First

2412 Words
Happy Reading. * "Mau kubantu?" Aliya mendengus dan kembali mengaitkan kaitan bra-nya. Sedangkan Jimin hanya tersenyum dan kembali memakai celananya. "Ku antar ya?" Aliya menggeleng dan mengambil seragamnya yang tergeletak dilantai. "Kau hanya akan menambah masalah jika kau mengantarku pulang!" Cetus Aliya datar. "Tapi it~~~" "Stop it! Aku tidak akan tumbang ditengah jalan hanya karena selaput darahku robek" Jimin tersenyum simpul dan menarik Aliya untuk merapatkan tubuh mereka. "Gumawo" ujar Jimin tulus. Sedangkan Aliya hanya mendecih pelan. "Lepas!" Jimin tersenyum dan mengecup dahi Aliya lembut lalu melepaskanya. "Cha selesaikan cepat selesaikan pakaianmu. Akan kuantar sampai kekomplek perumahanmu. Aku akan menyuruh orang untuk mengatar motormu kesana!" Aliya masih diam ditempat. Tanganya meraba pelan dahinya yang baru saja dicium Jimin, masih terasa hangat dan membekas. Selama 17 tahun hidupnya baru kali ini Aliya diperlakukan spesial oleh laki-laki selain Kakeknya. 'Saat laki-laki mencium bibirmu itu adalah hal yang umum terjadi pada laki-laki dan perempuan tapi saat laki-laki mencium keningmu itu bisa menjadi pertanyaan! Hanya dua kemungkinan yang akan menjadi jawabanya menganggapmu adik atau menganggapmu wanitanya' Aliya menatap Jimin dalam, perkataan Kakeknya 5 tahun yang lalu kembali tergiang ditelinganya. "Hei kau kenapa?" Tanya Jimin menepuk pipi Aliya. "Ah Aniya!" Jimin tersenyum melihat wajah gugup Aliya. "Kau malu eoh?" Tanya Jimin jail. "Cih malu padamu? Tidak berguna!" Ketus Aliya. "Oke-oke, selesaikan cepat. Ini sudah malam dan mari kita pulang" ajak Jimin lembut. "Mari pulang! Pulang kepalamu!" Kesal Aliya yang sudah kembali kesifat ketusnya. * Jimin menyalakan Shower untuk membersihkan tubuh letihnya, matanya terpejam erat menikmati tetesan Shower yang terus mengguyur tubuhnya. Bibir Jimin tidak berhenti mengulas senyum manis saat kejadian tadi sore kembali tergiang diingatanya. Sesekali Jimin tertawa mengingat ekspesi Aliya yang tampak lucu tadi. "Aliya Kim, kau membuatku gila" desis Jimin yang mulai kehilangan kontrol karena Aliya. Membayangkan tubuh polos Aliya benar-benar membuat Jimin kembali ingin merasakanya lagi. Bagaimana rasanya kembali berhubungan s*x dengan bocah 17 tahun itu, mendengar desahan penuh kenikmatan yang mengalun dari bibir pink Aliya, dan merasakan manisnya bibir Aliya dalam ciumanya. "s**t kau membuatku ingin memasukimu lagi" teriak Jimin geram. "Sorry Hyung ini bagianku, kau boleh marah padaku tapi aku memang menginginkanya dari dulu. Lagi pula Harabojie Kwon sudah pergi jadi Aliya bebas memilih!" Kata Jimin sambil tersenyum iblis. "I Got You Aliya Park Jimin" * Aliya memukul kepalanya dengan keras saat ingatan tentang percintan panasnya dengan Jimin kembali terlintas difikiranya. "s**t kau Park Jimin!" Aliya memang bodoh, baru dua hari bertemu Jimin dan Aliya sudah menyerahkan tubuhnya secara cuma-cuma. Rasanya Aliya ingin mengulang waktu tadi sore, menolak ajakan Jimin dan kembali menendang alat reproduksi Jimin. Tapi Aliya hanya bisa menyesali kebodahanya sekarang. "Kenapa juga aku berkata iya secepat itu?" Gumam Aliya kesal. "Cih aku murahan!" Aliya mengosok keras tubuhnya berharap bisa menghilangkan jejak cinta Jimin pada tubuhnya. Menghilangkan aroma maskulin Jimin yang masih tertinggal ditubuhnya. "Sial kenapa aromanya semakin kuat!" Teriak Aliya kesal. Aroma maskulin Jimin semakin menguar dari tubuhnya dan Aliya dibuat frustai karena tidak bisa menghilangkanya. "Sial bagaimana jika tidak bisa hilang?" Gumam Aliya frustasi. "Aku harus berendam! Ya berendam!" Aliya berlari menuju Buth up untuk berendam air hangat. Aroma maskulin Jimin akan sangat mengganggu jika tidak segera dihilangkan. "s**t Park Jimin!" * Aliya ada dirumah sakit untuk memeriksakan kandungan Lisa dan Jihyo. Ini pemeriksaan pertama mereka di Jepang. "Antrinya lama juga!" Ujar Jihyo pelan. "Tapi kenapa ini semuanya ibu muda?" Tanya Lisa yang memperhatikan sekeliling. "Itu artinya mereka menikah muda bodoh!" Cetus Aliya sambil memainkan ponselnya. "Cih kusumpal juga mulut sialanmu itu!" Desis Lisa yang kesal. "Coba saja! Kau pasti akan jalan dari sini sampai rumah" ancam Aliya enteng. "Dasar tidak berperasaan" kata Lisa yang dibuat memelas. "Cih kau tidak pantas menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau tidak pantas" ejek Aliya. "Dasar bocah kurang ajar" maki Lisa kesal. "Sudahlah! Ini ada dirumah sakit. kalian jangan bertengkar" lerai Jihyo pada kedunya. "Aliya yang mulai!" Kata Lisa. "Sudahlah Lis!" Lisa mendengus saat Jihyo membela Aliya. "Wek!" Kata Aliya meledek. Mereka kembali sibuk kekegiatan masing-masing sampai suara ibu-ibu yang sedang mengerumpi mengganggu aktifitas mereka. "Dokternya tampan!" Mereka bertiga langsung bertatapan. "Kau benar! Ini adalah pemeriksaanku yang ketiga dalam minggu ini!" Mata mereka melebar. Tiga kali dalam seminggu? Waras? "Dokternya sudah melarangku dan bilang agar aku periksa sebulan sekali. Tapi aku ingin terus periksa siapa tahu anakku bisa setampan Dokternya!" Lisa dan Jihyo menggigit bibirnya agar tidak tertawa sementara Aliya hanya menunjukkan wajah datarnya. "Cari bibit yang bagus jika mau tampan" Jihyo langsung menyikut Aliya saat mendengar gumaman Aliya. "Shut tidak sopan!" Tegus Jihyo. "Mereka menggelikan!" Cetus Aliya. "Biarkan kita jadi dapat hiburan gratis" Aliya hanya mendecih sinis. "Nyonya Kwon Jihyo dan Kwon Lisa" "Sana masuk!" Usir Aliya. "Kau ikut" kata Lisa. "Shireo aku tidak hamil. Untuk apa ikut?" Tolak Aliya mentah-mentah. "Kau wali kami jadi aku harus ikut" Jihyo langsung menarik Aliya, tanpa peduli protesan Aliya. "Yakh lepas!" Jihyo semakin menarik Aliya dan Lisa juga ikut membantu. "Awas kalian" Jihyo tersenyum puas dan mengetuk pintunya. "Masuk!" Ketiganya langsung masuk setelah mendapatkan ijin. "Dokter!" Panggil Lisa pelan. "Duduk saja Nyonya-Ny~~~Aliya" Aliya melebarkan matanya saat tahu siapa orang yang menggunakan jas dokter itu. "Kau~~" "Park Jimin!" Lisa dan Aliya langsung menatap Jihyo. "Eonni kenal?" koor Aliya dan Lisa kaget. * "Cih Dunia memang sempit" cetus Aliya pelan. "Hah aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu. Padahal baru kema~~~" "Diam!" Jimin tersenyum saat Aliya menyela ucapanya. Yah Dokter tadi adalah Jimin dan setelah pemeriksaan Jihyo dan Lisa tadi, Jimin langsung meminta dokter lain untuk menggantikannya. Ibu-ibu yang lain langsung kecewa karena bukan Jimin yang memeriksa mereka. Dan sekarang mereka ada diatap rumah sakit, Jihyo dan Lisa sudah pulang dengan mobil Aliya karena Jimin yang menyuruh. Dan kedunya hanya menurut begitu saja tanpa membantah ucapan Jimin padahal Aliya sudah melarang dan berontak tadi. "Kenapa Kakakku iparku bisa mengenalmu?" Tanya Aliya yang ingat saat Jihyo menyebut nama Jimin dengan lancar tadi. "Kau lupa jika Kim Seokjin adalah suaminya?" Wajah Aliya langsung mengeras mendengar Jimin menyebut nama Jin. Dan itu tidak luput dari pandangan Jimin. "Ah apakah Taehyung juga ayah dari bayi Lisa? Dan apa Taehyung tahu? Hei kau mau kemana?" Jimin menarik tangan Aliya yang hendak pergi hingga Aliya jatuh kepangkuanya. "Lepas!" Jimin semakin mengeratkan pelukanya. "Tanggung jawabmu terlalu besar Young Girs" lirih Jimin. "Jangan ikut campur!" Desis Aliya yang mulai kehilangan kesabaranya. "Aku akan ketempat Taekwondo, kau mau ikut?" Tanya Jimin mengalihkan pembicaraan. "Hanya untuk hari ini! Mari bersenang-senang!" * "Apa?" Pekik Lisa kaget. "Shut! Jangan keras-keras Lis" peringat Jihyo. "Jadi itu Park Jimin?" Tanya Lisa kaget. "Hem! Dia Kakak Chaeyoung yang kedua. Masa kau tidak tahu?" Tanya Jihyo. "Yang aku tahu Chaeyoung hanya punya Chanyeol Oppa!" Kata Lisa. "Cih dasar! Katanya teman tapi kakak teman sendiri tidak tahu" cetus Jihyo. "Itu tidak penting Eonni, yang penting adalah apa Jimin yang akan menjadi suami Aliya?" Tanya Lisa penasaran. "Kalau yang itu aku tidak tahu" jawab Jihyo. "Sebenarnya siapa calon suami Aliya? Chanyeol atau Jimin?" * Rumah keluarga Kwon sekarang dihuni Yuri, Jin, dan Taehyung. Ketiganya pindah baru siang tadi dan kemungkinan mereka akan menetap lama disini. "Eomma kamar yang mana?" Tanya Jin. "Kamar Adikmu saja Sayang!" Jin mengangguk dan membawa koper ibunya kekamar Aliya. "Kau istirahat saja Sayang! Eomma juga akan istirahat" Jin mengangguk dan keluar dari kamar Aliya. Sepeninggalan Jin dari kamar Aliya, Yuri mulai mengamati kamar yang menjadi hunian Putri bungsunya selama 9 tahun ini. Ada rasa bangga dihati Yuri saat melihat begitu banyak foto kejuaraan Aliya yang tertempel didinding kamar dengan rapi. Tapi Yuri juga menyunggingkan senyum miris pada bibirnya karena bukan dirinya yang ada disamping Aliya melainkan Ayah dan ibunya. "Eomma yakin jika kau sangat bahagia saat itu Sayang" Yuri meraih satu foto diatas nakas. Ada potret Aliya, Ayah dan ibunya dengan gaya remsi dan terlihat seperti keluarga yang utuh tanpa kehadiran, Jungwoon, Jin, Taehyung dan dirinya. "Apa kau makan dengan baik selama ini Sayang? Apa kau pernah merindukan Eomma? Atau apa kau pernah merindukan kasih sayang Eomma" semua jawaban dari pertayaan Yuri adalah tidak. Ayah dan ibunya sudah memberikan kasih sayang yang tidak bisa dirinya berikan pada Aliya. Bahkan Aliya menerima sangat banyak tanpa khawatir kekurangan kasih sayang dari orang tua kandungnya. "Terus saja hindari Putrimu sekarang dan rasakan akibatnya dimasa depan. Sekarang dia masih bisa dikontrol tapi setelah dia dewasa kau hanya akan menerima kebencian yang kau tanam pada dirinya" d**a Yuri terasa sesak saat perkataan Ayahnya kembali tergiang ditelingnya Jauh sebelum Aliya dewasa Ayahnya sudah berulang kali memperingatkanya agar menghentikan sikap acuhnya pada Aliya, tapi Yuri enggan menurutinya dan semakin sering meninggalkan Aliya pergi keluar Negeri untuk perjalanan Bisnis. "Kau bukan ibuku" perkataan Aliya beberapa tahun silam sangat menusuk hatinya. Dirinya tidak diakui oleh anaknya sendiri. "Maafkan Eomma Sayang!" * "Mana yang sakit?" Tanya Jimin. "Tidak ada! Hanya sedikit keram!" Jimin memegang tangan Aliya lembut dan memijatnya pelan. "Kuantar pulang ya?" Aliya menggeleng pelan. "Aku tidak mau pulang" entah kenapa akhir-akhir ini Aliya sudah bisa berbicara lembut pada Jimin dan Aliya sendiri tidak tahu alasannya. Ini adalah minggu ke-2 untuk kebersaam mereka di Club Taekwondo yang dimaksud Jimin. "Pulang kerumahku saja Kajja!" Jimin membantu Aliya berdiri dan melepaskan seragam mulai Taekwondo Aliya. "Kekamar mandi saja! Bahaya jika ada yang melihat kita!" Kata Jimin. "Baju gantiku ada diloker" * Flasback. 13 Years Ago. "Siapa namamu Sayang?" Tanya seorang wanita pada Aliya kecil. "Aliya Kim!" Wanita itu tersenyum manis. "Kau cantik ya?" Aliya hanya menunduk. "Jangan malu pada Bibi oke?" Aliya mengangguk singkat. "Nama Bibi Soyoung, Yoo Soyoung" Aliya mendongak menatap wanita itu. "Kenapa Bibi selalu membelaku dari kemarahan Appa?" Tanya Aliya pelan. "Karena kau tidak salah! Kau adalah putrinya dan sudah seharusnya Appa-mu juga menyayangimu seperti kedua kakakmu" Aliya menunduk dalam. Dia tahu jika Ayahnya tidak menyukainya sama sekali. "Kau pasti marah pada Bibi?" Aliya kembali mendongak. "Kau sering melihatnya kan?" Aliya mengangguk pelan. "Maafkan Bibi karena mengganggu keharmonisan keluargamu Sayang. Tidak seharusnya Bibi kembali dalam kehidupan Ayahmu sudah seharusnya Bibi pergi dan tidak kembali" lirih Yoo Soyoung. "Apa Bibi memcintai Appa?" Tanya Aliya memberanikan dirinya untuk bertanya. "Hem bahkan sampai saat ini Bibi masih mencintainya" Aliya menundukkan kepalanya dalam. "Apa yang ingin kau katakan Sayang?" Aliya menggeleng pelan. "Aliya!" Panggil Yoo Soyoung lembut. "Aku tidak suka jika ada yang mengganggu rumah tangga keluargaku Bibi. Aku tahu jika akan sangat tidak pantas jika aku berbicara seperti ini, tapi bisakah Bibi tinggalkan Appa? Eomma memang tidak menyukaiku tapi aku tetap anaknya dan aku ingin melihatnya bahagia. Tapi karena kehadiran Bibi, Eomma jadi sering pergi dan tidak memperdulikan kami. Jadi kumohon tinggalkan Appa" pinta Aliya. Flasback end. * Jungwoon tampak sibuk membaca laporan keuangan diperusahaanya. Jungwoo tidak mau memaksa Jin untuk kembali bekerja, Jungwoon cukup tahu jika kondisi putra sulungnya masih dalam keadaan gelap. Dan Jungwoon tidak mau menambah beban Jin lagi. "Komisaris" "Masuk" jawab Jungwoon tanpa menoleh. "Saya mengganggu?" Tanya Sekertaris Kang. "Tidak! Katakan ada apa?" Tanya Jungwoon datar. "Saya hanya ingin memberikan daftar aset yang diterima Nona Muda Kim dari mendiang Tuan Kwon" Jungwoon mengalihkan pandanganya pada Sekertaris Kang. "Aset?" Jungwoon tidak pernah tahu jika mertuanya meninggalkan aset untuk Aliya. "Nde Komisaris. Ini daftarnya dan saya juga sudah merekap semuanya termasuk aset yang ada diluar Negeri" Jungwoon segera mengambil alih dokumen itu. "6 Black Card, Perhiasan, Sertifikat Rumah, tanah dan Vila, 4 Apartemant, 3 Mobil Audy, Butik" Jungwoon membaca semuanya dengan teliti. Mereka tidak pernah tahu jika Aliya ditinggalkan warisan sebanyak ini. "2 Club di Seoul, Rumah, Butik, Salon, Sekolah, Perkebunan di Jepang, Resort di Jeju dan Paris. Pusat perbelanjaan di Italia" Jungwoon masih terus membacanya dengan seksama. Kwon Group diwariskan kepada Yuri tapi bagaimana bisa Aliya masih punya sebanyak ini. "Selama 3 tahun ini Nona Muda Kim tidak pernah menggunakan uang yang anda berikan sedikitpun. Beliau hidup dengan aset yang diberikan oleh mendiang Tuan Kwon" tambah Sekertaris Kang. "MWO?" "Nona Muda mendepositokan semua uang anda dalam sebuah tabungan dan saya menerima buku tabungan ini tadi pagi dari pos. Lengkap dengan kartu kredit dan buku rekeningnya" tambah sekertaris Kang dengan mengeluarkan Buku rekening dan kartu kredit. "Semuanya masih utuh dan tidak tersentuh sama sekali. 1 milyar setiap 6 bulan dan jumlahnya menjadi 6 miliyar Won dalam 3 tahun, dan Nona Kim juga mengirimkan kunci mobil dan motor yang pernah anda berikan dan sekarang mobil dan motor itu ada dirumah mendiang Tuan Kwon" tubuh Jungwoon lemas saat mendengar penjelasan dari sekertarisnya. "Tapi seluruh aset Kwon Group sudah diberikan pada istriku" lirih Jungwoo. "Tidak semuanya Komisaris. Masing-masing 10% untuk Tuan muda Jin dan Taehyung. 25% untuk Nyonya Kim dan 45% untuk Nona Muda" ujar sekertaris Kang. "Sepertinya mendiang Tuan Kwon sudah menyiapkan ini semua dari dulu. Beliau pasti tahu jika Nona Muda tidak akan mau menerima apapun pemberian anda dan oleh sebab itulah Tuan Kwon memberikan banyak aset untuk Nona Muda agar bisa hidup tanpa uang anda" tambah Sekertaris Kang lagi. "Dan ya Mendiang Tuan Kwon juga sudah memilihkan jodoh untuk Nona Muda dan mereka akan menikah akhir tahun ini" kata Sekertaris Kang. "Apa? Menikah?" * "Bodoh bukan itu" jika saja ini bukan dalam keadaan terdesak Jimin sudah melempar Aliya kembali keranjang. "Yang mana?" Tanya Jimin yang sibuk mengacak-acak tas Aliya. "Tas samping!" Ketus Aliya. "Ah ketemu" Jimin berseru girang lalu kembali melompat disamping Aliya. "Sini kuikatkan" Jimin meraih rambut Aliya dan mengikatnya dengan karet. "Tanganku ku gips ya?" Aliya menggeleng tidak mau. Karena insiden tarung tadi tangan Aliya terpelintir dan sekarang rasanya sangat sakit. "Kenapa?" Tanya Jimin. "Cih aku bukan gadis lemah!" Jawaban Aliya membuat Jimin sangat kesal. Jimin masih ingat bagaimana Aliya yang berkelahi dengan angota Club Taekwondo beberapa hari yang lalu. Wajah lawan Aliya babak belur dan tidak berbentuk karena pukulan Aliya. Dan dengan pedenya Aliya berjalan begitu saja tanpa berbalik. Jimin tentu saja kalang kabut dan menanganinya. Jimin juga ingat bagaimana nekadnya Aliya yang mengikuti balapan liar seminggu yang lalu dan saat ditanya Aliya hanya bilang 'Aku sudah sering melakukanya jadi jangan mengusik kesenanganku, dan biasanya malah Chaeyoung yang mengatur jadwalku' mengingat jawaban Aliya saat itu Jimin rasanya langsung naik darah. "Woi!" Teriak Aliya yang keras dan berhasil menyadarkan Jimin. "Jangan suka melamun! Cepat tua Bodoh!" Ketus Aliya. "Orang yang katakan bodoh ini, adalah seorang guru dan seorang Dokter. Rasanya panggilan bodoh bukan pilihan yang tepat!" Geram Jimin. "Aku tidak peduli" Desis Aliya. Sambil berbaring, dan karena Aliya yang berbaring Jimin malah bisa melihat bagian kaki Aliya yang banyak luka. "Kita kerumah sakit besok, aku akan merongsenmu. Kakimu banyak bekas luka, aku tidak kau terjadi apa-apa denganmu" kata Jimin final. "Cih aku tidak mau" teriak Aliya. "Kau tidak berhak menolak! Ini mutlak keputusanku" tegas Jimin. "Kau apaku? Kenapa kau sangat suka mengaturku?" Teriak Aliya. "Aku? Calon suamimu!" T.B.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD