Lima Tahun Kemudian ~~

1043 Words
 Sebuah hotel berlantai dua puluh lima, dengan dinding kaca dan sebuah grand ballroon di lantai bawah yang sangat besar, dan view yang mengarah pada pemandangan kota yang sangat indah, membuat hotel tersebut menjadi incaran orang-orang yang ingin mendapatkan ketenangan. Dan tepat di lantai dua puluh lima, sebuah ruang kerja yang di tempati seorang Direktur Utama Darres Hotel beserta manager umum. Ruang dengan nuansa putih-hitam, dan paling tersinari cahaya matahari, membuat ruang tersebut terasa paling hangat. Tetapi tidak dengan sang pemilik ruang tersebut. Seorang pria berbalut kemeja putih, dengan pakaian bagian lengan di lipat hingga sikut, sedang berdiri dibalik jendela kaca besar dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celana dan sebelahnya lagi memegang gelas wine. Memandang lurus pada pemandangan kota yang mulai beranjak senja. Tok .... Tok .... Tok .... Suara ketukan dari pintu ruangan tersebut membuyarkan lamunan pria itu. Ia berbalik dan menatap ke arah asal suara, menunggu seseorang itu masuk. Seorang pria, berbadan tegap dan berdada bidang masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya. "Arion, beberapa berkas laporan pendapatan dari tim administrasi keuangan baru gue terima. Lo tinggal cek ulang dan tanda tangan," ujar Niki seraya menaruh berkas tersebut diatas meja Arion. Pria itu hanya mengangguk dan kembali berbalik untuk menikmati kesendirian dan keheningannya. Sedangkan Niki, memilih pergi meninggalkan ruang Arion. Dia Niki Saputra. Sahabat Arion sejak di bangku sekolah dasar. Persahabatan yang mereka jalin sudah sangat lama. Bahkan, Niki bisa membedakan suasana hati Arion untuk diajak bercanda atau tidak. Namun, sejak kematian Cleo, Arion sangat sulit hanya sekedar diajak bercanda. Raut wajah dingin, datar dan tak bersahabat terus tertampil di semburat garis wajahnya. Sudah lima tahun berlalu sejak kejadian nahas yang menimpa Arion dengan almarhumah sang istri terjadi. Dan sudah lima tahun itu juga lah Arion tak pernah menginjakkan kakinya ke apartment yang di belinya untuk ia dan almarhum istrinya dulu. Arion memilih tinggal di ruang istirahat yang dibuat tepat dibalik dinding ruang kerjanya. Pria itu kembali meminum wine dalam gelas yang hanya tersisa sedikit hingga habis, lalu menaruh gelas kosong tersebut diatas meja. Pria itu segera kembali duduk di balik mejanya dan mulai membaca berkas-bekas yang ditinggalkan oleh Niki tadi. Tok ... Tok ... Tok. Terdengar kembali suara ketukan di pintu yang cukup nyaring. Arion hanya melirik sesaat, lalu menghela napas cukup dalam. "Masuk!" titahnya dengan suara bariton. Tak begitu lama, seorang wanita berpakaian pelayan dari restaurant hotel berjalan masuk dengan mendorong sebuah meja saji yang diatasnya terdapat sajian makan malam untuk Arion. Wanita muda itu membungkukkan tubuhnya pada Arion yang hanya di jawab dengan lirikan mata saja. "Ini sajian makan malamnya, Direktur Utama," ujar wanita itu. Arion kembali menoleh ke arah asal suara dan tiba-tiba saja fokusnya teralihkan pada sebuah luka di kaki wanita itu. Luka baru dengan darah yang menetes diatas tulang keringnya. Arion menjatuhkan bolpoin yang sejak tadi di genggamnya. Bayangan saat kecelakaan itu mulai kembali menyeruak. Darah yang memenuhi wajah almarhum istrinya kembali teringat setiap melihat darah segar dimana pun dan kapan pun. Arion mulai kesulitan bernapas. Pria itu bahkan hingga terjatuh dari kursi putarnya dengan sebelah tangan memukul-mukul d**a bidangnya agar kembali bernapas. Melihat kejadian itu, membuat gadis dengan nametag bertulisan Alnara itu segera berlari mendekat pada Arion yang sedang menyandarkan tubuhnya pada dinding, lalu berlutut dihadapan pria itu. "Pak! Bapak kenapa?" tanya Alnara dengan nada khawatir. Di kening Arion, bulir keringat sebesar biji jagung mulai membasahi. Wajahnya semakin memerah, berusaha mencari cara untuk bernapas. Alnara yang tak tahu harus berbuat apa tiba-tiba menarik tubuh Arion, lalu mendekapnya dengan hangat. Dan tanpa terduga, Arion membalas pelukan tersebut dan mulai kembali bernapas. Ia menghirup dalam-dalam oksigen yang terasa menyegarkan disekitar tubuh Alnara, dan membuat dirinya perlahan tenang. Untuk sesaat, mereka tetap pada posisinya. Sebelah tangan Alnara menepuk lembut punggung pria dalam pelukannya itu, hingga napas Arion terdengar cukup tenang. Perlahan, pelukan itu melonggar dan Arion kembali menarik napas dalam-dalam. Ia sandarkan tubuh dan kepalanya pada dinding dibelakangnya, lalu memejamkan mata. "Pak, saya permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan di restaurant," pamit Alnara yang kini sudah kembali berdiri dari posisinya. Pria itu pun berdiri dan berjalan meninggalkan Alnara, tanpa memperdulikan kata pamit yang gadis itu katakan. Alnara mengerutkan dahinya seraya mendengkus kesal saat melihat Arion sudah masuk kedalam pintu ruang istirahatnya. "Wah ... gue nyesel nolong cowok es balok itu, dasar red onion!!" umpatnya dengan pelan. Gadis itu pun bergegas pergi, meninggalkan ruang direktur utamanya untuk kembali ke restaurant yang berada di lantai satu. Sedangkan di lain tempat, Arion menjatuhkan dirinya dilantai tepat dibelakang daun pintu yang tertutup rapat. Pria itu menyandarkan tubuh serta kepalanya pada pintu tersebut seraya memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia bisa mengatasi saat trauma itu kembali. Dan untuk pertama kalinya juga, perasaan tenang dan nyaman itu ia rasakan tanpa bantuan obat penenang yang selama ini ia konsumsi setiap harinya. Arion membuka matanya, ia bangkit dari posisinya dan berjalan menuju kamar mandi. Pria itu melepas semua pakaian yang menempel pada tubuhnya lalu menyalakan kran shower hingga suara gemericik air terdengar silih bersahutan dalam ruang kecil tersebut. Air hangat itu mulai membasahi seluruh tubuh Arion. Pria tampan itu menundukkan kepalanya, menikmati setiap kehangatan air yang berjatuhan pada tubuh kekarnya. Tiba-tiba, terlintas bayangan gadis tadi. Gadis yang berhasil memberinya rasa nyaman dan tenang untuk sesaat. Bahkan, bisa membuat trauma yang dideritanya selama lima tahun ini teratasi tanpa meminum obat dari dokter pribadi Arion. Gadis dengan harum tubuhnya yang khas dan mata bulat bertatapan tulus itulah yang berhasil memberi pengobatan berbeda itu pada Arion. Ia membuka matanya, lalu menatap cermin berembun di depannya. Arion hapus embun yang menghalangi pandangannya itu, lalu menatap dirinya dalam cermin. Suara helaan napas itu kembali terdengar. 'Aku sudah belajar mengikhlaskan selama lima tahun ini, belajar bertahan tanpa merasa terluka kembali atas kenangan buruk itu, dan mencoba bangkit dari trauma yang selalu hadir tanpa memilih waktu. Tapi yang selama ini aku pikir aku berhasil melewatinya, ternyata salah. Aku masih tetap berada dalam lingkaran keterpurukan, dimana hanya waktu yang dapat mengeluarkanku dari dalam dasar rasa ini,' monolognya dalam hati. Pria itu segera menyelesaikan kegiatan mandinya dan bergegas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar dipinggangnya. Arion berhenti sejenak saat ia melihat pintu ruang istirahatnya yang tertutup. Terngiang di telinganya gerutuan pelayan wanita dari restaurant tadi, dan tiba-tiba saja seulas senyum terulas pada wajah tampan Arion. Lagi-lagi, setelah lima tahun berteman dengan kesendirian, kesunyian tanpa sebuah senyuman, pria itu kembali mengulas senyum pada sudut bibirnya. *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD