12

1336 Words

12 “Hidup ini misteri. Tak pernah terduga. Terkadang, orang yang sangat kaucintai, yang kau pikir juga mencintaimu, tega melukaimu. Meninggalkanmu dan membuatmu sedih.” Kalimat kakek Tullio terus terngiang-ngiang di telinga Leonard saat ia mengendarai mobilnya menuju apartemen Amarra. Dengan pandangan fokus ke depan, Leonard menghela napas panjang. Ia tidak menyangka ada orang yang tega bersikap seperti itu pada orang yang mencintainya. Leonard sedih memikirkan penderitaan kakek Tullio. Ingin rasanya ia mencari cucu kakek itu dan menyeretnya ke hadapan kakek Tullio, memaksanya meminta maaf karena sudah bersikap buruk pada kakeknya sendiri. Namun Leonard tahu ia tidak berhak melakukan itu. Ia tentu saja tidak boleh mencampuri urusan intern orang lain, sebesar apa pun ia ingin membantu.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD