Adnan terjaga karena mimpi buruk yang mengganggu tidur lelapnya. Dia mengedarkan pandangan sambil menetralkan napas yang terengah-engah seperti habis maraton. Pria itu mencengkeram d**a kanannya, berusaha mengurangi rasa nyeri yang menjalar di dalam sana. “Kenapa aku memimpikan Nesya? Apa yang terjadi padanya?” gumam lelaki setengah baya itu. Rasa nyeri di dadanya semakin menjadi ketika mimpi buruk tadi kembali berkelebat di dalam benak kepala. Dia pun memilih mengabaikan hal itu dan berusaha menganggap bahwa mimpinya hanyalah bunga tidur. Dia kemudian meraih gelas berisi air mineral yang ada di atas nakas samping ranjang. Adnan mengedarkan pandangan sekali lagi, seolah-olah tengah mencari keberadaan seseorang. “Di mana Aliyah? Apa dia pulang, ya?” *** “Terima kasih atas waktunya, Pa

