Bagian 9

1121 Words
Dua minggu kemudian ... Nesya bergeming. Menatap benda pipih di dalam genggaman. Benda itu menujukkan dua garis, salah satu berwarna merah terang dan garis satunya berwarna merah samar. Tubuh Nesya luruh di atas lantai kamar mandi. Dingin yang menusuk hingga ke tulang, tak lagi ia pedulikan. Pandangannya buram seketika. Bersamaan dengan itu, air matanya deras mengalir. Nesya menggengam kuat testpack dengan dua garis yang terpampang jelas itu, seolah-olah ingin mematahkannya saat itu juga. "Tidak mungkin." Tangis wanita malang itu terdengar sangat memilukan. Ia mencoba meneggelamkan kepalanya di antara kedua pahanya yang terlipat. Nesya tak menyangka jika nasib malang selalu menimpa silih berganti, seolah-olah dia adalah makhluk Tuhan paling berdosa di muka bumi ini. Setelah kehilangan sosok ibu yang sangat ia sayangi, kasih sayang yang diberikan sang ayah seakan-akan pudar dimakan waktu. Sekarang, ia harus menerima kenyataan bahwa saat ini, di dalam rahimnya ada kehidupan baru yang saat ini tengah tumbuh. Bahkan, ia sama sekali tak menginginkan kehadiran janin itu. Nesya mengangkat kepala perlahan. Matanya terlihat merah dan sembab. Sungguh, keadaannya saat ini sangat kacau. Siapa pun yang melihat, pasti akan merasa prihatin kepdanya. Wanita itu berusaha bangkit. Pun, bangkit dari keterpurukan. Ia tak bisa seperti ini selamanya. Masalah tak akan pernah selesai hanya dengan menangis dan meratap. Ia bertekad untuk menemui ayah dari sang janin, mencoba untuk meminta pertanggungjawabannya. Nesya segera keluar dari kamar mandi. Meraih ponsel pintarnya yang selalu ia letakkan di atas nakas samping ranjang, kemudian membuka grup w******p yang hanya ada dia dan kedua sahabatnya--Isthy dan Tyas. Guys, ada yang punya nomornya Alvino? 07.34 Isthy Alvino siapa? 07.36 Tyas Alvino? Jangan bilang kalau yang lo maksud itu Alvino Mahendra, siswa jenius di sekolah kita yang akan kuliah di Jepang itu? 07.36 Isthy Sejak kapan hubungan kalian jadi baik kayak gini? 07.37 Udah deh, jangan banyak omong kalian. Punya nggak? 07.37 Isthy Lo kenapa sih? Kayak orang mau minta tanggung jawab aja Lo lagi PMS? 07.38 Nesya sedikit tersedak tatkala membaca pesan yang dikirimkan oleh Isthy. Ia tersenyum miris. Sejelas itukah? Tyas Bentar, bentar. Gue minta ke temen yang sekelas sama dia. 07:38 Si Jenius, Vino Pesan | Tambahkan Kontak 07.45 Thanks ya 07.46 Tyas Emang ada apa, sih, Nes? Kok, lo tiba-tiba minta nomornya dia? Bukannya, pagi ini dia berangkat ke Sapporo, ya? 07.49 Sapporo? Jepang? 07.49 Tyas Yups. Gue dengar-dengar sih gitu. Paling dia sekarang ada di bandara dan otomatis ponselnya udah dinon-aktifkan. 07.50   Tanpa membuang-buang waktu lagi, Nesya meraih tas kecil yang berada di atas meja rias, kemudian bergegas menuju bandara. Sesekali, ia melirik jam tangan yang melingar di pergelangan tangannya. Berdoa di dalam hati, agar ia tak terlambat. Setidaknya, sebelum pergi ke Jepang, laki-laki itu harus tahu mengenai janin yang saat ini bersemayam di dalam rahimnya. *** Sejak kedatangannya di bandara setengah jam yang lalu, Vino tak ada hentinya menatap layar ponsel yang sudah mati sejak tadi, seolah-olah tengah menunggu panggilan dari seseorang. "Vino." Seseorang menepuk bahu pemuda jangkung itu, membuatnya mau tak mau harus mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Vino tersenyum tipis ketika melihat sang ibu berdiri di belakang kursi yang ia tempati. Menggenggam erat tangan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya selama ini. Wanita itulah yang membuat Vino bertahan selama ini. Alasan ia ingin sukses adalah demi membahagiakan sang ibu. Selama ini, ibunya-lah yang membanting tulang untuk membiayai kehidupan ekonomi mereka yang terbilang cukup sulit. Sedangkan, sang ayah, sampai saat ini, ia tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang seharusnya menjadi panutannya itu. Entahlah, Vino tak lagi memusingkan tentang keberadaan ayahnya. Toh, tanpa sang ayah, Vino dan ibunya mampu bertahan hidup selama ini. "Duduklah, Bu." Vino menepuk pelan kursi kosong yang berada di sampingnya. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, kemudian duduk di samping putranya. Wajahnya terlihat sangat pucat, mengingat kondisinya yang terbilang sakit-sakitan. Sebenarnya, Vino tak tega meninggalkan sang ibu dalam kondisi seperti ini. Namun, sang ibu selalu membujuknya agar menerima beasiswa tersebut dan tak perlu mengkhawatirkan ibunya lagi. Vino meraih tangan sang ibu yang mulai keriput, menggenggamnya dengan erat, seolah-olah tak ingin terlepas. "Bu, jika nanti Vino kembali sebagai orang sukses, Vino janji akan menyembuhkan semua penyakit yang diderita oleh Ibu. Vino akan membelikan rumah untuk ibu, sehingga ibu tak perlu lagi banting tulang." Bu Nila mengusap lembut pipi Vino. Matanya berkaca-kaca, tak sanggup lagi membendung tangis. Selama beberapa tahun ke depan, ia tidak akan bisa bertemu dan menatap wajah putra semata wayangnya. "Tak perlu muluk-muluk, melihat kamu pulang saja, Ibu sudah bahagia, Nak." Vino merengkuh tubuh sang ibu ke dalam pelukannya. Air matanya tumpah saat itu juga. Ada perasaan tak tega ketika harus merelakan sang ibu tinggal seorang diri di rumah kontrakan mereka. "Kak, sebentar lagi pesawatnya take off." Suara seorang gadis di belakang mereka membuat ibu dan anak itu mau tak mau harus melepas pelukan mereka untuk yang terakhir kali. Vino mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Menatap gadis yang saat ini tengah berdiri di depannya seraya menyunggingkan senyum. Senyum manis yang selalu ditujuka kepadanya. "Jaga diri kamu baik-baik, ya. Sekolah yang rajin agar nanti kamu bisa menyusul Kakak," ujarnya seraya mengacak pelan rambut Adeeva, membuat gadis itu salah tingka menerima perlakuannya. "Aku titip Ibu, ya. Nanti, aku akan sering menghubungi kamu. Semoga kamu enggak akan risi." Adeeva tersenyum simpul, kemudian menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Iya, Kak. Aku akan jagain Tante ssperti aku menjaga Mama dan ... aku enggak akan pernah bosan mendengar suara Kakak." Vino terkekeh pelan mendengar penuturan Adeeva. Ia tak bisa menahan diri untuk mengacak rambut gadis itu. Mendapat perlakukan seperti itu, bukannya marah atau kesal, Adeeva justru sangat bahagia. Ada getaran-getaran aneh yang ia rasakan setiap kali tangan Vino menyentuh tubuhnya. *** Nesya bergegas turun dari taksi ketika sampai di depan Bandara Sokearno-Hatta. Kaki panjangnya langsung melangkah menuju resepsionis. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya resepsionis berperawakan tinggi semampai dengan wajah yang sangat rupawan itu. Tak lupa, senyum manis selalu mengembang di bibir merahnya. "Pesawat dengan tujuan Sapporo, Jepang. Apakah sudah take off?" "Sebentar, ya, Mbak. Saya cek dulu." Resepsionis ber-name tag Dinda itu tampak sibuk berkutat dengan monitor yang ada di depannya. "Pesawat dengan tujuan Sapporo sudah take off sejak sepuluh menit yang lalu, Mbak." Nesya bergeming sejenak. Meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Terlambat. Ya, dia telah terlambat. Vino telah pergi tanpa mengetahui apa yang telah terjadi padanya. Mengingat hal itu membuat dadanya semakin sesak. Ia tak mampu untuk membendung air matanya. Tanpa mengucap terima kasih, Nesya langsung menjauh dari tempat resepsionis. Ia berlari seperti orang kesetanan, berharap bisa menemukan Vino. Meskipun, kemungkinannya sangat kecil. Netranya mengedar, mencari sesosok pemuda jangkung yang telah memorak-porandakan hidup sekaligus perasaannya. Nihil. Nesya tidak bisa menemukan pemuda itu. Ia pun memutuskan untuk pergi ke konter check in. Namun, petugas dengan tubuh yang terbilang kekar melarangnya masuk karena tidak membawa tiket pesawat dan kartu penginal. Nesya berusaha memohon kepada petugas tersebut. Namun, usahanya hanya sia-sia. Mereka tetap bersikukuh mematuhi prosedur yang berlaku. Tubuh wanita itu luruh bersama air mata yang telah ia bendung sejak tadi. Nesya memukul dadanya yang terasa sesak, seolah-olah tak ada oksigen yang bisa ia hirup. Tatapan iba sekaligus risi yang dilayangkan orang lain tak ia pedulikan sama sekali. Yang dipikirkannya saat ini hanyalah bagaimana cara ia menjalani kehidupannya setelah ini.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD