Bab 14 Kekasih Fahmi

2235 Words
Bab 14 Kekasih Fahmi Di sebuah kafe Seorang wanita dengan ramput panjang sebahu tengah duduk di sebuah kafe, wanita tersebut berkali-kali melihat jam tangan. Sembari meminum jus dan beberapa makanan ringan wanita itu menggeser layar ponselnya dengan perasaan senang serta tidak sabar. " Ih, lama amat yah Dina! " ucap Dewi kesal. Dewi ini tidak lain adalah tetangga Fahmi dan juga mantannya, meskipun mereka putus karena masalah sepele, namun dalam lubuk hati Dewi yang paling dalam ia menyesali perbuatan buruknya di masa lalu. Dari balik pintu luar kafe, seorang wanita bertubuh pendek dengan potongan rambut cepak seperti seorang pria memasuki kafe dengan tergesa-gesa. Brukk Wanita itu langsung meletakkan tasnya di atas meja tempat Dewi duduk, dan menyerobot jus diatas meja kemudian meminumnya dengan sekali tegukkan. " Uwahh, segarnya! " teriak wanita berambut cepak itu dengan perasaan girang kemudian tertawa kecil. Dewi hanya terseyum kecil ketika semua itu terjadi, tidak ada banyak orang di kafe jadi aksi Dina yang terlihat sembrono ini tidak mendapatkan komentar apa pun dari orang lain. " Duduklah, " kata Dewi setelah melihat kejadian itu, ia seperti telah terbiasa dengan sikap sahabatnya ini. " Apa kabar mu sekarang, sudah lama sekali rasanya yah, " ucap Dewi dengan wajah yang berseri-seri, ia terlihat sangat senang ketika melihat Dina. " Hm, ini sudah lewat dua tahun. Lama sekali memang... Banyak hal yang terjadi, adalah suatu keajaiban bagiku bisa hidup Wi... " kata Dina dengan nada rendah, itu terdengar lirih, siapa pun yang dengar akan merasakan titik-titik kesedihan pada setiap katanya. Dewi melebarkan matanya," Apa, ada apa sebenarnya! Aku kehilangan kontak mu setelah lulus Sma, aku pikir kau keluar negeri." Dina menggelengkan kepalanya pelan, " Aku kena kangker otak stadium akhir, dua tahun aku menjalani kemoterapi dan lihat hasilnya..." Menyadari sesuatu! Dewi terlalu fokus pada mata cantik Dina, ia lupa melihat bahwa potongan rambut sahabatnya ini telah berubah, jika dulu rambut Dina panjang, sekarang telah menjadi sangat pendek. " Astaga! Aku benar-benar tidak menyadarinya, potongan rambut mu telah berubah! Sungguh aku terlalu fokus pada matamu yang cantik. " Dewi terkejut saat menyadari perubahan Dina, ia menggodanya seperti seorang pria, meskipun pada kenyataan ia berkata jujur. Hmmp Mendengus kesal, Dina memalingkan mukanya sebentar kemudian melirik Dewi, setelah itu mereka tertawa bersama. " Aku serius!! " kata Dewi dengan terseyum lebar. " Aku juga serius merindukan mu!" Dina manatap Dewi dengan penuh perhatian, sorot matanya terlihat menyimpan begitu banyak kesedihan. " Hm, aku tahu itu... Sekarang bagaimana keadaan mu? " Dina memalingkan mukanya ke kanan dan ke kiri, ia seperti sedang memastikan keadaan sekitarnya dengan melakukan aksi tersebut. " Ini rahasia yah... " Dina menempelkan jari telunjuknya ke bibir dan berkata dengan pelan. " Sebenarnya kemoterapi yang aku jalani gagal... Dan para Dokter ahli mengklaim umurku hanya bertahan beberapa hari..." Dina menghela nafas berat, kemudian berhenti sesaat untuk mengatur nafasnya. " Terus bagaimana kelanjutannya... Bukankah saat ini kau bisa melewati itu semua?" Dewi penasaran, melihat Dina bisa berada di hadapannya dengan keadaan sehat, pastinya ia menduga Dina telah melewati masa-masa kritisnya. Dina terseyum kecut kemudian berkata, " Aku sempat ingin bunuh diri waktu itu... Melihat kesedihan papa, mama aku tidak sanggup... Namun ketika aku berada di titik teredah, aku menemukan solusi atas penyakitku dan berhasil bertahan sampai sekarang..." Dina berlinang air mata, terlihat genangan air yang hendak keluar pada bola matanya. Bukan hanya Dina, mata Dewi