Bab 8 Strategiku yang Terbalik

2032 Words
Bab 8 Strategiku yang Terbalik Siapa itu Dewi, seorang wanita cantik berusia sembilan belas tahun yang memiliki tubuh ramping itu adalah mantan kekasih Fahmi. Dewi merupakan salah satu anak dari emak-emak yang bertempat tinggal di sekitar rumah Fahmi. Sebagai seorang lelaki yang memiliki wajah khas tionghoa, ketampanan Fahmi tidak diragukan lagi. Hidung lancip, mata sipit serta rambut ikalnya membuat para wanita jatuh hati kepadanya, termasuk Dewi salah satunya. Katakanlah tujuh dari sepuluh orang wanita akan menyukai Fahmi dalam hal ketampanan, sedangkan sisanya akan memilih yang lain karena mempertimbangkan banyak hal. Saat ini Dewi bermuka merah padam, ia terlihat menyesal dengan kata yang baru sahaja ia ucapkan! Melakukan apa pun yang Fahmi inginkan!? Bagaimana jika Fahmi meminta hal yang begituan kepada Dewi, mengingat hal seperti itu akan dianggap wajar untuk pasangan kekasih! Apakah Dewi akan menyetujuinya, meskipun ia adalah seorang mantan!? Memikirkan itu lebih jauh membuat Dewi merasa sangat malu! Fahmi berjalan mendekati Dewi yang saat ini terlihat menundukkan kepala. Bingung cara menyembunyikan wajahnya, Dewi memilih melihat tanah sebagai tempat persembunyian. " Aww. " Seringai lebar Fahmi tunjukan ketika jarak antara Fahmi dan Dewi hanya satu langkah kaki," Tenang! Aku tidak akan meminta mu melakukan hal seperti suami istri, kita belum menikah okeh. Kita bisa melakukannya setelah menikah," ucap Fahmi dengan nada lembut itu terdengar sangat tulus dan menyentuh hati. Kata-kata 'Kita bisa melakukannya besok setelah menikah' tanpa Fahmi sadari itu membuat Dewi salah paham. " Katanya mau bicara denganku! Katakanlah sesuatu! " Fahmi sedikit menaikkan nada suaranya kemudian mencubit pipi tembam Dewi. Sepontan Dewi berteriak, ia mengangkat wajahnya dan mendapati senyuman Fahmi yang terlihat sangat manis! Jantung Dewi berdetak sangat kencang, gejolak hasrat dalam hatinya muncul untuk mencium bibir merah Fahmi. Namun Dewi mengekang semua itu, ia gigit bibirnya keras dan mentap Fahmi dengan perasaan campur aduk. Mengapa biasa ia putus dengan pria seganteng ini, pikir Dewi dalam hati. " Aku tidak memiliki banyak waktu untuk melihat sikap mu yang ambigu! Jika kau ingin berbicara denganku, cepat carikan aku penjual bakso yang biasanya lewat di depan rumah kita, " ucap Fahmi dengan nada yang sedikit kesal, ia mengira Dewi marah karena perkataannya. " Jika kau tidak tahu, maka lupakan.... " belum sempat Fahmi menyelesaikan perkataannya, Dewi telah memotongnya dengan sangat cepat! " Aku tahu tempatnya, ayo ikuti aku. " Dewi memimpin jalan, tepat dibelakangnya ada Fahmi yang mengikuti. Tidak ada obrolan apa pun saat mereka berjalan, Fahmi lebih banyak diam dan mengamati cara Dewi berjalan yang sangat kaku, atau gugup. Setiap langkah yang ia pijakkan, terlihat tidak tidak santai. " Apa aku harus memegang tangan mu supaya kau bisa berjalan dengan santai! " batin Fahmi mengumpat. Seratus meter, dua ratus meter dan sampai tiga ratus meter tidak terasa mereka telah berjalan cukup jauh, semua orang di pinggir jalan menatap Fahmi dan Dewi seperti seorang pasangan kekasih yang sedang bertengkar. Wajah kaku Dewi sudah cukup menjadi bukti!! Beruntung ini bukan wilayah Rt Emak Yati, bila sahaja ada saksi yang melihat Dewi berjalan seperti ini, sudah pasti Fahmi akan mendapatkan masalah besar! Mengingat Dewi adalah anak dari salah satu emak-emak itu. " Dua belokan lagi, kita akan sampai," kata Dewi dengan lembut. " Hmm." Fahmi tidak berkomentar apa pun, ia mengangukkan kepala dan fokus mengikuti Dewi dari belakang. Dua belokan terlewati, pandangan Fahmi tertuju pada sebuah grobak bakso di depan rumah seorang warga, jarak grobak itu dengan Fahmi hanya sekitar sepuluh langkah. " Apa itu yang kau maksud? " tanya Dewi dengan nada percaya diri, mereka bisa memegang perkataannya Dewi merasa cukup bangga. " Bagaimana bisa kau mengetahuinya, " celtuk Fahmi. " Kebetulan anak perempuannya bekerja di tempat yang sama denganku, " jawab Dewi. " Ayo kita coba, jika itu benar orang yang aku cari. Aku akan memberikan mu kesempatan untuk berbicara. " " Hmm. " Obrolan singkat itu menghabiskan sepuluh langkah, akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah penjual bakso keliling. " Mang!! Kagak jualan! " seru Dewi dengan nada sedikit tinggi. Seorang wanita paruh baya keluar, " Owh, Eneng Dewi. Mang Ajis lagi sakit, paling besok lagi bisa jualan. " Besok!? Waktu Fahmi tinggal dua jam lagi! Menunggu besok maka Fahmi tidak bisa memperpanjang waktunya di dalam game. Dewi menatap Fahmi yang saat ini berwajah rumit, " Bagaimana? " tanya Dewi sembari menyenggol tubuh Fahmi. " Apa tidak ada sisa bahan untuk satu porsi bakso? Aku ingin sekali makan bakso Mang Ajis hari ini. " Fahmi berkata terus terang, sekilas kata-kata terdengar monoton, namun melihat ekspresi wajah Fahmi yang penuh harap, kata tersebut mampu menyentuh hati. " Sebentar Aa, aku chek dulu, bila cuma satu porsi mungkin ada di dalam kulkas," ucap wanita paruh baya itu sebelum pergi. " Ada Aa, sebentar ya aku angetin dulu. " Sepuluh menit kemudian, satu porsi bakso siap santap berada dihadapan Fahmi, setelah berterimakasih Fahmi memakan baksonya dengan pelan, terlihat ia sangat menikmati setiap gigitan bakso yang berada dalam mulutnya. Dewi yang duduk di sebelahnya mengerutkan kening, "Apa yang terjadi disini? Mengapa sifat Fahmi berubah seratus delapan puluhan derajat?" batin Dewi bertanya-tanya. Ggerrrrrt Samar-samar Fahmi dapat merasakan getaran posel dari saku celananya, itu bunyi pemberitahuan terbaru dari poselnya. Merogoh celan, Fahmi mengambil posel dan membuka pemberitahuan terbaru, ketika tangan Fahmi menggeser layar ponselnya ia menenkan informasi dari salah satu pemberitahan terbaru! ' Selamat kepada pemain Death Timer, Fahmi Wijaya karena dapat menyelesikan misi. Reward otomatis terpakai dan waktu Death Timer bertambah dua belas jam dari waktu sekarang' Selepas menyelesikan membaca pemberitahan terbaru, Fahmi mempercepat makan baksonya dengan lahap sembari memasang wajah sumringah, kurang dari satu menit ia telah menghabiskan sisa baksonya di dalam mangkok . " Ini Teh, kembaliannya buat Teteh. Hari ini aku sangat senang, jadi terimalah, " seru Fahmi dengan terseyum lebar. " Terimakasih Aa, nanti Teteh akan suruh mamang kasih bakso lagi klo mampir ke rumah Aa," kata istri Mang Ajis dengan perasaan senang karena mendapatkan satu lembar uang dari Fahmi, ia mengira itu uang seratus ribu, namun ketika Fahmi dan Dewi pergi menjauh ia membuka lembaran warna merah itu dan ekspresi berubah drastis. Itu uang satu lembaran