Bab 10 Fahmi Si Muka Bantal
Hanya dalam waktu satu hari seluruh pemain Death Timer menjadi gempar, berita mengenai kehancuran guild Midnight Scares sampai ke telinga seluruh Pemain seperti api membakar kertas.
Jajaran top player, guild papan atas serta banyak pemain biasa, merasa tidak percaya akan kabar tersebut.
Namun seseorang top players yang memiliki nama samaran mengunggah foto keadaan mansion tempat guild pringkat empat itu, yang secara tidak langsung memberikan bukti nyata akan isu tersebut.
Sebagian Top player yang berada satu guild dengan pria misterius itu pun ikut menyiram bensin di tengah api, dengan mengatakan bahwa lima puluh persen anggota guild Midnight Scares benar-benar mati, semakin menambah heboh keadaan.
Seluruh guild di game saat ini tengah menimang-nimang situasi, beberapa dari mereka mencari informasi dan sebagian yang lain, yang tidak berambisi memilih untuk menikmati petunjukan.
****
Di Guild Midnight Scares
Pada mulanya semua eksekutif percaya keadaan mereka akan aman, mengingat tidak ada saksi dan semua kejadian tersebut tidak tersebar dalam World Info dalam Game.
Namun siapa yang menyangka akan ada orang yang mulai memprovokasi, menyulut api di tengah tengki bensin yang terbuka!
Debby dan seluruh eksekutif saat ini tengah menjalankan rapat.
Debby berdiri di ujung meja, tepat disampingnya duduk ada seorang pria berbadan besar yang menjadi tangan kanannya.
Wanita bertubuh pendek itu bermuka buruk sekarang, beberapa hari ini ia tidak bisa tidur nyenyak sebab masalah guild yang semakin runyam.
Sebagai tangan kanan pemimpin guild dan wakil ketua Guild, Rangga berhasil menyelamatkan Debby dari kejadian berdarah beberapa hari yang lalu, dan saat ini ia kembali mengumpulkan semua eksekutif guild untuk membahas isu buruk Guild yang semakin memanas.
Meskipun Debby adalah pemimpin guild, namun semua masalah guild Rangga yang mengatasi.
" Dalang di balik pembantaian anggota kita mungkin bukan Pemain Death Timer! " kata Rangga memulai diskusi.
" Itu terbukti dengan tidak absennya berita di World info yang mengabarkan kehancuran guild kita! " Rangga menghela nafas sejenak, sembari menatap satu per setu eksekutif yang hadir.
Semua eksekutif menunduk, mereka tidak berani berbicara! Semuanya berawal dari pemimpin guild, mana berani mereka menyalakan seorang pemimpin!
" Semula aku mengira kita berada dalam keadaan aman, dengan menurunya kekuatan tempur yang kita milki tidak ada seorang pun yang akan mengancam guild kita!
Namun semuanya berubah! Kalian tahu mengapa!?
Guild papan atas, Jadeblades menyebarkan isu mengenai kita! " Rangga kembali diam dan menatap para eksekutif yang hadiri.
Semua wajah eksekutif tampak buruk, tidak terkecuali Debby selaku Pemimpin guild! Tidak sedikit pula orang yang menahan nafas, ketika nama Guild itu disebutkan.
Guild rank 2 dalam papan peringkat, terlebih lagi ada top player nomor satu pada guild tersebut tentu memberikan, semacam aura mengintimidasi walaupun hanya sebuah nama yang disebutkan!
Rangga menarik nafas dalam, " Ada sebuah keterikatan disini! Masih ingatkah dalam ingatan kalian, saat dimana kalian mengkap pemain terlemah dan menghinanya untuk mendaptkan stat tambahan!?
Satu orang tiba-tiba datang dan berhasil membantai seluruh anggota guild dalam waktu kurang dari satu malam! Ingat itu satu orang loh! Membantai anggota kita seperti membunuh semut!
Apa kalian memahami ketrikatan disini!? " tanya Rangga.
Tidak ada yang berani bersuara! Begitu hening sampai-sampai suara jarum jam yang berdetak terdengar jelas pada telinga semua orang.
" Pemain terlemah dalam game yang baru shaja kita singgung itu memiliki hubungan sepesial dengan orang yang membantai anggota kita, dan ketua guild Jadeblades."
Semua orang di ruang rapat menganguk pelan, tidak terkecuali Debby yang saat ini bermuka muram.
" Ini peringatan untuk semua eksekutif yang hadir! Ingatkan semua anggota untuk tidak lagi menyinggung pemain terlemah dalam game, jangan menghina dia lagi!
Hindari kontak dengan pemain luar, dan jauhi semua misi yang berkaitan dengan banyak orang, yang memincu banyak pemain untuk mengkonfirmasi akan validasi isu yang beredar." Rangga memberikan banyak peringatan kepada seluruh eksekutif guild.
Rapat berlanjut dengan permintaan persetujuan untuk berpindah markas dari Rangga, setelah menemukan mufakat. Keputusan untuk pindah markas akhirnya dilakukan.
Rapat selesai, namun tidak ada hasil yang memuaskan untuk semua eksekutif guild, perasaan berduka masih menyelimuti mereka semua dan kenyataan harus pindah markas memberikan kesan yang mendalam, yang secara tidak langsung ini menunjukkan pelarian.
Ketika semua eksekutif pergi dari ruang rapat, Debby merasa sangat malu sebagai seorang pemimpin Guild.
Debby menundukkan kepalanya dan bulir air mata menetes deras dari tempatnya, " Maafkan aku..." ucap Debby dengan suara yang serak, terdengar riak kesedihan yang mendalam pada setiap intonasinya.
" Lupakan, nasi telah menjadi bubur Nona. Tidak ada yang perlu disesali, semua sudah terjadi," kata Rangga lembut.
" Ta... Tapi... Ini semua salahku! " Debby memberanikan diri untuk menatap Rangga.
Menyaksikan Debby menangis entah mengapa sudut hati Rangga terasa sakit, " Aku akan selalu bersama mu, Nona. Jangan menangis nanti Tuan akan khawatir. " Rangga mencoba menghapus air mata dari wajah Debby, namun gerakan tangannya berhenti di jalan, ia teringat setatusnya sebagai seorang pelayan tidak boleh bertingkah berlebihan.
Memberikan tisu, hanya itu yang bisa Rangga lakukan," Hapus air mata mu Nona, masa depan menanti kita. Jangan lemah hanya karena masalah besar yang sebenarnya itu adalah pijakan terbaik untuk menyambut masa depan, yang jauh lebih baik." Rangga kembali menasehsti.
Sedut hati Debby terasa hangat, pria yang selalu menemaninya sejak kecil ini adalah lelaki yang sangat baik, ia selalu merasa tenang bila ada Rangga di sampingnya.
Meskipun hanya berbeda beberapa tahun, namun pembawaan Rangga itu sangat dewasa, dan bagi Debby hal tersebut sangat keren!
" Jika sahaja kau orang lain dan bukan keturunan seorang pelayan, aku pasti akan memberanikan diriku untuk mencintai mu, " batin Debby dalam hati saat menerima tisu dari Rangga.
" Ayo Nona, kita harus bersiap. Dua jam lagi kita akan pindah. "
" Hmm, aku akan menyiapkan barang-barangku. " kata Debby yang kemudian pergi meninggalkan Rangga seorang diri.
Rangga mencium tangan kanannya, ia sempat bersentuhan dengan Debby saat memberikan tisu.
" Apa ini yang dinamakan cinta? " Sudut hati Rangga terasa hangat ketika mengingat hal itu, disisi lain sudut hatinya merasa sangat sedih ketika melihat Debby menangis.
Dua jam terlewati dengan sangat cepat, seluruh anggota guild pindah ke markas baru yang terletak di puncak gunung Bogor.
Tidak ada yang tahu kepindahan mereka, para Guild kecil yang berusaha menyerang mereka sekarang bingung, ketika sampai di markas lama, mereka tidak menemukan apa pun.
.
****
Reyhan saat ini sedang mengamati world chat, informasi yang baru ia sebar berhasil memancing beberapa guild kecil untuk menyerang Guild Midnight Scares.
Meskipun dalam hati ia tahu, Guild pringkat empat tersebut pasti akan melarikan diri dan bersembuyi untuk menjauhi penyerangan.
" Aku yakin pukulan kecil ini cukup untuk membuat Debby bersama kelompoknya berpikir seribu kali untuk berurusan dengan Fahmi! " gumam Reyhan dengan air muka yang masih masam.
Walaupun kali ini ia sukses menjauhkan guild peringkat atas tersebut dari Fahmi, namun masih ada banyak Guild dan pemain Top yang pastinya saat ini berniat mengincar sahabatnya.
" Masalah lama teratasi, namun akan ada banyak masalah baru yang muncul... Bisakah aku menolong Fahmi jika hal tersebut terulang lagi? " kata Reyhan yang saat ini bertanya-tanya dalam hati.
*****
Di sebuah rumah mewah
Seorang pria berwajah putih dengan rona wajah khas seperti orang barat, tengah duduk di kursi malas sembari menikmati secangkir teh.
Pria tersebut sibuk membaca banyak berita dan Informasi yang tertuang dalam World info dan World Chat pada game Death Timer.
Sembari tertawa kecil pria yang mirip orang barat itu bekata, " Sepertinya aku harus menyapa Pemain terlemah dalam game, jika benar menghinanya bisa mendapatkan stat tambahan, aku pikir tidak buruk untuk merekrutnya."
Di berbagi tempat yang berbeda
Seorang pemain Death Timer berambut kriting, juga memiliki niat untuk mencari Fahmi.
Ada pula seorang pemain Death Timer yang bertubuh besar lagi beotot seperti binaragawan, memiliki niat yang terselubung terhadap Fahmi.
Bukan hanya pemain lelaki, pemain wanita yang terkenal sebagai salah satu pemain pemula, namun berwajah cantik dalam Game juga memiliki niatan yang sama terhadap Pemain Terlemah dalam game.
Belum lagi seorang mantan tentara, mafia, ahli beladiri, master kungfu, master teakwood, ahli judo dan banyak lagi jajaran pemain top serta pemain biasa yang berniat mencari Fahmi hanya untuk mendapatkan stat tambahan.
Di sisi lain
Seorang pria berumur dua puluh tahun yang saat ini disorot oleh banyak orang tengah duduk santai di atas kasur.
Pria itu adalah Fahmi, setelah bangun tidur dan kedatangan Reyhan, Fahmi membuka matanya dan mengobrol sebentar, namun ketika Reyhan pergi Fahmi tertidur lagi.
Fahmi benar-benar bermuka bantal!!
Sepanjang hari ia tertidur tanpa menggerjakan misi! Ketika ia bagun waktu dalam Game Death Timer telah habis.
" Mati aku!! Waktu ku habis dalam Game!! " teriak Fahmi ketika melihat sisa waktu dalam Gamenya yang menunjukkan tiga puluh menit.
Fahmi berpikir keras! Ia tidak boleh mati konyol di game!! Apa lagi dengan berbagai pengalamannya sebagai master game! Ia tentu merasa sangat malu!!
Jam berdetak terus dan jantung Fahmi terpacu semakin kencang, ia menyadari waktunya terbuang percuma!! Dengan otak yang buntu, belum menemukan solusi!
Mengingat masa lalu, kejadian sebelumnya. Fahmi merenung dan hanyut dalam kejadian sebelumnya dimana ia mendapatkan siksaan dari guild dan sampai di rumah dalam keadaan selamat.
Apa yang terjadi! Ia pingsan setengah hari kemudian bangun ketika Reyhan datang, setelah itu tidur lagi setelah Reyhan pergi dan saat ini ia bangun kembali.
Ada sesuatu di sana!!
Fahmi mengingat sesuatu yang sangat penting! Pada waktu itu ia tidak mengerjakan misi dalam waktu satu hari karena pingsan.
Fahmi membuka peraturan dalam game dan membaca poin terakhir.
' Setiap Pemain yang pingsan atau tidak sadarkan diri di dalam Game mendapatkan keringanan dengan penambahan waktu enam sampai delapan jam setelah sadar untuk dapat menyelesaikan misi'
" Itu dia disana! " teriak Fahmi dengan seyum lebar menghiasi bibirnya, karena mengetahui sesuatu solusi yang tepat untuk menghindari kematian karakternya di dalam Game.
Waktu di dalam Game tersisa sepuluh menit!
Tidak membuang wakru lagi, Fahmi mengepalkan tinjunya dan memukul bagian pelipis di kepalanya dengan sangat keras.
Bang!
Tinju Fahmi bertemu dan kepalanya tiba-tiba menjadi pening!
Pandangannya kabur, bagaimana pun juga ia adalah pemain Death Timer, kekuatan pukulannya melebihi pukulan orang biasa.
Dalam hitungan detik Fahmi jatuh berbaring, ia tidak sadarkan diri!!
Fahmi kembali tidur lagi! Namun tidurnya saat ini bukan tidur yang biasa, melainkan tidur yang dipaksakan!
Fahmi pingsan!!
Ketika ia bagun misi baru telah dimulai, ia menjadi orang pertama dalam Game yang bisa mengatasi kematian karakter.
Sebuah Julukan baru akan disematkan lagi untuk Fahmi setelah ini!!