Selain pagi hari, biasanya sore juga menjadi saat Adrian memeriksa lahan propertinya. Selain untuk memastikan jika semua ternaknya sudah masuk ke kandang, Adrian juga melihat kalau-kalau ada pagar yang belum terkunci, atau kawat yang terbuka terlalu lebar hingga bisa membuat anjing hutan dan hewan liar lainnya masuk dan mengancam keberadaan ternaknya.
Siapa yang menyangka jika pekerjaan seperti ini sekarang telah menjadi pekerjaan yang begitu ia nikmati? Meskipun bukan hal yang mudah untuk menyesuaikan diri pada awal kedatangannya, tetapi Adrian belajar dengan cepat seperti setiap kali ia mempelajarai hal yang belum ia ketahui.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk jatuh cinta pada kuda-kuda itu, juga pada tanah seluas ribuan hektar yang sekarang menjadi miliknya itu. Meskipun bagi Adrian, itu lebih seperti beban berat yang tiba-tiba saja diletakkan di kedua pundaknya. Ia yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis peternakan, tiba-tiba harus menghadapi hal-hal seperti itu sendirian.
Oke, tidak sepenuhnya sendirian karena pamannya tinggal di sini di awal-awal kepindahan Adrian, mengajari semua hal yang perlu ia tahu, dan hingga sekarang, masih rajin menanyakan perkembangan Adrian di tempat ini. Ia bersyukur karena adik-adik ibunya itu sangat peduli padanya meskipun jelas ia dulu jarang pergi kemari.
Seharusnya ia rajin kemari dulu saat kakek dan neneknya masih ada sehingga Adrian tidak terlalu asing ketika akhirnya harus hidup di sini. Namun, ketakutannya saat pertama kali mendengar tentang warisan tanah seluas ribuan hektar dan juga ribuan ternak juga kuda untuk dia urus itu, ternyata tidak semenyeramkan seperti yang Adrian bayangkan selama ini.
Itu karena paman dan bibinya yang selalu sabar dan perhatian padanya, juga para pegawainya di sini yang mau menerima kedatangan Adrian yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
Adrian menghela Lucky ke kawasan barat dan menemukan tempat itu sudah bebas dari semua ternaknya yang biasa merumput di sana. Di kejauhan, terdengar lenguhan sapi-sapinya seakan ingin memberitahu Adrian jika mereka sudah berada di kandang yang hangat dan aman. Adrian tersenyum sendiri mendengarnya.
Sekarang, suara lenguhan sapi dan ringkikan kuda selalu menjadi favoritnya. Belum lagi pemandangan indah yang ia nikmati setiap pagi dan sore hari. Air sungai yang berkilauan ketika ditimpa sinar matahari, danau buatan yang biasa digunakan ternak-ternaknya untuk minum, juga pemandangan daun-daun yang berubah warna setiap kali berganti musim adalah sesuatu yang sangat ia sukai. Ia mungkin akan kaget saat nanti pulang ke Indonesia dan dihadapkan pada bunyi klakson kendaraan bermotor yang bersahutan. Serta gedung-gedung tinggi menjulang yang tidak ditemuinya di sini.
Setelah memeriksa semua tempat di situ aman, Adrian menghela Lucky ke arah selatan tempat perbatasan tanahnya dengan property milik keluarga Westfield. Lucy dan Sunshine sudah berangkat untuk disewakan bersama empat kuda milik Adrian yang lain. Biasanya mereka akan pergi selama satu atau dua pekan tergantung kesepakatan dengan para penyewa. Biasanya, mereka meminta perpanjangan waktu, tetapi Adrian tidak membiarkan kuda-kudanya pergi lebih dari dua pekan.
Setelah dua pekan, kloter pertama kuda-kuda itu akan pulang dan digantikan oleh kloter berikutnya. Setelah itu, baru mereka akan berangkat lagi untuk dua pekan kemudian. Adrian selalu melakukan rotasi seperti itu agar ia benar-benar bisa memantau keadaan kuda-kuda miliknya itu. Jika menemukan sesuatu yang tidak beres pada kudanya, ia bisa mengajukan keluhan kepada penyewa sebelum terlambat.
