Sayangnya perasaan yang dirasakan oleh Vala, Yocelyn dan Tevy seakan tetap saja membulat meskipun mereka tau jika rasa cinta yang mereka rasakan seperti sebuah kesalahan yang sering di anggap sebagai cinta yang salah, tetapi perasaan mereka masih tetap sama.
"Kembali ke dunia yang telah berbeda memang tak mungkin, tetapi apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu bahkan jika rasa cintaku adalah sebuah perasaan yang salah dimata orang lain maka aku akan tetap mencintaimu, Fillbert! Tak mungkin ya? Sebab tak mudah untuk diriku berpaling ke lain hati Fill ...," batin Tevy sendu.
"Mengejarnya seperti mengejar angin yang berhembus dengan kuat dan aku tak bisa membuat pemuda itu menolehkan hatinya sedikit saja, ya memang aku harus sadar bahwa seharusnya aku melepaskan perasaan cinta yang sudah jelas tak miliki akhir yang bahagia," batin Vala lelah.
"Kadang tidak semua akhir harus terlihat cerah begitu juga kisahmu, Yocelyn! Sudah jelas kisah yang kamu inginkan tak akan pernah terwujud, tetapi kamu masih saja bertahan pada keyakinan semu yang sudah jelas adalah sebuah kesalahan saja! Sadarlah Yocelyn," batin Yocelyn sendu.
Tanpa mereka sadari saat ini Hisyam sudah sampai mengantar Vala pulang dan pemuda itu tak lupa mengajak Vala untuk turun bersamanya karena ia perlu meminta maaf karena mungkin orang tuanya mengkhawatirkan gadis lugu ini.
"Val, Vala! Udah sampe rumah lu nih, ayok turun! Sekalian gue minta maaf karena udah buat keluarga lu nungguin lu, Vala! Lagipula cowok itu harusnya minta maaf langsung bukan cuma berani nganter sampe depan rumah aja jadi buruan masuk ke rumah lu," tutur Hisyam lembut.
Vala yang memang sudah sangat mengantuk membuatnya mengikuti langkah besar pemuda itu dan sesampainya dalam rumah ayah Vala menyambut mereka dengan hangat bahkan tak lupa mengingatkan pemuda itu untuk jangan pulang malam-malam seperti ini.
"Akhirnya kalian pulang juga, seharusnya kamu tidak pulang selarut ini Vala, Hisyam! Tidak baik jika perempuan justru pulang larut malam seperti ini ... bukan apa-apa khawatirnya kalian malah dinilai yang tidak-tidak oleh orang lain dan hal itu tidak diinginkan bukan," ucap ayah Vala serius.
Hisyam yang merasa tak enak hati karena membuat keluarga Vala khawatir seperti ini membuat pemuda itu meminta maaf dan ia berjanji tak akan mengulangi kesalahannya yang sama lagi lalu tak lama Hisyam pamit pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Maafkan saya ya pak, maaf karena saya membuat bapak dan keluarga lainnya jadi khawatir seperti ini? Awalnya saya tidak bermaksud untuk pulang selarut ini hanya saja ada masalah yang membuat kami pulang terlambat pak! Saya pamit pulanh dulu ya pak," tutur Hisyam lembut.
Mendengar hal ini membuat ayah Vala menganggukkan kepalanya mengerti dan gadis cantik itu
mengantar Hisyam sampai depan gerbang rumahnya, bahkan ia tak lupa mengingatkan Hisyam untuk berhati-hati selama di perjalanan.
"Kalau begitu, Vala antar Hisyam sampai gerbang ya pah! Nanti kamu bawa mobilnya jangan terlalu ngebut-ngebut ya, Syam! Sebisa mungkin kamu harus hati-hati ya selama di perjalanan, ah iya! Sampai jumpa besok di tempat kerja ya! Perhatikan jalannya ya Syam," ujar Vala lembut.
Pemuda itu hanya melambaikan tangannya sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah Vala, sementara gadis cantik itu hanya bisa menatap kepergian Hisyam dengan tatapan sendu dan ia tak bisa membohongi rasa cintanya yang masih tak bisa menyingkirkan pemuda itu dari hatinya.
"Gue tau gue gak bisa buat lu melihat gue sebagai gadis yang mungkin dia suka, tapi di luar ini semua gue gak bisa bohong kalo gue masih gak bisa menyingkirkan lu dari hati gue, Syam! Gue tau ini kesalahan gue yang nyari masalah sendiri cuma hati gue udah milih lu," lirih Vala sendu.
Sementara Hisyam yang berusaha keras untuk fokus dengan jalanan membuatnya lebih banyak diam karena ia tau jika di jam-jam seperti maka dirinya akan semakin sensitif dan Yocelyn juga berusaha sekuat mungkin menutup semua celah agar tak ada atma yang menggangu tuannya.
Menit berganti menit hingga tak lama Hisyam sampai juga di basement apartemennya, tetapi ia tau di tempat ini dirinya tidak boleh lengah karena bagaimanapun juga sekarang menunjukkan pukul 12.45 malam jadi sudah pasti aktifitas mereka lebih tinggi dibandingkan dirinya.
Hingga sebisa mungkin pemuda itu mempercepat langkahnya agar dirinya bisa cepat sampai di apartemen miliknya karena tubuhnya sudah benar-benar lelah saat ini dan rasa ngantuknya tak bisa lagi Hisyam tahan terlalu lama.
"Gak tau kenapa kayaknya hari ini lebih banyak menguras tenaga dibandingkan hari biasanya padahal seingat gue aktifitasnya gak ada bedanya! Cuma yaudahlah saat ini yang gue butuhkan itu tidur dan biarin diri gue memulihkan diri dari segala lelah yang terasa," gumam Hisyam lelah.
Matanya mungkin tak melihat ke sisi kanan atau kiri dari tubuhnya, tetapi Hisyam tetap saja bisa melihat atma-atma apa saja yang ada di sekelilingnya dan pemuda itu berusaha untuk tak ingin memperdulikan apa yang dirinya lihat.
"Bahkan disaat gue mau tenang buat istirahat bentar aja gak bisa ya? Ada aja atma-atma yang berusaha narik perhatian gue supaya diajak komunikasi padahal badan gue rasanya udah entah kayak apa, remuk, cape dan pengen banget tidur cuma udahlah diemin aja," batin Hisyam datar.
Beruntunglah akhirnya Hisyam sampai juga di dalam apartemennya lalu dengan cepat pemuda itu langsung melemparkan tubuhnya ke tempat tidurnya yang nyaman dan sangat ia rindukan sebab seharian ini tenaganya terasa seperti terkuras sangat banyak.
"Akhirnya sampe juga di apartemen! Ya ampun rasanya kayak menemukan tempat paling mahal yang gue butuhin saat ini, gak paham lagi kenapa seharian ini tenaga gue kayak terkuras sangat banyak sampe gak tau lagi harus makan atau tidur dulu? Udahlah tidur aja ...," lirih Hisyam lelah.
Yocelyn yang mendengar hal ini membuat dirinya menenangkan pemuda itu karena apa yang ia lalui hari ini belum ada apa-apanya dibanding esok hari atau lusa yang bisa lebih melelahkan dari hari ini yang masih dibilang aman untuk dilaluinya.
"Apa yang kamu lalui hari ini masih belum ada apa-apanya, Hisyam! Percayalah hari esok itu bisa saja lebih berat dari apa yang kamu bayangkan jadi lebih baik kamu istirahatkan dirimu dan tetaplah tenang karena hari yang belum terjadi itu adalah sebuah misteri," tutur Yocelyn serius.
Dalam diam pemuda itu hanya bisa menghela nafasnya lelah karena tenaganya sudah benar-benar terkuras banyak dan Hisyam hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat agar dirinya bisa segera tidur dengan nyaman.
Sementara Yocelyn yang tak pernah bisa membiarkan atma lain menganggu Hisyam membuat dirinya memasang batas dan perlindungan agar Yocelyn bisa istirahat dengan tenang karena bisa saja besok adalah hari yang merepotkan.
Menit berganti menit terus bergerak hingga perlahan matahari mulai menunjukkan sinarnya dan setiap mata yang tertutup perlahan berusaha menghalau sinar mentari yang berusaha untuk membangunkan mereka dari tidur nyamannya.
"Ya ampun silau amat dah? Perasaan gue baru tidur bentaran doang, tapi ngapa digangguin gini sih! Yoce! Tutup tirai jendelanya dong! Asli badan gue kayak remuk semua, Yoce! Gue cape banget kemarin jadi please, Yoce! Biarin gue istirahat bentaran lagi dah ...," gumam Hisyam lelah.
Yocelyn yang melihat wajah Hisyam yang terlihat tidur dengan nyenyak membuat gadis cantik itu terdiam dan membiarkan pemuda itu menikmati mimpi indahnya, tetapi tidak lama ponsel Hisyam berdering membuatnya mengangkat panggilan telpon itu dengan setengah sadar.
"Hah? Halo? Ada apa? Eh ini siapa ya? Bentar ini jam berapa dah? Ini yangg nelpon gak bisa nelponnya lebih pagi lagi, ya? Gimana kalo nelponnya nanti siang lagi aja? Atau kalau emang ada urusan penting tolong kirim pesan aja ya biar nanti saya baca saja ...," ujar Hisyam linglung.
Ternyata yang menelpon Hisyam adalah Chiko yang mengingatkannya jika hari ini dirinya dan Chiko ada tugas di luar kantor jadi mereka tak perlu ke kantor, tetapi langsung ke tempat yang harus mereka datangi hari ini.
"Baru tau gue kalo ketua tim gue masih tidur jam segini ya? Kayaknya kalo gue gak nelpon lu yang ada lu lupa kalau hari ini lu sama gue ada tugas di luar kantor jadi kita gak perlu dateng ke kantor dulu gak apa-apa, Syam! Tapi sebagai gantinya kita disuruh langsung ke tempat yang harus kita datengin hari ini tau, Hisyam! Jadi mending lu buruan siap-siap!!" ucap Chiko serius.
Hisyam yang mendengar hal ini membuatnya menyahutinya dengan datar lalu tak lama pemuda itu memilih mengakhiri panggilan teleponnya dan bergegas untuk bersiap-siap pergi kerja karena ia tak ingin orang lain menunggunya terlalu lama.
"Ya karena gue gak tiap hari bangun kayak gini, Ko! Oh iya juga, hampir aja gue lupa kalau hari ini kita harus survei tempat ya? Yaudah ini gue siap-siap, tapi lu bisakan gak usah genit sama tetangga apartemen gue? Gue males denger keluhan tentang kelakuan lu," sahut Hisyam datar.
Setelah selesai bersiap-siap pemuda itu menyeduh kopi ke dalam termos yang biasa dirinya bawa karena Hisyam sangat suka meminum kopi dan sandwich untuk sarapannya, Lalu pemuda itu sudah siap menemui Chiko yang mungkin sudah sampai di basement.
Benar saja rekan kerjanya sedang bersandar ke mobil sport impiannya, Chiko memang memiliki pesona yang luar biasa jika sudah terlihat santai seperti ini. Di saat Hisyam menggeleng-geleng kan kepalanya saat melihat sikap Chiko, pemuda itu justru menyapa rekannya dengan santai.
"Wah, wah ... siapa ini yang datang? Emang ya seorang Ferris Hisyam Handaru itu gak pernah mengecewakan dari segi ketampanan ini! Well, bapak ketua ini gak mau sarapan dulu atau mau mampir buat sarapan dulu di cafe yang banyak cewek-cewek cantiknya pak?" tutur Chiko santai.
Sayangnya Hisyam yang tak ingin meladeni omong kosong rekannya dan langsung masuk ke mobil Chiko agar mereka cepat menuju ke tempat yang harus mereka temui, dalam diam Chiko langsung ikut masuk ke mobil dan bergegas menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.
Entah mengapa Chiko merasa ada yang tidak beres dengan rekannya ini dan ia berusaha untuk mencairkan suasana selama mereka di perjalanan, tetapi Hisyam hanya terdengar menghela napasnya berulang kali tanpa menyahuti ucapan Chiko.
"Lu ngapa sih, Syam? Masa pagi-pagi udah narik nafas mulu? Lu lagi ada masalah apa gimana? Orang tuh pagi-pagi semangat biar rezeki juga semangat buat nyamperin lu, Hisyam! Apa perlu gue telpon rekan kita yang lain supaya semangat lu balik lagi ya? Mau gak ...," ucap Chiko serius.
Hingga tak lama mereka harus menunggu dilampu merah dan tanpa sengaja Hisyam melihat ada yang tak beres di mobil sampingnya, lalu tiba-tiba lampu berubah hijau dan dari kejauhan Hisyam melihat ada bayangan yang begitu gelap di mobil tadi.
Melihat hal ini membuat pemuda itu tanpa sadar bergumam-gumam sendiri, tetapi Chiko bisa mendengar dengan jelas apa yang Hisyam ucapkan. Dalam diam Chiko merasa tidak mengerti dengan apa yang rekannya katakan hingga ia spontan mempertanyakan pada Hisyam.
"Semangat itu harus dibangun karena alasan bahagia bukan? Apakah orang yang belum bisa menemukan kebahagiaannya artinya ia belum bisa semangat gitu? Lalu bagaimana dengan orang yang belum sanggup mencintai orang lain? Apakah itu artinya cinta yang salah atau ada yang salah dari orang itu ya? Lah gue ngomongin apaan dah kagak jelas," gumam Hisyam datar.
"Orang semangat itu gak mesti lagi bahagia aja, Syam! Ada orang yang berusaha semangat walaupun hatinya hancur berantakan juga ada kok! Kalo tolak ukur bahagia itu cinta terus apa kabar yang single macem gue? Lu kenapa dah? Salah makan ya lu? Apa tadi lu salah minum obat ya? Niatnya ambil vitamin malah salah ya lu, Syam? Lu gak sehat ya?" tanya Chiko bingung.
"Begitukah? Kalo emang cinta gak salah mungkin emang gue aja yang gak tau diri gitu? Kasihan ya gue? Selalu berada di jalan yang gak jelas eh makin gak jelas pula arus yang harus gue lalui sebenarnya gue ini kenapa dah? Dahlah gak usah lu tanggepin gue, Ko!" sahut Hisyam dingin.
Namun sayangnya ucapan yang dijawab oleh Hisyam justru semakin membuat bingung dan tak lama mereka sampai di restoran tempat mereka akan membuat kerja sama dengan perusahaan lain, di saat Hisyam dan Chiko sibuk dengan tugasnya.
Vala dan Kayle di tugaskan berdiskusi dengan tim Fillbert yang berisikan 4 orang dan di ketuai oleh Fillbert sendiri, sebenarnya Kayle dan Vala sangat tidak menyukai tugas kali ini terlebih orang yang mereka hadapi adalah orang yang membenci rekannya.
"Selamat pagi! Terima kasih karena kalian sudah mau datang dengan tepat waktu, saya harap ke depannya tim ini bisa bekerja sama dengan sebaik mungkin ya jadi tolong kerja sama tim ini yang kompak karena atasan sendiri yang meminta tim ini untuk terbentuk," ujar Vala serius.
"Sebelum diskusi ini kita mulai, ada baiknya saya perkenalkan diri saya dan anggota tim kami! Ketua tim kami Ferris Hisyam Handaru dan satu rekan kami Chiko Iniko Jabulani sedang dalam tugas untuk memeriksa lokasi, lalu saya Kayle Jorell Hector dan di sebelah saya adalah Vala Sunee Roselani! Mohon kerja samanya ya rekan-rekan sekalian," tutur Kayle dingin.
| Bersambung |