dengan nominal 1.0, satu juta. Mata uang baru di Indonesia. Segera sang istri menghampiri suaminya yang terbaring sakit di atas ranjang, Mang Ajis terseyum lebar dan perasaannya terasa hangat. Bagaimana pun juga ia mengenal Fahmi sebab emak-emak yang beli bakso menggunjingnya dibelakang, ia benar-benar tidak menyangka momok pria nakal yang katanya suka main wanita dan berantem itu memiliki hati yang mulia. **** Di tengah jalan Fahmi menunggu sebuah ojek online, ia menyewa mobil untuknya dan Dewi supaya tidak jalan kaki ketika pergi. " Kamu sekarang liburkan? " " Hm. " " Kita akan ketaman kota, kamu bisa berbicara sepuasnya di sana, " kata Fahmi dengan mata yang fokus menatap ponselnya. Kurang lebih tujuh menit kemudian mobil ojek pesanan Fahmi datang, ia masuk ke dalam mobil bersama Dewi. Jarak Taman Kota dengan rumah Fahmi cukup jauh, itu memakan waktu setengah jam perjalanan tanpa macet dan satu jam perjalanan jika macet. Tidak ada obrolan antara Fahmi dan Dewi di dalam mobil, meskipun mereka duduk berdampingan, Fahmi nampak sibuk memainkan ponselnya dan Dewi cukup malu untuk mengawali pemicaraan. Satu jam berlalu, jalan macet menyebabkan Fahmi mencapai taman kota dalam waktu satu jam. Salama waktu satu jam itu Fahmi memeriksa aplikasi Death Timer, tentang World chat atau Word info. Pada panel tersebut berisikan informasi mengenai para pemain yang mati, dan pemain yang mendapatkan julukan baru serta seputar informasi mengenai game. Ada juga menu Chat untuk para pemain Top. Fahmi duduk di taman, ia bersama Dewi duduk berdampingan, " Jangan berbicara kepadaku sebelum jam dua belas lebih," kata Fahmi. Fahmi tidak ingin terlewatkan seperti sebelumnya seraya menunggu, ia kembali memeriksa world chat atau world info. ' Karakter xxx mati di level 5." ' Karakter xxx mati di level 18." ' Karakter xxx mati di level 27." Semua pemain yang mati di dalam game di tampilkan dalam world info, dengan wajah yang di sensor terlihat pemain-pemain itu meninggalkan dunia dalam berbagai keadaan. Melihat hal tersebut Fahmi sedikit bergidik ngeri, kematian dalam game itu nyata!! Mengalihkan perhatiannya, Fahmi membuka berita terkini tentang pembaruan pangkat atau Julukan. ' Selamat kepada pemain Setevanus karena mendapatkan Julukan dalam game sebagai pemain terkaya' Setengah jam berlalu dengan sangat cepat, Fahmi melihat jam di pojok kanan atas yang telah menunjuk jam dua belas siang. Pembaruan misi. ' Misi Harian ' A. Katakan iya kepada siapa pun yang beberbicara dengan mu, selama satu jam. B. Membeli Ayam mentah di Pasar Rebo. C. Jual sepatu di toko terdekat. ' Misi utama ' A. Berjabat tangan dengan orang terkaya dalam game. Dewi yang duduk di samping Fahmi merasa sangat canggung, entah itu setengah jam yang lalu atau pun saat ini. " Katakan apapun yang ingin kau katakan, " celtuk Fahmi yang telah memilih misi apa yang ingin ia selesaikan. Fahmi mentap mata bulat Dewi, wajah putih itu terlihat cantik dengan kombinasi bibi tipisnya, hanya sahaja Fahmi tidak ingin terburu-buru untuk menikah jadi ia sering bergonta-ganti pasangan, jika ia rasa tidak ada kecocokan. " Apa kau mencintaiku, " tanya Dewi sembari mengigit bibirnya, ia terlihat sangat berusaha keras untuk mengatakan hal tersebut. " Iya, " jawab Fahmi datar, mengingat ia ingin menyelesaikan misi ' A', terpaksa ia harus mengatakan iya, meskipun hatinya entah tidak tahu dimana. " Apakah kamu mau jadj suamiku? " tanya Dewi yang saat ini bermuka cerah. " Iya, " jawab Fahmi dengan nada datar, namun bagi Dewi itu terdengar lembut dan menyentuh. " Apakah kau ingin aku menjadi istri mu? " " Iya, " jawab Fahmi dengan nada yang masih sama. Sebenarnya Fahmi mengumpat dalam hati, ' Mengapa pertanyaan selalu berhubungan dengannya, sialan," batin Fahmi dalam hati. . Satu jam Ini Fahmi merasa seperti diinvestigasi, apa pun pertanyaan Dewi selalu Fahmi jawab' 'Iya' dan hal itu membuat Dewi salah tingkah. Dalam hati Dewi ingin sekali ia memuaskan hasratnya untuk memluk dan mencium Fahmi, ini sangat menggoda Dewi, persetujuan telah ia dapatkan dengan perkataan 'iya' dari Fahmi. Namun sebelum Dewi ingin melakukannya, Fahmi bangkit dari tempat duduknya setelah mendapatkan konfirmasi bahwa misinya telah selesai. " Aku harus pergi! Ini uang untuk mu agar dapat membayar taxsi, " ucap Fahmi sembari menyelipkan uang berwarna merah dengan angka 1.0 . Wajah Dewi memerah saat tangan Fahmi menyentuhnya, nafasnya berhenti sesaat ketika itu terjadi dan jantungnya memompa dengan sangat cepat. " Sampai jumpa lagi, " kata Fahmi berlenggang pergi tanpa mempedulikan reaksi Dewi yang saat ini mematung. Setelah Fahmi pergi, Dewi mencium tangannya sendiri, itu masih terasa! Bau khas parfum Fahmi melekat pada tanagnya. Tanpa Dewi sadari air mata merembes dari kedua pipinya, hatinya sejenak terasa hangat saat Fahmi menyentuhnya, ingin sekali Dewi memilikinya. Air mata itu terus menetes, sembari hidung kecil itu mencium tangan, jika ada saksi yang tahu bahwa Fahmi membuat Dewi menangis, sudah pasti malam ini Fahmi akan kehilangan pintu gerbangnya lagi. *** Fahmi pulang ke rumah untuk tidur dan bersiap diri menyambut pembaruan misi nanti malam jam dua belas malam. Kringagggg Kringggggg Fahmi membeli banyak jam alaram di jalan, dia tidak ingin lagi kecolongan seperti sebelumnya. Rencana Fahmi berhasil, ia bangun tepat waktu jam dua belas malam. 'Pembaharuan Misi ' ' Misi Harian ' A. Tangkap kucing yang hilang kemudian lepaskan. B. Makan makan padang di kota Padang. C. Minum jus mangga di papua. ' Misi utama' A. Berjabat tangan dengan orang terkaya. Melihat opsi tersebut, Fahmi memilih abjad 'A' untuk di sesaikan. Mengikuti tips dan trik yang Reyhan katakan untuk tidak menyelesaikan misi utama. Hanya mengandalkan misi harian, dan menjadikan reward uang satu dollar per menit sebagi alat tikar untuk poin stat, membuat Fahmi percaya diri akan menjadi Pemain terkuat dalam game. Segera setelah uangnya masuk, Fahmi tukar semua dollar itu menjadi poin stat. Dengan perhitungan 100 dolar untuk satu stat, Fahmi behasil mengumpulkan 14 point stat satu hari ini. Berangkat menyelesaikan misi untuk menangkap kucing! Kejadian naas terjadi, bukan mendapatkan julukan pemain terkuat dalam game, Fahmi mendapatkan julukan pemain terlemah dalam geme. " Han, elu kemana aja! Teman macam apaan elu! b*****t!! " ucap Fahmi sembari menimpuk Reyhan dengan bantal. " Gue udah berangkat pas Elu Wa, namun ketika gue nyampe lokasi, elu udah gak ada disana. Entah siapa yang menyematkan elu, gue nggak tahu. " " Yang pasti mereka lebih kuat dibanding guild papan atas," kata Reyhan dengan nada serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD