10. Itu Bukan Cinta

2074 Words
Seperti hari sebelumnya, siang Emily tidak berjalan seperti yang ia kehendaki. Ketika Gram memintanya mandi dan makan siang, Emily sudah sedikit berharap bahwa pada akhirnya, ia akan mendapatkan kembali kenyamanannya sebagai bayaran atas kerja kerasnya pagi itu. Mandi di bak mandi besar dengan sabun aromaterapi yang menenangkan, mendapati makan siang serba lezat yang diletakkan dalam nampan khusus di tempat tidurnya. Juga vas Kristal yang sudah diisi dengan bunga segar di dekat jendelanya. Namun, itu semua jelas hanya ada dalam mimpi Emily. Keadaan kamarnya masih sama seperti saat Emily tinggalkan. Bedanya, pintu yang tadi hampir jatuh karena ditendang, sekarang sudah berada di tempat yang semestinya jadi Emily kembali bisa menguncinya. Dan kamar mandinya, tentu saja tidak ada bathub berisi air hangat, apalagi dicampur dengan sabun aromaterapi. Kemewahan yang ia dapatkan di tempat itu hanyalah handuk linen paling lembut seperti yang dimilikinya di rumah. Selain hal tersebut, semuanya tampak sama seperti kamar mandi di sebuah peternakan. Shower yang, untungnya, memiliki kran air hangat, wastafel dan cermin kecil untuk menggosok giginya, dan kloset yang, untungnya lagi, berwarna putih bersih tanpa noda. Mungkin kamar ini memang jarang digunakan karena segalanya tampak begitu bersih dan jarang disentuh. Setelah mandi dan mengeramasi rambut panjangnya yang lengket, Emily meraih kaus dan celana jins bersih, kemudian memakainya dengan cepat. Bekerja keras di bawah sinar matahari membuatnya kelaparan. Biasanya, ketika melakukan kegiatan luar ruang untuk bersenang-senang, Emily selalu melakukannya dalam keadaan perut kenyang, dan jika tidak, ia akan membawa bekal. Namun, siapa yang bisa membawa bekal saat memandikan kuda kan? Sayangnya, keinginan Emily untuk segera makan, musnah saat ia tidak menemukan apapun di meja makan besar itu. Semuanya masih bersih mengkilap, dan tanpa satu piring pun di atasnya. Apa maksud Gram dengan berkata jika jam makan siang sudah dekat? Mata Emily mendongak saat ia melihat saat itu sudah pukul sebelas lewat empat puluh menit. Di jam seperti ini, bukankah seharusnya makan siang sudah siap? Di rumahnya, Nancy, pengurus rumahnya, selalu menyiapkan perlengkapan makan di atas meja ketika pukul sebelas. Kenapa di sini tidak ada satupun alat makan di jam seperti ini? “Kenapa kau hanya berdiri di sana? Kemarilah dan siapkan mejanya!” seru Kate saat melihatnya berdiri di depan meja makan yang kosong itu. Apa? Menyiapkan meja? Dia? Yang benar saja! Emily tidak pernah menyiapkan meja untuk makan seumur hidupnya! Di rumah, ada begitu banyak pelayan sehingga ketika Nancy terlalu sibuk untuk menyiapkannya, akan ada orang yang melakukannya. Dan orang itu jelas bukan dirinya. “Kau bilang tadi makan siang sudah dekat,” kata Emily sambil memasuki dapur. Ia berhenti sejenak di pintu dapur dan menghirup aroma masakan yang begitu lezat. Gram sedang mengaduk panci besar yang kemungkinan berisi sup jika dicium dari aromanya yang menggiurkan. Sementara dua orang pekerja lainnya, sibuk dengan kentang tumbuk, juga berbagai macam sayuran yang Emily yakin akan dijadikan salad. Kate menoleh padanya. “Memang, karena itu lebih baik kau cepat menata mejanya sebelum anak-anakku yang kelaparan itu menyerbu masuk dan marah saat tidak menemukan piring mereka di meja makan.” Sialan! Seharusnya ia tidak terlalu senang saat Gram mengajaknya makan. Wanita itu tentu tidak akan memanjakannya seperti yang Emily inginkan. Jadi, mulai saat ini, ia sudah bisa bersiap, jika Kate memanggilnya, itu berarti Emily harus melakukan pekerjaan lainnya. Sambil bersungut-sungut, Emily mengeluarkan tumpukan piring dari lemari penyimpanan. Ia tidak tahu semua menu makan siang hari ini kecuali yang tadi dilihatnya, jadi Emily menyiapkan semua alat makan yang ia temukan di lemari. Piring besar, mangkuk sup, sendok, garpu, dan juga pisau daging. Meskipun tidak pernah menata meja untuk makan, ia tahu bagaimana Nancy melakukannya. Piring-piring itu ditata dengan terbalik agar bagian atasnya tetap bersih saat digunakan untuk makan. Garpu di sebelah kiri, pisau di sebelah kanan bagian dalam, sendok di bagian terluar. Sementara gelas minum di sisi atas bagian kanan. Mangkuk sup diletakkan di atas bagian kiri. Namun, ada yang kurang. Serbet. Seharusnya ada serbet untuk menyeka mulut. Di mana benda itu? Emily kembali ke lemari penyimpanan dan tidak menemukan kain-kain itu di sana. Ia menoleh pada Gram yang masih sibuk dengan pancinya. “Di mana kain serbetnya, Gram?” Neneknya menoleh dengan kening berkerut. “Kenapa kau membutuhkannya? Piring-piring itu sudah bersih.” “Bukan lap piring. Kain serbet bersih untuk menyeka mulut setelah makan.” Bukannya jawaban, Emily malah mendengar tawa wanita tua itu dan dua pekerja lainnya. Apa yang salah? Kenapa mereka semua menertawakannya? “Kita tidak membutuhkannya di sini. Mereka akan menyekanya dengan baju mereka. Nah, jika kau sudah selesai, bawa piring-piring itu ke dalam.” Kate menunjuk piring-piring besar berisi kentang, sayur, roti, dan banyak lagi makanan lainnya. Meskipun heran, dan sedikit jijik saat membayangkannya, Emily bangkit dan meraih piring besar berisi makanan itu. Apakah makan di peternakan harus selalu dengan menu sebanyak ini? Di rumahnya, biasanya hanya tersedia paling banyak empat menu untuk sekali waktu makan. Namun, sekarang lihatlah berapa banyak yang Kate sediakan. Selain yang ia lihat tadi, masih ada roti sandwich tuna, ayam, dan juga bongkahan keju yang dipotong besar-besar. Benarkah para koboi selalu makan sebanyak ini? “Astaga, apa aku salah masuk ruang makan?” Emily mendengar suara itu di belakangnya ketika menaruh piring berisi daging giling berbumbu. Ketika ia menoleh, para koboi yang besar dan bersimbah keringat itu memasuki ruang makan seperti para serdadu perang. “Sejak kapan ruang makan peternakan menjadi serapi ini? Aku seperti sedang makan di restoran mewah,” ujar suara yang lain menimpali. “Pasti kau yang menatanya seperti ini kan, gadis manja?” Koboi lain bertanya padanya dengan sinis. Emily cemberut, bersiap membuka mulutnya sebelum Kate muncul dan berkata, “jika kalian masih mengeluarkan komentar seperti itu lagi, aku akan membiarkan kalian makan di kandang sekarang.” Ajaibnya, semua pria berbadan besar itu langsung menutup mulut mereka dan duduk di kursi masing-masing dengan patuh. Bahkan, Emily tidak mendengar kasak kusuk apapun dari mereka. “Kau juga lebih baik duduk. Bukankah kau kelaparan?” tanya Kate padanya. Tadinya iya, tetapi saat melihat para koboi itu, yang menatapnya dengan sinis, rasa lapar Emily menguap. Mereka semua pasti masih ingat dengan apa yang dikatakannya tadi dan tidak akan sudi makan bersamanya sekarang. “Duduklah. Waktu makan siang kami tidak banyak.” Suara Jake yang menenangkan terdengar di samping Emily, dan pamannya itu meraih kursi di sebelah kursi utama, meminta Emily duduk di sana. Jake duduk di sebelahnya, sementara Kate duduk di kursi utama. Satu hal yang tidak bisa Emily percayai adalah ketika salah satu dari para koboi itu membuka mulutnya untuk memimpin doa. Mereka tidak tampak seperti orang-orang yang percaya pada Tuhan, tetapi Emily takjub saat mendengar itu sebelum mereka menyerbu makan siang dengan bar-bar. Tidak seperti para pria yang makan dengan lahap dan mengambil hampir semua menu yang tersaji, Emily hanya menyendok sup daging yang harum itu, kentang tumbuk, juga sedikit salad. Untungnya tidak ada yang memperhatikannya, atau mengomentari makan siangnya sehingga Emily bisa menghabiskan semuanya dengan tenang. Bahkan, sebenarnya ia ingin mengambil supnya lagi, meskipun ia tidak melakukannya karena terlalu malu. Di meja ini, hanya ia, neneknya dan dua pengurus rumah yang perempuan, dan para wanita jelas tidak makan sebanyak para pria itu. Kurang dari satu jam kemudian, meja makan kembali sepi. Ruang makan yang tadinya ramai kini sunyi. Hanya terdengar suara piring-piring yang ditumpuk untuk dibersihkan. Emily bangkit dari duduknya lalu membantu Greta dan Grena, pengurus rumah, untuk membersihkan piring-piring kotor itu. “Aku tidak percaya kalian melakukan doa bersama sebelum makan,” kata Emily sambil membawa tumpukan piringnya ke mesin pencuci piring. “Kau pikir kami bukan orang yang seperti itu? Selalu berdoa sebelum makan?” tanya Kate dengan tersinggung. “Mereka semua mendapat giliran memimpin doa setiap hari, dan aku pastikan, kau juga akan mendapatkan giliranmu.” Beruntung saat itu Emily sudah tidak memegang apapun. Karena jika iya, bisa dipastikan benda itu akan jatuh ke lantai. “Granny, kau pasti bercanda!” Di rumahnya, doa selalu dipimpin oleh ayah atau ibunya. “Apa kau pikir aku orang yang suka bercanda? Bercanda bukan nama tengahku, Sayang.” Yeah, untuk yang satu itu, Emily sangat setuju. Mungkin nama tengah neneknya itu adalah Pemarah, atau Pemberi Perintah. Itu jelas jauh lebih tepat. Kate bahkan tidak pernah bercanda satu kali pun semenjak Emily sampai di rumah ini. Setelah mengelap meja sampai licin, Emily tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Kate sama sekali tidak memberitahunya tugas-tugas apa yang mesti dilakukannya selain memandikan kuda dan menyiapkan meja makan. Tidak mungkin neneknya akan membiarkannya beristirahat sementara orang lain masih sibuk bekerja kan? “Apalagi yang harus kukerjakan sekarang?” tanya Emily akhirnya meskipun apa yang sangat ingin dilakukannya sekarang adalah berdiam diri di kamar seperti kemarin. “Tidak ada,” jawab Kate tanpa menoleh padanya. “Tidak ada? Maksudmu, aku boleh kembali ke kamarku sekarang?” Saat mendengar itulah, Kate menoleh dan mengerutkan keningnya seraya menggeleng. “Tidak kembali ke kamar. Kau hanya akan berada di kamar saat waktunya tidur.” “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Kau bilang tidak ada pekerjaan lainnya untukku.” Seharusnya tadi Emily tidak bertanya. Wanita tua ini pasti akan mencari-cari seuatu yang harus ia kerjakan. “Memang tidak, tetapi kau tidak boleh kembali ke kamarmu. Tidak ada satu orang pun yang berada di kamarnya saat ini. Kau bisa berjalan-jalan di sekitar peternakan dan mengenal tempat ini.” Emily cemberut. Ia tidak mau berjalan di tengah teriknya matahari musim panas di sini. “Lebih baik aku berdiam diri di kamarku. Sekarang sangat panas.” Kate menaikkan alisnya. “Ibumu bilang kau sangat menyukai kegiatan luar ruang.” “Memang, tapi...” Sebelum Emily sempat menyelesaikan perkataannya, Kate sudah mendorongnya keluar dari dapur dan membanting pintu itu tepat di depan wajah Emily. Sial! Wanita tua itu selalu saja membuatnya kesal. Emily menarik napas dan memandang lahan hijau di sekitarnya. Semua tampak hijau dan menakutkan. Tidak ada gedung atau bangunan rumah lainnya yang terlihat. Mungkin jarak mereka terlalu jauh dari sini, dan itu berarti, tidak akan ada yang bisa menolongnya jika ia mencoba untuk kabur. Walaupun tidak ingin, Emily melangkahkan kakinya menjauhi rumah. Mungkin, apa yang neneknya katakan memang benar. Emily harus mengenal tempat ini karena ia jelas akan menghabiskan banyak waktu di sini. Mom dan Dad tidak akan menjemputnya sebelum musim panas berakhir. Mereka bukanlah tipe orangtua yang seperti itu meskipun jelas sangat mencintai anak-anaknya. Oh, adik-adiknya maksudnya. Emily jelas bukan lagi anak yang dicintai. Tidak seperti yang ia bayangkan, meskipun saat itu masih terik, tetapi mataharinya tidak terasa begitu membakar seperti di Ohio. Mungkin, itu karena banyaknya rumput dan pohon-pohon besar di sana. Angin bertiup dengan sedikit kencang, menguarkan aroma kering daerah pegunungan, juga aroma rumput yang tidak Emily ketahui namanya. Tempat ini seharusnya menyenangkan. Begitu tenang dan damai. Sayangnya, Emily tidak bisa menyukainya. Terutama karena ia tidak menyukai orang-orang di sini. Yeah, kecuali pamannya yang selalu baik padanya, dan pria seksi yang tadi ditemuinya di kandang. Adrian. Nama yang begitu maskulin dan seksi. Emily masih tidak bisa lupa bagaimana raut wajah pria itu, juga cara bicaranya yang sinis. Seandainya tidak sesinis itu, Adrian pasti menjadi pria yang sangat sempurna. Namun, tentu saja tidak ada manusia sempurna di dunia ini kan? Apa Emily akan pernah bertemu pria itu lagi di sini? Apa Adrian tinggal tidak jauh dari sini? Bahkan meskipun ia kesal dengan sikap sinis pria itu, nyatanya memikirkannya masih membuat seluruh tubuh Emily memanas. Bagaimana rasanya disentuh oleh kulit maskulin itu? Emily berhenti berjalan dan menarik napas dalam-dalam untuk menghilangkan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Apa sebenarnya yang ia rasakan? Apa Emily benar-benar telah jatuh cinta pada pria sinis itu jika mengingat reaksi yang terjadi padanya? Tidak mungkin cinta bisa datang semudah itu kan? Ia pernah mendengar dari orangtuanya bagaimana mereka saling jatuh cinta. Itu terjadi setelah hampir satu tahun Mom mengenal Dad. Lalu, Papa Devandranya dan Bibi Abby, mereka jatuh cinta karena bersekolah di tempat yang sama. Itu juga tidak terjadi dengan cepat. Jadi, mungkin yang Emily rasakan tadi bukanlah cinta. Mungkin ia hanya kagum. Emily mencibir dan kembali berjalan lebih jauh ke sisi lain peternakan. Kagum? Tidak mungkin. Pria itu sangat sinis. Tidak ada yang bisa dikagumi darinya selain wajah tampan dan tubuhnya yang seksi. Lagipula, pria itu pasti sudah tua. Sedangkan ia masih delapan belas tahun. Mereka jelas tidak akan cocok. Terlalu cepat bagi Emily untuk jatuh cinta sekarang. Apa yang harus ia lakukan saat ini hanyalah melewati tiga bulan terburuknya di sini, pulang ke rumah dan mulai kuliah, bekerja di perusahaan ayahnya, menjadi sukses, dan baru setelah itu ia akan jatuh cinta. Dan jika itu terjadi, Emily pastikan pria itu bukanlah pria sinis seperti Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD