Aliyah hanya mampu memandang kepergian Nesya dengan hati yang berkecamuk. Tatapannya terpaku hanya satu titik hingga objek itu menghilang di balik pintu. Dia menghela napas panjang, berusaha meredam sesak yang menjalar di setiap sudut hatinya.
Tak terasa cairan hangat mengalir begitu saja membasahi pipi putih nan mulus itu. Seketika, tubuh rampingnya luruh di atas hamparan tanah yang terselimuti rumput. Penyesalan masih saja menghinggapi hatinya, meskipun kejadian yang telah merenggut nyawa istri pertama sang suami telah berlalu kurang lebih dua belas tahun silam.
Di sisi lain, Adnan kebingungan mencari sang istri. Ia terakhir kali melihatnya saat berada di kamar putri mereka—Adeeva. Namun, sampai saat ini, Aliyah tak menampakkan batang hidungnya sekali pun. Adnan telah mencari istrinya ke seluruh ruangan hingga ke sudut rumah, tetapi tetap saja nihil. Wanita berparas ayu itu belum juga dia temukan. Hanya satu tempat yang belum dia kunjungi. Gazebo, tempat favorit almarhumah istri pertamanya ketika menghabiskan waktu bersama Nesya. Satu-satunya tempat yang tak pernah lagi dia kunjungi sejak dua belas tahun silam.
Sesaat setelah sampai di taman, wajah Adnan berubah menjadi tegang tatkala melihat wanita yang sangat dicintainya menangis tersedu-sedu di bawah lampu taman yang temaram. Ia pun berlari tergesa-gesa menghampiri sang istri, kemudian bersimpuh untuk menyamakan posisi mereka. "Kamu kenapa, Ma? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Dia langsung menghunjami Aliyah dengan berbagai pertanyaan. Ada nada khawatir di setiap pertanyaannya.
Aliyah memukul pelan dadanya, berusaha menghilangkan rasa nyeri di ulu hati. "Hatiku hancur waktu lihat Nesya nangis, Pa. Itu mengingatkanku pada Mbak Dina," ujarnya diiringi isak pilu. "Aku yang telah menyebabkan Mbak Dina meninggal. Akulah yang membunuhnya."
Adnan menarik tubuh rapuh Aliyah ke dalam pelukannya, lalu mengecup puncak kepala sang istri singkat. "Ini bukan kesalahan kamu, Ma. Ini keputusan yang telah ditentukan olehnya," ucapnya, mencoba menenangkan Aliyah.
Alih-alih merasa tenang, perkataan Adnan justru semakin menyulut emosi Aliya. Dia langsung melepaskan pelukan sang suami secara paksa, menatap lekat mata suaminya yang tak menunjukkan kesedihan sedikit pun. "Tega kamu berbicara seperti itu, Pa?!" geramnya. "Kalau saja bukan karena Adeeva ... aku tidak akan pernah mau menikah dengan suami orang seperti kamu!”
"Apa yang kamu bicarakan, Ma?! Aku adalah milikmu, bahkan sebelum aku menikahi dia."
Perempuan berambut panjang yang selalu digelung itu menggeleng lemah, tak menyangka jika perkataan itu keluar dari mulut suaminya. "Kamu bahkan tidak menyesal sedikit pun atas kematian Mbak Dina. Setidaknya kamu bisa menyayangi Nesya. Dia butuh kamu, Pa." Lagi. Air matanya semakin deras mengalir, rasa nyeri di ulu hati semakin terasa menggerogotinya.
Adnan terdiam membisu. Tatapannya berubah menjadi kosong.
"Yang Nesya butuhkan hanyalah kasih sayang dari orang tuanya." Aliyah menarik napas panjang untuk meredakan tangis. "Bahkan, serpihan memori itu masih tersimpan jelas di otakku, Pa. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Mbak Dina menyakiti Nesya."
Kenangan kelam yang berusaha dipendamnya dalam-dalam, perlahan mulai muncul ke permukaan. Berkemelut di dalam benak kepala hingga membuat sesak menjalar ke seluruh hatinya.
"Mama? Mama kenapa? Kenapa Mama dikurung di sini?" Pertanyaan polos itu keluar dari bibir mungil gadis kecil bergaun merah delima. Kaki kecil yang dilindungi flat shoes berwarna senanda dengan gaunnya melangkah menghampiri wanita yang dipanggilnya mama tadi.
"Pergi kamu!" teriak wanita berwajah lesu yang berada di sudut ruangan.
"Peluk Nesya, Ma. Nesya kangen sama Mama." Gadis kecil itu merentangkan tangan lebar-lebar, menunggu pelukan hangat yang biasa ia dapatkan dari sang mama tercinta.
"Jangan mendekat!" teriak Dina histeris seraya menjambak rambut panjangnya yang kusut tak terurus. Dia semakin merapatkan tubuh ke tembok.
"Mama, Nesya kangen pelukan Mama. Nesya kangen dibacain dongeng sama Mama. Mama kenapa? Mama marah, ya, sama Nesya?" Nesya kecil semakin mendekat ke arah Dina, tetapi wanita itu malah melempar barang-barang yang ada di dekatnya ke arah gadis malang itu.
Tangis Nesya pecah ketika vas bunga yang telah pecah menggores lengan kecilnya yang terbuka dan menimbulkan luka di sana. "Mama!" panggilnya dengan buliran bening yang mengalir deras dari pelupuk mata. Nyatanya, luka itu tak sebanding dengan luka di hatinya yang kian menganga.
"Pergi!" Dina semakin membabi buta. Melemparkan apa pun yang ada di dekatnya.
Melihat hal tersebut, Aliyah yang berada di balik pintu dan menyaksikan kejadian memilukan itu langsung menghampiri Nesya dan berusaha membawanya pergi dari kamar Dina. Digenggamnya erat jari-jari kecil Nesya dan membawa gadis itu keluar. "Kamu terluka, Nesya. Ayo kita pergi, Sayang," ujarnya lembut.
Nesya meronta-ronta, berusaha melepaskan genggaman Aliyah yang semakin erat. "Nesya enggak mau pergi! Nesya mau sama mamaaa! Mamaaa, Nesya enggak mau pergi sama tante jahat ini. Nesya mau sama Mama." Tangisnya semakin kencang, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Adnan menyeka air mata di sudut matanya dengan cekat, tak ingin Aliyah tahu bahwa dirinya tengah menangis. Tentu saja dia ingat kejadian itu. Bahkan, masih melekat kuat di benak kepalanya.
Pria itu mengusap bahu Aliyah yang semakin bergetar, lalu menarik sang istri kembali ke dalam pelukannya.
***
Nesya setengah berlari menuruni anak tangga berlapiskan marmer itu. Tangannya masih sibuk membuat simpul pada dasi abu-abunya.
Adnan, Aliyah, dan Adeeva yang berada di meja makan seketika mengalihkan pandangan ke arah Nesya karena bunyi yang ditimbulkan sepatu kets miliknya beradu dengan kerasnya lantai.
"Nesya!"
Nesya menghentikan langkahnya ketika suara berat milik Adnan menginterupsi. Dia mengembuskan napas kasar, lalu membalikkan tubuhnya untuk menghadap papanya. "Ada apa, Pa?" tanyanya dengan nada malas.
"Mau ke mana kamu?"
Gadis itu memutar bola matanya, lalu merentangkan tangan lebar-lebar. "Seperti yang Papa lihat, aku pakai seragam sekolah lengkap. Ya, kali aku mau piknik," sinisnya.
"Bukan itu maksud Papa." Adnan menunjuk kursi di samping Adeeva menggunakan dagu. "Kamu harus sarapan dulu," titahnya, seolah-olah tak ingin dibantah.
"Aku sarapan di kantin sekolah aj—"
"Kamu harus sarapan di rumah," Adnan mengatakan dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Nesya menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Biasanya, aku juga sarapan dan makan siang di sekolah."
"Mulai hari ini dan seterusnya, kamu harus sarapan di rumah. Kalau tidak, Papa tidak akan memberikan uang saku untuk kamu lagi," ancamnya yang sukses membuat Nesya ketar-ketir untuk menolak.
Sebenci apa pun dirinya pada sang papa, dia masih membutuhkan uang. Lihat saja nanti, jika sudah sukses dan bisa menghasilkan uang sendiri, dia akan melepaskan diri dari belenggu papanya.
Nesya mengentakkan kaki menuju meja makan dan menarik kursi di samping Adeeva.
Aliyah tersenyum semringah karena akhirnya Nesya mau bergabung bersama mereka. Ia pun bangkit dari kursi untuk menjamu Nesya dengan antusias. "Kamu mau sarapan apa? Biar Mama yang ambilin, ya?" tawarnya seraya mengambil piring kosong di tengah meja.
Nesya menatap sinis Aliyah yang menurutnya sok baik, lalu merebut piring kosong itu dari tangan ibu tirinya secara kasar. "Aku punya dua tangan yang bisa mengambil makanan sendiri," ujarnya sarkastis diakhiri seulas senyum penuh paksaan.
Aliyah tersenyum kikuk. Akhirnya, dia pun memilih duduk kembali di kursinya.
Adeeva melirik Nesya dengan sinis, tak terima jika mamanya diperlakukan semena-mena oleh gadis yang dipanggilnya 'kakak' itu.
Suasana menjadi hening seketika, tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
Adnan berdeham pelan untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah tegang. "Sudah berapa lama, ya, kita tidak sarapan bersama seperti ini?"
"Sejak Papa membawa istri muda Papa ke rumah ini?" celetuk Nesya sarkas.
Sontak, tatapan semua orang yang ada di ruang makan itu terfokus pada satu objek, yaitu dirinya. Namun, tampaknya gadis itu acuh tak acuh. Dia justru mengambil gelas bening yang ada di sampingnya dan meneguk isinya sedikit. "Aku sudah selesai sarapan.” Dia mendorong kursi ke belakang untuk menciptakan jalan agar bisa lewat.
Bunyi nyaring yang timbul karena gesekan antara kursi yang terbuat dari kayu jati dan lantai marmer menyadarkan keterkejutan mereka akan celetukan Nesya.
Nesya melenggang pergi, meninggalkan ruang makan tanpa mencium tangan atau sekadar mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya seperti yang lazim dilakukan oleh seorang anak.
***
Bunyi bel mengaung di seluruh penjuru sekolah SMA Nusa Indah sebanyak dua kali yang menandakan jam istirahat telah tiba.
Seluruh siswa berhamburan ke luar kelas untuk mengisi perut kosong atau sekadar mencari udara segar setelah menempuh berjam-jam mata pelajaran yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Lain halnya dengan Nesya, ia masih berada di dalam kelas bersama kedua teman karibnya, Isthy dan Tyas.
Nesya memutar tubuhnya sembilan puluh derajat agar bisa mengajak Isthy dan Tyas berbincang-bincang. Pasalnya, dia duduk di bangku yang ada di depan mereka. "Setelah ini jamnya siapa, sih?" tanya Nesya kepada Isthy dan Tyas yang kebetulan duduk di belakangnya. Dia memang tak terlalu peduli dengan mata pelajaran apa yang akan diajarkan. Biasanya, gadis itu hanya membawa satu buku tulis yang memiliki fungsi ganda—bisa digunakan untuk catatan mata pelajaran apa pun. Lagi pula, dia juga tidak pernah mencatat kalau tidak disuruh guru. Tujuannya ke sekolah hanya ingin mendapatkan uang saku, tidak lebih.
"Jamnya Bu Novvi," Gadis berambut pendek bernama Isthy menyahut sembari memasukkan tumpukan buku ke dalam tas selempangnya.
"Pulang, yuk! Males banget sama pelajaran matematika. Angka-angkanya enggak pernah nyantol di otak," ajak Nesya seraya berdiri dari kursinya.
"Sama. Gue juga enggak pernah nyantol kalau berhubungan sama angka," timpal Tyas yang telah bersiap-siap menyampirkan ransel hitam di bahunya.
"Setujuuu!" Isthy pun langsung berdiri senang menanggapi ide gila Nesya.
Bolos. Kabur atau pulang sebelum waktunya adalah hal yang lazim dilakukan oleh mereka. Bahkan, orang tua sering dipanggil BP karena kenakalan mereka termasuk Adnan dan Aliyah yang setiap minggu menjadi langganan guru BP.
Tentu saja, setelah Adnan dipanggil guru BP, telinga Nesya kian memanas karena ceramahan Adnan yang hampir sama setiap dia melakukan kesalahan. Selain bolos, Nesya dan kedua temannya juga sering mem-bully atau melabrak adik kelas yang sok kecantikan—menurut mereka. Itulah yang membuat Nesya, Tyas, dan Isthy selalu terlibat masalah dan terancam akan dikeluarkan. Meski dipanggil BP berulang kali, tetapi nyatanya mereka tak pernah kapok, terus melakukan hal serupa berulang kali.
Dengan mengendap-endap, Nesya dan kedua sahabatnya langsung menuju ke belakang sekolah di mana ada dinding pembatas yang digunakan untuk mengelilingi area sekolah. Mereka harus melewati dinding tersebut untuk bisa benar-benar bebas.
"Mana, nih, tangganya?" tanya Nesya celingukan mencari benda yang dimaksud. Dinding pembatas itu memang tidak terlalu tinggi, tetapi karena tinggi mereka kurang mumpuni untuk memanjatnya, mereka masih membutuhkan alat bantu. Namun, alat bantu yang biasanya mereka gunakan hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
"Pasti ada orang yang ngambil, deh, Nes." Isthy ikut celingukan mencari keberadaan benda panjang dengan beberapa pijakan di tengahnya yang terbuat dari bambu itu.
"Ya, udah, Is, lo jongkok aja!" putus Nesya yang membuat Isthy bertanya-tanya.
"Ngapain gue jongkok?" tanya Isthy polos dengan wajah lugunya yang bisa membuat siapa saja gemas dengan kelemotan daya pikirnya.
"Gue mau naik ke atas bahu lo, terus nanti gue bantuin kalian dari atas."
"Kenapa harus gue?"
Nesya mengembuskan napas kesal. "Karena lo yang punya badan paling gede di antara kita bertiga. Udah, ih, cepetan! Keburu ada yang lihat."
Dengan wajah tak rela serta bibir manyun, Isthy menuruti perintah Nesya. Tanpa membuang waktu, Nesya duduk mengangkang di bahu Isthy dengan dibantu oleh Tyas. Untung saja, Nesya tak lupa membawa celana panjang olahraga yang selalu dibawa setiap hari untuk melancarkan aksi bolosnya.
"Udah, Is, lo berdiri, gih." Kali ini giliran Tyas yang memberi instruksi.
Secara perlahan, Isthy mulai berdiri untuk membantu Nesya mencapai puncak dinding.
"Sedang apa kalian?!" Suara lantang milik seorang pria tiba-tiba menyapa gendang telinga, membuat mereka berjengit kaget. Alhasil, keseimbangan Isthy goyah dan p****t mereka berciuman langsung dengan tanah kering.