▪️2▪️

2007 Words
*** "Greentea buat mama, kopi item tanpa gula buat papa, soda kaleng buat Rora." Sembari mengabsen pesanan, Gezra menyodorkannya pada sang pemesan. Kemudian mengeluarkan cemilan berupa snack ringan dan beberapa roti kecil siap makan. Setelah itu, ia duduk di sebelah Vicknan sembari menyeruput air mineralnya.G "Ganiel belum ke sini, Gez?" celetuk Grena saat menyadari jika besannya belum terlihat. "Padahal tadi pas kami perjalanan ke sini, Ganiel bilang mau nyusul." "Tadi papa ada meeting dadakan sama perusahaannya Ansel, Ma. Karena Gezra belum bisa balik kerja, papa yang nge-handle dulu." Grena membulatkan mulutnya dan ber'oh'ria. Setelah itu mengalihkan pandangannya ke Zevia yang tampak diam membisu. "Zev? Kok buburnya nggak dimakan? Mau cepet sembuh nggak?" Seperti biasa, Grena memberikan perhatian dengan caranya sendiri. Meski begitu, Grena hanya mendapat senyuman yang tak seperti biasa dari Zevia. Membuat sang wanita paruh baya itu makin dibuat heran. "Zev kenyang, Ma." "Kenyang atau nggak selera makan?" balas sang mama. Grena pun langsung bangkit dari sofa dan duduk di pinggir katil Zevia. Menyambar semangkuk bubur yang ada di genggaman sang anak dan mengambil satu sendok kecil. Akan tetapi, sebelum satu sendok bubur itu terlahap, Grena menghentikan aksinya. Air mata yang mengalir membentuk sungai kecil di pipi Zevia berhasil membuat hatinya ikut merasakan luka. Zevia menunduk. Berusaha menahan liquid yang tiba-tiba saja membobol benteng pertahanan. Tak bisa ia pungkiri, bahwa dirinya masih terluka. Kehilangan seorang calon buah hati bukanlah hal yang mudah ia lupakan. Apalagi menghadapi duka yang datang secara tiba-tiba setelah tawa. Kecewanya amat luar biasa. Tangisnya semakin hebat saat hangatnya peluk seorang ibu bergelayut mendekap. Tak hanya kehangatan yang tersalurkan, kasih sayang dan kekuatan juga ikut tercurahkan. Zevia ... benar-benar rapuh tanpa ia inginkan. *** "Kyra Beatalisa, kamu benar-benar melupakan saya?" Saat sosok itu menarik dagunya untuk menatap lebih dekat, tak bisa ia pungkiri bahwa ingatan kilas balik telah terjadi. Membuat kedua matanya membulat lebar dan segera menepis tangan itu dari dagunya. "Ka—kamu?" Beberapa jam sebelumnya. . . “Saya sangat berterima kasih karena telah disambut dengan meriah seperti ini. Saya tidak menyangka jika saya akan hadir di tengah keluarga rumah sakit yang hangat. Semoga ... kehangatan dan kekeluargaan ini bisa bertahan hingga kemudian hari.” Setelah memberi tanggapan yang singkat jelas dan padat, sosok berjas putih dengan notabene dokter baru itu mendapat tepukan tangan yang riuh. “Kalau begitu, saya permisi untuk bergegas pulang. Karena kedua orang tua saya juga menunggu di rumah.” “Baik, dok. Hati-hati di jalan.” Ia tersenyum kemudian bergegas meninggalkan kantin rumah sakit yang menjadi tempat perayaan penyambutannya. Namun, saat sampai di parkiran, ia baru teringat jika dirinya belum membawa mobil pribadi. Sebab, hari ini ia baru sampai di negara kelahirannya dan dari bandara langsung menuju rumah sakit untuk penyambutan. Melihat langit mulai berhias senja dan mendung berbondong datang, ia pun berlari menuju halte terdekat untuk mencari taksi. Sedangkan di sisi lain, Kyra tengah sibuk membereskan semua jurnal dan artikel sekaligus buku-buku tebal sebagai referensinya. Ia mulai meninggalkan perpustakaan sebuah kampus yang terkenal elit dan mengeluarkan jutaan lulusan yang hebat. Setelah pengobatannya berhasil dan dilanjutkan dengan check up rutin, Kyra kembali bersama angannya. Cita-citanya menjadi seorang dosen tak pernah luntur dari list misi yang sudah tersusun rapi sejak dulu. Usai membereskan semua barang yang berserakan di meja perpustakaan, Kyra pun bergegas pulang. Sebab, kampus mulai sepi dan senja telah tiba. Meski masih banyak mahasiswa yang berlalu-lalang mengikuti kuliah malam, Kyra tetap tak mampu merasa tenang berada di kampus pada malam hari. Ia lebih suka kedamaian kamar. Baginya yang merupakan seorang introvert, berada di luar kamar adalah pemborosan tenaga. Jadi, satu-satunya charger tenaganya adalah keheningan kamar dan berbagai cemilan ringan yang tersedia. Langit mendung yang mulai menghiasi langit tanpa menutup senja, membuat langkahnya makin cepat. Tempat yang ia jadikan tempat berteduh cukup penuh dengan beberapa orang. Sebagian dari mereka menggunakan seragam rumah sakit yang dibaluti dengan jaket. Meskipun tertutup, Kyra mengetahui jika mereka adalah petugas rumah sakit. Ya, kampusnya bersebelahan dengan sebuah rumah sakit yang menjulang megah. Rumah sakit daerah dengan pelayanan yang sangat terpercaya. Bertepatan saat Kyra membuka pintu taksi, ada seseorang yang berlari dari kejauhan. Berusaha menghindar dari rintikan hujan yang mulai turun membasahi tanah bumi. Hingga akhirnya, menerobos seorang gadis yang hampir saja memasuki sebuah taksi. Mereka berbincang cukup singkat dan mendebarkan sebelum akhirnya Kyra tersadar, siapa yang tengah ada di depan matanya. "Ya, saya Mileo. Dokter yang bersamamu sebelum kamu dinyatakan sembuh." Bersama dengan usaha membuat ingatan Kyra mengalir, sosok itu menyunggingkan senyuman yang sangat Kyra ingat dengan jelas. Sebuah senyuman mengerikan yang sangat ia benci. *** Hari yang sangat buruk bagi Kyra. Satu taksi yang ditumpangi dua penumpang berbeda tujuan. Taksi itu memang mengantarnya hingga ke rumah terlebih dulu. Namun, perjalanan yang menyebalkan sempat membuatnya ingin melompat dari taksi. Selama di perjalanan, sosok bernama Mileo Hans dengan notabene dokternya selama di Singapura tak pernah berhenti membuat moodnya memburuk. "Bagaimana dengan thesis-mu, Ra? Berjalan lancar, kan?" "Ya, begitulah, dok." Kyra menjawab dengan seadanya. Matanya fokus menatap ke arah luar jendela. Menikmati senja yang makin menghilang tertutup oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi. "Kenapa Anda bisa di sini?" Sebenarnya Kyra tak ingin membuat percakapan di antara mereka makin melebar. Akan tetapi, Kyra sangat penasaran mengapa seorang dokter tetap di sebuah rumah sakit Singapura bisa muncul di harapannya kini. Mileo tersenyum mendengar pertanyaan dari Kyra. Entah mengapa, ia merasa diperhatikan walau hanya mendengar satu pertanyaan dari pasiennya itu. "Saya ingin bertemu dengan kamu." Jawaban Mileo sontak membuat Kyra menatapnya kesal. Kedua alisnya bertaut memjadi satu dan manik mata itu membulat menggemaskan. Mileo terkekeh melihat ekspresi yang sering menjadi pemandangannya selama di rumah sakit Singapura. Ekspresi yang membuatnya candu hingga rindu ketika tak lagi ia dapat saksikan. "Saya ke sini, karena orang tua saya yang menginginkan. Ya, apa salahnya saya kembali ke negeri tanah kelahiran saya sendiri?" Kyra terdiam lalu membuang muka kembali. Ia tampak tak peduli dengan jawaban yang akan ia terima meski sebenarnya jawaban itu cukup membuat rasa penasarannya terbalas. "Oh, ya. Apa kamu masih melakukan check up rutin?" Kyra mengangguk sekilas. Tanpa berniat mengatakan apapun. "Siapa dokter yang sering melakukan check up rutinmu?" "Dokter Shasa." Kali ini Mileo menarik tipis sudut bibirnya. "Ternyata kamu masih sama, ya." Kyra mengalihkan pandangannya pada seorang dokter yang duduk di sebelahnya itu. Kedua mata Mileo tak lagi terfokus padanya. Melainkan ke jendela samping yang menampilkan pemandangan kota. "Maksud Anda?" "Kamu masih tak bisa membuka hati untuk saya." Napasnya tercekat. Kedua manik mata kebiruan yang berkilau indah itu terlempar padanya. Seolah tatapan itu menusuk hingga ke ulu hati. Untuk pertama kalinya, Kyra melihat keindahan Mileo. "A—apa maksud Anda?" Ia sadar. Ucapan Mileo adalah sebuah pernyataan. Pernyataan tentang sebuah perasaan. Belum sampai Kyra mendengar penjelasan yang lebih detail dari Mileo, taksi yang mereka tumpangi tiba-tiba mengerem pelan. "Rumahnya blok apa, Bu, Pak?" Kedua mata yang masih beradu akhirnya berpaling. Dengan tergugup, Kyra mengatakan alamat rumahnya dengan lengkap. Tak membutuhkan waktu lama, taksi itu pun sampai di depan kediaman keluarga Kyra. "Ongkosnya berapa, Pak?" tanya Kyra yang sudah bersiap mengeluarkan uang dari dompetnya tapi ditahan oleh Mileo. Dengan cepat Kyra menarik tangannya dartangan Mileo. Mileo tersenyum sekilas melihat itu. "Biar saya yang bayar. Sebagai permintaan maaf saya karena sudah menyerobot taksi milik kamu." "Oke, Terima kasih." Tanpa basa-basi, Kyra berterima kasih dan keluar dari taksi. Meninggalkan Mileo yang tetap berada di dalam tanpa ada niat mengatakan apapun lagi. "Apalagi ini? Kenapa tiba-tiba dokter Mileo di sini? Huft, bikin aku tambah pusing aja." Tak heran jika ia pusing, karena masalahnya akan semakin bertambah. *** "Zevia!" Sosok berkacamata yang sedang asyik bergurau dengan sang suami itu langsung membulatkan mata. Dua gadis yang tiba-tiba hadir membawa keriuhan membuat semangatnya makin mengental. "Kalian kok tau kalau gue di sini?" tanya Zevia setelah menerima pelukan hangat dari Emma dan Vranda. Kedua gadis itu langsung melirik Gezra yang berdeham kecil sambil membuang pandangan ke arah lain. "Kamu kasih tau mereka, Gez?" Zevia melemparkan pertanyaan yang membuat Gezra terkekeh sembari menggaruk tengkuknya pelan. Sebenarnya Gezra sudah berjanji untuk merahasiakan keadaan Zevia pada semua orang kecuali keluarga. "Gue yang maksa Gezra buat kasih kabar gimana keadaan lo, Zev. Lo tau, nggak, sih? Lo jahat. Kita merasa kayak sahabat nggak berguna karena nggak tahu keadaan sahabatnya lagi kayak gini." Emma melipat kedua tangannya ke d**a dan menatap Zevia sarkas. Mereka memang kesal karena Zevia merahasiakan keadaannya pada mereka. Namun, untung saja seorang Gezra sangat mudah diancam untuk mengorek keadaan sang sahabat. "Kalian ngobrol santai dulu. Gue beliin minuman bentar." Vranda dan Emma mengangguki ucapan Gezra sebelum sosok itu menghilang dari balik pintu. Akhirnya tersisa Vranda dan Emma yang berkesempatan mengomeli Zevia mati-matian. "Kalau bukan karena Gezra gampang diancem, gue sama Vranda bakal cekik lo sampai lo minta ampun." "Iya, Zev. Kenapa lo nggak kabarin kita, sih? Kita khawatir tau! Apalagi lo pasti butuh tempat buat cerita." Zevia tersenyum. Vranda-Emma pun paham arti senyuman itu. Sahabatnya tampak berbeda dalam memandang. Di balik kacamata yang menggantung, mereka melihat genangan air yang tertahan. Seolah Zevia tengah menguatkan benteng pertahanan agar air mata tak mampu membobol keluar. "Zev, gue tau rasanya kehilangan. Tapi kalau lo mempertahankan rasa sedih atas kehilangan, lo akan menutup kesempatan sesuatu untuk datang mengisi kehilangan itu. Yakin, deh. Tuhan itu Maha Adil. Mungkin saat ini lo emang kehilangan yang lo anggep bener-bener berharga. Tapi, kalau lo percaya sama Tuhan, suatu saat Tuhan bakal kasih yang lebih berharga dari ini." Hanya wejangan dari Emma yang mampu membuat Zevia gemas. Gadis itu memang selalu berhasil membuat sesak dalam dadanya kembali bergemuruh. Menangis bukanlah tolak ukur sebuah kelemahan. Karena dengan menangis, kekuatan mampu kembali tersusun dengan kokoh. "Kok lo makin puitis, sih, Em? Gue, kan, jadi terharu!" Sembari mengusap air mata yang berhasil lolos—entah sudah berapa kali air matanya meloloskan diri—Zevia memukul pelan lengan Emma yang duduk di pinggir katilnya. "Nggak salah, dong, kalau Emma makin puitis. Novelnya aja melejit sampai kemana-mana," sambar Vranda yang langsung membuat Emma tersipu. "Oh, iya. Gue sampai lupa kalau Emma ini sekarang jadi penulis novel romantis. Pantesan makin puitis." Zevia tersenyum menggoda sahabatnya yang makin tersipu. "Bolehlah sesekali angkat kisah cinta gue sama Gezra jadi novel. Biar gue sama Gezra kayak Habibie-Ainun gitu." Zevia terkekeh sekilas. "Wooii! Ide bagus!" Sontak Emma langsung mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu di sana. "Oke! Udah gue jadiin list ide dan besok langsung gue eksekusi." "Seriusan lo? Gue cuma bercanda, Wei!" Emma tertawa kecil. "Kisah lo sama Gezra emang harus diabadikan. Pasti bakal banyak yang suka cerita tentang Unwanted Marriage dan berhasil jadi Perfect Marriage. Iya, kan, Vran?" "Setuju!" Ya, benar. Zevia pun berpikir hal yang sama. Sebelum pada akhirnya, perfect marriage tanpa kehadiran buah hati hanyalah kehampaan yang melanda. *** Sembari menunggu pesanan, Gezra terus fokus melihat pesan demi pesan yang masuk memenuhi notifikasinya. Ada perasaan tak nyaman saat mendapat pesan itu. Namun, juga ada perasaan tak enak jika harus membalasnya. Apalagi terus mengabaikan hal yang sudah rutin ia dapatkan. Ia menggersah pelan dan meletakkan ponsel di atas meja. Kemudian memijat keningnya pelan untuk mendapatkan cara terbebas dari sang pengirim pesan. KLING Sebuah pesan baru kembali hadir. Meski ia selalu mengabaikan—tidak ingin membalas. Namun, rasa ingin mengetahui isi dari pesan itu tak dapat ia hindari. *+62 831-xxxx-xxxx : Hai, Gez. Kamu apa kabar?* *+62 831-xxxx-xxxx : Aku mau cerita lagi. Kayak biasanya.* *+62 831-xxxx-xxxx : Nggak masalah kalau kamu nggak ada niatan mau bales* *+62 831-xxxx-xxxx : Tapi semoga aja setelah ini kamu mau bales chatku* *+62 831-xxxx-xxxx : Gez, tau nggak?* *+62 831-xxxx-xxxx : Hari ini nyebelin banget rasanya* *+62 831-xxxx-xxxx : Tiba-tiba dia dateng lagi* *+62 831-xxxx-xxxx : Padahal aku udah seneng bisa jauh dari dia* *+62 831-xxxx-xxxx : Tapi si senyum mengerikan itu dateng tanpa aba-aba* *+62 831-xxxx-xxxx : Aku harus gimana, nih?* *+62 831-xxxx-xxxx : Tolong aku dong. Bales pesanku, ya* Lagi-lagi rasa tak nyaman menggelayuti pundaknya. Ia selalu teringat dengan Zevia setiap kali sisi kebaikannya itu meminta agar membalas pesan-pesan itu. Jika satu kali ia membalas, kesalahpahaman akan terjadi. Ia tak ingin masa lalu menjadi peroboh kepercayaan Zevia yang terbangun untuknya. "Maaf, Ra. Gue nggak bisa. Gue nggak akan ngehancurin masa depan gue untuk kedua kalinya." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD