Apartemen Baru

1116 Words
Selama lebih dari 2 minggu, William tidak sempat menemui Elvina karena ada bisnis di luar Negeri dan saat pulang ke Indonesia, ia terpaksa pulang ke apartemennya karena Ranty juga masih berada di Indonesia. Ia lalu mendapatkan kabar dari salah satu pengawal Elvina jika istri pertamanya itu kembali meninggalkan rumah. Namun, Elvina meminta salah satu sopir untuk mengantarkannya ke kostan dan sudah jelas, sopir itu mengatakan di mana kostan Elvina kepada William. Tok.. Tok.. Tok.. “Selamat pagi, Nyonya Elvina. Tuan William meminta kami untuk membawa Nyonya ke apartemen,” ucap salah satu pengawal setelah membungkuk hormat saat Elvina membuka pintu. “Apartemen?” tanya Elvina dari gawang pintu. “Benar, Nyonya. Tuan William sudah membeli sebuah apartemen untukmu, Nyonya,” jawab pengawal itu tanpa berani menegakkan kepalanya apalagi menatap Elvina. “Itu tolong, gak usah jadi patung di sini. Malu diliatin tetangga,” ketus Elvina tak habis pikir dengan orang-orang William yang tak bisa menyesuaikan diri di kostannya. Bagaimana bisa beberapa pria berjas hitam dengan badan tinggi besar berdiri tegak di hadapannya? Namun, permintaan Elvina tak digubris oleh orang-orang itu. “Dan tolong, hubungi Tuan William yang terhormat, saya mau tetap di sini. Saya gak mau di apartemen,” sambung Elvina yang sudah bersiap-siap menutup pintu. “Maaf, Nyonya. Kami hanya menjalankan perintah, kami akan tetap membawa Nyonya ke apartemen,” tandas pengawal itu lagi, tangannya reflek menahan pintu agar tidak tertutup. “Maksudnya mau paksa saya?” Elvina mulai kesal dan tiba-tiba orang-orang itu memberi jalan untuk dilewati William. “Ayo.” Tanpa basa-basi, William menarik tangan Elvina yang bahkan belum memakai sandal juga berpakaian piyama di jam 1 siang ini. Ya ... wanita itu belum mandi! “Ey, gak bisa Vina mau di sini,” teriak Elvina membuat para penghuni kostan yang lainnya keluar dan menyaksikan apa yang terjadi. “Jangan keras kepala!” bentak William terus membawa Elvina mendekati mobil. “Loh, Bapak yang jangan paksa Vina.” Elvina meronta-ronta, mencoba melepaskan tangan William. “Maaf, Pak? Ada apa ini?” tanya ibu kost dengan napas terengah-engah karena berlari menghampiri. Ia tahu William adalah suami Elvina karena sempat berbincang dengannya saat di rumah sakit. “Bu, aku ma—” Elvina hendak meminta ibu kost untuk menolongnya, tapi William segera memotongnya. “Saya mau ajak istri saya tinggal di apartemen. Kami hanya sedang bertengkar, jadi dia gak mau ikut,” jawab William lalu menatap kesal ke arah Elvina. “masuk, Sayang, ayo,” ajaknya dengan lembut. Elvina terpaksa masuk seraya mengoceh tak jelas. William ikut masuk, duduk di samping Elvina. Begitupun para pengawal yang segera memasuki mobil lain. “Gak usah sayang-sayangan segala!” ketus Elvina sambil memakai seatbelt sedangkan William tersenyum lega. “Saya senang kamu bisa marah-marah lagi,” celetuk William tanpa disaring membuat Elvina menatapnya sinis. “Trus, barang-barang Vina gimana?” tanya Elvina dengan nada kesal. “Biar mereka yang urus. Nanti dibawa ke apartemen.” William tak ingin pusing dengan barang-barang Elvina. Jika istrinya itu mengemasi barang-barangnya dulu, maka William akan menunggunya. Yang benar saja! Membayangkannya saja, William tak ingin. “Bapak ngapain beli apartemen segala?” Elvina mulai protes. “Karna kamu istri saya,” jawab William setenang mungkin. Mendengar kata 'istri', membuat Elvina geli sendiri. Ia ingin mengingatkan, berkata, “Loh? Vina 'kan mau ce—” “Heh?” William segera menghentikan ucapan Elvina dengan mata melotot tak tenang. Sungguh, ia tak ingin mendengar kata 'cerai' lagi dari mulut Elvina. “Ya tapi, 'kan, apa hubungannya sama kostan?” Elvina masih sesi protes sedangkan William mengerjapkan matanya agar tetap tenang. “Karena kamu istri saya, Vina Elvina, dan istri saya gak pantas tinggal di tempat seperti itu. Paham?” William menegaskan. Dalam kata lain, William menganggap kostan sangatlah tidak layak untuk seorang istri dari seorang CEO dan menantu Abizard. “Nggak! Karna aneh aja. Vina 'kan tidur sendiri di kostan, terus apa hubungannya sama Bapak?” Elvina bingung sendiri. Untuk apa William repot-repot membeli apartemen untuknya? Sementara mereka tak pernah bersama. Harusnya William tak peduli, bukan? “Ah ... Tuhan! Udah deh, jangan bikin saya bad mood. Kamu tinggal tempatin apartemen aja, apa susahnya?” Kini William benar-benar terlihat kesal. “Trus, Bapak ngapain ikut ke kostan? 'Kan udah minta pasukan bebek,” gerutu Elvina tak mengerti, suaminya itu sudah mengirim banyak pengawal, lalu untuk apa dirinya juga ikut? William menatap Elvina tak percaya dengan pendengarannya, lalu menahan tawa saat mendengar ocehannya yang mengatakan 'pasukan bebek' kepada para pengawalnya. “Karna saya tahu, kamu keras kepala. Musti pake tenaga baru mau.” William mendengus sebal. “Ya itu namanya pemaksaan!” bentak Elvina menekankan kata-katanya. “Yang penting mau, 'kan? Kalo saya gak ke sana, yang ada pasukan bebek ciut karna makian kamu!” William tahu Elvina tidak ingin tinggal di rumah orangtuanya karena tidak bisa leluasa. Sebab adanya pengawalan ketat, juga para pelayan yang jumlahnya tidak sedikit. Hingga akhirnya, William membeli sebuah apartemen untuknya. Setidaknya, itu cukup lebih baik daripada di kostan. Elvina menolak saat William akan menempatkan satu asisten untuk membersihkan apartemen dan membuat makanan untuknya. Istrinya itu mengatakan akan melakukannya seorang diri tanpa adanya asisten dan William menuruti kemauannya. Sesampainya di apartemen, William hendak membukakan pintu tetapi Elvina langsung bereaksi. “Bapak mau ikut masuk?" tebaknya dengan tatapan intimidasi sambil berkacak pinggang. William kikuk dengan sikap Elvina seolah tak suka berada di dekatnya. “Kamu ngusir ceritanya?” William merasa tersinggung. “Tentu, Tuan William. Ini bukan tempatmu, Tuan,” jawab Elvina kesal akan tetapi membuat William geli mendengar 'Tuan' dari mulut Elvina. Ia mendengus sebal dan memutuskan untuk pergi tanpa ingin mendebatkan apapun lagi. Elvina segera memasuki apartemen saat William sudah menghilang dari pandangannya. Apartemennya cukup luas, tetapi hanya memiliki satu kamar, dapur, ruang tamu dan yang lainnya. Elvina tak peduli dengan itu, yang ia rasakan saat ini adalah kenyamanan berada di apartemen yang cukup mewah. Sempat ingin menolak, tapi jika William sudah turun tangan seperti tadi, tandanya Elvina tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Setelah William membelikan apartemen untuk Elvina, ia tak pernah datang untuk berkunjung. Namun, sesekali ia mengirim pesan walaupun Elvina tak pernah membalasnya. Satu bulan kemudian Elvina, “Kak?” Aditya, “Awas lupa besok! Lo datang pagi-pagi jangan kesiangan, besok hari pertama lo kerja.” Elvina, “Bawel lu. Bisa budek beneran gue.” Aditya, “Karna gue tau, otak lo kadang kagak berfungsi, makanya gue ingetin! Bukannya bilang makasih kek, malah ngoceh.” Elvina, “Perasaan dari tadi lo deh yang ngoceh, ngegas mulu kayak tukang elpiji.” Aditya, “Ya, ya, ya, serah lu. Tidur lo jangan kemalaman, ntar lo bangun siang.” Elvina, “Iya!” teriak Elvina segera menutup teleponnya sebelum Aditya kembali memperingati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD