Di keheningan malam, Liana perlahan membuka mata. Kebingungan menatap langit kamar, menoleh ke kiri ada tiang infus. Cairan masih aktif masuk ke dalam pembuluh darah. Lalu dia menoleh ke kanan, dan ke segala arah. Tak ada satupun orang di sana selain dirinya. Sedangkan dahaga telah menguasai dirinya. Dia butuh air. “Air … air …” lirih Liana. Penglihatannya tak begitu tajam. Tak tahu letak benda di sekitarnya. Maklum saja efek yang ditimbulkan oleh obat bius membuatnya linglung dan lupa ingatan sementara. “Air … mau air … haus …” Setelah kesekian kali Liana meminta air. Barulah Ares masuk. Sebenarnya dia baru saja kembali setelah izin pada anaknya untuk menemani tante cantik yang menolong Nara ketika pingsan di jalan. Keramahan dan kebaikan Liana membuat Nara jatuh cinta pada pandangan p

