakan waktu sekitar tiga puluh menit, Chandra dan Aruna turun sebelum kemudian masuk ke dalam satu cafe bernuansa clasic yang terletak tepat di seberang kantor milik Wisnu.
Keduanya duduk berhadapan. Chandra sengaja mengambil tempat yang cukup masuk ke dalam cafe, sedikit terpojok juga agak tertutup oleh beberapa tanaman di sana.
"Kau mau pesan apa?" pria itu bertanya sambil menyodorkan buku menu.
"Terserah saja," jawab Aruna sekenanya.
"Tipekal wanita sekali," sahut Chandra sambil terkekeh, sementara Aruna hanya bisa tersenyum kikuk.
Entah ia yang terlalu malu atau dirinya memang tidak bisa mengimbangi Chandra yang terlalu ceria.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang dan mencatat pesanan keduanya, setelahnya Chandra berdeham sebelum kemudian mengajukan dua berkas yang sebelumnya ia Terima dadi sopir pribadi Wisnu.
"Kamu bisa baca dulu," saran Chandra.
Menurut, Aruna mengambil satu map berwarna coklat itu dan membacanya dengan teliti.
Di sana tertulis soal perjanjiannya dengan Wisnu. Dimana ia yang akan menikah pura-pura dengan pria itu dan berpisah saat dirinya telah bisa memberikan keturunan untuknya.
Di sana juga tertera beberapa peraturan untuk kedua belah pihak. Seperti, tidak boleh untuk membocorkan perjanjian ataupun hal yang menyangkut pernikahan pura-pura mereka pada siapapun.
Dilarang untuk keluar dari rumah tanpa seizin pihak pertama, dan juga dilarang untuk melakukan skinship.
Menurut Aruna, perjanjian tersebut masih terbilang cukup masuk akal. Ia pada awalnya mengira jika perjanjian yang dimaksudkan akan terbilang cukup aneh seperti pada drama yang sempat ia tonton beberapa bulan lalu.
"Bagaimana, ada yang mau ditanyakan?" Chandra membuka suara.
Baru saja Aruna akan menjawab, seorang pelayan lebih dulu datang sambil membawa pesanan keduanya, membuat Aruna mengurungkan niatnya sejenak.
"Apa maksud poin kedua dan ketiga?"
"Maksud dari poin kedua akan berlaku saat kau sudah mulai mengandung, saat itu kau tidak boleh keluar tanpa seizin Wisnu. Dan untuk poin ke tiga, aku sendiri juga tidak terlalu paham. Wisnu tidak menjelaskan apapun untuk itu, dan ku pikir kalian juga tidak perlu melakukan skinship, mengingat pernikahan kalian yang hanya pura-pura," jawab Chandra.
Aruna mengangguk saja, ia juga tidak terlalu peduli dengan apa maksud Wisnu untuk peraturan poin ketiga.
Benar apa yang dikatakan Chandra, pernikahan mereka hanya pura-pura. Tentu takkan banyak skinship yang akan mereka lakukan.
"Sudahlah, lebih baik kamu makan saja, setelah ini kita akan langsung pulang ke rumah. Tapi sebelum itu, kau harus menandatangani kontrak ini dulu," Chandra memberikan pena pada Aruna.
Tanpa berpikir dua kali, gadis itu segera membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Dan dengan begitu, perjanjian kerja sama antara ia dan Wisnu pun dimulai.
Perannya menjadi pengantin pura-pura, dan calon Ibu akan segera dimulai.
***
Perjalanan dari cafe menuju rumah yang dimaksud Chandra memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Keduanya sudah sampai di sebuah rumah bertingkat dengan gaya klasik.
Di depan rumah terdapat sebuah taman kecil yang ditanami beragam tanaman hias, membuat kesan asri dan nyaman untuk dilihat.
"Masuklah," kata Chandra mempersilakan.
Begitu masuk ke dalam rumah, kesan hangat seketika begitu terasa. Interior rumah yang didominasi warna putih dan juga coklat kayu memberikan kesan hangat namun tidak meninggalkan kesan mewah itu sendiri.
Atensi Aruna kemudian teralih pada sebuah pigura besar di ruang tamu, di sana terpajang foto seorang pria dan wanita yang menghadap kamera tanpa senyum.
Keduanya memakai pakaian pengantin, namun entah kenapa Aruna tidak bisa merasakan cinta di sana.
"Mereka adalah Wisnu dan Diandra."
Aruna terkejut saat mendengar suara Chandra yang terasa begitu dekat. Pria itu tersenyum kecil, ia yang saat ini berdiri di samping Aruna menepuk bahu gadis itu pelan.
"Wisnu baru akan pulang malam nanti, kau bisa beristirahat dulu atau mungkin berkeliling," ucapnya.
Aruna memilih mengangguk, dan saat Chandra akan beranjak wanita itu buru-buru memanggil namanya.
"Chandra!"
Pria itu berbalik, Aruna berjalan mendekat. Ia diam beberapa saat, mendadak ragu untuk bertanya pada pria di hadapannya.
"Apa ini benar-benar rumah Wisnu?"
Pada akhirnya Aruna bertanya. Ia hanya penasaran, jika memang benar ini adalah rumah Wisnu, lalu bagaimana jika istri pria itu tahu?
Chandra mengangguk. Sadar ekspresi gadis di depannya yang dalam sekejap berubah, pria itu kemudian tergelak.
"Kau tenang saja, ini bukan rumah yang ia tempati bersama istrinya. Ini adalah rumah singgah yang akan Wisnu datangi saat ia merasa penat," Wisnu menjelaskan.
Aruna menghela napas lega, ia bersyukur setidaknya tidak harus berhadapan dengan Diandra. Atau mungkin belum.
Malam datang saat Aruna masih sibuk berguling di kamarnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan di sana, ia tidak tahu dan tidak mengenal siapapun selain Chandra.
Pria itu sendiri pergi tidak lama setelah memperkenalkan Aruna pada seorang wanita baya yang diakatakannya sebagai kepala asisten rumah tangga di rumah itu.
Dan setelah kepergian Chandra, aktivitas Aruna hanya diam di dalam kamar dan merenung. Bertanya sekali lagi pada dirinya sendiri, apa yang ia lakukan saat ini sudah benar?
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Setelahnya suara Sang kepala asisten rumah tangga terdengar memanggil nama Aruna.
"Nona, sudah waktunya makan malam," ucapnya.
"Ya, aku akan segera turun," sahut Aruna setengah berteriak.
Ia menghela napas dan merapikan rambutnya. Entah untuk alasan apa ia tiba-tiba menjadi gugup, apa karena ia masih belum terbiasa? Entahlah.
Aruna turun dengan mengenakan pakaian yang diberikan Chandra. Sebuah dress di atas lutut berwarna biru.
Ia sempat terhenti pada anak tangga ke empat begitu sadar di meja makan tidak hanya ada Chandra, melainkan ada seorang pria lain yang juga tengah menyantap makan malam bersama pria itu.
"Aruna, kemarilah," panggil Chandra dengan senyum tipis.
Aruna menurut, ia duduk di satu kursi yang berhadapan dengan Chandra. Sementara pria asing itu duduk di kursi utama.
"Agar lebih santai, sepertinya aku harus memperkenalkan kalian sekarang. Ini Wisnu, orang yang akan menggunakan jasamu untuk menikah pura-pura."
Spontan Aruna menoleh kan kepalanya ke arah Wisnu. Tepat saat ia menoleh, pria itu juga tengah melihat ke arahnya.
Dan entah kenapa, Aruna merasa merinding dengan tatapan Wisnu yang datar namun tajam. Aruna merasa seperti ia tengah diintimidasi dengan tatapan Wisnu pada saat ini.