“Emang Vina kenapa? Vina gak gila. Kalo Vina gila, mungkin udah dari dulu, dari Vina kecil. Tapi Vina gak gila, 'kan?” racau Elvina memperlihatkan senyum kesedihan yang dapat membuat siapapun merasakan tekanan dan penderitaan saat melihat tatapannya.
William tidak mengerti maksud istrinya itu, 'dari Vina kecil'. Artinya, Elvina sudah sering seperti ini saat masih kecil?
“Gak ada yang bilang kamu gila, Vin. Tapi lihat kondisi kamu, Mama pasti sedih. Kamu harus sembuh dulu dari luka-luka di wajah dan di tangan kamu.” William menunjukkan luka yang ada di tangan istrinya itu.
Elvina memperhatikan lengannya, melihat luka-luka yang masih ada, ia juga meraba wajahnya yang terdapat luka yang sudah cukup kering.
“Kita sembuhin luka kamu dulu, baru ketemu Mama, ya?” William membujuk seperti kepada anak kecil.
“Vina pulang aja ke kostan. Gak mau ke rumah Mama,” pinta Elvina sambil menggelengkan kepalanya.
“Jangan ngaco. Kamu jangan nolak dilayani pelayan. Biar mereka yang temani dan jaga kamu. Saya yakin, kostan kamu gak bakal muat, Vin.” William mendengus kesal. Bisa disangka artis kalau kostan kecil dihuni beberapa pelayan juga penjaga di depan pintunya.
William membawa Elvina pulang ke rumah orangtuanya. Ia meminta 2 pelayan wanita dan 3 penjaga untuk menjaga Elvina. Tak lupa dokter pribadi William yang ikut serta menginap di rumahnya untuk berjaga-jaga. Setiap hari, William selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk Elvina di kamarnya.
Tepat empat hari Elvina dirawat di rumah Abizard, William ingin mengunjunginya. Namun, hal yang pertama ia lakukan adalah bertemu dengan dokter yang merawat Elvina.
“Bagaimana keadannya?” tanya William pada dokter. Mereka duduk di ruang keluarga.
“Jangan khawatir. Nyonya Elvina akan baik-baik saja. Beliau memiliki tekanan batin sejak kecil, tetapi ia juga memiliki sifat optimis. Yang perlu dihindari adalah kekerasan. Beliau akan sangat terpukul ketika mengalami kekerasan.” Dokter menjelaskan secara singkat, tetapi jelas.
“Saya mengerti.” William mengangguk satu kali. Hatinya sungguh terasa lega mendengar itu. Dokter mengatakan yang lainnya, saran serta apa yang harus dihindari Elvina.
Setelah cukup lama berbincang, William ingin menemui Elvina. Saat masuk ke dalam kamar, ia melihat Elvina sedang menatap langit-langit, melamun. Adapun dua pelayan wanita, mereka berdiri di dekat ranjang yang ditempati Elvina. Mereka segera menghampiri William lalu membungkuk hormat.
“Dia sudah makan?” tanya William kepada Anna, salah satu pelayan yang ditugaskan untuk menemani Elvina.
“Belum, Tuan. Saya sudah membujuk Nyonya tapi tidak berhasil, maaf.” Anna menunduk tak enak dengan suara rendah.
“Tinggalkan saya bersamanya,” perintah William dan 2 pelayan itu membungkuk hormat, lalu keluar dari kamar dan menutup pintu.
William melangkah sambil berkata, “Kamu ma—”
“Vina mau cerai,” sela Elvina dengan cepat tanpa menatap William, masih menatap langit-langit.
Bagai disambar petir, seketika jantung William berdegup kencang. Apa yang didengarnya itu benar atau hanya salah dengar?
“Maksud kamu?” William terus melangkah mendekati Elvina. Nadanya tetap terdengar datar meskipun hatinya terasa tak karuan.
Elvina berkata dengan lirih, “Ceraikan Vina. Izinkan Vina bahagia juga.” Kini Elvina menatap William dengan mata berkabut.
William tak tahu harus menjawab apa, tetapi hatinya terasa sakit ketika Elvina meminta 'kebahagiaan'. William menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan guna meredakan emosi yang entah emosi untuk apa.
“Jangan terburu-buru. Ma—makdunya ... itu gak mungkin, Vin,” jawab William terbata-bata.
“Biar Vina yang bicara sama Mama dan Papa tentang pernikahan kita yang ... tidak bahagia,” kata Elvina menahan ucapannya dan menurunkan notasi nadanya menjadi sangat pelan di ujung kalimatnya.
“Vin .... ” William mengerjapkan matanya dan menghela napas panjang, lalu membuangnya perlahan berulang kali. Tidak sedikitpun ada kata 'cerai' untuk Elvina dibenaknya walaupun ia tidak mencintainya.
“Saya tahu, saya tidak bisa memberikan kebahagiaan. Untuk itu, saya minta maaf. Saya ingin kamu beri saya waktu untuk memperbaiki itu,” ungkap William kemudian, entah secara sadar atau tidak ia mengatakan itu. Yang jelas, William tak ingin menceraikan Elvina apapun alasannya.
“Vina gak minta kebahagiaan dari Bapak. Kebahagiaan dari Mama sama Papa udah cukup buat Vina,” lirih Elvina. Wajahnya tampak frustasi yang menular kepada William.
“Lalu? Kenapa kamu minta cerai?” tanya William menyatukan kedua alisnya, bingung.
“Vina jatuh cinta. Vina cuma mau bersamanya. Salahkah itu? Bukankah Vina juga berhak bahagia?” ungkap Elvina dan kini ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
“Vin—”
“Ibunya juga baik, sudah merestui Vina. Hanya adiknya yang mungkin belum terima Vina, tapi Vina yakin dia bakal terima juga nantinya,” imbuh Elvina.
William bingung dengan perasaannya, mengapa ia tak suka dengan penuturan Elvina. Bukankah ia tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Elvina? Namun, sebenarnya Elvina juga berat untuk bercerai. Bukan cinta yang menjadi penghalang, tapi orangtuanya. Mehmed dan Amy, mereka sudah menjadi keluarga yang Elvina sayangi melebihi apapun.
William ingin mengalihkan pembicaraan. Jadi, ia berinisiatif untuk menyuapi Elvina makan. “Tolong, jangan banyak pikiran dulu. Saya mau kamu sehat dulu,” ujarnya sambil meraih piring berisi makanan yang sudah tersedia di nakas.
Makanannya terlihat masih utuh, menandakan Elvina tak pernah menyentuhnya sedikitpun. William duduk di tepi ranjang, memutar setengah tubuhnya agar menghadap Elvina.
“Kamu makan dulu. Please.” William memohon dengan lembut.
Elvina menatapnya dengan bingung. Mengapa William bersikap lembut padanya setelah kejadian itu?
“Vina bisa sendiri.” Elvina mengangkat sedikit tubuhnya untuk duduk. Setelah berhasil duduk dengan bantal yang mengganjal tubuhnya, ia lanjut membawa sendok dari piring yang masih berada di telapak tangan William, tetapi tangannya gemetar.
“Biar saya aja.” William menghentikan tangan Elvina dan ialah yang meraih sendoknya, mulai menyuapi Elvina sedikit demi sedikit.
Ada kehangatan di dalam hati Elvina, tetapi itu hanya sebentar. Ia mengingat William memiliki kekasih, hatinya tiba-tiba ingin menghindar, kembali merasa tak berhak atas apapun yang bersangkutan dengan William.
“Bapak jangan deket-deket Vina,” lirih Elvina saat William menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
“Kenapa?” tanya William penasaran. Elvina hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu istri saya, Vin.” William memperingati, menatap Elvina, tetapi yang ditatap tidak peduli dan malah menatap ke arah lain.
William mengusap bibir bawah Elvina saat selesai menyuapi sang istri walaupun tidak sampai habis karena Elvina tidak ingin menghabiskannya. Ia lalu menyimpan piring tersebut di atas nakas dan segera menyambar botol obat yang juga ada di atas nakas.
“Tinggal minum obat. Sebentar.” William meneliti tulisan disecarik kertas, guna mengetahui jadwal Elvina untuk meminum obat serta takarannya. Lalu, ia memberikan obat itu sesuai anjuran dokter kepada Elvina.
“Sekarang istirahat.” William membaringkan tubuh Elvina lalu menyelimutinya dan berkata, “selamat Malam, Ayu.” Kemudian, ia keluar dari kamar itu.
Elvina menatap punggung William yang menjauh, lalu menghilang. Ia merasa aneh dengan perilaku William yang lembut seperti itu. Bahkan, ia seperti mimpi saat melihat sendiri, sisi lain dari seorang William yang sudah menjadi suaminya itu.