Option

1838 Words
Happy Reading. * Flashback. Mata bulat Aliya terlihat sendu saat melihat semua teman-temannya yang dijemput oleh kedua orang tuanya, sedangkan dirinya hanya dijemput oleh Ajuhshi Choi setiap hari. Aliya bosan dan ingin dijemput oleh orang tuanya. "Kau baik-baik saja?" Aliya mendongak menatap seorang anak laki-laki yang sepertinya lebih tua darinya. "Wae?" Tanya Aliya sambil melirik ke arah anak laki-laki tersebut. "Aniya, kau hanya terlihat murung. Kupikir kau ada masalah jadi aku bertanya padamu" Aliya menundukkan kepalanya dalam "Aku ingin dijemput Appa dan Eomma-ku" jawab Aliya pelan dan membuat anak laki-laki itu tersenyum. "Kau merindukan orang tuamu? Ayo ikut aku. Biasanya ini yang akan kulakukan jika aku sedang kesepian" Aliya membiarkan dirinya ditarik oleh anak laki-laki tersebut. Setidaknya Aliya akan lupa tentang orang tuanya sedangkan sibuk dan tidak memperdulikannya. Flashback end. * Aliya mengusap matanya yang sedikit perih karena baru saja bangun tidur. Ini hari Minggu dan Aliya akan bangun sangat siang. Untung bangun, biasanya Aliya akan bangun sore jika benar-benar ingin tidur. "Sudah bangun sayang?" Aliya hanya bergumam malas mendengar sapaan Ahjumma Han. "Kau sarapan sendiri nde? Eomma akan membawakan sarapan untuk Lisa. Dia berangkat kekebun tadi pagi" Aliya memperjelas penglihatannya dan menatap sekitar. "Jihyo Eonni?" Tanya Aliya pelan. Suaranya masih serak. "Jalan-jalan dengan Jin" Aliya hanya bergumam mengerti dan memakan sarapannya. "Oh ya tadi Jimin menelfon dan dia akan menjemputmu nanti sore" kata Ahjumma Han memberitahu. Jimin menelfon tadi, Aliya masih tidur. "Eomma berangkat dulu sayang" lanjut Ahjumma Han dan mengecup kening Aliya lalu berjalan keluar. "Mau apa Jimin mengajakku pergi?" Aliya memikirkan kemungkinan terburuk Jimin menjemputnya. Laki-laki itu pasti punya hal yang ingin dilakukan jika bertemu dengannya. * "Apa ini?" Tanya Aliya saat Jimin menyerahkan kotak beludru mewah padanya. "Cincin pernikahan kita" Aliya mendengus dan mengembalikan kotak itu pada Jimin. "Wae?" Tanya Jimin sambil meraih pinggang Aliya. "Berhenti membahas pernikahan" desis Aliya dengan suara rendah. "Kau tidak mau menikah denganku?" Tanya Jimin dengan intonasi suara yang mengerikan. "Tidak. Wae?" Tantang Aliya dengan berani. "Kau mau menikah dengan Chanyeol?" Aliya tidak mengerti kemana arah pembicaraan Jimin saat ini. Apa maksudnya? "Bicaralah dengan jelas" Jimin menatap tajam mata Aliya dan mengeratkan pelukannya. "Kau fikir aku tidak tau jika kau sering bertemu Chanyeol?" Decih Jimin dengan suara mengerikan dan membuat Aliya sadar jika Jimin sedang cemburu saat ini. "Dia yang menemuiku" kata Aliya mengusap wajah Jimin lembut. Aliya sangat malas bertengkar dengan Jimin saat ini. "Kau tidak menemuinya kan?" Aliya menggeleng dan membuat Jimin tersenyum simpul lalu memeluk Aliya dengan erat. "Jangan temui b******n itu lagi" mohon Jimin dan meraih Aliya dalam gendongannya "Aku akan ke Korea selama 3 hari jadi biarkan aku menghabiskan waktu yang singkat ini bersamamu. Mari bersenang-senang" Aliya hanya menyandarkan kepalanya di d**a Jimin. Mungkin Aliya memang butuh waktu untuk menenangkan diri. Dan menghabiskan waktunya dengan Jimin juga bukan hal yang buruk. Lagipula masalah kedua kakaknya membuat Aliya sedikit mulai terganggu. Apalagi dengan Jin yang terus menerus ingin mendekatinya. Aliya belum siap untuk tahap sejauh itu. Baginya berdekatan dengan Jin masih belum ada dalam daftar rencananya kedepan. Mereka masih musuh, terlepas dari keputusan Aliya yang membiarkan Jihyo kembali dengan Jin. "Buat aku melupakan semuanya Jim. Kepalaku sedikit pusing" cetus Aliya datar. "Sesuai permintaanmu sayang" Jimin tersenyum dan mengecup kening Aliya sayang. Mempercepat langkahnya untuk mencapai kamar. Waktunya tidak banyak dan Jimin harus cepat. Ada banyak hal yang menanti. * Dibalik pohon besar yang menutupi tubuhnya Ahjumma Han tersenyum melihat Lisa yang terlihat menangis setelah kepergian Taehyung beberapa saat yang lalu. Taehyung mengikuti sarannya untuk memberikan waktu untuk Lisa berfikir, tapi sepertinya Taehyung mengatakan kata perpisahan pada Lisa. Ahjumma Han tau jika Lisa sangat mencintai Taehyung dan terlalu gengsi untuk mengakuinya karena takut kembali disakiti oleh Taehyung. Harus ada yang memulai untuk membuat semua membaik. Diawali Jin dan Jihyo dilanjutkan dengan Taehyung dan Lisa. Yang terakhir adalah kunci dari semuanya. Aliya dan? "Semua berjalan dengan baik Tuan Besar" gumam Ahjumma Han dengan senyum mengembang. Ketiga anak dari Kim Jung Woon mulai menemukan arah kehidupan yang baik. Meninggalkan masa kelam dan bersiap memulai kehidupan baru yang bahagia. "Aliya akan jadi masalah yang besar sepertinya" * Jungwoon menatap nyalang Jimin yang datang dengan berani kekantornya dan mengatakan jika ingin melamar anaknya. Bukan masalah lamaran yang Jungwoon masalahkan, tapi kejujuran Jimin yang mengatakan jika mereka, Jimin dan Aliya sudah sering tidur bersama. Tentu saja Jungwoon geram karena Jimin berani meniduri putrinya tanpa ikatan yang sah. Anaknya bukan jalang yang akan dengan mudah membuka kakinya untuk laki-laki, apalagi dengan sikap Aliya yang lebih mirip berandalan dari pada wanita umumnya. Apa yang dilakukan Jimin hingga Aliya setuju untuk tidur dengannya. "Saya tau anda tersinggung karena kelancangan saya meniduri putri anda. Maka dari itu saya ingin mempertanggung jawabkan semuanya. Tolong beri ijin saya untuk menikahi putri anda dan datanglah ke Jepang untuk pernikahan kami" kata Jimin dengan intonasi jelas dan tegas. Ia benar-benar serius untuk menikahi Aliya, dan Jimin tidak peduli akan reaksi Ayahnya nanti. Perjodohan Chanyeol dan Aliya hanya sampah dimata Jimin. Ia berhak mendapatkan apa yang ia inginkan, termasuk Aliya. Sebenarnya Jungwoon sudah tau keberadaan Aliya sejak lama, tapi Jungwoon memilih bersabar dan membiarkan Jin dan Taehyung menemui adiknya dulu dan membiarkan keduanya berbaikan dengan Jihyo dan Lisa, disusul Yuri dan terakhir dirinya. Jungwoon memang akan memulai dari belakang. Mengingat Aliya sangat tidak menyukainya, Jungwoon cukup sadar akan kondisi semua itu. "Bukankah kakakmu yang seharusnya jadi menantuku?" Tanya Jungwoon dengan suara menyelidiki. "Itu tidak penting. Bukankah anda ingin melihat putri anda bahagia? Dan kebahagiaan Aliya ada bersama saya. Terlepas dari perjodohan itu Aliya bebas memilih dan bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan Aliya? Lagi pula itu hanya perjodohan yang sudah lama. Kita tidak hidup di jaman purba jadi mari membiarkan semua berlalu. Restui kami dan anda akan melihat Aliya bahagia" Jimin speechless. Jimin tau kelemahan Jungwoon dan menggunakan kata-kata manis untuk mendapatkan restu dari Jungwoon termasuk rencananya. Jimin sangat tau jika menggunakan cara ini adalah hal yang ampuh. Akan sangat tidak imbang melawan dua orang sendirian dan sekarang mereka imbang. Jung Soo dengan Chanyeol dan Jungwoon dengan Jimin. Bukankah itu imbang? Sama-sama kuat dengan tujuan masing. Bedanya Jung Soo dan Chanyeol ingin meneruskan rencana Harabojie Kwon, Jungwoon ingin melihat Aliya bahagia dan Jimin ingin memiliki Aliya seutuhnya. Adilkan? "Demi putri anda Tuan Kim" * Aliya menatap jengah Chanyeol yang menghadangnya. Apa yang diinginkan b******n ini sebenarnya? Kenapa Chanyeol tidak lelah menemuinya setelah ia usir berulang kali? Apa pria tinggi ini tidak punya otak? "Kau tidak menghindariku kan?" Aliya mendengus kesal dan menatap kesal pada Chanyeol. "Kali ini apalagi?" Tanya Aliya benar-benar kehilangan kesabarannya. "Hanya memperjelas hubungan kita" jawaban Chanyeol membuat Aliya semakin kesal. "Hubungan apa? Aku bahkan tidak mengenalmu" ketus Aliya. "Kau mengenalku hanya saja lupa" cetus Chanyeol dengan suara lembut dan membuat Aliya menghela nafas pasrah. "Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Aliya yang benar-benar malas meladeni Chanyeol. Kakak dan adik sama-sama sinting jika sedang ingin sesuatu. Mereka fikir Aliya barang yang bisa diminta-minta seenaknya? Cih Aliya bahkan tidak berniat sama sekali. "Hanya ingin meneruskan keinginan terakhir Harabojie Kwon. Beliau ingin kita menikah. Tahun ini" jawab Chanyeol dengan seringai yang begitu jelas. "Hah? Kau gila?" * Jihyo mengusap punggung Lisa dengan lembut. Lisa menangis saat Jihyo baru datang dan menceritakan semua dengan sesegukan. Jihyo tidak tega dan akhirnya memeluk Lisa. Jihyo tidak tau harus berbuat apa, bukankah Lisa sendiri yang ingin Taehyung pergi? Tapi kenapa setelah Taehyung pergi Lisa justru menangis? "Jika kau mencintainya kenapa menyuruhnya pergi?" Tanya Jihyo lembut. "Hiks aku takut disakiti lagi Eonni. Aku tidak mau kembali melihatnya tidur dengan wanita lain Hiks" jawab Lisa dengan isak tangis yang sama. "Percaya pada Taehyung. Dia tidak akan mengecewakanmu lagi. Buka pintu maafmu dan mulailah kehidupan yang baru denganya. Ingat jika ada darah Taehyung yang tumbuh dalam rahimmu Lis. Kau tidak boleh egois. Dia butuh Ayahnya, dan kau butuh suami. Kau mau jadi Single fighter?" Pertanyaan Jihyo membuat Lisa semakin menangis. "Shut diamlah. Aku akan minta Taehyung kemari dan memperbaiki hubungan kalian" kata Jihyo tegas dan melepaskan pelukannya. Mengusap sisa air mata Lisa dan bangkit dari posisinya. "Istirahatlah" kata Jihyo lembut dan berlalu dari kamar Lisa. * Aliya mengumpat saat melihat semua teman-temannya menyusul kesini. Wajah polos sialan yang ditunjukkan semuanya membuat Aliya ingin sekali melepaskan sepatu yang ia kenakan dan melemparkannya kearah wajah mereka semuanya. "Kenapa kalian menyusul kesini?" Tanya Aliya kesal. "Kami bosan di Korea. Tidak ada yang membuat ulah lagi disekitar kami" jawaban Tzuyu membuat Aliya jadi kesal. "Dan lagi pula kita sudah lama tidak bertemu. Kau tidak merindukan kami?" Tanya Dahyun dan membuat Aliya sadar jika mereka sudah lama tidak bertemu. "Baiklah kalian mau apa?" Tanya Aliya mengalah dan membuat semuanya memekik. "Tunjukan kami sekolahmu" punya Yerim dengan suara imut dan membuat Aliya mau muntah. "Ayolah" rengek Chaeyoung memohon. "Hentikan rengekan itu Chaeng. Aku jijik" Chaeyoung hanya menunjukkan cengiranya dan menatap polos kearah Aliya. "Kajja" ajak Tzuyu tidak sabar. "Baiklah. Tapi kau menyetir" ujar Aliya melempar kunci mobilnya pada Dahyun. "Itu gampang. Kajja" * Ke-5 nya jadi perhatian siswa SMA Tokimaru. Tentu saja semua menatap memuja pada ke-5 nya, apalagi dengan pakaian mahal dan berkelas yang mereka gunakan. Tentu saja mereka akan jadi sorotan. "Sekolahmu jelek" Aliya mendengus mendengar kata Tzuyu. Aliya juga tau sekolahnya jelek dan Tzuyu tidak perlu memperjelasnya. "Aku lapar. Kantinya mana?" Tanya Yerim dan hanya dibalas tunjukan oleh Aliya. Sontak Yerim berjalan duluan dan yang lain mengekorinya. "Oppa-ku merepotkanmu?" Pertanyaan Chaeyoung menghentikan langkah Aliya. "Huh entahlah aku juga bingung Chaeng. Keduanya membuatku pusing" Aliya memang akan selalu mengeluh pada Chaeyoung dan hanya Chaeyoung bukan yang lain. "Siapa yang kau pilih?" Aliya menatap dalam Chaeyoung dan menghela nafas pelan. "Entahlah aku mungkin tidak akan memilih keduanya. Aku tidak mau jadi penghancur keluargamu. Kau terlalu berharga untukku. Lagi pula keduanya adalah kakakmu" Chaeyoung menghela nafas panjang dan menggenggam tangan Aliya. "Aku lebih suka Jimin Oppa!" Ucapan Chaeyoung membuat Aliya semakin bingung. "Dan membiarkannya dimusuhi Ayah dan Kakakmu? Lupakan Chaeng" cetus Aliya datar. "Tapi Jimin Oppa mencintaimu Aliya" ujar Chaeyoung lembut. "Aku tau Chaeng. Tapi aku tidak mau merusak keluargamu" tegas Aliya. "Lalu menurutmu apa Jimin Oppa akan diam? Tidak Aliya. Dia akan semakin ambisius untuk mendapatkanmu dan dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan" Aliya memejamkan matanya sesaat dan menatap Chaeyoung. "Kenapa kau begitu menyayangi Jimin dan mendukungku denganya?" Tanya Aliya. "Karena Jimin Oppa harus bahagia. Dia sudah banyak mengalah dari kecil dan saatnya dia bahagia. Dan lagi pula dia sangat mencintaimu Aliya. Dia akan menjagamu dengan seluruh jiwanya dan dia tidak akan membiarkanmu tergores sedikit pun. Dia akan selalu berada didepanmu. Membahagiakanmu selamanya" jawaban Chaeyoung membuat Aliya mematung. "Apa Jimin begitu mencintaiku?" Tanya Aliya pelan. "Sangat! Bahkan melebihi nyawanya sendiri" "Chae~~~" "Aliya~~~" keduanya menoleh dan mematung ditempat setelah mendengar panggilan bersamaan. Jung Soo berdiri disamping Chanyeol dan Jungwoon berdiri disamping Jimin. "Ige Mwoya?" Permusuhan akan dimulai, lihat kubu mana yang akan menang dan mendapatkan gelar juara atas diri Aliya. "Mereka akan bermusuhan untukmu Aliya. Cepat pilih sebelum kedua kakakku semakin nekad dan saling membunuh" Aliya memejamkan matanya mendengar suara lirih Chaeyoung. Jelas Chaeyoung khawatir dengan keadaan kedua kakaknya dan kenapa harus Aliya yang mereka rebutkan? "Bantu aku Chaeng" Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD