Happy Reading.
*
Jimin mengeratkan pelukanya pada pinggang Aliya yang sedang duduk dipangkuanya. Beberapa kali Jimin terdengar menghela nafas, memikirkan bagaimana caranya merubah sikap keras kepala Aliya.
"Menikahlah denganku!" Ujar Jimin tiba-tiba.
"Shireo!" Jawab Aliya.
"Wae?" Tanya Jimin dengan membawa wajah Aliya untuk menatapnya.
"Aku ingin sendiri!" Jawab Aliya pelan.
"Ada alasan lain?" Tanya Jimin dalam dan dijawab gelengan dari Aliya.
"Please Aliya!" Lirih Jimin memohon. Sedangkan Aliya hanya bisa menghela nafas saat emosinya kalah lagi dengan Jimin.
"Perselingkuhan!" Jawab Aliya pelan.
"Ayahmu?" Aliya mengangguk pelan.
"Bisa kau jelaskan dari awal!" Aliya menggeleng ragu.
"Aku akan mendengarnya" kata Jimin lembut.
"Aku takut!" Jimin menggeleng pelan.
"Aku akan selalu ada didepanmu!" Aliya menghela nafas pelan dan kembali menyandarkan kepalanya pada d**a Jimin.
"Perjodohan! Orang tuaku dijodohkan, mereka tidak saling mencintai tapi bisa punya anak. Ayahku hanya ingin punya anak laki-laki dan tidak akan menerima anak perempuan katanya anak perempuan hanya akan membawa sial pada kehidupanya. Ayahku punya selingkuhan dan selingkuhan itu dipertahankan sampai aku lahir. Ayahku sangat membenciku karena saat kelahiranku selingkuhanya menikah dengan laki-laki lain dan itu juga yang membuatnya semakin membenciku. Dia tidak pernah menerimaku sebagai anak, dia juga memperlakukan berbeda dan bahkan tidak jarang dirinya melakukan hubungan intim dengan selingkuhanya didepanku" Jimin mengeratkan pelukanya pada pinggang Aliya. Jimin sangat tahu bagaimana perasaan seorang anak kecil yang melihat orang tuanya berselingkuh.
"Ibuku menjauhiku, dia sering pergi keluar Negeri untuk perjalanan bisnis. Aku hanya diurus oleh Harabojie, Halmonie Kwon beserta Ahjumma Han. Dari mereka lah aku mendapatkan kasih sayang utuh. Aku tidak pernah mengeluh saat semuanya lupa pada ulang tahunku atau melakukan sesuatu tanpaku. Karena aku sudah terbiasa dibuang. Harabojie mengajariku menjadi pribadi yang tangguh dan kuat. Saat umurku 5 tahun aku mulai jarang menangis. Aku hanya diam saat Ayahku mengumpat atau memakiku. Aku bahkan mulai terbiasa melihatnya berhubungan badan dengan selingkuhanya. Aku hanya diam saat dia tidak menganggapku anak. Aku tahu jika dia membenciku dan aku juga punya keinginan untuk membuat keluargaku bahagia walaupun tanpa aku!" Aliya menarik nafasnya dalam.
"Saat itu aku sengaja menemui selingkuhan Ayahku yang bekerja sebagai sekertarisnya. Aku berbicara apa adanya dan menyuruhnya menjauhi Ayahku. Dia benar-benar menjauhi Ayahku dan Ayahku tahu jika alasan kepergian wanita itu adalah aku dan itu juga semakin membuat Ayahku semakin membenciku. Aku hanya diam saat diperlakukan semakin berbeda, tidak ada satu acara sekolah yang dihadiri Ayah atau ibuku. Hanya Ahjumma Han dan Harabojie Kwon. Aku tetap bungkam sampai umurku 8 tahun. Aku pergi dari rumah dan tinggal dengan Harabojie karena Ayahku menekan Ahjumma Han untuk menjauhiku dan membiarkanku sendiri. Aku seperti sampah dan dari situlah aku belajar hidup mandiri. Dari mulai cara bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Harabojie mengajariku semuanya termasuk apa yang harus kulakukan saat orang yang kusayangi terluka. Chaeyoung tahu apa saja penderitaan yang ku alami saat kecil, Chaeyoung juga yang menemaniku saat aku menangis bahkan saat aku mogok makan Chaeyoung juga yang memaksaku makan!" Aliya mencengkram kuat kemeja Jimin mencoba mencari kekuatan.
"Aku hidup sendiri dan aku mulai terbiasa sampai sekarang!" Jimin tahu jika ada bagian yang terlupakan disini.
"Kau membenci ibumu?" Aliya tersenyum miris dan mengangguk.
"Saat Ayahku membenciku disaat itulah ibuku juga menjauhiku! Dia seolah membuangku dan tidak memperdulikanku. Itulah alasan aku tidak mau memanggilnya ibu selama bertahun-tahun. Ibuku hanya Ahjumma Han!" Tegas Aliya.
"Kakakmu?"
"Aku membenci sifat mereka yang menyelingkuhi wanita mereka dan itu membuatku mengingat sifat buruk yang pernah Ayahku lakukan dan itu juga alasanku tidak mau memanggil mereka Oppa!" Jawab Aliya.
"Dan kenapa Ayahmu bisa berubah menyayangimu?" Tanya Jimin.
"Saat umurku 9 aku diajak kerumah Keluarga Kim dan saat itu ada perampokan. Aku disekap karena mencoba menyelamatkan Ayahku, aku mengalami luka yang cukup parah dan itu juga yang membuat semua orang sadar tapi sayangnya mereka sudah tidak bisa melakukan apapun. Aku sudah sangat membenci semuanya dan merubah itu bukanlah sebuah hal mudah. Dan aku memang ingin bertahan begini karena ini pilihanku. Aku tidak butuh siapapun untuk kehidupanku, aku hanya ingin hidup sendiri!" Jimin membawa wajah Aliya untuk menatapnya.
"Ada aku didepanmu dan jangan pernah berfikir jika kau sendirian. Karena aku mencintaimu!" Jimin memanggut bibir Aliya dengan lembut. Mencoba memberikan kekuatan pada wanitanya.
"Jadilah milikku selamanya!"
*
Chanyeol menatap gelisah kearah Ayahnya. Ada yang ingin Chanyeol katakan tapi Chanyeol takut jika Ayahnya akan marah.
"Katakan saja Yeollie!" Ujar Jungsoo saat tahu apa yang difikirkan putranya.
"Hem! Appa aku ingin menyusulnya!" kata Chanyeol pelan.
"Kau tahu dimana dia?" Tanya Jungsoo dan dijawab anggukan dari Chanyeol.
"Kau juga tahu jika Adikmu ada disampingnya?" Chanyeol kembali mengangguk.
"Kau siap bersaing?" Chanyeol mengangguk tegas.
"Dan bagaimana jika Aliya lebih memilih Adikmu?" Tanya Jungsoo dalam.
"Aku tidak akan membiarkanya! Aliya adalah milikku dan sudah seharusnya aku yang memilikinya tidak peduli Jimin menyukainya atau tidak yang aku tahu Aliya adalah milikku!" Jawaban Chanyeol membuat Jungsoo tersenyum puas.
"Bagus! Jika kau memang merasa Aliya adalah milikmu ambil dia!" Chanyeol mengangguk mengerti.
"Aku akan berangkat nanti sore. Appa doakan aku!" Jungsoo mengangguk dan menepuk pundak Chanyeol.
"Pergilah!" Sementara Chaeyoung yang mendengar pembicaraan antara kakak dan Ayahnya mulai was-was. Jika begini caranya Jimin pasti akan kalah karena melawan Dua orang tangguh.
"Aku harus memberitahu Eomma! Setidaknya Eomma akan melindungi Jimin Oppa dari serangan Oppa dan Appa!" Gumam Chaeyoung sambil menuju kamar ibunya.
*
"Katakan saja!" Kata Jimin.
"Apa yang harus kukatakan?" Tanya Aliya bingung.
"Apapun!" Jawab Jimin sambil mengeratkan pelukanya.
"Aku tidak merasa harus mengatakan apapun padamu!" Kata Aliya datar.
"Arasho!" Jawab Jimin pasrah dan mereka kembali diam sampai sebuah ingatan kembali terlintas diingatan Aliya.
"Kenapa kau bisa hidup di Jepang?" Tanya Aliya.
"Tidak penting!" Jawaban Jimin membuat Aliya kesal.
"Kau memaksaku bercerita dan aku sudah menurutinya. Katakan semua apa yang terjadi padamu!" Tegas Aliya pada Jimin.
"Tidak~~~"
"Katakan atau aku akan ikut balapan liar lagi!" Mendengar ancaman Aliya, Jimin hanya mendengus kesal.
"Ara! Aku hidup disini bersama Kakek dan Nenekku. Aku hi~~~"
*
Taeyeon mencoba memikirkan sesuatu yang akan menghentikan kekacauan yang akan terjadi. Dua saudara merebutkan satu gadis bukanlah hal yang senang jika terjadi apalagi jika itu anak-anaknya. Jika Taeyeon meminta Jungsoo untuk menghentikan semua ini juga sama saja. Jungsoo mendukung Chanyeol dan Taeyeon tidak mendukung siapapun.
"Aku lebih setuju Jimin Oppa yang bersama Aliya!" Cetus Chaeyoung pada Taeyeon.
"Kita tidak bisa memihak satu dari Oppa sayang! Jika keduanya nekad berebut pasti akan ada yang terluka dan Eomma tidak mau itu terjadi!" Kata Taeyeon.
"Tapi kasihan Jimin Oppa, Eomma!" Ujar Chaeyoung.
"Eomma tahu nak! Tapi keputusan tetap ada pada tangan Aliya penuh dan kita tidak bisa ikut campur tangan" kata Taeyeon bijak.
"Tapi Jimin Oppa sudah mencintai Aliya dari kecil Eomma!" Lirih Chaeyoung yang kekeh memilih Jimin.
"Eomma tahu nak, tapi itu tidak bisa merubah apapun, hanya Aliya yang akan memilih nanti!" Ujar Taeyeon.
"Tapi Aliya dan Jimin Oppa sudah~~~" Chaeyoung tidak bisa meneruskan ucapanya.
"Sudah apa Chaeng?" Selidik Taeyeon.
"Mereka sudah~~~"
"Katakan Chaeng!" Desak Taeyeon.
"Mereka sudah tidur bersama!" Taeyeon membulatkan matanya kaget saat mendengar ucapan Chaeyoung.
"Apa? Tidur?" Tanya Taeyeon shok.
"Ne Eomma!"
*
"Kenapa memangnya?" Tanya Aliya pelan.
"Karena aku tidak suka diatur!" Jawab Jimin.
"Termasuk bersimpangan dengan Ayahmu?" Tanya Aliya.
"Bukankah kau sama saja?" Balik Jimin.
"Beda kasus!" Elak Aliya.
"Tidak masalah! Aku nyaman seperti ini, toh aku juga tidak mengganggu siapapun!" Cetus Jimin enteng.
"Tetap saja! Kau tidak kasihan pada Chaeyoung? Dia terlihat sangat menyayangimu" Cetus Aliya pada Jimin.
"Aku tahu tapi bukan berarti aku harus selalu ada disampingnya. Chaeyoung punya kehidupan sendiri dan aku juga punya. Jika Chaeyoung dalam masalah atau apa aku pasti akan berada didepanya" kata Jimin tegas.
"Kau terlihat sangat menyayangi Chaeyoung!" Nilai Aliya.
"Kau benar! Karena lewat Chaeyoung aku bisa mengenalmu dan mencintaimu!" Aliya menyeringitkan dahinya bingung.
"Aku?" Tanyanya pelan.
"Ya! Chaeyoung selalu menjadi jembatanku untuk dekat denganmu dan aku akan selalu mengingatnya!" Tegas Jimin.
"Kapan kau mengenalku?" Tanya Aliya aneh. Sementara Jimin yang mendengar pertanyaan Aliya hanya bisa tersenyum simpul.
"Jawab Jim!" Desak Aliya.
"Aku mengenalmu saat kau berumur 5 tahun, saat kau begitu tegar menghadapi kebencian Ayahmu dan tetap berdiri kokoh saat Ayahmu tidak menganggapmu sebagai Anak didepan umum!"
*
Ahjumma Han membuka sebuah kotak yang ditinggalkan Harabojie Kwon dengan pelan. Ini adalah kotak yang sudah diberikan pada Ahjumma Han dan belum dibuka selama ini. Terhitung 10 tahun setelah pemberian kotak itu. Mata rabun Ahjumma Han menatap takjub sebuah kalung dengan bandul daun Maple, terlihat indah dan berkilau. Jelas jika kalung itu bukan kalung harga murah.
Tangan Ahjumma Han bergerak mengambil kalung itu, membalik kalung itu dan menemukan sebuah inisial pada kalung Maple itu. "Apa ini?" Tanya Ahjumma Han kaget melihat inisial kalung itu.
"Jangan-jangan?"
*
"Coba saja jika kau bisa?"
"Tapi~~~"
"Tidak! Tepat pada rencana awal!"
"Tapi~~~"
"Jalankan saja!"
*
Aliya hanya diam saat melihat para siswa yang sibuk berkompotesi untuk menari berpasangan dengan Jimin. Jika disuruh memilih Aliya tidak akan mau melakukan hal sial ini, dan jika bukan Jimin yang memaksanya, Aliya sudah lari dari tadi.
"Ah sialan!" Sementara Jimin yang melihat keresahan Aliya hanya bisa tersenyum simpul. Jimin sangat tahu apa saja yang Aliya hindari dan akan sangat menyenangkan jika memaksa Aliya melakukanya.
"Kau pasti bisa!" Gumam Jimin sambil melirik Aliya dalam.
"Lakukan dulu dan lihat hasilnya nanti" monolog Jimin dengan kembali fokus pada penari yang menunjukkan tarian didepanya.
*
"Tidak!" Teriak Aliya saat Jimin memilihnya menjadi patnert dalam menari dan jangan lupakan jika mereka ada diaula dengan semua siswa yang mengikuti seleksi.
"Aku tidak menerima penolakan! Aku sudah memilihmu Nona Kwon dan kau akan tetap ikut kompetisi denganku dan jika sampai kau tidak ikut jangan salahkan aku jika aku menyeretmu!" Tekan Jimin dengan menatap tajam Aliya.
"Aku tidak akan ikut!" Teriak Aliya sambil berlalu.
"Coba saja kau lari!" Desis Jimin geram. Sementara siswa yang melihat pertengkaran antara Jimin dan Aliya hanya bisa bergetar ketakutan. Dua orang kuat yang saling berselisih dan akan menimbulkan hal yang besar apalagi ini berhubungan dengan penguasa.
*
"Kau ingin sesuatu Lis?" Lisa hanya melirik Taehyung sebentar dan kembali fokus pada pekerjaanya.
"Kau lelah?" Tanya Taehyung yang tidak putus asa.
"Bisakah kau pergi dari sini?" Tanya Lisa jengah pada Taehyung yang terus menempelinya
"Kumohon jangan lakukan itu Lis!" Lirih Taehyung pada Lisa.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Aku sudah mengakhiri semuanya dan seharusnya kau pergi dari hidupku!" Teriak Lisa keras.
"Aku tidak ingin berakhir Lis! Aku tahu aku salah dan aku ingin memperbaikinya. Please maafkan aku!" Mohon Taehyung pada Lisa.
"Jika kau tahu kau salah, lebih baik jangan temui aku lagi. Kesalahan yang kau buat sangat besar dan memaafkan kesalahanmu bukanlah hal yang mudah. Hampir setiap hari aku diam melihatmu tidur dengan wanita lain, dan aku juga sudah berkorban banyak hal! Seharusnya kau mengerti dan pergi dari hidupku " teriak Lisa geram.
"Kumohon Lis, satu kesempatan lagi!" Lirih Taehyung.
"Tidak!"
T.b.c