Jangan lupa tekan tombol 'follow' untuk mengikuti akun ini dan tekan tombol 'add' untuk memasukkan cerita ini ke library kalian (versi web) atau dengan cara tekan tombol 'love' (versi aplikasi). Terima kasih.
Nesya berjalan gontai menuju kamarnya yang terletak di ujung lorong. Langkahnya sedikit tertatih, menahan rasa perih di bagian bawah tubuh. Sesekali, ia meringis kesakitan, tangannya mencengkeram tembok yang sedari tadi menjadi penyangga berat tubuhnya. Bersamaan dengan itu, bulir bening mengalir membasahi pipi. Setiap kepingan memori semalam terus membayang di benak kepalanya, membuat rasa perih di dalam hati lebih mendominan. Ia memukul dadanya berulang kali, berusaha mengurangi rasa sesak. Beruntung, di lorong vila tersebut tidak ada satu pun orang yang berlalu-lalang sehingga mereka tidak perlu menyaksikan Nesya, siswa pembuat onar di sekolah dalam keadaan mengenaskan.
Dia mengusap kasar air mata di sudut mata, kemudian mulai melanjutkan langkah kembali. Saat sudah sampai di sebuah kamar, wanita malang itu mengetuk pintu satu daun berwarna cokelat di depannya.
Pintu itu berderit panjang, menampakkan sesosok gadis muda dalam balutan piyama bermotif Kerropi yang tak asing lagi baginya. Raut gadis itu terlihat sangat khawatir ketika melihat penampilannya
"Nes, lo dari mana aja, sih?" tanya Tyas seraya memampah tubuh sahabatnya yang sangat lemas, seolah-olah tak memiliki tenaga sedikit pun.
Isthy yang sedari tadi tiduran di atas ranjang pun langsung bangkit dan menghampiri kedua sahabatnya itu. Membantu Tyas untuk merebahkan tubuh Nesya.
"Lo kenapa Nes? Lo enggak apa-apa, 'kan? Kenapa lo hanya diam aja sih? Jawab dong pertanyaan gue!" Tyas memberondong Nesya dengan berbagai pertanyaan. Gadis berwajah bulat itu sedikit kesal karena sang sahabat yang hanya diam seribu bahasa. Pandangannya pun kosong, sesekali bulir bening mengalir perlahan.
"Tyas, udah dong. Biarin Nesya istirahat dulu," Isthy berusaha menengahi, tak kuasa melihat wajah sang sahabat yang terlihat kuyu. Sepertinya, dia membutuhkan istirahat dan tak ingin diganggu dulu. Entah kenapa, Isthy merasa ada sesuatu yang menimpa Nesya.
Tyas menggenggam tangan Nesya yang terasa dingin dengan erat. "Lo tahu enggak, kita khawatir banget saat lo tiba-tiba hilang—"
"Gue pengin pulang," ucap Nesya lirih, bahkan hampir terdengar seperti bisikan. Meskipun begitu, kedua sahabatnya masih bisa mendengar dengan jelas.
Sontak, Tyas dan Isthy pun saling bertatapan. Tak mengerti dengan perubahan sikap Nesya yang begitu tiba-tiba.
"Gue bilang, gue pengin pulang!" Nesya berteriak histeris bersamaan dengan air mata yang berlinang. "Gue mau pulang. Gue enggak mau ada di tempat ini." Netranya menatap Tyas dan Isthy bergantian.
Tyas menarik tubuh rapuh Nesya ke dalam pelukannya. Seketika, tangis Nesya sedikit mereda, meskipun sesekali isak kecil masih keluar dari bibir pucatnya.
"Gue mau pulang ...," ulangnya lirih.
"Iya, kita pulang sekarang, ya." Tyas melepas pelukannya, lalu mengusap air mata Nesya menggunakan ibu jarinya. Menatap iba wajah sang sahabat yang terlihat begitu menyedihkan, "tapi lo harus janji, jangan nangis lagi. Oke?"
Nesya mengangguk lemah seraya mengusap sisa-sisa air mata yang menggenang di pipi.
***
Adeeva berjalan cepat menuruni anak tangga. Ketika sampai di anak tangga terakhir, netra hitamnya mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa perempuan yang saat ini berdiri di hadapannya adalah kakak tirinya. Setahunya, acara prom night berlangsung selama dua hari dua malam. Namun, sang kakak sudah ada di rumah, padahal baru kemarin pergi.
Dia terdiam beberapa jenak, sibuk memindai penampilan Nesya yang terlihat karut marut.
"Kak Nesya udah pulang?" tanyanya berbasa-basi.
Alih-alih menjawab pertanyaan Adeeva, Nesya berjalan melaluinya seraya menenteng koper yang ia bawa ke vila kemarin, tanpa memedulikan pertanyaan sang adik sedikit pun. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ingin istirahat dan menenangkan perasaaannya.
Melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Nesya, membuat gadis berparas ayu itu mencebikkan bibir, kesal. Netra hitamnya bergerak mengikuti setiap gerak-gerik Nesya. Namun, dering ponsel di saku celana membuyarkan tatapannya. Seketika, senyum merekah di bibirnya ketika melihat nama pemuda yang telah membuatnya jatuh hati sejak lama terpampang di layar ponsel. Tanpa basa-basi lagi, Adeeva langsung menekan tombol hijau di layar ponsel pintarnya.
"Halo, Kak?" sapanya seraya menyunggingkan senyum semanis mungkin. Meski, orang di seberang tidak akan mengetahuinya. "Tumben, Kakak telepon aku? Oh ya, Kak, aku dengar-dengar, pengajuan beasiswa Kakak sudah diterima." Adeeva berbicara panjang lebar tanpa memberikan kesempatan untuk penelepon berbicara. "Selamat ya—"
"Deeva, boleh kamu memberikan aku kesempatan untuk berbicara sebentar?" sela Alvino yang membuat Adeeva mengerutkan dahi seketika. Pemuda itu tak biasanya menyela perkataan orang lain. Pembawaannya ketika berbicara selalu tenang dan hangat, membuat siapa pun nyaman bebicara dengan dirinya, termasuk Adeeva sendiri.
"Iya, Kak. Silakan," jawab gadis belia itu sambil mendudukkan diri di atas sofa ruang tamu.
"Apa ... Nesya ada di rumah sekarang?"
Butuh keberanian yang besar untuk menanyakan keberadaan wanita itu kepada salah satu keluarganya. Apalagi, ia telah merenggut harta yang paling berharga bagi seorang wanita.
Mengingat setiap dosa yang ia lakukan kemarin malam,membuat Alvino mengacak rambut cepaknya. Sesekali, ia menghela napas panjang. Hanya karena tak tahan mendengar teman-temannya yang selalu mengejeknya, ia harus menanggung rasa bersalah selama hidupnya.
Adeeva memutar bola mata, kesal. Terdengar helaan napas yang begitu panjang dari hidungnya. "Bisa tidak, Kakak tidak membicarakan Kak Nesya ketika berbicara denganku?" tanya gadis itu sarkas, membuat Alvino merasa bersalah
"Maaf ...."
"Lupakan saja, Kak. Kapan Kakak akan berangkat ke Jepang?" tanya Adeeva, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba beku.
"Dua minggu lagi," balas Vino singkat. Untuk saat ini, ia sangat malas membicarakan perihal beasiswa. Otaknya sudah dipenuhi oleh rasa bersalah dan cara untuk meminta maaf kepada wanita itu.
Senyum simpul terpatri di bibir gadis itu. "Boleh aku mengantar kepergian Kakak nanti?"
Alvino bergumam, mengiakan pertanyaan retoris yang diajukan oleh Adeeva.
Wajah gadis itu berubah semringah. Senyum lebar terpatri jelas di bibir kecilnya. Ini langkah pertamanya untuk mengambil hati pemuda itu. "Terima kasih, Kak. Selamat bersenang-senang!”