Selain itu, ia juga ingin memulihkan kondisi kudanya setelah dua pekan pergi dari peternakan. Bukan tidak mungkin, kondisi tempat tinggal yang berbeda, dan terutama, orang yang berbeda membuat kuda-kuda itu stress. Yeah, tidak hanya manusia yang bisa mengalaminya. Kuda juga bisa.
Lucky berjalan pelan di sekitar sungai sementara Adrian memantau keadaan sekelilingnya. Ia baru saja akan beranjak pergi saat melihat seseorang mengendap-endap di pinggir sungai, mungkin sedang mencari jalan untuk masuk ke propertinya untuk mencuri ternak. Namun, apa seorang pencuri berani muncul sesore ini? Matahari masih akan terbenam sekitar satu setengah jam lagi. Jadi, sekarang jelas bukan waktu yang tepat untuk mengintai atau mengendap-endap seperti itu.
Adrian menyipitkan mata untuk melihat sosok kecil itu. Jelas orang itu bukan seorang koboi karena tubuhnya terlalu kecil, orang itu juga tidak memakai topi. Akan mudah baginya melumpuhkan orang itu dengan tangan kosong.
Apa ia adalah suruhan seseorang? Kemudian, setelah beberapa langkah lebih dekat, Adrian akhirnya tahu siapa orang itu. Bukan pencuri seperti yang ia curigai. Itu adalah keponakan Jake. Si gadis manja yang tadi pagi mencuci Charlie.
Apa yang dilakukan gadis itu di saat hari sudah hampir petang seperti ini? Seharusnya ia diam-diam di rumah utama sambil mungkin membersihkan kukunya yang kotor karena memandikan kuda. Begitu ‘kan biasanya yang dilakukan para gadis manja?
Jasmine, adiknya, selalu mengeluh setiap kali Mama menyuruhnya melakukan sesuatu yang bisa membuat kuku-kukunya rusak atau kotor. Si manja itu memang sama sekali tidak menyukai pekerjaan fisik yang membuat kuku atau kulitnya lecet dan kotor sedikit saja.
Lupakan Jasmine sekarang. Apa yang sebenarnya gadis itu cari di ujung terjauh dari tanah peternakan pamannya itu? Atau gadis itu sedang mencoba menyusup ke propertinya? Mungkin ia mencoba kabur dari peternakan Westfield dan mengira bisa pergi dari lahan miliknya. Oooh, jangan harap gadis manja. Ia justru akan memulangkan gadis itu pada Kate dan Jake dengan senang hati.
Adrian menghela Lucky untuk berlari lebih cepat dan berhenti tepat saat gadis manja itu berusaha membuka pintu pagar yang terkunci. Jelas ia gagal karena gadis itu tidak terlihat memegang anak kunci.
“Apa yang kau lakukan di lahanku?” tanya Adrian dengan dingin dan bahkan terdengar kasar.
Gadis itu menoleh dan menatap Adrian dengan mata bulatnya. Adrian mengeluh dalam hatinya saat hal itu mengingatkannya pada Adrienne. Ia selalu suka melihat mata Adrienne yang bulat dan bersinar saat gadis itu tersenyum. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah menemukan satu gadis pun yang memiliki mata seperti yang dipunyai Adrienne itu. Lalu, kenapa sekarang si manja ini yang justru mengingatkannya pada Adrienne?
“Oh, hai, cowboy!” seru gadis itu dengan terlalu bersemangat hingga membuat Adrian merengut.
Ia mengamati wajah gadis itu. Jelas anak ini masih sangat muda. Mungkin seumuran adiknya. Wajahnya yang sedikit bulat dan tembam itu terlihat polos tanpa riasan apapun. Matanya terlihat berseri saat melihat Adrian sementara bibirnya yang berwarna merah muda alami itu merekah membentuk senyuman lebar.
“Ini sudah hampir gelap, seharusnya kau berada di rumah!”
Gadis itu menyeringai. “Aku hanya sedang berjalan-jalan dan tiba-tiba menemukan sungai ini. Tidak banyak sungai yang bisa kutemukan di dekat rumahku. Apa sungai ini yang membatasi propertimu dengan milik pamanku?”
Adrian mengangguk tanpa suara. Matanya masih mengamati gadis itu. Rambutnya yang panjang sekarang diikat dengan lebih rapi. Tidak seperti tadi pagi yang asal-asalan. Ia juga tidak mengenakan sepatu bot, tetapi sepatu kets warna hitam. Tubuhnya yang langsing itu dibalut kaus ketat warna biru bertuliskan Victory besar di depan dadanya yang tampak penuh untuk ukuran gadis remaja, sementara ia memakai celana jins ketat warna hitam.
Secara keseluruhan, gadis itu memang cantik dan menarik. Juga sangat seksi untuk ukuran seorang gadis yang mungkin baru beranjak dewasa. Pinggulnya berlekuk dengan feminin sementara kulitnya terlihat sehalus porselen. Jelas ia bukan jenis gadis yang pernah melakukan pekerjaan kasar sebelumnya.
Lalu kenapa ia memilih untuk mendatangi tempat ini di liburan musim panasnya? Seharusnya, gadis itu menuju ke Florida atau Hawai untuk berjemur di pantainya yang hangat. Peternakan, meskipun jelas sangat panas, bukanlah tempat yang tepat untuk berjemur.
“Aku pikir kau pembeli kuda dan ingin membeli Charlie,” ucap gadis itu lagi setelah Adrian tidak juga bersuara. “Ke mana kau membawa Sunshine pergi? Aku belum melihatnya lagi di kandang sore ini.”
“Dia sedang disewakan sampai dua pekan ke depan.”
Mata bulat itu membelalak hingga Adrian merasa gemas ingin turun dari kudanya dan mendekat. Namun tidak. Begini jauh lebih baik. Karena, dari jarak sejauh ini saja, dengan pagar yang menghalangi mereka, Adrian sudah gatal ingin menyentuh gadis muda itu.
Ada apa ini? Ia tidak pernah seperti ini pada seseorang sebelumnya. Ia tidak pernah tertarik untuk mengamati seorang wanita lebih dekat, dan terutama ingin menyentuhnya seperti yang ingin dilakukannya sekarang. Jika ia menyentuh mereka, itu jelas hanya karena kebutuhannya yang mendesak sebagai pria dewasa.
Ya, mungkin itulah jawaban kenapa Adrian merasa begitu ingin menyentuh gadis muda itu. Karena gairahnya sudah sangat lama tidak tersalurkan.
Enam bulan? Satu tahun? Ah, sepertinya lebih dari itu. Tidak banyak wanita muda di sekitar sini dan Adrian juga terlalu malas untuk menyetir ke kota hanya demi memuaskan nafsunya. Kebutuhan dirinya bukan hal yang terlalu penting sekarang-sekarang ini.
“Disewakan? Maksudmu, ditunggangi orang lain yang tidak mengenalnya?”
Adrian mengangguk.
“Apa Sunshine akan diperlakukan dengan baik?”
Sebelum hari ini, Adrian tidak pernah melihat gadis itu satu kali pun di peternakan semenjak dirinya tinggal di sini. Namun, nada khawatir dalam suaranya, mau tidak mau membuat kesinisan yang ia rasakan tadi pada gadis itu sedikit memudar. Ia terdengar begitu mengkhawatirkan keadaan kudanya.
“Kami memiliki perjanjian tertulis dengan para penyewa mengenai apa yang harus ia lakukan dengan kuda-kuda yang disewa.”
“Jadi itu artinya Sunshine akan baik-baik saja ketika dia pulang?”
Suaranya terdengar begitu berharap sehingga mau tidak mau, Adrian kembali mengangguk. Gadis ini pasti memiliki ikatan dengan Sunshine.
“Kau belum menjawab apa yang kau lakukan di sini.”
Si manja itu kembali menyeringai dengan cengiran jahilnya. Ah, Adrian bisa melihat jika gadis itu pasti seseorang yang sangat menyenangkan di lingkungannya. Sama seperti Adrienne.
“Aku sedang berjalan-jalan dan tiba-tiba sudah sampai di sini.”
“Berjalan-jalan? Apa kau tidak tahu seberapa jauh kau sudah berjalan?”
Gadis itu menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali menatap Adrian dan mengangkat bahu. “Semua tampak sama bagiku. Jadi aku hanya berjalan tanpa tahu arah.”
Dasar gadis ceroboh!
“Bagaimana kalau kau diserang beruang atau singa gunung yang lapar? Atau rusa besar dengan tanduknya yang runcing itu? Kau akan bisa melawan mereka?”
Mata gadis itu membelalak ketakutan saat mendengar apa yang Adrian katakan.
“Hewan-hewan itu tidak mungkin ada di sini! Kau pasti bohong kan?”
Adrian mengangkat alisnya. “Kau pikir apa yang bisa kau temukan di lahan peternakan yang dikelilingi gunung dan hutan ini? Salon kecantikan? Klub malam? Pusat perbelanjaan? Ah, kalau kau berharap bertemu yang seperti itu, kau salah tempat, Nona Manis.”
“Tetapi semua lahan peternakan ini dipagar begitu tinggi dan kuat, tidak mungkin hewan-hewan liar itu bisa masuk.”
Meskipun ketakutan, Adrian hampir tersenyum saat mendengar nada pura-pura berani dari gadis itu. Adrian bisa tahu kebosanan yang dirasakan seorang gadis kota yang baru saja pergi ke tempat sepi dan sunyi ini karena ia sendiri pernah merasakannya. Terbiasa berada di tempat yang ramai dan modern, membuat tempat seperti ini terasa seperti sebuah penjara alam yang luas dan tak bertepi.
“Hewan liar selalu lebih pintar darimu, Nona. Apalagi, mereka sudah hidup di tempat ini seumur hidup mereka.”
“Kau pasti sengaja menakutiku kan!” gadis itu menegakkan tubuh dan dagunya, merasa tidak ingin terintimidasi oleh Adrian. “Mereka tidak mungkin bisa masuk kemari!”
“Tanya saja pada pamanmu kalau kau tidak percaya. Tetapi, sekali lagi aku ingatkan, lebih baik kau pulang sebelum gelap.” Ia menghela Lucky dan berbalik, bersiap meninggalkan gadis itu. Sekarang, setelah tahu ia bukan pencuri, Adrian tidak perlu meladeninya lebih lama lagi.
“Tunggu!” teriak gadis itu hingga membuat langkah Lucky terhenti tiba-tiba.
Kening Adrian berkerut. Ia tidak menarik tali kekang Lucky dan memintanya berhenti, tetapi kenapa kuda ini langsung berhenti saat mendengar lengkingan itu?
“Kau akan meninggalkanku di sini sendirian? Bagaimana jika tiba-tiba ada singa gunung yang datang?”
Adrian menoleh dengan setengah hati. “Mereka tidak akan muncul di hari seterang ini, jadi aku sarankan kau cepat pulang.”
“Kau tidak akan mengantarku pulang? Apa seorang koboi tega membiarkan seorang gadis tersesat sendirian?”
Kerutan di kening Adrian semakin dalam. “Tersesat? Kau tersesat di peternakanmu sendiri? kau pasti bercanda, Nona kecil!”
Meskipun lahannya sangat luas, Adrian tahu ke mana ia harus melangkah sehingga bisa melihat pondok-pondoknya berdiri. Begitu juga dengan lahan Westfield meskipun tanah itu bukan miliknya. Adrian tidak pernah tersesat sekalipun.
“Tetapi aku memang tidak tahu! Sudah kubilang semua tampak sama bagiku!”
Sialan! Apa ia serius? Adrian menatap wajah gadis itu, berharap bisa menemukan kebohongan di mata bulat itu.
Namun, semakin ia mengamatinya, Adrian tahu jika gadis itu tidak bercanda. Ia memang tampak tersesat, bingung, dan ketakutan. Untuk yang terakhir, itu pasti karena apa yang ia katakan tentang beruang dan singa gunung tadi. Dan mau tidak mau, ia harus mengantar gadis itu pulang dengan selamat ke rumah Jake. Oh, ia pasti sedang bermimpi buruk hingga harus berurusan dengan gadis manja ini!