Jefri dan Koh Liyong saat ini sudah duduk disebuah sofa di ruangan ini. Pemuda itu sedang resah menunggu apakah emas yang dia bawa bisa diterima di toko emas ini.
Meski pun dia yakin bahwa emas itu adalah emas asli, namun tetap saja Jefri masih memiliki rasa waswas seperti manusia pada umumnya.
"Gimana, Koh?" tanya Jefri khawatir.
"Sini tanganmu dulu!" bukannya menjawab, Koh Liyong malah meminta Jefri untuk menunjukkan tangannya pada lelaki tua itu.
Meski dilanda kebingungan, Jefri pun mengulurkan tangan kirinya ke arah Koh Liyong secara refleks.
Pukk!
"Bukan tangan kiri, tapi tangan kananmu," ucap Koh Liyong menunjukkan tangan yang dimaksud.
"Untuk apa?" kini Jefri baru menyuarakan keheranannya.
"Udah, nggak perlu banyak nanya kamu!" titah Koh Liyong. "Mau uang ini cepet cair nggak?" lanjutnya mengimingi-ngimi.
"Mau, Koh," angguk Jefri cepat.
Kini tangan kanan pemuda itu diulurkannya ke arah Koh Liyong dan lelaki tua itu pun segera meneliti telapak tangan Jefri.
"Ternyata benar kamu memang benar-benar Jefri anaknya Soemitra. Beruntung kamu karena tidak berniat menghilangkan tanda lahir di telapak tanganmu. Jika saja dulu kau hilangkan tanda ini, mungkin aku sudah memanggilkan petugas kepolisian untuk menangkapmu karena kamu pasti adalah seorang pencuri."
Jefri menghela napas lega karena dulu sewaktu Paman Hendrik menawarkan bantuan untuk menghilangkan tanda lahir Jefri yang ada di telapak tangan pemuda itu dia tolak mentah-mentah.
Dulu Paman Hendrik berpendapat bahwa tanda lahir Jefri yang ada di telapak tangan kanannya jelek seperti kotoran, makanya lelaki dewasa itu menawarkan sebuah pilihan untuk Jefri menghilangkannya.
"Kalau boleh tahu, seberapa dekat Koh Liyong dengan almarhum kedua orang tuaku? Kenapa anda juga mengetahui tentang tanggal lahir ini?" tanya Jefri penasaran.
Koh Liyong mengambil napas dalam-dalam sebelum beliau bercerita tentang persahabatannya dengan Ayahnya Jefri.
"Sebenarnya Ayahmu adalah adik kelasku di sekolah, kami cukup dekat karena dia tidak membeda-bedakan ras mana pun. Keadaan ekonomi sama-sama berkembangnya, bedanya, aku lebih suka bermain di bisnis perlogam muliaan, Ayahmu lebih suka bermain di bisnis kuliner dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Beruntung kami sama-sama melesat naik ke atas bersama-sama. Ayahmu juga adalah pelanggan setiaku. Dia selalu membeli beberapa keping emas selama hidupnya. Dia selalu berkata, kalau emas-emas itu adalah tabungan rahasia untuk menyelamatkanmu. Awalnya aku tidak paham dengan pola pikir Ayahmu. Kenapa dia harus repot-repot menyelip-nyelipkan hartanya setahap demi setahap sampai logam mulia yang dia beli tidak terhitung jumlahnya. Semua cacatan transaksi jual beli kami masih utuh tersimpan datanya di buku besar perusahaanku. Tapi menjelang kematiannya, aku baru sadar ternyata anggota keluarganya Soemitra sedang bekerjasama untuk melenyapkan kalian bertiga. Di detik-detik terakhir hidupnya Soemitra, dia sempat menghubungiku agar segera datang untuk melindungimu, tapi karena aku memang tidak mempunyai surat kuasa yang menyatakan bahwa aku berhak untuk merawatmu, aku kalah telak oleh Hendrik. Kamu sepertinya tidak mengingat peristiwa itu karena kamu sedang dalam keadaan shock berat setelah berhasil aku selamatkan dari para pembunuh yang menyamarkan diri sebagai perampok. Ini bekas luka bacokannya masih ada," tunjuk Koh Liyong memperlihatkan bekas luka yang memanjang akibat dari tebasan golok para pembunuh bayaran Paman Hendrik.
Jefri terbengong dan tidak menyangka bahwa orang tua yang dia temui pertama kali setelah mendapatkan emas adalah penolongnya dulu.
Jika dilihat dari bekas luka sayatannya, sepertinya dulu Koh Liyong kehilangan banyak darah.
"Beruntung wasiat terakhir Ayahmu yang dia buat secara mendadak saat mendapatkan firasat buruk, berhasil menyelamatkanmu dari percobaan pembunuhan lainnya, karena semua harta milik Ayahmu dan Ibumu yang ada di Bank luar negeri hanya bisa dicairkan saat kamu sudah dewasa. Tapi ya itu tadi, Pamanmu yang bernama Hendrik berhasil memanipulasi surat kuasa yang mengatasnamakan kalau dia berhak untuk merawatmu dan perusahaan Ayahmu sampai kamu siap untuk mewarisinya."
"Pantas saja mereka baik terhadapku selama ini. Ternyata itu semua taktik mereka agar aku mempercayai mereka sepenuhnya."
"Betul sekali," angguk Koh Liyong.
"Oh iya, kenapa Koh Liyong tidak mencoba memperingatiku selama ini?" tanya Jefri penasaran.
Logikanya jika Koh Liyong tahu hal yang sesungguhnya, harusnya dia memperingati Jefri sesekali melalui orang suruhannya.
"Aku sudah mencobanya, tapi orang suruhan Pamanmu berhasil menghalangi orang yang aku utus. Beruntung kamu tidak membocorkan tentang harta rahasia simpanan kedua orang tuamu. Dulu mereka berpesan padaku bahwa siapa pun yang menjual emas rahasia milik mereka harus diperiksa identitasnya terlebih dahulu."
"Jadi inikah alasannya Koh Liyong ingin memeriksa tanganku terlebih dulu?"
"Betul sekali. Oh iya ngomong-ngomong rencanamu setelah mengetahui letak dari harta simpanan kedua orang tuamu, kamu mau melakukan apa dengan semua harta-harta itu? Jika dikurs-kan ke mata uang jaman sekarang jumlah yang akan kamu dapatkan setelah menjual semua emas itu lebih dari cukup untuk membangun satu perusahaan raksasa untuk menandingi Perusahaan yang telah direbut oleh Pamanmu."
"Belum aku pikirkan, Koh. Aku tidak mau gegabah dalam membelanjakan semua harta simpanan kedua orang tuaku tanpa rencana yang matang. Yang pasti saat ini aku sedang butuh uang untuk menyewa tempat tinggal dan biaya makan sehari-hari. Kira-kira berapa uang yang bisa aku dapatkan dari penjualan emas batangan itu, Koh?" tanya Jefri yang kini kembali fokus pada tujuan awalnya datang ke Toko Emas ini.
"Sekitar 49 juta lebih lha," jawab orang tua itu sembari menganggukkan kepalanya pelan secara berulang.
"Boleh, aku minta uangnya sekarang?" pinta Jefri tidak sabar karena dia memang harus segera kembali ke klinik tempat di rawatnya Tuan Jaelani sebelum hari petang.
Jefri terlalu takut kalau Tuan Jaelani semakin bersedih hatinya karena dia pasti mengira tidak ada yang menginginkannya lagi di dunia ini.
"Boleh, tunggu sebentar," jawab Koh Liyong yang kini beranjak dari duduknya sebentar untuk menuju ke ruangan yang ada brangkas uang miliknya.
Beberapa saat kemudian Koh Liyong kembali dengan uang 49 juta lebih di tangannya yang sengaja di bungkus dengan kantung kresek.
"Ambil uang ini! Berhati-hatilah selama dalam perjalanan. Jangan sampai kamu mengundang perhatian para penjahat yang sedang menunggu kesempatan datang. Selain itu, sering-seringlah kamu datang mengunjungiku! Aku akan memberikan pentunjuk agar kamu bisa meng-upgrade diri menjadi lebih baik lagi dengan cara-cara Ayahmu dulu. Ini nomor ponselku. Kamu boleh menghubungiku kapan saja jika kamu mau atau sedang butuh bantuan terdesak. Ingat! Jangan percaya kepada siapa pun. Termasuk padaku. Simpan lokasi harta rahasia orang tuamu untuk dirimu sendiri, karena tabiat manusia pasti akan merasakan tamak saat melihat ada harta yang menggunung di hadapannya. Tapi untuk tawaranku yang ingin mengajarimu dari nol dalam berbisnis, aku serius dengan hal itu karena Ayahmu sangat berjasa sekali dalam hidupku dulu."
"Terimakasih banyak, Koh," ucap Jefri penuh rasa syukur. "Insyaallah aku akan datang mengunjungi Koh Liyong lagi untuk belajar karena pemahamanku dalam dunia bisnis masih nol. Bahkan untuk balas dendam pun saat ini rasanya tidak mungkin meski aku mempunyai sumber daya yang melimpah."
"Iya, sama-sama," angguk orang tua itu.
"Kalau begitu aku pamit ya, Koh. Assalamualaikum," salam Jefri berpamitan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Koh Liyong yang sebenarnya agama beliau bukan Islam, tapi karena sudah terbiasa menjawab salam sedari dulu saat orang tua Jefri mengucapkan assalamu'alaikum, kebiasaan itu terbawa sampai sekarang.
To be continued ....