pun ikut berkaca-kaca, ia sangat terharu dan terkesan ketika tahu seorang sahabatnya memiliki segudang ujian kehidupan yang sangat berat, bahkan dalam hati Dewi ragu apakah dia sanggup melewati ujian yang Dina miliki. " Kesembuhanku berkat bermain Game, jejak kangker pada otakku pun hilang setelah resmi terdaftar sebagai pemain," kata Dina sembari menyeka air matanya dengan tisu di atas meja. " Hah, bagaimana bisa!? " Dewi membuka mulutnya dengan lebar, perkataan Dina sungguh sulit dinalar menggunakan logika. " Aku menjadi Pemain Death Timer..."bisik Dina pelan. " Sebuah game real of life yang mengharuskan mu untuk menyelesaikan misi dan memperpanjang waktu, di game ini para pemain juga dibayar," seru Dina dengan nada yang berubah, itu terdengar sangat riang. " Berapa gaji mu sebulan Wi? " tanya Dina kepada Dewi yang saat ini tengah terdiam, Dewi masih mencerna perkataan Dina. " Dua juta lima ratus, uang transpor lima ratus, uang makan lima ratus, plus bonus lima ratus. Total sekitar 4 juta dalam satu bulan. Memang di gaji berapa kamu di game itu? " " Satu menit satu dolar, satu jam enam puluh dolar dan satu hari 1.440 dolar. " Dina tertawa geli ketika mendengar gaji Dewi. " Seriuss!! Seberapa sulit gamenya! Dengan gaji sebesar itu, aku yakin tanggung jawab yang perusahan bebankan pasti besar pula. " Dewi sempat tertegun, namun ia sadar akan hukum timbal balik dalam pekerjaan, semakin besar tanggung jawab semakin besar pula pedapatnya. Dewi paham betul akan hukum tersebut karena ia termasuk pegawai senior. " Seriuss Wi, ngapain aku bohong. Namun ya itu, seperti apa yang baru sahaja kamu katakan, risikonya benar-benar tinggi." " Seberapa tinggi risikonya? " Dewi akhirnya terpancing akan perkataan Dina, dua puluh juta dalam satu hari, siapa yang tidak menginginkannya! Dewi yang bercita-cita untuk membangun rumahnya sendiri tentu membutuhkan banyak uang, dengan gajinya sebulan empat juta, di perkirakan butuh waktu dua puluh tahun baginya untuk dapat membangun rumahnya sendiri. Itu sangat lama!! Dewi tidak berkeinginan untuk menjadi Perawan Tua. " Ohoho, ini masalah bisnis. Kita harus membicarakan di rumah mu, empat mata tentunya. " Dina menyeringai, dengan seyuman khas penjahat jalanan. Melihat reaksi Dina, Dewi tertawa terpingkal-pingkal. Di susul dengan tawa Dina yang tidak kalah kerasnya! Jarak rumah Dewi dengan kafe cukup jauh, itu sekitar empat atau lima kilometer, Dewi dapat sampai di kafe menggunakan motor metik. Kembali ke rumah, Dewi menggunakan motornya dan Dina memboceng tepat dibelakangnnya. Perjalanan Dewi untuk sampai ke rumah tidak membutuhkan waktu yang lama, kurang lebih lima belas menit. Dalam perjalanan mereka Dina aktif bertanya tentang teman-teman mereka di Sma, Dewi pun menjawab semua pertanyaan itu dengan senang. Pandangan Dina sedikit melebar ketika mereka hampir sampai di rumah Dewi, " Wi, itu rumah siapa, kok pintu gerbangnya penyok kek gitu?" Rumah besar dengan arsitektur mewah, namun terlihat sangat usang itu terlihat sangat mencolok. Di dalam gang ada rumah sebesar itu, siapa yang akan menyangka. Halaman depannya sahaja mampu mengampung dua sampai tiga mobil besar, belum lagi halaman belakang yang tertutup tembok besar, semua orang percaya halaman belakang itu mampu menampung dua atau tiga bus besar. " Itu rumah temen kelas kita, Fahmi..." kata Dewi lirih, ia sedikit canggung saat mengatakannya. Bagaimana pun juga pagar gerbang Fahmi benar-benar rusak, dengan penyok besar yang terlihat disana-sini itu terlihat sangat mencolok. Dina tertegun, namun kesadarannya segera pulih setelah ia sampai di rumah Dewi. Salah satu alasan Dina mengajak Dewi bermain game adalah karena misi, selebihnya adalah untuk mendaptkan informasi