Bujukan Untuk Pulang

1067 Words
Malam itu, William tetap terjaga. Satu jam ia tertidur lalu terbangun lagi dan hal yang pertama ia lakukan adalah melihat jam dinding di ruang tersebut. Lama terjaga, ia tertidur kembali dan lagi baru beberapa saat ia terlelap, ia sudah terbangun kembali dan terus seperti itu. Hatinya ingin segera menjumpai pagi hari, tak jarang ia memainkan ponselnya untuk bermain game online guna membunuh waktu. Matanya terasa perih karena kantuk, tapi apa boleh buat ia tak dapat tertidur dengan nyenyak sehingga ia tetap terjaga. Tak terasa jam menunjukkan pukul 6 pagi dan ia segera bermandikan diri guna mengusir rasa kantuk. Tak ingin bertatap wajah dengan Ranty, ia memilih pergi sebelum istri keduanya itu bangun. Ia mampir ke hotel miliknya untuk sarapan sebelum ke rumah Rafael, ia tahu sangat tidak sopan jika ia datang terlalu pagi. Setelah perutnya terisi, ia malah tak bisa mengendalikan kantuknya sehingga ia tertidur di sebuah sofa di ruangan khusus untuknya. “Pah ... Ma—” Clara terbangun di tengah-tengah Rafael dan Elvina. Rafael sudah bangun terlebih dahulu dan berpindah berbaring bersama Elvina dan Clara, lalu memeluk mereka berdua. “St .... ” Rafael menutup mulut Clara agar tidak mengganggu tidur Elvina. Clara tersenyum manis melihat Elvina tidur bersamanya. Rafael lalu membawa Clara keluar dari kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah sedangkan ia memutuskan untuk tidak pergi ke manapun selagi Elvina di rumahnya. Setelah Rafael selesai mandi dan Clara sudah siap untuk berangkat sekolah, Elvina masih tertidur akan tetapi Rafael tak berniat untuk membangunkannya. Setelah beberapa lama Clara berangkat, seorang asisten rumah menemui Rafael yang saat itu berada di ruang keluarga. Asisten itu mengatakan bahwa orang yang kemarin datang sudah datang lagi. Rafael segera menemui seorang pria yang mengaku sebagai kakak Elvina. “Saya ingin menjemput Elvina,” ucap William tanpa basa-basi, padahal Rafael belum duduk. Jangankan duduk, ia masih berjalan ke arah William. “Elvina masih tidur. Bisakah Anda menunggu? Saya tidak ingin tidurnya terganggu,” pinta Rafael setelah berada dekat dengan William. Ia segera duduk di hadapan ketiga tamunya itu, tetapi William sudah tidak sabar. “Biar saya yang membangunkannya. Saya juga ingin bicara dengannya,” jawab William tegas. Rafael diam seolah sedang berpikir untuk menjawab. “Baik. Mari ikut saya. Tapi jika nantinya Elvina belum siap pulang, saya mohon Anda jangan memaksanya,” pintanya yang diangguki William dengan pasrah. Rafael lalu membawa William seorang diri, sedangkan 2 pengawalnya diminta untuk tetap di ruang tamu oleh William. William memasuki sebuah kamar yang diyakini kamar Rafael. Melihat Elvina tidur bersama seorang pria, membuat William merasa kesal. “Mengapa Elvina tidur di kamarmu? Apa yang Anda lakukan?” tanya William dengan nada tak tenang juga tatapan sinis. “Ukuran kasur Clara tidak cukup untuk mereka berdua, jadi saya membiarkan Elvina tidur di sini bersama Clara,” jawab Rafael tanpa merasa sungkan atau yang lainnya. “Lalu Anda?” William melemparkan tatapan intimidasi. “Saya tidur di sofa. Saya memang mencintai Elvina, tapi saya tau batasannya.” Tak kalah, Rafael memasang wajah tak suka. Ia mencurigai William, tentu saja. Bagaimana William yang sepertinya bukan orang biasa, tapi Elvina hidup sengsara dengan menjadi seorang pengasuh, tinggal di kostan sempit dan menggunakan jasa ojek online ke manapun ia pergi. “Apakah di sini tidak ada kamar tamu, Bung?” William masih tak terima jika Elvina tidur bersama pria lain walaupun pria itu tak melakukan apapun. “Saya tidak ingin ambil resiko. Elvina bisa saja melarikan diri dan Anda akan semakin sulit menemukannya.” Rafael membela diri, ia lalu mendekati wanita yang ia cintai yang masih berselimut diri. “Vin ... Kakakmu sudah datang lagi untuk menjemput,” ucap Rafael lembut. William melihatnya sendiri, cara Rafael membangunkan Elvina. Rafael membelai rambut istri pertamanya itu lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Elvina. Sekilas, seperti akan menciumnya. “Biar saya yang membangunkannya,” ujar William yang sudah mulai jengah melihat kedekatan Rafael dan Elvina. “Vin, kita pulang sekarang. Mama Amy sangat khawatir, Papa juga.” Berbeda dengan cara Rafael yang lembut, William membangunkannya dengan nada tinggi. Ia menggoyangkan tangan Elvina cukup keras. Rafael hanya menatapnya, ia sedikit menjauh tapi tetap berada di kamarnya. “Hm .... ” Elvina menggeliat dan membuka matanya sedikit demi sedikit. “Kita pulang. Mama Amy sudah menunggu.” William mengulangi ucapannya. “Mama Amy?” Elvina menatap bingung, berusaha mengumpulkan ingatannya. Elvina mengingat Amy yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya yang menyayanginya melebihi ibu kandungnya sendiri, Susan. Elvina lalu menangis sejadi-jadinya. Ingatannya belum terkumpul sempurna, tetapi ia sadar jika ia sangat mencintai ibu mertuanya itu. Rafael yang melihat itu, membantu Elvina untuk duduk dengan tangis yang keras. William hanya mematung, tak tahu apa yang harus ia lakukan. “Vin ... Vina ... ayo bangun,” ucap Rafael lembut. Elvina memeluk Rafael dalam posisinya yang masih berbaring hingga Rafael tertarik ke atas tubuh Elvina. Tangan Rafael meresponnya, membalas pelukan Elvina. Entah kenapa, William merasa tidak terima melihat Rafael memeluk istrinya. Jantungnya berdegup sangat kencang, tubuhnya terasa terbakar, ia terus menerus memalingkan wajahnya ke sembarang arah dengan mulut mengatup kesal. “Vina sudah. Kamu ingat 'kan sama Mama kamu? Dan sekarang Mama kamu sudah menunggu kamu pulang.” Rafael mengelus-elus punggung Elvina, menenangkan wanita itu dengan lembut. “Vina kita pulang sekarang. Mama Amy sangat khawatir,” sela William sedikit berteriak. Rafael melepaskan pelukannya, lalu segera bangkit untuk berdiri. Tatapannya langsung tertuju pada William. “Saya ikut antar Elvina ke rumah ibunya,” ucapnya santai. “Tidak perlu," jawab William tegas. Pandangannya teralih kepada Elvina saat berkata, "Vina kita pulang sekarang,” ajaknya dan Elvina menganggukkan kepalanya. “Vina mau ketemu Mama Amy,” jawab Elvina dengan nada lirih, wajahnya masih terlihat sendu tanda ia masih dalam keadaan sakit. Elvina segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian beranjak dari ranjang itu. “Oke, kita pulang sekarang.” William segera meraih tangan Elvina untuk ia genggam dan menuntunnya keluar rumah tanpa pamit kepada Rafael. Seseorang membukakan pintu mobil untuk Elvina diikuti William yang duduk di sampingnya. Di tengah perjalanan, Elvina bertanya, “Mama udah pulang?” Tatapan kosong Elvina membuat hati William merasa bersalah yang tak ada habisnya. William menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban dan berkata, “Mama sama Papa akan pulang, kalo kamu udah sembuh. Kamu gak mau 'kan liat Mama sama Papa sedih karna liat kondisi kamu kayak gini?” tuturnya yang berbohong, mengatakan jika Amy menunggunya di rumah. William tahu, Elvina hanya akan ikut pulang dengan menyebut nama Amy dan Mehmed, hanya orangtuanya yang menyayanginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD