6. Aku Bukan Gembel

1143 Words
"Dapat," sorak Jefri bahagia. Namun saat dia menekan badan keramik itu, sekuat tenaga, sekuat apa pun dia menekannya, keramik itu tidak mau bergerak dan tidak mau terdorong kebelakang. "Kenapa tidak mau bekerja?" heran Jefri dengan perasaan yang sedih bercampur kecewa karena ternyata cara ini tidak bekerja. "Aku yakin sekali kalau cara mendapatkan semua sertifikat emas itu adalah dengan cara ini. Sebenarnya apa yang salah dari caraku. Apa di jaraknya atau di mananya?" Jefri kini duduk bersandar sembari memijat keningnya yang sedang pusing sebab dia sangat butuh uang dalam waktu cepat. Jika dia harus menukarkan uang edisi lama itu, maka jika dihitung, saat Jefri sampai ke Bank Indonesia, kemungkinan jam operasionalnya sudah tutup. Kini Jefri mulai mengingat-ngingat kembali apa yang salah. "Pertama melangkah dari am-" Ting! "Ya, ambang pintu," sorak Jefri senang yang kini telah berhasil menemukan kesalahannya. Bergegaslah dia bangkit dari duduknya, lalu membuka pintu keluar ruangan ini dan menghitungnya kira-kira berapa centi yang telah dia lewatkan. Di awal percobaan, Jefri melangkah dari dalam ruangan yang artinya itu bukan di ambang pintu. Sedangkan ambang pintu ruangan ini cukup dalam. Kini Jefri kembali lagi ke tempat semula setelah menghitung berapa centi kira-kira yang terlewat. Lalu dari titik tadi saat dia menekan badan keramik, Jefri menghitung mundur dan kini dia berada di tempat yang tepat. Dia mulai mendorong badan keramik itu sekuat tenaga. Krek! Kedua bola mata Jefri berbinar saat dia berhasil menemukan tempat yang tepat. Ditekannya terus badan keramik itu lalu pada menit kesekian, Jefri membalikkan badan keramik agar rata dengan lantai di ruangan ini. Kini tangannya merogoh lubang itu yang tidak terlalu dalam. "Dapat," gumam Jefri saat berhasil menyentuh kotak penyimpanan yang berisi sertifikat resmi logam mulia di ruangan ini. Lagi-lagi kotak itu terkunci, namun Jefri sudah tidak kesulitan mencari kata sandi yang tepat karena orang tuanya pasti menggunakan kata sandi yang sama yaitu 3825, kombinasi dari hari ulang tahun mereka bertiga. Kotak itu telah berhasil terbuka, kini Jefri mencari-cari sertifikat yang cocok dengan emas yang nanti akan dia bawa. Sesaat Jefri bertanya-tanya mengapa orang tuanya niat sekali dalam menyembunyikan separuh harta mereka. Apa jangan-jangan orang tua Jefri dulu sudah menaruh rasa curiga kepada semua kerabatnya? "Ah, sudahlah. Lebih baik aku segera pergi dari tempat ini," putus Jefri yang kini menaruh kotak itu di tempat semula dan badan keramik yang tadi dia tekan kini dia tarik perlahan dan setelah itu, badan keramik itu bergerak sendiri sampai posisinya benar-benar rata dengan keramik dinding bagian bawah yang lain. Kini Jefri mencari emas yang kodenya sama degan sertifikat yang dia pegang. Dengan segera, dia menaruhnya di dalam saku celananya lalu pergi dari rumah ini dengan perasaan lega. "Aku harus segera menjual emas ini," ucapnya. *** Singkat cerita, Jefri sudah sampai di toko emas yang lumayan besar, yang biasanya melayani jual beli emas batangan juga. "Heh, kamu mau apa?" tanya Pak Satpam kepada Jefri yang kondisinya memang sudah seperti gembel. "Aku mau masuk ke dalam," jawab Jefri yang sebenarnya kurang tepat. Harusnya dia menjawab ingin menjual emas agar tidak berlarut-larut interogasinya. "Pasti mau ngemis kan? Sana pergi dari tempat ini!" usir Pak Satpam ini. "Kalau mau mengemis jangan di toko kami. Pilih saja toko yang lain." "Aku sedang tidak ingin mengemis, Pak. Aku ingin menjual emas," jawab Jefri kemudian. "Heh," dengus Pak Satpam itu meremehkan. "Jangan mengigau kamu! Gembel sepertimu mana mungkin memiliki emas dari toko ini." Ya, Toko Emas HDM memang hanya menyediakan berbagai jenis emas atau perhiasan yang harganya cukup tinggi dibandingkan dengan toko lain karena kualitas karat emas mereka berada di atas toko-toko lain. "Aku sedang tidak mengigau, Pak, aku benar-benar memiliki logam emas yang ingin aku jual ke toko ini." "Halah, aku tidak akan percaya. Cepat kamu pergi dari tempat ini sebelum para pelanggan kabur karena kehadiranmu. Bisa-bisa Toko Emas HDM jadi turun kelasnya gara-gara kamu." "Terserah Bapak mau percaya atau tidak, tapi aku benar-benar harus masuk ke dalam, permisi," pamit Jefri yang memilih untuk merangsek masuk ke dalam area toko. Pak Satpam itu menghalangi tubuh Jefri dengan sekuat tenaga. Mereka berdua sedang adu tenaga saling dorong mendorong satu sama lain. Brukk! Akhirnya setelah beberapa saat saling dorong mendorong, Jefri kalah dari pertarungan itu. "Aw," ringis pemuda itu kesakitan karena terdorong dengan cukup kuat. Awalnya Pak Satpam itu tersenyum arogan, namun kesombongannya tidak bertahan lama karena pemilik asli Toko HDM berada tidak jauh dari lokasi jatuhnya Jefri. Pak Satpam itu memberikan hormat kepada sang pemilik Toko Emas HDM ini, yang ternyata Toko ini hanya salah satu dari cabang Toko HDM yang lain. "Selamat siang Koh Liyong," sapa Pak Satpam kepada orang tua itu. "Ini ada apa?" tanya Koh Liyong yang ternyata fasih berbahasa Indonesia. "Kenapa kalian bertengkar seperti ini?" "Itu, Koh, gembel itu ingin menerobos masuk ke dalam toko. Makanya aku menghalanginya agar tidak masuk ke dalam. Dia pasti ingin mengemis kepada semua pelanggan di Toko kita." "Benar itu?" kini Koh Liyong bertanya kepada Jefri. "Tidak, Koh. Aku ke sini bukan untuk mengemis, tapi aku ingin menjual emas yang aku miliki." "Halah, jangan bohong kamu," sinis Pak Satpam itu. "Palingan meski punya pun, pasti tidak bersertifikat," tuduh pria berseragam putih itu. "Hasil nyuri, kan." "Tidak, Koh, anda jangan percaya sama ucapan Satpam itu. Aku benar-benar memiliki logam mulia yang bersertifikat. Emas ini juga asli punyaku, bukan hasil curian, apalagi tadahan." Jefri mulai mengeluarkan sertifikat yang tadi dia lipat dan masukkan ke dalam kantung celananya. Segera setelah itu, pemuda itu memberikan kertas yang dia pegang ke arah Koh Liyong. Koh Liyong menerimanya dan mengecek sertifikat emas yang Jefri ulurkan padanya. Kedua bola matanya membulat saat mengenali sertifikat ini yang pernah dia keluar jaman dulu saat orang tua Jefri membeli dari tokonya. "Kamu Jefri anaknya Soemitra, kan?" Kening Jefri mengerut karena Koh Liyong ternyata mengenal ayahnya. Soemitra adalah panggilan akrab para sahabat Ayahnya yang aslinya bukan bernama Soemitra. "Iya, Koh. Saya Jefri putranya mendiang Ayah Soemitra," angguk pemuda itu. "Ayo, cepat ikut saya!" ajak Koh Liyong yang malah mengajak Jefri untuk masuk lewat jalur lain yang lebih spesial. Sebelum Koh Liyong meninggalkan tempat itu, dia sempat terhenti di dekat pekerjanya yang bertugas menjaga keamanan di toko ini. "Jangan kamu ulangi lagi sikap aroganmu tadi. Jika kamu memang tidak percaya karena pelanggan kita berpakaian lusuh, maka minta bukti terlebih dahulu dengan cara baik-baik. Jika cara kerjamu seperti ini, bisa-bisa Toko-ku kehilangan banyak pelanggan sultan yang biasanya berpakaian lusuh seadanya." "Iya, Koh. Maaf," tunduk Pak Satpam itu menyesal. "Untuk kali ini kamu saya lepaskan. Tapi kalau terulang kembali, saya tidak segan-segan menggantikanmu dengan orang lain." "Terimakasih banyak, Koh, karena telah memberikan saya kesempatan kedua. Saya janji tidak akan mengulanginya kembali," sahut Pak Satpam itu. Kini Koh Liyong langsung ngeloyor pergi masuk ke dalam toko lewat jalur khusus dan Jefri mengikutinya dari belakang. Jefri dan Pak Satpam itu sempat beradu pandang, namun Jefri memilih untuk langsung mengalihkan pandangannya dan tidak ada niatan sedikit pun untuk meledek Pak Satpam itu seperti tokoh-tokoh di novel lainnya. To be continued ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD