Emily tidak ingin percaya pada apa yang Adrienne katakan itu. Namun, saat ia melihat wajah Adrienne yang penuh tekad, mau tidak mau, Emily mencoba untuk percaya bahwa Adrienne memang serius dengan perkataannya. Semakin ia mengamati Adrienne, semakin Emily yakin bahwa wanita itu tidak memiliki sel jahat di dalam dirinya. Bahkan meskipun ia tahu jika Emily sudah membencinya sebelum mereka bertemu. “Aku tidak pernah berpikir bahwa ketika kita bertemu, akhirnya akan menjadi seperti ini,” gumam Emily dengan pelan. Kekehan terdengar lagi dari bibir Adrienne. Wanita itu mudah sekali tersenyum dan tertawa. Ditambah dengan kebaikan hatinya, wajar jika tidak ada satu orang pun yang bisa membencinya. Emily bertanya-tanya dari mana ia memperoleh kebaikan hati seperti itu? Dari keluarganya yang kay

