Happy Reading.
*
Flasback.
"Apa Tuan yakin?" Tanya Jungsoo ragu.
"Ya Jungsoo-ya! Aku tidak bisa mempercayakan cucuku pada siapapun lagi! Usiaku semakin menua dan aku tidak tahu kapan ajalku datang! Aku hanya ingin menyiapkan masa depan yang cerah untuknya!" Kata Kwon Hanwo.
"Tapi apa Aliya mau?" Kwon Hanwo tersenyum tipis mendengar pertanyaan Jungsoo.
"Dia memang bisa menentang semua perintah seluruh orang di Dunia ini, tapi dia tidak akan pernah menolak permintaanku, Neneknya, dan Ahjumma Han! Dan kau tidak perlu khawatir tentang keputusanya nanti" Jungsoo mengangguk mengerti.
"Dan aku juga ingin memilih Putra-mu yang akan kujadikan menantuku" Jungsoo menatap Kwon Hanwo dalam.
"Memilih? Apa anda tidak akan membiarkan cucu anda memilih sendiri?" Tanya Jungsoo.
"Tidak! Aku tidak pernah memberikanya pilihan dalam hidupnya. Dia tanggung jawabku dan aku juga akan memilih calon suami untuknya. Dia hanya akan menjalankan apa yang sudah kurencanakan" kata Kwon Hanwo.
"Jadi anda yang akan menentukan jalan hidupnya?" Tanya Jungsoo.
"Aku memang akan menentukan jalan hidupnya Jungsoo-ya tapi aku juga memberikan dirinya kebebasan untuk menolak! Aku memang mengatur semuanya tapi keputusan itu tetap ada ditanganya. Dan jika pun kuberi pilihan untuk menolak dia akan tetap menjalankan apa yang aku katakan walaupun itu bertentangan dengan hatinya" cetus Kwon Hanwo.
"Dia sangat menyayangi anda rupanya" kata Jungsoo.
"Kau benar! Dia hidupku, aku mendedikasikan seluruh hidupku untuknya dan mengajarkan apa yang akan digunakanya untuk menghadapi kejamnya Dunia. Percayalah dia tidak akan mengecewakanmu sebagai menantu. Aku jamin didikanku tidak akan meleset" cetus Kwon Hanwo dengan senyum mengembang.
Flasback end.
*
Aliya tertidur dipangkuan Jimin, ini sudah dua jam berlalu tapi Aliya belum juga bangun. Jimin sendiri hanya diam memperhatikan wajah damai Aliya. Terlihat sekali jika Jimin sangat menikmati momen ini.
"Manis juga" Jimin mengusap lembut pipi Aliya. Ibu jari Jimin berhenti pada bibir pink Aliya, terlihat sangat lucu karena sedikit terbuka dan jangan lupakan ke-Sexy-an bibir pink Aliya.
"Eugh!" Jimin menghentikan usapanya saat mendengar lenguhan Aliya.
"Sudah bangun hem?" Aliya mendengus saat mendengar suara Jimin, dengan sedikit kesusahan Aliya bangun. Mengusap matanya yang sedikit perih dan jangan lupakan uapan dari mulutnya.
"Jam berapa ini?" Tanya Aliya.
"12 siang!" Jawab Jimin.
"Jadi selama itu aku tidur?" Aliya bangkit dari posisinya dan sedikit merapikan seragamnya yang kusut karena tidur tadi.
"Kau mau kemana?" Tanya Jimin pada Aliya.
"Pulang! Aku ada janji!" Jawab Aliya acuh.
"Aku antar kau pulang!" Aliya mengangkat satu alisnya saat mendengar ucapan Jimin.
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri" ketus Aliya.
"Kau tanggung jawabku" tegas Jimin.
"Cih kau fikir kau Spiderman yang akan melindungi semua orang? Aku tidak butuh!" Ketus Aliya. Jimin menghela nafas dan menarik tangan Aliya.
"Yakh lepas!" Jimin tetap menarik tangan Aliya.
"b******k lepaskan aku!" Mereka jadi pusat perhatian karena Aliya yang terus berontak dan Jimin terus menariknya. Semuanya berdecak kesal saat Aliya ditarik oleh Jimin, guru baru yang tampan menarik tangan Singa betina.
"Yakh Lepassss!"
*
Senyum Yuri mengembang saat melihat potret Putrinya dan kedua orang tuanya. Yuri ada dirumah Keluarga Kwon dan Yuri ada didalam kamar yang biasa digunakan oleh Aliya dulu. Yuri membuka berbagai album yang berisi potret kebersamaan Aliya dan orang tuanya.
Aliya terlihat sangat bahagia difoto ini, senyum manis Aliya terlihat sangat mengembang disetiap bidikan kamera. Alami dan terlihat sangat hangat. Hati kecil Yuri terasa sangat nyeri saat melihat Putrinya terlihat begitu bahagia dengan kedua orang tuanya dari padanya dirinya yang notabenya adalah ibu kandung Aliya.
Setiap senyum manis yang Aliya lemparkan pada Kakek dan Neneknya membuat Yuri merasa seperti orang asing. Sudah 9 tahun berlalu dan Yuri tidak pernah melihat senyum Aliya. Hanya tatapan penuh kekecawaan dan kebencian yang selalu Aliya tunjukan padanya.
Aliya memang tidak pernah bersikap kasar atau membentaknya tapi Aliya juga tidak pernah bersikap manis padanya. Hanya ada wajah datar dan dingin yang selalu ditunjukkan Aliya padanya, bahkan Yuri merasa sangat iri pada Ahjumma Han yang begitu leluasa melimpahkan kasih sayangnya pada Aliya. Sedangkan dirinya hanya mampu melihat dari jauh.
"Eomma!" Yuri mengusap kasar air matanya saat mendengar panggilan Jin.
"Eomma disini?" Yuri mengangguk dan melambaikan tanganya pada Jin.
"Apa yang membawamu kemari nak?" Tanya Yuri pada Jin yang sudah membaringkan kepala dipaha kanannya.
"Aku hanya ingin kemari" Yuri tersenyum dan mengusap lembut kepala Jin.
"Eomma merindukan Aliya?" Tanya Jin pelan.
"Ya! Eomma merindukan Adikmu!" Jawab Yuri dan kembali melihat album yang ada ditanganya.
"Aliya terlihat bahagia!" Cetus Jin dengan senyum mirisnya.
"Kau benar Sayang! Adikmu terlihat sangat bahagia bersama Kakek dan Nenekmu berbeda dengan kita" Jin sangat tahu jika ibunya sudah sangat lama merindukan Adiknya dari dulu. Tapi semua itu terhalang oleh ketidak mampuan yang menghalangi ibunya.
Memang tidak tampak pada kata-kata tapi terlihat jelas ditingkah laku. Aliya tidak pernah sudi menginjakkan kakinya dirumah mereka jika bukan karena paksaan Kakek dan Neneknya atau menjenguk Ahjumma Han jika sedang sakit.
Jin masih ingat bagaimana ibunya yang sakit karena merindukan Aliya tapi Aliya tidak mau menjenguknya sama sekali. Jin juga masih ingat bagaimana Kakeknya menyeret Aliya agar bertemu dengan ibunya. Dimana Aliya begitu berontak dalam genggaman Kakeknya untuk menemui Yuri.
Aliya juga sampai menedang pintu kamar dengan keras karena ketidak inginanya untuk menemui ibunya. Bukan ketakutan tapi kebencian yang begitu mendalam yang tumbuh dihati Aliya. Bagaimana rasa benci itu tumbuh mendarah daging dalam darah Aliya. Kebencian Aliya menatap Jungwoon, menemui Yuri serta memanggil Jin dan Taehyung dengan panggilan Oppa.
Aliya mau memanggil Yuri dengan panggilan Ibu juga karena paksaan Ahjumma Han dan itupun harus melewati waktu yang lama untuk meluluhkan hati Aliya yang penuh dengan kebencian.
"Dia bahkan tidak mau memanggil aku Oppa, Eomma!" Lirih Jin.
"Dia juga sangat membenciku" tambah Taehyung yang ada diambang pintu.
"Aku masih ingat bagaimana dia yang menengkan Jihyo saat kedua orang tuanya pergi, sedangkan aku yang berstatus sebagai suaminya hanya bisa melihat mereka dari jauh" cetus Jin miris.
"Melihatnya berjanji pada Hoseok Hyung untuk selalu melindungi Lisa, aku yang tunanganya saja hanya mampu memberikan penderitaan dan bukanya kebahagiaan" cetus Taehyung sambil membaringkan kepalanya dipaha kiri Yuri.
"Aku masih ingat bagaimana bruntalnya Aliya saat menyiksa wanita yang kutiduri demi membalas rasa sakit yang Jihyo alami" hati Yuri semakin berdenyut nyeri saat mendengar pengakuan dari kedua Putranya. Pantas Aliya begitu membenci mereka, ini semua juga berawal dari mereka dan berakhir juga dari mereka.
"Aliya juga merusak wajah Joo Hyun hanya untuk melihat Lisa lega" Cetus Taehyung miris.
"Sadar atau tidak kita memang yang membuat ini semua terjadi. Aliya selalu bilang jika terlahir sebagai Bungsu KIM adalah bencana! Aliya juga terang-terangan menujukkan kebencianya pada Appa, Taehyung dan aku. Aliya bahkan tidak sungkan mengungkapkan ketidak senanganya sebagai adik kami. Aliya benci melihat wajah kami karena selalu mengingatkan pada kelakuan b***t yang Appa dan kami lakukan" Yuri terisak. Apa yang dikatakan Putra sulungnya adalah sebuah kebenaran.
Yuri masih ingat bagaimana tatapan penuh kebencian yang ditunjukkan Aliya padanya saat kematian orang tuanya 3 tahun yang lalu. Aliya memang tidak mengeluarkan air mata tapi Yuri yakin jika hati Putrinya menangis darah karena kepergian kedua orang tuanya.
"Eomma selau berharap jika sebelum kematian menjemput, Eomma ingin melihat senyum tulus dari Adik kalian yang benar-benar ditunjukkan pada Eomma tanpa paksaan dari siapapun. Dan merasakan hangatnya pelukanya!" Lirih Yuri penuh rasa sakit.
"Aku ingin mendengarnya memanggilku Oppa, sama seperti 9 tahun yang lalu" tambah Jin sambil memejamkan matanya.
"Aku ingin melihatnya yang tidur dipelukanku lagi! Sama seperti dulu" cetus Taehyung dengan memejamkan matanya.
"Eomma harap semua harapan kita benar-benar terjadi" harap Yuri penuh dengan keraguan.
Dibalik tembok Jungwoon terduduk dilantai dengan air mata yang mengalir deras. Dadanya sangat sesak melihat istri dan kedua anaknya yang memendam kerinduan yang begitu mendalam pada Putri bungsunya. Mengutarakan harapan yang begitu sederhana dan berharap Tuhan akan mengabulkanya.
Ini bermulai dari sikap serakahnya hingga semua keluarganya menderita dan terpecah belah. Kehidupan gelap istrinya yang begitu mendamba kasih sayang sang Putri, kehampaan kedua anaknya yang merindukan adiknya. Dan penyesalan yang setiap detik mengegoroti hatinya karena kebodohanya dimasa lalu.
"Maafkan Appa, Aegi!"
*
"Lepas!" Aliya berontak dipelukan Jimin, mereka menghindari kejaran preman yang menghadang mereka. Salah Jimin yang memilih jalan sepi hingga berakhir mereka harus berlarian disiang bolong seperti ini.
"Aku bisa menghadapi mereka" kata Aliya yang sudah sangat kesal dan marah. Tapi Jimin masih saja menyembunyikan tubuh mereka.
"Bukan hanya kau, aku juga mampu. Tapi jika kita memancing satu dari mereka, pasti akan ada anggota yang lain. Kau melukai satu orang seratus orang akan muncul" cetus Jimin dan semakin mengeratkan pelukanya pada Aliya. Mereka ada digang sempit dan sedang bersembunyi disamping tempat sampah yang cukup besar dengan punggung Aliya yang menempel didinding pembatas dengan Jimin yang memeluknya.
"Awas kau nanti" ancam Aliya yang sudah sangat emosi.
"Mereka kemana" Jimin semakin menekan kuat tubuhnya pada Aliya, Jimin tidak ingin ketahuan dan hanya ini usaha terakhir yang bisa Jimin lakukan.
"Sepertinya mereka lari kesana. Kita kejar" Jimin melirik dari ekor matanya untuk memastikan jika semua preman itu sudah pergi dan saat tidak melihat satu anggota pun yang tersisa Jimin segera melepaskan pelukannya.
"Hah untu~~akhh!" Jimin memekik keras saat Aliya menendang Adiknya.
"Hei kau waras?" Teriak Jimin memegangi Adiknya yang baru saja ditendang kuat oleh Aliya.
"b******n Sia~~emph!" Aliya membelalakkan matanya saat Jimin mencium bibirnya secara tiba-tiba. Seperti kejatuhan meteor dikepalanya, Aliya hanya bisa diam. Sampai kesadaranya kembali terkumpul dan mencoba mendorong Jimin tapi tidak berhasil. Jimin justru semakin mengeratkan pelukanya.
Gagal mendorong Jimin, Aliya mulai memukul Jimin dengan keras tapi Jimin malah menempelkan punggungnya kembali ketembok hingga Aliya terhimpit tembok dan tubuh Jimin. Aliya hanya bisa pasrah, ia sudah tidak bisa melawan lagi.
"Jangan merusak reproduksiku jika kau ingin punya anak" geram Jimin setelah melepaskan ciumanya.
"Anak? Darimu? Aku tidak sudi!" Teriak Aliya dengan nafas terengah-engah.
"Cih kita lihat saja nanti" cetus Jimin dan menarik Aliya untuk kembali kemobil.
"Lepaskan aku Bren~~~"
"Itu mereka! Kejar" keduanya menoleh dan menemukan gerombolan preman yang mengejarnya tadi.
"Sial!" Jimin kembali menarik Aliya untuk berlari lagi. Dan Aliya hanya bisa mengikuti tarikan Jimin untuk berlari.
"PARK JIMIN b******k! AKU LELAHH!"
*
"Eomma tahu?" Tanya Lisa dan hanya dibalas senyum tipis dari Ahjumma Han. Lisa menyinggung soal calon suami Aliya pada Ahjumma Han.
"Tunggu sampai bulan September Sayang! Dan ini kalian akan tahu semuanya" kata Ahjumma Han penuh arti.
"Apa Aliya tahu?" Tanya Jihyo.
"Tidak! Dan Eomma tidak ingin kalian memberitahukan ini pada Aliya. Biar dia tahu saat acara itu berlangsung!" Perintah Ahjumma Han.
"Apa Keluarga Kim tahu?" Tanya Lisa.
"Tidak! Ini hanya kesepakatan antara mendiang Tuan Kwon Hanwo dan Tuan Park Jungsoo. Dan tidak ada yang terlibat selain dua orang itu" jawab Ahjumma Han.
"Lalu siapa calon suami Aliya? Park Chanyeol atau Park Jimin?" Tanya Jihyo. Jihyo tahu nama itu karena Halmonie Kwon yang memberitahunya dan Jihyo diperintahkan tutup mulut pada yang lain sampai waktunya sudah dekat. Dan untuk urusan Aliya tahu atau tidak Jihyo tidak mengerti.
"Kalian akan tahu nanti"
*
"Sakit Bodoh!" Aliya berteriak saat Jimin menekan luka pada lututnya.
"Tahan sebentar" mereka ada dibutik karena Aliya tidak mau ke Apartemant Jimin dan Aliya juga tidak mau pulang karena Ahjumma Han bisa histeris saat melihat tubuhnya lecet sama seperti Neneknya dulu.
"Kenapa juga kau bisa jatuh" cetus Jimin.
"Ini juga karena kau b******k" Teriak Aliya kesal. Mereka ada diruang Manajer dan hanya berdua.
"Oke aku yang salah! Dan kau bisa minta apapun dariku?" Aliya mendengus kesal mendengar ucapan Jimin, tapi penawaran Jimin beloh juga.
"Aku boleh memukulmu?" Tanya Aliya sambil menurunkan kakinya dari pangkuan Jimin, tapi sebelum kaki Aliya sampai lantai Jimin sudah menarik kembali kaki Aliya.
"Apapun asal jangan itu dan jangan pernah berani menendang alat produksiku" ketus Jimin.
"Cih dasar!" Umpat Aliya kesal.
"Kau punya kenalan teman yang punya tempat bela diri?" Tanya Aliya.
"Punya tapi jangan harap aku akan memberitahukanya padamu. Kau hanya akan sekolah dan lulus. Kau tidak boleh berkelahi lagi sama sepeti di Seoul" tegas Jimin.
"Ck! Kau apaku? Kau tidak berhak melarang apa yang menjadi keinginanku" ketus Aliya.
"Tentu saja aku berhak! Ka~~~"
"Mian aku menganggu" mereka menoleh dan menemukan Mina yang berjalan masuk dengan membawa minuman.
"Ini minumanya" kata Mina pelan. Aliya sangat tahu jika Mina bersikap sedikit aneh kali ini. 'Iyalah Mina suka Jimin dan Mina pasti tidak suka jika Jimin mengobatinya'
"Lepaskan aku! Kasihan penggemarmu itu! Cemburu melihatmu mengobatiku" tunjuk Aliya pada Mina. Sedangkan Mina langsung salah tingkah kerana ucapan Aliya, 'Sialan sekali kau Aliya, aku malu bodoh! Aku memang menyukai Jimin Sunbae tapi dia tidak menyukaiku. Hiks nasib'
"Mina?" Tanya Jimin.
"Aniya Sunbae! Aku hanya ingin mengantarkan minuman ini" ujar Mina salah tingkah.
"Cih mengaku saja! Kau bahkan men~~~"
"Aku pergi!" Sela Mina sebelum Aliya semakin mempermalukanya lebih jauh lagi.
"Dasar!" Umpat Aliya kesal.
"Sudah! Kuantar pulang ya?" Tawar Jimin.
"No! Aku pulan~~akhh!" Aliya kembali jatuh karena kakinya yang masih sakit karena mencoba berdiri dan yang lebih sialnya lagi Jimin malah menindih tubuhnya, karena tadi Aliya tidak sengaja menariknya.
"Turun!" Bukanya bangkit Jimin justru semakin merapatkan tubuhnya pada Aliya.
"Tur~~"
"Aku menginginkanmu!" Lirih Jimin.
"Hah?" Tanya Aliya tidak percaya.
"Bolehkan?" Tanya Jimin dengan pandangan yang sudah menggelap sempurna.
"Kau~~~?"
T.B C