New place

1725 Words
Happy Reading. * Daerah kecil di Jepang menjadi tujuan mereka. Aliya sudah membeli rumah minimalis yang cocok untuk mereka gunakan. 5 kamar tidur dengan kamar mandi masing-masing. Halaman asri dengan berbagai tanaman bunga, dan beberapa ruangan penambah lain yang melengkapi rumah ini. "Aku akan tidur dikamar depan!" Kata Aliya singkat. "Kita bersihkan rumah ini besok dan kalian bertiga istirahat saja. Lis, Jihyo langsung tidur. Jangan kecapekan kasihan janin kalian" Jihyo dan Lisa mengangguk patuh. "Dan Aliya, kau harus mencari sekolah baru. Eomma tidak mau kau hanya menjadi lulusan SMP" tegas Ahjumma Han. "Ara! Aku tahu! Eomma tidak perlu menegaskanya lagi!" Ketus Aliya dan langsung berjalan menuju kamarnya. "Istirahatlah Sayang!" Jihyo dan Lisa mengangguk patuh. * Taehyung dan Jin seperti mayat hidup setelah kepergian Lisa dan Jihyo, keduanya hanya hidup dalam angan-angan bersama wanitanya. Jungwoon dan Yuri hanya menatap sendu kedua anaknya. Aliya pergi dan mereka tidak tahu kemana dan keadaan dua putra mereka yang diambang kehancuran. "Ini semua salahku Yul!" Isak Jungwoon. "Bagus jika Oppa sadar. Jika saja Oppa bisa menjaga sikap dan tingkah, mungkin Aliya tidak akan senekad ini. Kau pasti tahu berapa banyak orang yang keluar masuk dari rumah sakit oleh ulah bruntal Aliya. Dan semua itu karena ajaran Oppa, jika saja Oppa tidak terlalu menuntut Aliya dan aku mungkin Aliya tidak sebenci ini pada kita dan dia mungkin masih mau memanggil Oppa dengan panggilan Ayah" Jungwoon tersenyum miris mendengar ucapan istrinya. Aliya menjadi seperti ini karena ulahnya dan ini juga hasilnya. Aliya tidak mau memanggilnya Ayah, dan itu terjadi saat umur Aliya menginjak 8 tahun. "Kau benar Yul, Aliya memang sangat membenciku. Bahkan Aliya juga membenci Kedua kakaknya karena aku Yul. Dia sangat membenciku, menatap wajahku saja dia tidak sudi" Yuri tersenyum hambar mendengar pengakuan Suaminya. "Tidak ada yang perlu Oppa sesali. Aliya juga sudah pergi, dan akan sangat mustahil dia kembali lagi kemari. Dia selalu menganggap rumah ini sebagai neraka. Dia tidak sudi menginjakkan kaki kerumah ini jika tidak dalam keadaan terpaksa dan diperintah oleh Appa dan Eomma. Dan perlu Oppa tahu, bukan hanya Oppa, Jin dan Taehyung yang Putriku benci, tapi aku juga" lirih Yuri sambil berlalu. "Aku akan membawanya kembali Yul. Dia putriku selamanya akan menjadi Putriku. Tidak peduli sebenci apapun dia padaku aku akan tetap membawanya kembali" tegas Jungwoon menatap kedua anaknya dengan pandangan sendu. "Mianhae!" Lirih Jungwoon. * Aliya menatap datar pada guru kesiswaan yang menerangkan tentang struktur atau apalah yang Aliya tidak mengerti. Aliya ada disekolah barunya dan sekolah ini termasuk sekolah elit didaerah ini. Walaupun kata Aliya sekolah ini hanya sekolah kumuh dan jelek. "Ini kelas anda Nona Kwon!" Aliya hanya mengangguk. Tidak ada embel-embel Kim lagi dibelakang namanya. Aliya menggunakan marga Kakeknya Kwon begitupun Lisa dan Jihyo. "Dan~" "Bisakah saya masuk" Sela Aliya pada guru tua didepanya. Kuping Aliya terasa panas karena ocehan panjang dan lebar dari tua bangka ini. "Ah Ye Nona!" Kata guru itu malu. Tentu saja Aliya diperlakukan spesial karena Aliya adalah siswa yang membayar semua biaya sekolahnya diawal pendaftaran biasanya para siswa didaerah ini harus menunggu uber-uber bendahara sekolah dulu baru membayar. "Aku pergi Saem!" Pamit Aliya singkat. * "Menurutmu apa yang Aliya lakukan disekolah barunya Lis?" Tanya Jihyo. "Cari musuh!" Jawab Lisa enteng. "Dasar berandalan!" Kekeh Jihyo. "Cih aku juga Eonni!" Tambah Lisa. "Sudahlah! Kita kedapur saja bantu Eomma memasak aku lapar" kata Jihyo. "Aku tidak bisa masak!" Kata Lisa. "Belajar! Kasihan anakmu jika kau beri makan Deliveri terus" ketus Jihyo. "Eonni fikir ini Seoul?" balas Lisa kesal. "Tapi disini ada juga