mengenai Fahmi, seorang pemain Death Timer yang baru-baru ini menarik perhatian banyak orang. " Ayo masuk, " kata Dewi mempersilahkan Dina masuk. " Hm. " Rumah Dewi sekilas terlihat sederhana, dengan desain rumah yang berbeda dari yang lainnya karena mengikuti gaya rumah pada perumahan, tempat tinggal Dewi ini terkesan minimalis. Jam dua siang, pada waktu ini orang tua Dewi belum pulang dari pabrik. Melihat suasana yang sepi, Dina merasa lebih leluasa untuk bertanya banyak hal kepada Dewi. " Jadi bagaimana, aku ingin melihat bagaimana game itu bekerja, aturan, risiko dan penghasilan yang baru sahaja kamu katakan, " seru Dewi sembari membawa nampan berisi jus dan camilan ringan. " Hm, kamu bisa membacanya sebentar Wi, setelah itu kamu bisa bertanya jika ada yang masih membuat mu bingung. " Dewi mengeluarkan amplop coklat yang berisi beberapa dokument penting. Hal tersebut telah ia persiapkan dari awal. Beberapa menit berlalu, ekspresi wajah Dewi berubah-ubah saat membaca dokument yang Dina bawa, kandang terkejut, sesekali takjub dan sering kali tertegun. Butuh waktu kurang lebih setengah jam bagi Dewi untuk menamatkan belasan lembar dokument tersebut, setelah selesai membaca ia diam sejenak dan merenung untuk beberapa menit. Menyaksikan reaksi Dewi, Dina diam. Ia cukup tahu, bahwa Dewi pasti tengah menimbang keuntungan dan kerugian jika bermain game. " Ini seperti perjanjian hidup dan mati... " " Itu memang benar, " kata Dina sembari menyentikkan jarinya. " Apakah banyak pemain yang mati dalam game? " tanya Dewi dengan muka masam, melihat pemasukan dalam game yang menakjubkan, ia pasti tidak akan terkejut dengan risikonya. Hanya sahaja ia sedikit kecewa lantaran game ini tidak mendapatkan ijin dari pihak pemerintahan. " Jika aku berkata sedikit maka itu bohong, begitu pun sebaliknya, risiko memang sebanding dengan pedapatanya. Selama kau menjauhi para pemain Top, dan tidak terlibat dalam lingkungan mereka, aku yakin jika hanya bertahan dalam game dengan menyelesaikan Misi Harian itu sudah lebih dari cukup. " Dina menjelaskan dengan singkat. " Jika yang kau katakan itu benar, lantas mengapa banyak pemain yang mati dalam game. Bukankah kematian pada karakter dalam juga memberikan kematian yang sebenarnya di dunia nyata? " Dewi masih bingung. " Kematian karakter pada game bisa menyebabkan diri mu mati di dunia nyata, ini game real of life. Death Timer, kematian mu dihitung oleh angka-angka jam pada game! Jika kau tidak bisa memperpanjang waktu, alias tidak bisa menyelesaikan misi dalam game! Hidup mu berakhir! Kebanyakan pemain Death Timer mati karena misi PK ( Player Kill ) dari pemain top, sebagian lagi mati karena misi harian mereka." Jelas Dina dengan nada yang tegas, itu tendengar penuh dengan kepecayaan diri. Dewi merapatkan giginya, matanya berputar pada tempatnya beberapa kali, ia terlihat gugup. Dua puluh juta dapat ia raih dalam satu hari hanya dengan bermain game!? Ia tentu tergiur, namun ia juga takut, bagaimana pun juga ini taruhannya nyawa loh!! Menyaksikan reaksi Dewi, Dina tertawa keras sampai kepala terlempar ke belakang! " Tenang, tenangkan diri mu! Baru-baru ini pihak penyelenggara game sedikit memberikan kemudahan bermain dalam permainan, seseorang yang kita kenal mendapatkan julukan sebagai orang terlemah dalam game, ia juga mendapatkan sebutan sebagai pemain pecundang dalam game. Hanya dengan menghina, memukul pemain terlemah tersebut maka akan mendapatkan bonus perpanjangan waktu, stat dan uang seribu dolar. " Dina menyeringai lebar setelah berkata demikian. " Itu sangat menakjubkan! Bagaimana bisa seorang pemain Death Timer mampu memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Siapa pula orang yang kita kenal itu, apakah orang itu adalah sahabat mu?! " " Pemain itu mantannya Reni, dan juga mantannya mu, pemilik rumah besar dengan gerbang penyok yang sangat mencolok, hayo tebak itu siapa?! " Dina berkata dengan nada menggoda. " Fahmi!! Bagaimana mungkin, setahuku ia seorang master game! Bagaimana mungkin ia menjadi pecundang dalam game, ini tidak masuk akal! " Dewi menolak untuk percaya. Dina mengangkat kedua bahunya, " Tidak tahu, jadi kau jangan tanya aku, dua julukan legendaris berhasil ia rebut, aku yakin Fahmi termasuk salah satu pemain yang cerdas dalam game! Mengingat betapa sulitnya mendapatkan nama Julukan dalam game, terlepas dari julukan itu bermanfaat atau tidak untuknya." Kembali lagi Dewi terdiam, ia tampak ragu untuk bermain game, namun sangat tergiur dengan hadiah yang ditawarkan. " Apa kau takut bermain, namun tertarik dengan imbalan yang dijanjikan? Satu lagi rahasia aku kasih tahu untuk mu... Reni juga bermain game ini, apa kau tidak takut kalah saing dengannya? " ucap Dina sembari melirik genit Dewi, jelas Dina tahu hubungan asmara Dewi dengan Fahmi, ia sengaja memancingnya. Sewaktu di Sma Fahmi dan Reni pernah berpacaran, namun itu tidak lama setelah Fahmi terlihat kasus kekerasan dalam pelajar dan masuk ke dalam sel remaja, mereka putus. Kebanyakan wanita tahu apa sebab mereka berpisah, tidak lain dan bukan adalah karena orang tua Reni yang melarang. Setelah keluar dari sel, Fahmi menjadi orang yang berbeda, ia lebih sering bermain game dan suka menyendiri, kemudian Dewi mendekati dan akhirnya mereka bersama, namun sebab kesalahan kecil yang dibuat Dewi, Fahmi memutuskannya secara sepihak. Saat ini jantung Dewi tersentak, Reni juga bermain game yang sama dengan Fahmi! Ini masalah yang berbeda, setelah mendengar perkataan 'iya' dari Fahmi beberapa hari yang lalu, Dewi percaya Fahmi pasti masih mencintainya, akan tetapi ada Reni disini, bagaimana jika tiba-tiba Fahmi berpaling dan kembali ke pelukan Reni. Mengingat kecantikan Reni yang mirip model membuat hati Dewi terasa panas. " Bagaimana keputusan mu? " tanya Dina kepada Dewi. " Aku akan bermain game! " Dewi membulatkan tekadnya, ia jelas mencinta Fahmi lebih dari apa pun, pertemuan terakhirnya dengan Fahmi membuatnya sadar, bahwa Fahmi masih sedikit menyimpan hati untuknya. Paham akan hati seorang lelaki yang mudah tergoda, Dewi memutuskan akan bermain game demi Fahmi, demi menjaganya dari Reni dan wanita cantik seperti Dina. Dina terseyum lebar, ia berkata dengan nada terrendah, " Sudah aku duga, Fahmi pasti menjadi alasan terbesar mu bermain game..." Dewi tidak menanggapi, ia menganggukkan kepalanya pelan dan terseyum tipis, jelas ia terlihat sangat malu! Rona wajah merahnya sudah cukup menjadi bukti! Obrolan mereka berlanjut, Dina menceritakan banyak pengalamannya sebagai pemain Death Timer, ia juga menjelaskan tips dan trik supaya bisa menyelesaikan misi harian dengan benar. ***** Fahmi masih tertidur dengan tenang, ia seperti tidak peduli lagi dengan misi dalam game! Sebenarnya ia masih sangat kesal dengan sistem dan sikap Reyhan yang berubah! Mengabaikan semua kekecewaan yang Fahmi rasakan, ia memilih tidur sebagai pelarian! Saat ini jam tiga sore, nada dering pada ponsel Fahmi terus berbunyi! Ada panggilan telepone untuknya, itu nomer telephon asing, sayup-sayup Fahmi jelas mendengar nada dering telephon yang berbunyi keras, ia mengangkat telephonnya dan lemas. " Haloo, Fahmi kamu dimana sekarang? " tanya seseorang wanita pada telephone Fahmi. Sepontan Fahmi melebarkan matanya, kesadarannya segera pulih dan kantuknya pun langsung hilang, ketika mendengar suara yang tidak asing baginya. " Reni, apakah itu dirimu? " tanya Fahmi dengan nada lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD