Menggunakan tangannya yang terluka Sebastian melambaikannya pada seorang wanita bertudung cokelat yang tengah bersembunyi di balik reruntuhan. Isyarat itu Sebastian gunakan dengan harapan jika gadis itu akan segera berlari menghampirinya untuk segera bersembunyi di tempat yang lebih aman. Pasukan mereka kalah jumlah dengan pasukan para ekstrimis dan pasukan bantuan belum datang untuk membantu mereka, sehingga pasukan yang dipimpin oleh rekan Sebastian harus mundur dan mencari tempat untuk bersembunyi.
Tepat saat itu Sebastian bertemu dengannya, entah siapa namanya, gadis bermata cokelat gelap yang hangat ketakutan di antara reruntuhan. Nurani Sebastian mendorongnya untuk menolong gadis malang itu, Sebastian melihat gadis itu gemetar ketakutan mendengar suara tembakan yang tak berhenti. Sebastian berusaha untuk memberikan isyarat sekali lagi pada gadis itu.
“Kemarilah!” Sebastian kembali melambaikan tangannya, ia memeriksa keadaan sekitar. Berusaha memastikan jika langkah gadis itu sudah pasti aman. “Cepat!” Sebastian melambaikan tangannya meski terasa ngilu.
Gadis itu mulai mengerti, ia pun segera mengikuti instruksi Sebastian untuk menyebrang ke tempatnya dengan merunduk. Jantung Sebastian berdebar sangat kencang, berharap jika gadis itu akan segera sampai di tempatnya. Setiap langkah gadis itu mendekat padanya melepaskan kegelisahan Sebastian.
Namun, tubuh gadis itu mendadak roboh dari kepalanya keluar cairan kental berwarna merah yang membasahi tanah gersang. Seorang sniper menembak tepat di kepala gadis itu hingga membuat nyawanya langsung melayang. Mata gadis itu terbuka tapi tubuh Sebastian membeku.
“Tidak,” batinnya mulai memberontak
“TIDAK!”
Nafas Sebastian tersengal-sengal bersamaan dengan tubuhnya yang bangkit secara mendadak. Keringat bercucuran dari kening hingga membasahi seluruh tubuhnya. Sebastian mencari gelas berisi air yang selalu ia siapkan di sisi ranjangnya, mimpi yang sama selalu berulang setelah beberapa tahun berlalu. Hampir setiap malam, ia akan memimpikan hal serupa, hal terakhir yang ia saksikan sebelum akhirnya Sebastian dipulangkan kembali ke Amerika.
Sebastian membuka laci di samping ranjangnya, terdapat beberapa botol obat yang diberikan oleh terapisnya untuk membantunya melepaskan ketegangan di malam hari. Namun, Sebastian kembali menutup lacinya, jika ia meminum obat tersebut kecil kemungkinannya dia akan bangun pagi.
Usai berhasil menata kembali nafasnya yang tak karu-karuan itu, Sebastian menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh setengah telanjangnya. Terlihat di bagian punggung hingga tangan kirinya terdapat bekas-bekas luka yang tak akan pernah hilang selamanya, luka yang akan terus menjadi pengingat baginya seumur hidup.
Sebastian pergi mengambil sesuatu di mejanya lantas berjalan menuju balkon apartemennya. Tepat setelah ia menggeser pintunya angin malam langsung menerpa tubuh setengah telanjangnya, Sebastian tak merasa kedinginan, ia membutuhkan angin segar itu untuk melepaskan ketegangan akibat mimpi buruknya.
Selama di California, ini adalah kali pertamanya ia bermimpi buruk. Sebelum-sebelumnya ia tidak mengalami mimpi ini. Sebastian pikir jika mimpi buruk itu sudah berakhir, nyatanya belum. Sebastian mengambil rokok yang sebelumnya ia ambil dari atas meja, ia mengeluarkan satu batang rokok hendak menaruhnya ke bibirnya akan tetapi, Sebastian mengurungkan niatnya.
Sebastian tak ingin bibir bekas mencium Samantha ternodai.
Sebastian harus berterima kasih kepada Walikota lain kali karena telah mengadakan pesta peresmian tersebut. Ini terdengar sangat egois dan kekanakan akan tetapi berkat pesta tersebut sebuah momen berpihak padanya hingga ia bisa mencium bibir Samantha meski hanya sekilas saja.
Setelah adegan penyiraman yang dikatakan ‘tidak sengaja’ oleh Madison si putri wakil walikota, Samantha melangkah ke dalam pesta dengan kepala tegak. Ia bahkan melepaskan jas pemberian Sebastian dan memilih untuk mengenakan gaunnya yang terkena noda. Entah apa maksudnya, tapi perbuatannya benar-benar menarik perhatian banyak wanita. Mereka yang sebelumnya hanya berani berbisik akhirnya mendekati Samantha meski semua yang dikatakan mereka adalah kepalsuan belaka. Samantha pun membalas mereka dengan senyumannya yang paling menawan, ia bercakap-cakap dengan para sosialita itu dengan lancar seolah memang dirinya ditakdirkan ada di tengah-tengah mereka.
Sementara itu Sebastian, ia sama sekali tak meninggalkan sisi Samantha, matanya hanya tertuju pada sosok Samantha yang bagaikan social butterfly itu. Jelas sekali gadis itu mudah sekali akrab dengan orang lainnya, ia bahkan tak memilih dan memilah siapa lawan bicaranya, yang paling mengejutkan adalah Samantha bahkan berani menyapa para pemimpin sosialita di dalam pesta ini, istri Pak Walikota. Hal semacam itu tak bisa dilakukan sembarang orang, tapi Samantha dengan keberaniannya dan pakaian bekas terkena wine miliknya berani mendekat dan bercengkrama layaknya sahabat dengan istri Pak Walikota.
“Apa yang kau lakukan di pesta itu, kau membuatku malu! Seharusnya kau pulang, jalang!” Namun rupanya keberanian Samantha itu tak mendapat dukungan dari James. Ucapan James yang begitu menusuk membuat Sesbastian ingin sekali memukul wajahnya sampai tak berbentuk, sekuat tenaga ia menahannya.
“Lihat pakaianmu! Kau dengan baju kotormu itu!” James terus saja mengoceh layaknya burung beo, sementara dari kaca tengah Sebastian bisa melihat Samantha tampaknya acuh tak acuh sembari menatap ke arah luar jendela.
Daripada memandangi James yang sama sekali tak sedap dipandang, Sebastian mengikuti arah pandang Samantha, apa yang sebenarnya membuat gadis itu lebih tertarik dibandingkan mendengarkan ucapan suaminya. Rupanya tidak ada. Tidak ada yang menarik di luar jendela mobil yang melaju cepat, Sebastian pikir mungkin itu adalah caranya Samantha mengabaikan James saja.
“Apa kau mendengarku, huh?!”
“Argh.” Pekikan Samantha menarik perhatian Sebastian, ia langsung menoleh dan menatap James.
“Tuan, lepaskan tangan anda.”
“Jangan berani menyuruhku!”
“Saya bertugas menjaga Nyonya Muda. Jadi lepaskan!” Sebastian tak lagi berusaha menahan kesabarannnya, suami mana yang hanya bisa menyakiti istrinya? Ya, hanya James seorang! Hanya karen dia dipaksa menikah dengan Samantha, ia begitu kasar dan membuat gadis itu menderita.
“Kau hanya bodyguard rendahan! Jangan campuri urusanku! Lihat saja apa yang kulakukan padanya!” James mendadak melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras ke arah wajah hingga darah kembali mengalir dari bibir Samantha yang bahkan belum sembuh.
Amarah Sebastian tak bisa lagi dia tahan. Meski berusaha keras untuk tidak meluapkannya, tapi melihat darah yang mengucur di sudut bibir Samantha membuatnya tak mampu untuk menahan batas sabarnya.
“Hentikan mobilnya sekarang juga!” perintah Sebastian kepada sopir.
“Apa yang kau lakukan? Siapa kau berani menyuruh sopirku?!”
“HENTIKAN SEKARANG JUGA!” Teriakan Sebastian mengaum di seluruh ruangan mobil, membuat sang sopir pun gemetar dibuatnya hingga akhirnya memilih untuk menghentikan mobil yang dia kendarai.
Tepat setelah mobil berhenti, Sebastian langsung keluar dari tempatnya, ia berjalan memutar mobilnya, membuka pintu bagian James dan menodongkan sebuah pistol ke arah pria itu dengan tatapan mata yang memerah.
“Sebastian … jangan lakukan ini.” Suara lirih Samantha membelai telinga Sebastian, namun Sebastian telah diselimuti oleh amarah sehingga apapun yang dikatakan oleh Samantha hanya bagaikan angin lalu.
“Silakan keluar, Tuan James Sullivan!”
“Kau tidak berhak untuk melakukan ini padaku!”
“Dalam kontrakku jelas tertulis bahwa aku harus melindungi Nyonya Samantha dari siapapun, kupikir siapapun itu juga termasuk anda, suaminya. Sekarang silakan keluar.” Sebastian melepakan safety pistolnya dan menarik pelatuknya. “Silakan.keluar!”
“Sebastian!” Samantha berusaha meraih kesadaran Sebastian agar tidak bertindak melewati batas tapi percuma saja, Sebastian sudah tak bisa kembali. Di sisi lainnya, James yang takut ditembak oleh Sebastian pun akhirnya keluar dari mobil mereka, Sebastian tidak menurunkan pistolnya ia tetap menodong James sampai dirinya masuk ke dalam mobil tepat di samping Samantha.
“Apa yang kau lakukan?!” Samantha bertanya sembari sesekali melihat ke belakang, ke arah James yang ditinggalkan.
“Menjalankan tugasku.” Sebastian masih diliputi oleh amarah, ia hanya menatap lurus ke depan.
“Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?” Samantha tampak marah karena Sebastian bertindak sesuka hatinya.
“Melindungimu dari b******n itu.” Sebastian menatap ke arah tengah cermin dan mendapati sopir melihat ke arah mereka. Sopir itu masih gemetar ketakutan sehingga tak berani melajukan mobil dengan cepat.
“b******n yang kau sebut itu adalah suamiku.”
“Itu sebabnya! Mengapa anda menikah dengan seorang b******n?!”
Samantha terkejut dengan pertanyaan Sebastian, mengapa dia menikah dengan James? Jawabannya hanya satu, karena uang. Dia membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya. Itu sebabnya, Samantha tak masalah jika James selalu menghinanya dan berpikir jika dia adalah seorang gold digger, nyatanya dia membutuhkan uang untuk pengobatan sang ayah.
“Aku harus.”
“Jika anda membutuhkan uang, mengapa anda tidak melepaskan ladang anda … uang yang mereka tawarkan cukup besar!”
Seketika itu juga Samantha menoleh dengan tatapan tajam ke arah Sebastian, sebuah tatapan yang dapat menenggelamkan Sebastian di dalam birunya mata Samantha itu.
“Kau tidak tahu apapun.”
Hening. Seketika mobil terasa sangat dingin sekali akibat pertengkaran seorang bodyguard dengan tuannya ini. Keduanya saling menatap dengan tatapan dingin.
Aku tahu. Batin Sebastian. Aku tahu semuanya, Sam.
“Tuan dan Nyonya … kita sudah sampai.” Dan sang sopir memecah kebekuan di dalam mobil mereka.
Samantha tanpa pikir panjang langsung keluar begitu saja, tepat saat dirinya keluar hujan turun dengan sangat deras. Sebastian pun langsung berlari untuk memberikan perlindungan pada gadis itu, tapi ia bahkan tidak menemukan payung di dalam mobil itu. Terpaksa Sebastian keluar tanpa membawa apapun.
Hampir mendekat, Samantha berujar, “Jangan melewati batasanmu, Tuan Grand.”
Sebastian berhenti, keduanya berhenti di tengah hujan deras hingga basah kuyup. Semua dandanan Samantha luntur dan menampilkan wajahnya yang penuh dengan memar. Melihat hal itu, hati Sebastian terasa seperti disayat-sayat. Gadis itu tak pantas mendapatkan penderitaan hanya demi uang.
“Kali ini saya akan melewati batas, Samantha.” Dorongan yang begitu kuat di dalam hati Sebastian untuk melindungi Samantha membuatnya melangkah dengan cepat, lantas telapak tangannya yang besar meraih wajah Samantha.
“Anda tidak seharusnya menderita ….” Sebastian menyentuh setiap memar di wajah Samantha dengan ujung ibu jarinya. Setiap sentuhan dari jari Sebastian mengirimkan sebuah kehangatan aneh pada Samantha yang membuatnya sangat nyaman bahkan ia tak berpikir untuk mendorong Sebastian menjauh darinya, ia menginginkan Sebastian menyentuhnya lebih sampai ia menutup matanya.
Lantas kehangatan itu terasa sangat nyata di bibirnya, meski Samantha menyukai sentuhan ini, ia tak bisa melakukannya apalagi dengan ikatan yang menjeratnya. Samantha langsung membuka matanya dan menadapati wajah Sebastian yang rupawan itu begitu dekat dengannya. Pria itu menciumnya! Samantha langsung mendorong tubuh Sebastian untuk menjauh lalu ia berlari ke dalam rumah dan berharap tak akan ada orang yang melihat mereka.
Sebastian mematahkan batang rokok yang tadi ingin ia bakar, teringat semua kejadian itu membuat kepalanya pening sendiri tapi meski demikian ada kebahagiaan yang terselip di dalam hatinya. Sebastian menyentuh bibirnya dengan ibu jari, ia masih bisa merasakan kehangatan bibir Samantha meski berada di bawah hujan deras, kehangatan yang bercampur dengan asin darah yang keluar dari bibirnya. Sebastian mengepalkan tangannya, ia bersumpah dalam hatinya tak akan membiarkan Samantha mendapatkan penderitaan semacam itu lagi.
*
Dalam ruangan itu—ruangannya sendiri—Garnet bahkan tak bisa berkutik saat Matilda duduk di singgasana miliknya. Bibinya satu ini seolah memiliki kekuatan luar biasa yang bisa membuat seorang Garnet menjadi bungkam seribu bahasa, padahal biasanya dia adalah pria yang tak suka kesunyian. Tapi kali ini ruangannya bahkan lebih sepi dari pemakaman.
“Aku suka ruangan ini, siapa desainer interiornya?” Suara Matilda yang merdu itu menggema di ruangan Garnet yang sunyi, membuat pemiliknya terkesiap dan salah tingkah.
“Itu bibi ….” Bahkan otak Garnet sampai tak bisa digunakan dengan lebih baik. Sedari dulu Garnet tak terlalu nyaman berada dekat dengan Matilda Macalistaire, bibi dari pihak ibunya ini memiliki aura yang menakutkan. Tapi entah kenapa wanita itu begitu menyayangi Sebastian.
“Kau masih tidak berubah, masih gagap saat bertemu denganku.”
“Bukan begitu, biasanya jika bibi datang pasti ada masalah yang terjadi.” Garnett tidak salah. Pada perusahaan milik keluarga Macalistaire, Matilda adalah seorang komisaris, ia hampir tidak pernah terlibat langsung dengan operasional perusahaan. Matilda lebih suka bekerja di balik layar dan mengawasi semuanya dalam diam. Jika sampai ia keluar dari tempatnya, muncul di tempat publik seperti peresmian kantor walikota yang sangat remeh itu berarti ada masalah yang terjadi.
“Masalahnya berakar di kantor ini, haruskah aku merubahnya menjadi kantorku?” tanya Matilda sembari memutar kursi milik Garnet mengawasi seisi ruangan yang cukup mewah itu. “Kau membiarkan Sebastian berlaku seenaknya, Garnett.”
Garnet menghela nafasnya, saat ini dirinya terhimpit di antara dua orang yang sangat berpengaruh, di satu sisi ada Sebastian yang merupakan sepupu juga sahabat satu-satunya, di sisi lainnya ada Matilda, bibinya yang berkuasa di keluarga mereka. Entah apa yang akan terjadi padanya jika dirinya salah bicara, Garne masih menimbang bagaimana caranya dia mengatasi Matilda agar masalah ini cepat selesai.
Tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka dengan lebar, Matilda maupun Garnet pun seketika menoleh ke arah pintu masuk. Keduanya menyaksikan seorang bermata abu-abu sedingin salju itu sedang berjalan penuh kemantapan menuju ke arah meja tempat Matilda saat ini sedang duduk. Sekilas Sebastian melirik ke arah Garnet, sepupunya itu hanya mengendikkan bahu, memberikan semua beban yang diberikan Matilda kepada Sebastian.
Diam-diam Garnet menghela nafasnya lega, sejak kedatangan Matilda ia sudah mengirimkan pesan kepada Sebastian tentang kedatangan sang ibu ke kantornya. Untung saja Sebastian cepat datang sehingga Garnett tak perlu repot-repot mengatasi masalah ini sendirian.
“Ibu … apa yang ibu lakukan di sini, ibu bisa datang ke kantor atau ke apartemenku.”
“Kurasa karena aku tidak akan menemukanmu di sana ….” Kini Matilda menempatkan kursinya menghadap pada putranya. Menatapnya penuh kasih, tak menyangka jika putra yang ia besarkan itu akan tumbuh menjadi sosok yang gagah dan sangat tampan.
“Jadi … apa yang terjadi, mengapa kau tidak berada di tempat seharusnya kau berada?” tanya Matilda, pertanyaan penuh intimidasi itu membuat Sebastian menghela nafasnya.
“Garnet … aku harus bicara dengan ibuku sebentar.”
Garnet mengerti apa maksudnya itu, ia pun segera berdiri dan beranjak untuk pergi. Namun, sebelum ia berhasil keluar dari pintu suara Matilda menghentikan langkahnya.
“Sial,” umpat Garnet lirih, perlahan-lahan dia berbalik dan memasang senyuman di wajahnya—senyuman yang sangat dipaksakan.
“Iya, Bibi?” tanyanya dengan suara lemah lembut.
“Kau berhutang penjelasan padaku,” ujar Matilda dengan tatapan yang mengancam.
“Kupikir Sebastian pasti akan menjelaskan semuanya,” balas Garnet penuh keyakinan. “Aku harus menemui klienku jika bibi tidak keberatan.”
“Baiklah, kau boleh pergi.”
Kali ini Garnett tidak menyia-nyiakan kesempatannya, ia segera pergi begitu saja sebelum Matilda kembali memanggilnya. Daripada dirinya diinterogasi oleh Matilda lebih baik dia mendapatkan ocehan dari Rebeca seharian, Matilda benar-benar membuat bulu kuduknya merinding.
“Apa dia adalah anak gadis dari orang yang dulu pernah menyelamatkanmu?” tanya Matilda tanpa basa-basi. Selama pesta peresmian kantor walikota ia memperhatikan betul-betul interaksi antara Sebastian dan gadis itu, ia melihat bahwa Sebastian sama sekali tidak melepaskan tatapan matanya dari gadis berambut pirang madu yang menawan itu.
Bahkan meski ia berpura-pura menjadi bodyguardnya sekalipun, tatapan itu hanya diberikan oleh seorang kepada kekasihnya. Tatapan yang menunjukkan rasa cinta yang besar untuk seorang wanita.
Selain itu, Matilda pernah melihat potret seorang anak di kamar Sebastian dulu sewaktu Sebastian masih remaja. Hanya rambut pirang madu itu yang membuat Matilda yakin jika gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang ada di potret milik Sebastian di rumah mereka.
“Ya, itu sebabnya—” Sebastian bahkan tak sempat untuk menyelesaikan kalimatnya akan tetapi Matilda sudah menyelanya terlebih dulu.
“Itu sebabnya kau mendekatinya, kau terikat pada masa lalumu dan tak bisa bekerja dengan baik, Sebastian.”
“Hal itu tak ada hubungannya, dia tidak tahu jika aku adalah anak yang pernah ditolong oleh ayahnya.” Sebastian bersikeras, ia tahu jika ibunya pasti akan mempercayainya. Namun, ini benar-benar tak seperti ibunya. Ini bukan masalah yang besar bagi Sebastian, membeli tanah itu seharusnya bukan masalah yang besar tapi kenapa ibunya sampai turun tangan begini.
“Aku tahu aku tidak berhak mengatur masalah percintaanmu, aku tahu kau mencintai gadis itu … tapi proyek ini sangat penting bagi perusahaan kita. Jika kau tidak segera membeli tanah itu maka kita akan kehilangan proyek yang besar.”
Matilda menyadari betul posisinya sebagai ibu pengganti bagi Sebastian, dulu saat pertama kali ibu kandung Sebastian meninggal ia dan kakaknya—Ayah sebastian berusaha menjaga Sebastian dan kakaknya dengan baik. Namun, nahas ayah dan kakaknya pun harus direnggut nyawanya sekaligus. Semenjak saat itulah dirinya benar-benar menjadi orang tua Sebastian, tapi selain pendidikan dan karir yang dipilih oleh Sebastian apapun itu Matilda tidak pernah ikut campur. Bahkan Matilda sangat mendukung Sebastian menjadi tentara angkatan darat, meski akhirnya harus pulang setelah perang usai dan akhirnya pensiun dini karena desakan kakeknya.
“Apakah kita harus membangun resort di atas tanah itu?” Sebastian berusaha untuk menegosiasi ibunya.
“Sepertinya kau tidak mendengarkanku, Nak.”
“Aku mendengarkan, Bu … tapi membangun resort … itu sedikit berlebihan.”
“Jika kau berhasil menanangi proyek ini, kakekmu pasti akan sangat bangga. Dia tidak akan segan-segan memberikan semua hartanya padamu.”
Harta yang tak pernah diinginkan olehku, batin Sebastian. Di tempat ini, ia hanya menjalankan perintah kakeknya. Sebastian bahkan tak ingin menjabat di perusahaan kakeknya, hanya karena ini adalah satu-satunya warisan yang diberikan oleh ayahnya dan kakeknya terlihat begitu berharap maka ia tak memiliki pilihan lainnya.