Bagian 10

1126 Words
Sejak pesawat yang dinaiki Vino take off sepuluh menit yang lalu, Adeeva masih duduk di kursi panjang ruang tunggu, memainkan ponsel pintar miliknya sembari menunggu Nila yang pamit ke toilet sebentar. "Tolong Pak izinkan saya masuk sebentar saja!" Keributan yang terjadi di konter check in sontak membuat gadis itu mengalihkan tatapan dari ponsel pintar yang ada di genggamannya. "Maaf, Mbak. Kami harus mematuhi prosedur yang ada. Mbak dilarang masuk karena bukan penumpang." Tampak dua orang petugas terlibat percekcokan dengan seorang wanita muda yang ia perkirakan usianya tak jauh darinya. Usia wanita itu tak jauh darinya? Sontak, Adeeva menajamkan penglihatannya. Mengedipkan kelopak mata berulang kali, berharap wanita yang membuat keributan itu bukanlah wanita yang ia kenal. Namun, dia kurang beruntung kali ini. Wanita yang membuat keributan dan mencuri perhatian semua orang di bandara itu adalah wanita yang dia kenal. Siapa lagi kalau bukan kakak tirinya, Nesya. "Apa yang dia lakukan di sini?" batin Adeeva bertanya-tanya, tak habis pikir dengan perilaku kakak tirinya yang selalu membuat onar. Alhasil, keluarga yang menangung malu. "Adeeva." Suara seorang wanita paruh baya mengalihkan tatapan Adeeva seketika. Gadis itu bangkit dari kursi. Senyum manisnya mengembang. "Tante sudah selesai?" tanyanya retoris yang dijawab anggukan oleh Nila—ibu Alvino. "Itu ada apa? Kok, ribut-ribut." Nila menunjuk kerumunan orang-orang yang menjadi pusat perhatian Adeeva sebelumnya. Adeeva tersenyum kikuk. Menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab pertanyaan wanita paruh baya di depannya. "Adeeva juga kurang tahu, Tan. Hanya orang gila saja yang membuat keributan di bandara." Adeeva terdiam, menunggu reaksi dari Nila. Namun, ibu dari laki-laki yang dia sukai sejak dua tahun lalu itu hanya menganggut-anggut. "Kita pulang saja yuk, Tan. Tante pasti lelah," tawar Adeeva yang lagi-lagi dijawab anggukan. *** Sebuah taksi berhenti di depan halaman rumah bertingkat dua yang didominasi warna putih gading itu. Seorang wanita dengan wajah menyedihkannya keluar dari taksi tersebut. Berkali-kali, ia menghela napas, menyakinkan dirinya sendiri untuk memasuki rumah tersebut. Cukup lama Nesya bergelut dengan pikirannya sendiri hingga memutuskan untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Tak berapa lama, seorang wanita tua dengan daster lusuhnya membukakan pintu untuk Nesya. "Non Nesya?" Nesya sangat mengenal wanita itu. Tak heran karena Nesya memang sering berkunjung dan bermain di rumah tersebut. Nesya tersenyum samar untuk membalas sapaan Mbok Nem--pembantu rumah tangga di rumah Tyas. "Tyas ada, Mbok?" "Ada, Non. Non Tyas ada di kamarnya." Mbok Nem membuka pintu lebih lebar agar Nesya bisa masuk. "Non Nesya langsung saja ke kamarnya. Non Nesya tahu, 'kan?" tanya wanita yang berusia akhir kepala enam itu retoris. Nesya mengangguk. Tentu saja, dia tahu di mana letak kamar sahabatnya satu itu. Saat main ke rumah tersebut, Tyas selalu membawanya dan Isthy ke dalam kamar. Nesya pun bergegas naik ke lantai dua, di mana kamar Tyas berada. Saat berada di depan pintu kamar, jantungnya berdebar tak keruan. Ragu dengan keputusannya untuk menceritakan masalah yang saat ini tengah menjeratnya. “Enggak. Gue udah bersahabat cukup lama sama mereka. Seharusnya, gue enggak menyembunyikan apa pun dari mereka. Mereka pasti mau nolong gue keluar dari masalah ini.” Gadis itu berusaha menyakinkan diri berulang kali. Tidak ada rahasia yang perlu disembunyikan. Itu adalah prinsip yang diterapkan oleh ketiga sahabat itu. Nesya menghela napas panjang, kemudian membuangnya secara perlahan. Tangannya terjulur untuk mengetuk pintu satu daun berwarna putih itu. "Yas, ini gue." Setelah mendapat izin dari sang empunya ruangan, wanita hamil itu bergegas masuk ke dalam sebelum dirinya berubah pikiran lagi. Netranya membeliak sesaat ketika mengetahui ada orang lain di sana. Bukan. Bukan orang lain, tepatnya, sahabatnya yang terkenal paling lemot dalam hal berpikir dan bertindak. Dia Isthy. "Kamu ada di sini, Is?" tanya Nesya seraya duduk di sisi ranjang single milik Tyas. Sementara itu, kedua sahabatnya duduk di atas karpet. Mereka tengah menonton salah satu acara yang ditayangkan oleh stasiun swasta sembari memakan makanan ringan. "Bosen gue di rumah. Jadi, gue ke sini. Btw, kok, lo tahu gue ada di sini?" tanya Isthy dengan mulut yang masih sibuk mengunyah makanan. "Hah?" Nesya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berusaha untuk mencari jawaban. Mencari jawaban? Untuk apa? Bukankah, tujuan dia ke sini untuk menceritakan tentang kehamilannya kepada Tyas dan Isthy. Sekarang, kedua sahabatnya itu berada di ruang yang sama dengannya. Itu kesempatan Nesya untuk menceritakan semuanya. "Lo habis nangis?" Baru saja, Nesya akan membuka suara. Celetukan Tyas membuatnya terdiam seketika. Bingung harus menjawab apa. Hatinya menjadi ragu kembali. "Ehh, iya. Kenapa lo nangis? Ada masalah lagi sama bokap lo?" timpal Isthy yang saat ini ikut memperhatikan Nesya. "Lo nangis bukan gara-gara Vino pergi ke Jepang, 'kan?" Pertanyaan terkahir yang diajukan Isthy membuat air mata yang dibendung oleh Nesya sejak tadi runtuh seketika. Akhirnya, untuk yang pertama kali, ia menangis di depan kedua sahabatnya. Melihat tangis sahabatnya semakin keras, Tyas dan Isthy pun langsung duduk di samping Nesya. Memeluk tubuh Nesya yang bergetar karena menangis itu dengan erat. "Lo kenapa sih, Nes? Ada masalah? Cerita dong ke kita." Tyas mengusap lembut punggung Nesya, berusaha membuat perasaan sahabatnya itu sedikit tenang. Cukup lama Nesya menangis di dalam peluka kedua sahabatnya. Dia benar-benar takut. Takut jika kedua sahabatnya tidak akan percaya atau justru mereka akan menjauhinya? Nesya menggeleng kuat, mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran itu. "Gue hamil." Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Nesya mampu mengucapkan dua kata yang hampir membuat bola mata Tyas dan Isthy keluar dari tempatnya. Tyas melepas pelukannya. Menatap lekat iris hitam Nesya, berusaha mencari kebohongan di sana, meski hanya sedikit. Nihil. Mata beriris hitam itu benar-benar memancarkan sebuah kejujuran. "What?! Lo enggak bercanda, 'kan? Lo pasti bohongin kita, 'kan?" Isthy memberondong Nesya dengan berbagai pertanyaan. Nesya menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangis. "Gue enggak bohong. Gue serius." "Siapa pria berengsek itu?" Mata Tyas berkilat marah. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang bergemuruh di dalam d**a. Dia tidak akan pernah membiarkan pria b******k yang telah menghancurkan hidup sahabatnya itu hidup dengan damai. Deg. Nesya belum siap menjawab pertanyaan itu. Padahal, ia hanya berniat ingin berterus terang soal kehamilannya. Hanya itu saja. Ia belum mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja diajukan oleh kedua sahabatnya. Geram dengan sikap Nesya yang hanya diam seribu bahasa. Tyas pun mencengkeram bahu sahabatnya itu. Menatap tepat di manik cokelatnya. "Jawab gue! Siapa laki-laki yang udah sembarangan nanem benihnya di rahim lo?!" Nada bicara Tyas naik satu oktaf. Tak biasanya, gadis itu berteriak ketika berbicara dengan Nesya. "Al-Alvino. Dia ayah dari bayi ini," jawab Nesya terbata-bata seraya mengusap perutnya yang masih terlihat datar. Sontak, Isthy membungkam mulutnya yang ternganga, tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu. "Lo pasti bercanda, 'kan? Mana mungkin, siswa terjenius yang selalu berkelakuan baik di sekolah menghamili seorang wanita. Apalagi, wanita itu pembuat onar di sekolah." Isthy tertawa meremehkan. Berharap Nesya hanya bercanda mengatakan hal itu. Namun, Nesya hanya menangis dalam diam, tak berniat membalas lelucon tersebut. "Jadi, lo enggak bohong?" tanya Isthy sekali lagi yang langsung dijawab anggukan oleh Nesya. "Gugurkan bayi itu!" perintah Tyas yang membuat mata Nesya membelalak tak percaya. "Apa lo gila?!" Suara Nesya terdengar serak karena terlalu lama menangis. “Itu yang terbaik untuk lo dan masa depan lo, Nes.” "Iya, Nes. Lebih baik, lo gugurkan anak itu. Masa depan lo masih panjang. Apalagi ... hubungan lo sama bokap lo terbilang buruk," timpal Isthy yang menyetujui saran Tyas. Bukan, itu bukan saran, melainkan sebuah perintah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD