Eps 17 Nenek Tua

1867 Words
Eps 17 Nenek Tua Jantung Fahmi berdetak sangat cepat! Keringat dingin membasahi punggungnya! Sosok Pria berambut Kribo berada di hadapannya! Masih jelas pada ingatannya, Mr Lee membunuh empat orang pria dewasa dengan mudah. Satu kali pukulan berhasil membuat mereka mati!! Game Death Timer benar-benar suatu game yang mengerikan!! Setiap pemain Death Timer seperti mendapatkan kekuatan super setelah bermain game! Terutama mereka yang memiliki stat tinggi dan level yang besar! Mengingat hal ini Fahmi merasa kecil dan rendah, seorang master game harus bersembuyi di bawah kursi untuk menyelamatkan nyawanya sendiri!! Bukankah ini lelucon yang sangat lucu!! Fahmi bahkan sampai ketakutan setengah mati saat ini, begitu melihat sosok berambut Kribo ada dia atas kursi tempatnya bersembuyi!? " Heyy, apa kau tidak memiliki tempat tinggal sehingga tidur di bawah kursi!! " " Kemarilah duduk bersamaku! Ada beberapa roti yang aku bawa dari rumah, " kata seseorang berambut Kribo tersebut. Fahmi mengelus dadanya, ketika ia menyadari bahwa sosok berambut Kribo tersebut adalah seorang Nenek tua. " b*****t!! Apa aku benar-benar ketakutan setengah mati sampai tidak bisa membedakan orang, " umpat Fahmi dalam hati. Namun dilihat dari mana pun bentuk rambut Nenek Tua ini mirip sekali dengan Mr Lee, meskipun sudah berwajah keriput, tapi rambut Nenek Tua ini tidak berwarna putih, itu masih nampak hitam legam dan sama persis seperti rambutnya Mr Lee. Apa jangan-jangan Nenek Tua ini adalah ibunya Mr Lee!! Fahmi masih diam dan mengamati situasi, ia mendongkakkan kepalanya dan menatap Nenek Tua itu dengan lekat. Kulit kriput disana-sini serta pipi kendur itu jelas menunjukkan umur Nenek Tua ini lebih dari enam puluh tahun! " Duduklah! Apa yang kau khawatirkan dari seorang Nenek Tua!" ucap Nenek tua. Kata-kata Nenek Tua itu terdengar keras, namun setiap intonasinya menyimpan kesan perhatian yang dalam. Segera Fahmi duduk di samping Nenek tua itu. Sekilas ia melihat pakaian sederhana yang wanita tua ini kenakan, setelah mendapati tidak ada yang mencurigakan pandangan Fahmi lurus ke depan. " Apa yang kau takuti sebenarnya! Apa kau pikir aku bisa membunuh mu! Jangan bercanda... Berlari sahaja aku tidak mampu... Makanlah, roti ini baru sahaja aku buat, tenang aku tidak mencoba untuk meracuni mu. " Suara yang serak dengan nada khas orang tua pada umumnya, sanggup menyentuh sudut hati Fahmi. Kepedulian kecil seperti ini tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tua! Mendapatkan perhatian ini jelas sudut hati Fahmi terasa hangat. Segera Fahmi meraih roti yang Nenek Tua itu berikan, tanpa Fahmi sadari air matanya berlinang dan ia memakan dengan lahap roti tersebut dengan empat kali kunyahan. " Makan dengan tenang, aku masih memiliki beberapa lagi untuk mu, " kata sang Nenek sembari memberi satu potongan roti lagi kepada Fahmi. Dengan gerakan pelan, Fahmi meraih roti tersebut, sebenarnya ia sediki malu untuk mengakuinya. Saat ini ia sangat lapar! " Nikmati perlahan... Sesuatu akan terasa nikmat ketika kau menikmatinya dengan perasaan senang. Kesedihan dan kesenangan datang silih berganti! Jangan jadikan ketakutan mu sebagai penghalang untuk menikmati hidup! Mengakui rasa takut, mendorong diri untuk menghadapi rasa tersebut dan membebaskan diri darinya adalah sebuah keberanian. Keberanian adalah langkah awal untuk menikmati hidup! " Sang Nenek Tua itu menasehati Fahmi, dengan tatapan sayu wanita ini melihat Fahmi. Sejenak Fahmi berhenti makan, ia memandang sang Nenek dengan cara yang baru! Apa Orang Tua ini mantan motivator!?? Pikir Fahmi dalam hati. Merenungi kata-kata sang Nenek, secara keseluruhan memang benar bahwa Fahmi belum bisa menikmati hidup, dengan berbagi kecemasan yang tidak jelas membuat Fahmi merasa takut untuk melewati banyak hal. Batasan-batasan diri pun hadir, itu semua tidak bisa ia bendung ketika ketakutannya muncul. Masih jelas pada ingatannya ketika ia keluar dari sel remaja, rasa malu yang besar menghantuinya dan sebagian besar temannya meninggalkannya!! Rasa takut bertemu dengan orang lain, kerinduan untuk nongkrong dengan banyak teman, semua itu Fahmi alihkan dengan bermain game!! Perkataan sang Nenek sepenuhnya benar tentang Fahmi, ia belum bisa menikmati hidup dan kehidupannya penuh ketakutan sampai sekarang. Fahmi sekarang benar-benar hanyut dalam perkataan sang Nenek!! Dengan solusi yang baru shaja sang Nenek katakan di akhir kalimat membuat Fahmi sadar, ia butuh keberanian! " Benar seperti yang Nenek ini katakan, aku belum pernah menikmati hidup! Hidup dalam ketakutan dan menjadi gamer sebagai pelarian! Aku harus berani! Menghadapi semua ketakutanku, tidak boleh terus seperti ini," batin Fahmi dalam hati. " Apa kau memahami apa yang baru sahaja aku katakan? " kata sang Nenek dengan nada lembut. " Hm, aku memahaminya dengan benar sekarang. " Obrolan sang Nenek dan Fahmi terus berlanjut, sang Nenek berbagai kisah kehidupannya yang sulit dan berhasil melewatinya dengan perasaan bahagia, baik kesedihan dan kesenangan selalu ia nikmati dengan perasaan senang! Lewat cerita sang Nenek, Fahmi menjadi semakin paham. Semua kesulitan dan ketakutan itu akan menjadi kecil setelah keberanian hadir untuk menekannya. " Perjalanan mu masih panjang, Nak. Jangan takut! Melangkah dengan penuh percaya diri dan yakinlah." " Bolehkah aku melihat garis tangan mu! " lanjut sang Nenek. Fahmi manggut-manggut, ia menyetujui semua perkataan sang Nenek, cerita yang Nenek Tua ini sampaikan benar-benar memotivasinya. Mengulurkan kedua tangannya, telapak tangan Fahmi terbuka dan membiarkan sang Nenek melihat garis-garis yang tertera. Sekilas sang Nenek melebarkan matanya, ia terkejut namun Fahmi tidak menyadarinya, dalam diam sang Nenek takjub dan merasa tidak percaya. " Garis tangan orang yang hebat! Dia pasti akan menjadi orang yang penting di masa depan, "batin Nenek dalam hati. Setelah menyaksikan kedua telapak tangan Fahmi, sang Nenek kembali bertanya," Siapa nama mu Nak? Dengan cara apa orang tua ini memanggil mu?" Mendengar pertanyaan itu, Fahmi menarik kedua tangannya dan menjawab, " Fahmi Wijaya, Nenek. Apa aku boleh tahu nama mu juga. Kata-kata mu sungguh sangat menginspirasi, aku akan mengingat kata-kata itu dengan nama mu," balas Fahmi dengan wajah yang berseri-seri. Sang Nenek terseyum, " Panggil sahaja aku Nenek Lee." Jantung Fahmi tersentak! Apa jangan-jangan ini ibunya Mr Lee, pikir Fahmi dengan ekspresi panik. " Tenang, anakku tidak ada di sekitar sini! Jangan khawatir dan jangan takut, apa kata-kata ku belum jelas kau pahami? " Fahmi mengelus dadanya!! Ternyata memang benar!! Ibunya Mr Lee ada disini! Menggelengkan kepala pelan dan terseyum tipis," Aku memahaminya Nenek Lee, aku akan berusaha untuk tidak takut lagi. " kata Fahmi sembari meminta ijin untuk pergi! Sebelum pergi Fahmi juga mengucapkan ucap terimakasih yang kepada Nenek Lee, kata-katanya akan Fahmi ingat selamanya. Dalam hati Fahmi sekarang bersisi tekad untuk maju! Selepas mengucapkan salam perpisahan, Fahmi pergi kembali kerumahnya. Kurang lebih dua jam kemudian Sosok pria berambut Kribo dengan kumisi tebal datang ke taman, pria dewasa ini menghampiri seorang nenek tua yang duduk di kursi taman. " Ibu!! Mana roti ku!!! " teriak Mr Lee dengan nada keras, namun ada nada manja pada intonasinya. " Tidak ada lagi!! " kata Nenek Lee dingin. " Apa Ibu memberikannya kepada orang itu lagi!! Ayolah Bu... Berapa kali harus aku katakan, aku sangat menyukai roti mu jadi jangan berikan kepada siapa pun selain diriku! " Mr Lee mengeluh, ia sangat kesal ketika roti yang seharusnya menjadi miliknya diberikan kepada orang lain. " Kemarilah," pinta Nenek Lee supaya anaknya menunduk. Takk Mr Lee menurut, ia berjogkok dihadapan ibunya, dengan gerakan yang sangat cepat Nenek Lee menjitak kepala anaknya. " Aatthh...Ibu!! Haruskah kau selalu melakukan hal ini ketika marah! " Segera Mr Lee mengelus kepalanya yang terasa sakit, meskipun pukulan kecil itu tidak sepenuhnya memberikan rasa sakit pada fisiknya, namun salah satu sudut hati Mr Lee terasa sakit ketika seseorang yang ia cintai memukulnya. " Berapa kali aku katakan kepada mu!! Jika ingin berurusan dengan orang lain kau harus melihat sorot mata orang itu!! Kau hampir menyinggung orang yang salah!! " teriak Nenek Lee dengan nada keras yang bernada marah. " Aku sudah melakukan Bu!!... Aku selalu menghindari orang-orang yang memiliki sorot mata tajam dengan ciri-ciri, yang pernah kau sebutkan... " Bibir Mr Lee sedikit bergetar ketika mengatakan hal tersebut. Takk Kembali lagi Nenek Lee menjitak kepala anaknya," Bodoh!! Kau hampir menyinggung orang yang salah semalam!! " Nenek Lee mendengus kesal. " Siapa!! Aku tidak melakukannya!!... Sungguh Bu!!" Mata Mr Lee sedikit berkaca-kaca, mendengar ibunya berteriak kepadanya membuatnya sakit hati. Bagaimana pun juga wanita ini adalah satu satunya orang yang mencintainya di dunia ini. Kata-kata keras itu sungguh lebih menyakitkan dibanding tertusuk pisau atau tertabrak mobil, Mr Lee sendiri pernah meraskannya beberapa hari yang lalu. " Fahmi Wijaya!! Apa yang kau lakukan kepadanya!! " Nenek Lee memandang tajam anaknya, sorot mata sayunya berubah menjadi sangat tajam ketika berkata demikian. Mr Lee membeku!! Ia menyadari sesuatu! Ibunya pasti telah bertemu dengan Fahmi dan melihat masa depannya!! " Itu... " Mr Lee tidak berani menyangkal, meskipun ia berada dalam posisi yang benar! Sudut pandang ibunya jelas berbeda dengannya, mengelaknya hanya akan menambah marah sang ibu. Takk " Ingat kata-kata ibu!! Jangan kau hina atau pukulan orang itu, dimasa depan orang itu akan menjadi orang hebat yang luar biasa! Jadikan dia sekutumu, bila tidak bisa kau harus menjadikannya Tuan mu. Paham!! " Nenek Lee berkata demikian sebelum menjitak kepala anaknya. Mr Lee manggut-manggut, wajahnya terbenam menghadap tanah, ia benar-benar sangat malu dan menyesal, memang benar saat itu ia lupa tidak memandang mata Fahmi, ia terlalu fokus pada wajahnya karena teringat Julukan Legendaris yang Fahmi miliki. Dengan umurnya yang masih muda, Mr Lee mengingatnya dengan jelas apa pun yang ibunya katakan itu pasti akan menjadi kenyataan, mengingat kemampuan sang ibu dalam hal meramal telah banyak memberikan bukti nyata!! " Aku akan mengingat dan melakukan apa yang ibu katakan... " Masih dengan wajah yang menunduk, Mr Lee berkata pelan, namun penuh dengan nada kepatuhan. " Baguss!! Pergi lah, jangan sampai kau kembali sebelum meminta maaf kepada orang itu!! " teriak Nenek Lee seraya memalingkan muka. " Baiklah... Aku ijin pergi Bu! " Air mata Mr Lee akhirnya menetes, ia masih menundukkan kepalanya saat bangun dari posisinya! Ia sadar telah berbuat salah, seharunya ia tidak mengancam Fahmi dengan mengatakan hal itu. Kepergian Mr Lee membuat sang ibu menghela nafas berat," Terakhir kali aku melihat garis tangan seperti itu, orang itu menjadi President, akan menjadi seperti apa pemuda itu yah, " gumam Nenek Lee sembari terseyum lebar. **** Di rumah Emak Yati " Bagaimana Yun, apa kau sudah dapat pekerjaan!? " kata Emak Yati bertanya kepada Yuni. "Hm, udah Bu!! Kemarin aku baru sahaja menandatangani surat kontak yang diberikan perusahan," kata Yuni dengan wajah sumringah! Emak Yati tertawa keras sampai giginya terlihat, " Bagus! Kau harus bekerja jangan tahunya jajan mulu!! Kau pasti akan kurus jika bekerja, dan mungkin Fahmi akan melirik mu," kata Emak Yati menggoda anaknya!! " Ihhh, apaan sih Ibu!!" Yuni memalingkan mukanya dan mendengus kesal. " Ehm, ngomong-ngomong kau bekerja dimana dan Perusahannya bergerak dibidang apa? " tanya Emak Yati penasaran. " Gajinya Gede Bu! Satu menitnya satu dolar? Seharinya kurang lebih Seribu dolar! " " Hahh!!! segitu ya sedikitlah. Lihat tuh Dewi gajinya empat sebulan!! " " Ibu!! Dolar sama rupiah itu beda!! Satu Dolar klo di rupiahkan itu enam belas ribu rupiah! Sehari aku bisa mendapatkan gaji seribu dolar lebih dan kalo di rupiahkan, sehari aku bisa mendapatkan uang dua puluhan juta!! " kata Yuni dengan nada serius. Emak Yati melebarkan matanya, mulutnya terbuka lebar sampai dua butir telur pun bisa masuk ke dalam mulutnya! " Seriuss!! Pekerjaan apa yang bisa kau lakukan dengan gaji sebesar itu!!?" Emak Yati menolak untuk percaya! " Seriuss Bu!! Aku hanya bermain Game! " kata Yuni dengan wajah tanpa bersalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD