Pria itu menatap Adrian dengan dingin, dan tanpa seulas senyum pun di wajahnya yang tampan dan berwibawa itu. Ia menutup pintu dengan pelan, lalu melangkah mantap mendekati tempat tidur Adrian tanpa melepaskan tatapannya seperti seekor predator yang mengamati mangsanya. Sekarang, Adrian berharap keadaannya jauh lebih baik, atau setidaknya ia mencuci wajahnya tadi. “Selamat pagi, Mr. Xanders. Senang akhirnya bisa bertemu Anda secara langsung.” Sebuah senyuman ramah terukir di bibirnya untuk pria yang sama sekali tidak mau repot membalasnya itu. Pria itu mengangkat alisnya sedikit saat mendengar sapaan Adrian. Yah, meskipun hatinya diliputi berbagai pertanyaan tentang mengapa pria itu ada di sini sekarang, Adrian harus tetap bersikap ramah karena walau bagaimanapun, pria ini adalah ayah E

