5. Permainan Perburuan Harta Karun

1108 Words
Saat ini Jefri sedang berada di sebuah ruangan yang sangat besar dengan banyak kotak-kotak kayu yang mengelilingi sebuah gundukan besar persegi panjang di tengah ruangan ini. Jefri berjalan mendekat ke arah gundukan itu dan mulai menyentuh salah satu ujung kain itu lalu menyibakkannya secara perlahan. Kedua bola mata Jefri membulat saat melihat benda yang ditutupi oleh kain lebar itu adalah uang rupiah edisi lama yang sangat sangat sangat buanyaaaaak jumlahnya. Mulut pemuda itu melongo saking tidak percayanya dengan pemandangan ini. Dikuceknya kedua kelopak matanya karena dia takut salah lihat, namun pemandangan yang serupa tidak tiba-tiba hilang setelah matanya dikucek, yang artinya apa yang dia lihat saat ini benar adanya. "Ini uang beneran, kan?" tutur Jefri yang kini mengambil salah satu gepok uang itu dengan tangan yang bergetar. Diceknya nomor seri dari uang-uang itu dan ternyata semua nomor mereka berbeda satu sama lain. Kini Jefri bergegas menarik satu lembar uang dari gepokan uang yang sedang dia pegang untuk mengecek keasliannya. Dan ternyata setelah dia cek, uang yang dia pegang saat ini memenuhi semua kriteria persyaratan sebuah uang layak disebut uang asli. "Aku kaya, aku kaya!" sorak Jefri senang karena kemiskinannya tidak bertahan, kini pemuda itu kembali lagi menjadi orang yang banyak uangnya. Setelah puas dengan tumpukan uang itu, Jefri mulai berjalan ke arah kotak-kotak kayu yang bertumpuk-tumpuk mengelilingi ruangan ini. "Ini apaan ya?" ucap Jefri yang kini mulai penasaran dengan semua kotak-kotak aneh itu. "Jangan bilang kalau ini ... emas," tebak Jefri yang di otaknya terlintas nama logam mulai yang harganya terus naik seiring bertambahnya jaman. Jika ditilik dari kotak-kotak kayu dengan ukiran kayu dan kualitas bahan baku pembuatan kotak-kotak itu yang berkualitas tinggi, tidak mungkin jika di dalam kotak itu hanyalah berisi barang-barang yang tidak berharga. Segeralah Jefri membuka kotak kayu itu. Kedua bola matanya membelalak tidak percaya. Dengan sangat cepat, Jefri membuka penutup kotak-kotak lainnya yang ternyata isinya serupa dengan kotak yang Jefri buka untuk pertama kali. Bergetar hebat tubuh Jefri saat mengetahui semua kotak yang bertumpuk-tumpuk mengelilinginya saat ini berisi emas-emas batangan murni 99.99 atau lebih tepatnya emas 24 karat. "Ini aku bukan kaya lagi, tapi aku akan jadi super super super rich man,"gumam lelaki itu. Jika awalnya buncahan rasa senang memenuhi relung hati Jefri, kini hati lelaki itu dipenuhi oleh rasa takut yang teramat besar. Logikanya jika ada orang lain yang tahu bahwa Jefri memiliki harta sebanyak ini, maka nyawanya akan sangat terancam, bisa-bisa semua orang jahat akan memburunya agar bisa mendapatkan harta karun ini yang sebenarnya adalah tabungan rahasia dari mendiang orang tuanya Jefri. Ditutupnya segera kotak-kotak kayu tadi yang Jefri buka karena dia takut ada orang lainnya yang melihatnya. Namun pemuda itu sepertinya lupa bahwa hanya dia yang berada di tempat ini seorang diri. Mungkin efek rasa takut yang teramat besar membuat kinerja otak Jefri ngeblank seketika. "Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati. Sekarang langkah pertamaku adalah mendapatkan uang terlebih dahulu, agar bisa menyewa sebuah rumah dan menebus Bapak-Bapak itu dari klinik tadi. Tapi aku tidak mungkin menggunakan semua uang-uang itu. Itu uang edisi lama yang keberadaannya sudah ditarik dari peredaran. Jika aku ingin menggunakan uang-uang itu kembali, aku harus menukarkan semua uang itu ke Bank Indonesia. Jalan satu-satunya saat ini adalah menjual satu batang emas ukuran sedang agar bisa mendapatkan uang dengan mudah. Tapi permasalahannya adalah di dalam kotak itu tidak ada sertifikat-sertifikatnya." Jefri mengerang frustasi. Jika kemarin lelaki itu merasa sangat frustasi karena tidak mempunyai uang sepeser pun, maka hari ini lain lagi ceritanya. Dia mempunyai banyak uang dan juga logam mulia tapi tidak bisa menggunakannya sesuka hati. "Ayo berpikir, Jeff! Ingat-ingat semua perkataan Mama dan Papa saat mereka masih hidup." Otak Jefri saat ini sedang berusaha keras mengingat moment-moment masa kecilnya yang pasti ada clue-clue atau dalam bahasa Indonesia petunjuk-petunjuk dari orang tuanya tentang keberadaan semua sertifikat logam mulia di ruangan ini. Jefri mana berani menjual logam mulia itu tanpa sertifikat resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan pembuat emas-emas batangan ini. Jika dia tetap nekat menjualnya tanpa sertifikat resmi maka hanya akan memperumit masalah. Misalnya, Jefri pasti dituduh seorang pencuri oleh petugas toko yang melayani jual beli emas batangan ini. Lalu kemungkinan terburuknya, Jefri dijebloskan ke dalam penjara dan nanti dia akan dikorek-korek semua informasi yang dia miliki oleh para aparat yang pastinya akan menanyakan Jefri dari mana mendapatkan logam-logam mulia itu. Belajar dari pengalaman, Jefri sekarang sudah tidak percaya lagi pada siapa pun. Rasa percayanya pada semua orang telah luntur setelah dia dikhianati oleh Paman Hendrik yang sangat dia percayai itu. Padahal pembawaan Paman Hendrik terlihat natural sekali kebaikannya, tapi, lihat kenyataannya sekarang, bukan hanya hartanya yang dia rebut dari Jefri, namun kekasih yang dicintai oleh pemuda itu pun, dengan teganya direbut oleh Paman Hendrik. Mirisnya, kedua orang itu malah bekerjasama dalam memanipulasi Jefri agar dulu tidak curiga kepada mereka berdua yang sedang diam-diam mengusahakan pemindahan hak kepemilikan atas saham dan semua aset kekayaan pemuda itu. Bukan hal yang tidak mungkin jika nanti para aparat akan gelap mata saat mengetahui semua uang dan logam mulia yang tak terhitung jumlahnya ini. Bisa-bisa mereka juga melakukan kelicikan yang serupa seperti Paman Hendrik yang seolah-olah seperti sedang membantu, tapi diam-diam menusuknya dari belakang. Belajar dari film-film barat yang pernah Jefri tonton, yang di mana para aparat justru adalah para penjahat asli yang sangat mata duitan, yang menyalahgunakan kekuasaannya demi mendapatkan uang dari seorang kurir yang sedang dalam misi mengantarkan sebuah paket yang menjadi kunci dari pencairan sejumlah uang dengan jumlah yang sangat besar dari seorang Ibu yang ingin membawa anak dan neneknya ke negara Adidaya itu melalui jalur laut karena semua proses registrasi dan perijinan pindah negara dipersulit oleh orang-orang tertentu. Dengan semua pengalaman dan tontonan yang pernah pemuda itu dapatkan, membuatnya menjadi cerdas dan harus waspada kepada siapa pun. Ting! Kini otak Jefri menemukan sebuah petunjuk penting lainnya, yang nanti bisa membawanya pada semua sertifikat-sertifikat penting itu. "Dari ambang pintu maju dua langkah dengan jarak lima puluh centi meteran. Lalu geser ke arah kanan lima langkah dengan masing-masing langkah lima puluh centian. Terus maju lagi sepuluh langkah dengan jarak yang serupa, balik kanan dan maju tiga langkah lagi, lalu julurkan kaki kanan ke arah keramik yang menempel pada tem ... bok dinding," ucap Jefri yang kini dengan sangat terburu-buru merundukan tubuhnya dan menekan setengah badan keramik yang menempel pada dinding rumah ini. Lelaki itu kini sudah mengingat dengan sangat jelas, dulu dia sering mendapatkan hadiah-hadiah kecil dari permainan perburuan harta karun seperti ini setiap kali bermain dengan Ayahnya. "Dapat," sorak Jefri bahagia. Namun saat dia menekan badan keramik itu, sekuat tenaga, sekuat apa pun dia menekannya, keramik itu tidak mau bergerak dan tidak mau terdorong kebelakang. "Kenapa tidak mau bekerja?" heran Jefri dengan perasaan yang sedih bercampur kecewa. To be continued ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD