***
"Zevia keguguran."
Seseorang di balik telepon terdengar mencekat napas. Tak heran jika pernyataan itu membuat setiap orang yang mendengar akan terkejut bukan main. Apalagi kebahagiaan yang baru saja terukir harus pupus oleh takdir.
"Terus gimana keadaan Zevia sekarang?" tanya seseorang di balik panggilan tersebut.
"Nggak apa-apa. Zevia udah tenang sekarang. Dia tidur setelah minum obat dari dokter."
"Jagain terus istrimu. Semoga lekas sembuh. Oh, ya. Kamu cuti aja ya, Gez. Semua biar papa dulu yang handle." Sang papa kembali memberi interupsi untuknya.
Gezra mengangguk meski sang papa tak mampu melihatnya. "Iya, Pa. Maaf karena harus ambil cuti lagi. Gezra masih harus jagain Zevia."
"Ya udah, papa mau meeting dulu."
PIP
Panggilan pun berakhir antara seorang lelaki berjaket denim dengan seseorang di balik telepon. Gezra—Lelaki berjaket denim—memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia menatap sang istri—Zevia—dari kejauhan. Rasa sakit kembali menjalar. Ya, ia kecewa. Bukan kecewa karena Zevia mengalami keguguran. Ia kecewa dengan dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi seorang suami.
Penyesalan pasti berada di ujung akhir. Begitulah yang sedang dirasakan oleh Gezra. Melihat Zevia terbaring lemah sekaligus merasakan duka yang dalam, Gezra menyesal karena terlalu fokus dengan karirnya. Iming-iming gaji yang tinggi dan kenaikan jabatan membuatnya kalut. Meski berulang kali Zevia mengatakan, "It's okay, aku selalu dukung kamu untuk terus maju. Percayakan buah hati kita padaku. Aku akan menjaganya." Namun, kalimat itu ternyata makin membuatnya merasa bersalah.
"Ternyata gue tetep aja nyakitin Zevia. Meskipun gue udah janji bakal bahagiain dia."
Krieeett
Suara pintu ruang VVIP yang ia tempati itu diseret terbuka. Menampakkan dua orang paruh baya beserta seorang gadis berkacamata masuk kedalamnya. Sontak Gezra langsung bangkit dari sofa dan mendekati mereka.
"Gimana keadaan Zevia, Gez?" Tanpa basa basi, Grena—Ibu Zevia—langsung melayangkan pertanyaan yang sudah disiapkan jawabannya oleh Gezra.
"Zevia nggak perlu melakukan kuretase, jadi dokter cuma kasih obat, Ma. Kemungkinan, Zevia bakal mengalami perdarahan selama konsumsi obat itu. Kata dokter, lebih baik Zevia mendapat perawatan beberapa hari di rumah sakit sampai diperbolehkan pulang."
Grena tak merespon jawaban Gezra. Ia sibuk mengelus pucuk rambut anak sulungnya yang masih terlelap dengan infus yang menancap di tangan kiri. Begitupun dengan Rora—gadis berkacamata—yang mengusap punggung tangan kanan sang kakak.
Gezra makin larut dalam rasa bersalah. Karena kelalaiannya, sebuah keluarga harus merasakan kepedihan. Pedih atas kehilangan seorang calon keluarga baru sekaligus lemahnya anggota keluarga yang sangat mereka sayangi.
"Maaf, Ma, Pa. Zevia kayak gini juga karena kelalaian Gezra."
Vicknan—Ayah Zevia—menatap sang menantu sekejap. Kemudian mendekati Gezra yang berdiri tak jauh darinya. Ia menepuk bahu sang menantu seolah memberi arti bahwa tak ada yang perlu di sesali.
"Gez, nggak perlu menyesali apa yang udah terjadi. Papa yakin, kamu udah menjaga anak papa dengan baik selama ini. Ya, mungkin semua ini terjadi karena emang udah takdir."
Gezra menghela napas berat. Walaupun ia percaya semua terjadi karena sudah takdir, namun tetap saja Zevia menderita karena kelalaiannya.
"Mama nggak nyalahin kamu, kok, Gez. Nggak perlu merasa cemas gitu. Lagipula, yang terpenting sekarang itu nyemangatin Zevia. Biar dia nggak terus-menerus bersedih hati." Grena menyambar setelah melihat raut wajah Gezra dipenuhi dengan kecemasan.
Alih-alih merespon ucapan kedua mertua, Gezra justru membulatkan matanya saat melihat Zevia terbangun. Senyuman di bibir sang istri membuatnya bergegas mendekati katil.
Rora memberinya ruang. Melihat kakak iparnya itu berusaha meraih tangan sang istri. Gadis itu melihat jelas kecemasan yang menggandrungi sang kakak ipar. Hal itu, membuatnya tersenyum tipis.
"Mama, Papa, Rora? Kapan kalian dateng? Kenapa nggak bangunin Zev?" Dengan suara parau, Zevia berusaha memposisikan tubuhnya untuk setengah duduk dan bersandar di bantal. Rasanya, tidur seharian juga membuat tulang belakangnya lelah.
Gezra membantunya. Memposisikan tubuh sang istri agar merasa nyaman. Apalagi setelah meminum obat dari dokter yang menyebabkan terjadinya perdarahan dan pasti rasanya sangat menyakitkan—meskipun ia mengetahui itu dari artikel yang ia baca.
"Lo tidurnya kayak kebo, sih, Kak. Jadi kita kesulitan buat bangunin lo," cetus Rora yang diiringi dengan kekehan kedua orangnya.
"Adik nggak tahu malu. Kakaknya lagi sakit malah dihina. Awas aja kalau gue udah sembuh ntar!" ketus Zevia tak mau kalah.
Pemandangan itu membuat Gezra tersenyum tipis. Meski ia sangat tahu kepedihan sedang memeluk erat sang istri, Zevia tetap masih menebar senyuman ketika keluarganya datang. Sebab itulah, Gezra sangat ingin menjaga senyuman itu. Senyuman bahagia. Bukan senyuman palsu untuk menutupi kepedihan.
"Gez?"
Lamunannya buyar ketika Zevia menampar pelan pipi sang suami. "Hm?"
"Kamu ngapain bengong? Beliin minuman atau cemilan apa gitu buat mama sama papa."
Gezra mengangguk pelan lalu menatap kedua mertuanya bergantian. "Mama sama papa mau minum apa? Kopi atau teh? Biar Gezra beliin di kantin rumah sakit."
"Rora mau soda kaleng aja, Kak!" sambar si gadis berkacamata yang berumur sekitar dua puluh dua tahun itu.
"Heh! Seenaknya aja nyuruh suami gue. Sana lo temenin Abang lo. Sekalian bantuin bawa."
Rora mengerucutkan bibir mendengar perintah menyebalkan itu. Sedangkan Gezra hanya tersenyum tipis melihat sikap ketus Zevia yang tampak sangat menggemaskan meskipun dalam keadaan sakit.
***
Setelah menerima pesanan dari Grena dan Vicknan, ia bersama dengan Rora pun bergegas menuju kantin. Dalam perjalanan, Gezra lebih banyak diam seperti biasa. Namun, Rora merasa memang ada keanehan dari sang kakak ipar. Kedua mata hitam legam setajam terkaman elang tampak lurus menatap ke depan. Namun, kosong. Seolah pikiran kakak iparnya itu melayang entah ke mana.
"Bang?"
"Hm?" Meski tampak melamun, Gezra berdeham merespon panggilan Rora.
Sembari menunggu lift terbuka untuk mengantar mereka ke basement—tempat kantin rumah sakit berada—Rora memulai sebuah percakapan.
"Boleh ceritain, kenapa Kak Zev bisa sampai keguguran?"
BINGO!
Pertanyaan yang sangat dihindari oleh Gezra akhirnya terlempar untuknya juga. Gezra memang menghindari pertanyaan itu tapi bukan berarti kesalahan pure miliknya. Ia hanya tak ingin kembali mengingat rintihan sakit Zevia yang menyayat hati sekaligus kehilangan sang buah hati yang melukai jiwa.
Dari yang Rora lihat, Gezra tampak menyunggingkan sebuah senyuman. Namun, tersirat kepedihan dari senyuman itu. Ia baru menyadari, bahwa pertanyaannya adalah pisau yang kembali melukai. Namun, rasa penasaran dan keingintahuannya lebih mendominasi keadaan. Bagaimanapun juga, ia berhak tahu penyebab gagalnya ia mendapat keponakan untuk pertama kali.
"Maaf kalau pertanyaan Rora bikin Bang Gez jadi sedih lagi. Tapi, Rora pengen—"
"Nanti Abang ceritain pas sampai di kantin aja."
TING
Pintu lift pun terbuka. Keduanya segera memasuki lift beserta beberapa orang lain yang menunggu. Kemudian jari mungil Rora menekan tombol satu untuk menuju ke kantin.
Selang beberapa waktu, lift yang mereka tumpangi pun terhenti di tempat tujuan. Namun, keduanya dihadang oleh seorang security dan dialihkan menuju jalan lain.
"Memangnya ada apa, Pak? Kenapa nggak boleh lewat sana?" tanya Gezra heran karena mereka harus dialihkan ke jalan lain untuk memesan makanan di kantin. Padahal jalan yang diarahkan ke mereka adalah jalur yang cukup memakan waktu.
"Di kantin utama sedang ada perayaan datangnya seorang dokter baru di rumah sakit ini, Pak. Jadi, pengunjung rumah sakit dialihkan ke kantin yang lain."
Jawaban security itu cukup membuat Gezra mengerti. Tampak banyak basa-basi, Gezra pun mengikuti arahan sang security.
Ia kembali melangkah bersama Rora. Dalam diam, ia tahu jika Rora sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada sang kakak hingga harus membuat gadis itu kehilangan kesempatan mendapat keponakan.
Namun, Gezra menahan ceritanya hingga sampai di kantin yang dituju. Cukup ramai keadaan di sana. Mungkin karena semua pengunjung diarahkan ke kantin kecil saat kantin utama digunakan para staff rumah sakit.
Rora mencari tempat tunggu disaat Gezra memesan minuman dan cemilan kecil untuk kedua mertuanya. Setelah itu, Gezra menghampiri Rora yang telah mendapat tempat tunggu. Keriuhan kantin tak membuat Rora menyerah untuk mendapat penjelasan dari sang kakak ipar. Ia terus menanyakan hal yang sama, hingga pada akhirnya Gezra pun menyerah.
"Ceritain, Bang. Rora pengen tahu, nih."
Gezra tersenyum dan mengangguk pelan. "Sebenernya, kakakmu itu keguguran karena kesalahan Abang."
"Hah?"
Lagi-lagi Gezra tersenyum sembari menatap Rora dengan sendu. "Abang terlalu sibuk dengan kenaikan jabatan. Ya, Abang pikir dengan naik jabatan, Abang bisa memberi nafkah lebih buat jaga-jaga biaya persalinan kakakmu. Tapi, kesibukan Abang justru malah membuat kakakmu beberes rumah sendirian sampai akhirnya kecapekan. Padahal sebelum itu, dokter udah berpesan kalau kakakmu nggak boleh kelelahan karena kandungannya lemah dan kakakmu mengidap hipoglikemia semenjak hamil. Jadi, hipoglikemia yang terabaikan ini menyebabkan kakakmu kelelahan dan sempat pingsan tanpa Abang tau. Jadi, semua ini salah Abang."
Walaupun masih dengan senyuman, Rora memahami siratan kekecewaan dari sana. Rora tak mampu menyalahkan siapapun. Bahkan Gezra, juga tak pantas disalahkan atau menganggap bahwa Gezra adalah penyebab keguguran kakaknya.
"Nggak usah pasang senyuman, kalau senyuman itu cuma bikin nambah luka."
Akhirnya Rora mengatakan apa yang ia pikirkan. Ia sudah tak mampu lagi melihat senyuman penuh kepedihan di sana.
"Bang, Rora nggak nyalahin Bang Gez atas peristiwa ini. Apa yang udah terjadi itu berarti emang takdir Yang Maha Kuasa. Bang Gez nggak bisa terus-terus berkabung dalam rasa bersalah. Lagipula, Kak Zev beberes rumah, kan, juga pengen lihat suaminya yang udah seharian kerja itu pulang dengan nyaman. Jadi, nggak ada yang salah di sini. Cuma ... bisa kalian jadikan pengalaman aja. Suatu saat kalau Kak Zev hamil lagi, Kak Zev harus diingetin biar nggak terlalu capek."
"Emh, ternyata Zevia punya adik yang bijak juga, ya." Gezra terkekeh mendengar ceramah yang disampaikan oleh adik iparnya itu. Ia tak menyangka jika Rora akan tumbuh lebih cepat dari yang ia duga. Ya, siapa yang sadar? Gadis tujuh belas tahun yang dulu masih asyik main drama cinderella di acara ulang tahun SMA, sekarang udah jadi gadis kuliahan semester akhir pula.
"Cih! Telat sadarnya. Rora udah bijak daridulu. Kak Zev aja yang bikin aura bijak Rora jadi tertutupi sama kebawelannya."
Gezra kembali terkekeh. Adik dan kakak itu memang sangat mirip. Seperti kucing dan tikus yang tak pernah bisa akur. Tapi terkadang seperti kerbau dan burung gagak yang saling membutuhkan. "Makasih, Ra. Karena udah ngingetin Abang."
Rora mengangguki ucapan itu dengan sebuah senyuman.
"Pesanan atas nama Gezra!"
Mendengar pesanannya telah jadi, Gezra langsung mengambilnya. Seusai Gezra mengambil pesanannya, mereka pun bergegas kembali ke kamar. Kali ini, senyuman yang terpatri di bibir Gezra bukan lagi sad smile. Namun, senyuman penuh semangat dengan harapan Zevia juga merasakan hal yang sama.
"Lo beruntung, Kak. Beruntung karena punya Bang Gezra yang selalu berusaha buat jagain dan bahagiain lo." Suara hati seorang Rora yang selalu kagum melihat kakak iparnya.
***
Senja hadir menyelimuti langit. Terlihat awan mendung berbondong-bondong datang seperti biasa. Cuaca yang sangat mudah berubah itu kadang merepotkan beberapa manusia tanpa persiapan. Apalagi untuk para imigran yang baru datang dari negeri luar.
Meski senja masih tampak di ufuk barat, rintik hujan mulai datang membasahi bumi. Tanpa permisi, tanpa aba-aba. Membuat beberapa pejalan kaki akhirnya mempercepat langkah menuju tempat berteduh.
Seperti halnya seorang gadis berlesung pipi. Ia mendekap tas dan bukunya agar terselamatkan dari rintikan hujan. Meski belum terlalu deras, tetap saja ada hal penting yang harus ia selamatnya. Thesisnya.
Beberapa kali ia melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan. Menunggu sebuah mobil sedan berwarna biru dengan label Taxi datang berhenti. Ia bergegas agar segera sampai di rumah untuk merehatkan pikiran yang mulai kalap dengan keadaan. Pada akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Baru saja ia membuka pintu, seseorang menyenggolnya hingga terpental—hampir jatuh. Untung saja sepatu flat yang ia kenakan mampu membuatnya terhindar dari adegan terpeleset air hujan.
Kesal? Jelas. Dua puluh menit ia menunggu. Namun, saat yang ditunggu tiba justri harus diserobot orang lain. Secara spontan, ia menarik bahu orang itu dan menutup pintu taksi dengan lantang.
"Ini taksi saya." Nadanya memang datar dan terkesan lembut. Namun, sebenarnya dalam hati, ia sangat jengkel dan bisa kapanpun meneriaki seseorang yang berdiri mematung di depannya. "Sekarang saya mohon Anda menyingkir, karena taksi ini datang untuk saya."
Sosok itu tampak tersenyum kecut. Tubuh tinggi kekar bak seorang atlet itu tetap berdiri di depan pintu taksi dan tak ada niat untuk memberi jalan padanya.
"Sepertinya kamu melupakan saya."
Kalimat itu terlontar dari sosok yang menjadi tersangka penyerobot taksi orang.
"Kyra Beatalisa, kamu benar-benar melupakan saya?"
Saat sosok itu menarik dagunya untuk menatap lebih dekat, tak bisa ia pungkiri bahwa ingatan kilas balik telah terjadi. Membuat kedua matanya membulat lebar dan segera menepis tangan itu dari dagunya.
"Ka—kamu?"
***