"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Bu, Mas?" tanya Raras. Sesekali ia bergidik ngeri melihat Adnan terkapar di lantai. Juan dan Seroja tak langsung menjawab. Keduanya justru tampak duduk dengan santai tanpa memikirkan kondisi Adnan yang semakin memburuk. Bahkan, Juan juga sempat melempari Adnan dengan puntung rokok yang ia hisap. Sementara di lantai, napas Adnan mulai terasa berat. Pandangannya berkunang-kunang, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap menatap langit-langit rumahnya. Rumah mewah yang susah payah ia bangun selama ini, justru menjadi sumber kesengsaraan untuknya. Tidak ada ketenangan, tidak ada kebahagiaan bahkan Adnan merasa begitu tersiksa. Terlebih lagi saat ini dirinya benar-benar tidak berdaya. Jantungnya berdenyut cepat, tidak beraturan dan membuat dadanya begitu se