Deliveri bodoh. Aliya sudah menunjukkan tempat ini padaku!" Ujar Jihyo. "Jinja? Sepertinya ini bukan daerah asing untuk Aliya" kata Lisa. "Memang bukan Lis. Daerah ini sering dikunjungi oleh Aliya dan mendiang Tuan dan Nyonya Kwon!" Kata Ahjumma Han yang baru datang dari dapur. "Jinja?" tanya Lisa dan Jihyo antusias. "Hem! Dan kalian akan bekerja besok. Aliya bilang keenakan kalian jika hanya ongkang-ongkang kaki dirumah sementara dia sekolah" kata Ahjumma Han jail. "Bekerja? Dimana?" * Aliya hanya menatap datar Anak-anak SMA Tokimaru yang menatapnya penuh minta. Peduli? Tidak. Setelah perkenalanya tadi tidak ada yang berani bertanya lagi. "Kau sudah punya Mate?" Aliya menatap datar pada anak hitam yang ada dipojokan. "Pertanyaanmu tidak bermutu. Jika sudah selesai aku mau duduk, Heels ini sangat menyiksaku jika kalian masih mau bertanya pertanyaan bodoh padaku kupastikan Heels ini akan mengenai kepala bodoh kalian!" Semua langsung diam tidak berani bertanya pada Aliya lagi. Jika dilihat dari cara bicara dan berpakaian Aliya, terlihat jelas jika dia bukan orang sembarangan. "Aliya-Chan duduklah!" Aliya menganguk dan mendudukkan dirinya. "Kita mulai pelajaran hari ini!" * "Hei gadis sombong!" Hampir saja Aliya memuntahkan Udon panas yang ia makan karena gebrakan dimejanya. "Dasar gadis sombong! Tidak tahu sopan santun. Jika kau anak baru seharusnya kau memberi salam pada kami! Bukanya sok kecantikan dan sok berkuasa" Aliya tidak tahu siapa mahkluk aneh yang melabraknya ini. Yang Aliya tahu adalah anak ini punya antek-antek dibelakangnya. "Seha~~akh!" Anak perempuan itu meringis saat Aliya menepis kasar tanganya. "Dasar~~plak!" Seluruh kantin langsung diam saat Aliya menampar gadis tadi. "Kau~~ahhkk" lagi Aliya menjambak rambut gadis itu hingga mengaduh kesakitan dan teman-teman gadis itu tidak berani membela. Karena jika dilihat dengan mata terpejampun terlihat jelas jika Aliya bukan orang biasa. "Kau menyentuh seragamku, wajah sialmu rusak" Aliya melepaskan rambut gadis itu kasar. "Cari lawan yang imbang Nona" kata Aliya datar sambil berlalu. "Kau pasti akan keluar dari sekolah ini sekarang juga!" Teriak gadis itu berang. "Oh ya? Coba saja!" Tantang Aliya santai. "Gadis sial!" * Dan benar saja saat Aliya baru masuk kekelasnya sudah ada guru Bimbingan yang memberinya surat peringatan. Aliya tentu saja tidak peduli dan dengan beraninya Aliya merobek surat itu, didepan seluluh kelas dengan wajah datar dan dinginya. "Jangan cetak surat sial itu lagi. Anda hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Rugi pula! Aku akan tetap berbuat ulah selama ada yang menggangguku" kata Aliya datar dan dapat Aliya lihat jika guru jelek didepanya ini marah. "Kauu~~~" "Kwon Hanwo Kakekku" sela Aliya keras. Semua langsung diam dan shok. Kwon Hanwo adalah pendiri sekolah ini dan beliau adalah orang terkaya didaerah ini dan sudah banyak yang tahu kiprah Kwon Hanwo disini meskipun Kwon Hamwo bukan orang asli sini. "Kau~~~" "Tanya saja pada kepala sekolah botakmu itu. Aku tidak mau menerangkan hal yang tidak penting!" Ketus Aliya. "Yang dikatakan nona Kwon benar. Dia adalah cucu dari mendiang Tuan Kwon dan sudah seharusnya kalian menghormatinya!" Aliya tersenyum pogah. Akhirnya situa botak itu menujukkan dirinya juga. "Puas?" Guru Bimbingan itu langsung menciut ditempat apalagi dengan tatapan datar Aliya yang mengintimidasinya. "Duduklah Nona!" Aliya tersenyun datar tapi matanya melirik tengah dimana ada gadis yang melabraknya tadi. "Ah Ya bisakah kau pindahkan anak sialmu ini dari kelas ini. Aku mau mutah melihat wajahnya! Bisakan Tuan Oro" kata Aliya tidak sopan pada kepala sekolah dan tentu saja kepala sekolah itu hanya mengangguk patuh. "Kerja bagus!" Puji Aliya senang. * "Mwo?" Aliya menutup telinganya rapat saat Lisa dan Jihyo berteriak. "Kau gila? Pekebun? Shiroe!" Tolak Lisa mentah-mentah. "Aku juga tidak mau!" Kata Jihyo menolak. Jika jaga toko atau apa mereka mau, ini disuruh jadi pekebun buah. "Aku tidak peduli! Kalian harus ada dikebunya besok! Lagipula aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk kebun ini. Dan kalian harus menurutinya. Arasho?" Kata Aliya datar. "Tapi~~" "Yes Or No?" Tawar Aliya datar. "Kami hamil!" Ciut Jihyo. "Aku tidak memaksa Eonni kerja Rodi. Hanya mengawasi kebun oke?" Kata Aliya. "Panas!" Tambah Lisa. "Biar kau tambah gosong! Jadi kau tidak perlu jauh-jauh ke Bali untuk mengosongkan kulit kempirmu itu!" Ejek Aliya congak. "Aliyaaaa" * Seperti permintaan Aliya, Lisa dan Jihyo datang keperkebunan Buah yang akan mereka gunakan bekerja. Aliya ikut untuk mengawasi keduanya, tentu saja Aliya bolos sekolah karena ini hari Rabu. Tapi Aliya jamin tidak ada yang berani mengusik absennya karena ia pemilik sah sekolah itu. "Yakh apa itu" Lisa berteriak saat melihat cacing. "Sama saudara sendiri takut. Dasar cacing!" Wajah Lisa memerah mendengar ejekan Aliya. Jika bukan karena Lisa mengangap Aliya seperti adik dan saudaranya sendiri terlepas dari statusnya dengan Taehyung yang sudah berakhir, mungkin Lisa sudah menendang Aliya. Walau nanti Lisa sendiri yang kalah. Aliya pemegang 25 ilmu bela diri dan sama saja cari mati jika terlibat perkelahian dengan Aliya. Dan semua itu karena ajaran Kwon Harabojie. "Kau yakin mau bolos?" Tanya Jihyo. "Wae?" Jihyo hanya menggeleng dan memperhatikan lokasi kebun yang masih dalam tahap penananam. "Kalian kesana dan aku disini" mereka berdua berjalan menuju tempat yang dikatakan Aliya. "Kita sepeti pembantu!" Gerutu Lisa kesal. "Aku dengar Lalisa, kau mau kubuang dikandang cacing hah?" Teriak Aliya yang mendengar gerutuan Aliya. "Ck dasar" umpat Lisa kesal. "Sudahlah Lis! Ini juga tidak berat!" Kata Jihyo. "Aish Eonni!" Keluh Lisa. Aliya hanya diam memperhatikan Lisa dan Jihyo, sesekali Aliya tertawa melihat tingkah Lisa yang absutr. Ini adalah tawa Aliya yang pertama setelah kepergian Tuan dan Nyonya Kwon 3 tahun lalu. "Cantik!" Puji laki-laki sambil menatap Aliya dalam dan posisinya juga tidak jauh dari Aliya. "Yak Lalisa kerja yang benar!" Teriak Aliya. "Crewet!" Gerutu Lisa. "Kau mau kubuang dikandang Cacing hah?" Ancam Aliya kesal. "Diamlah bodoh! Kau mau kulempar dengan pupuk bau ini hah?" Gertak Lisa. "Kau itu yang bau" umpat Aliya. "Kau~~~" "Kau!" "KALIAN DIAAAM" teriak Jihyo kesal karena keduanya jadi pusat perhatian pegawai yang lain. "Ck dasar!" Jihyo tersenyum sambil memperhatikan Aliya. Ini adalah kali pertama Jihyo melihat Aliya seriang itu setelah 3 tahun berlalu. "Tetaplah tersenyum Saeng!" Gumam Jihyo. * Aliya kabur dari kejaran guru matematika, dia belum mengerjakan tugas dan akan jadi uber-uberan. Dulu saat di Parang saja Aliya selalu menyuruh Yerim atau yang lain. Menyentuh buku saja Aliya tidak pernah hanya sekali saat akan ujian. Itupun sukur jika dirinya mau datang dan duduk sampai waktu ujianya selesai. Kadang Aliya harus ditunggui Harabojie Kwon saat ujian dan Harabojie Kwon akan menariknya masuk jika dia kabur. 4 hari ujian melihat Aliya masuk keruang ujian selama 2 jam adalah sebuah keberuntungan dan itu akan menjadi hal yang langka. Dan untuk urusan nilai Aliya akan tetap dapat nilai tertinggi. Tidak ada guru yang berani memberikanya nilai 8 minimal 9 dan maksimal tentu saja 10. Sibuk dengan larinya Aliya tidak sadar jika ada orang yang berjalan berlawanan arah darinya. "Akhh" benarkan Aliya terpental karena yang ditabraknya adalah orang yang lebih besar darinya tinggi lagi. "Kau baik-baik saja?" Tanya orang itu. "Sakit bodoh!" Maki Aliya kesal. "Aku tidak sengaja Nona!" Kata orang itu. "Dasar tidak berguna" maki Aliya sambil berlalu. Oranh yang ditabrak Aliya tersenyum manis dan berlalu. "Menarik!" T.B.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD