"Pak, klinik terdekat di sekitar sini di sebelah mana ya?" tanya Jefri panik yang saat ini sedang menggendong seorang Bapak-Bapak yang tergigit ular berbisa.
"Ada di ujung jalan itu," tunjuk petugas penjaga pemakaman ini. "Mari saya antar!"
Jefri mengikuti langkah kaki Bapak-Bapak penjaga pemakaman dengan langkah yang cepat karena saat ini orang yang ada di atas gendongannya sedang dalam keadaan kritis.
Sesampainya di sana, pintu klinik langsung dibuka oleh Bapak penjaga makam karena di jam-jam seperti ini pintu klinik sudah dibuka kuncinya oleh Sang Dokter jaga di klinik ini.
"Dokter! Dokter!" panggil Bapak penjaga makam ke seisi ruangan praktek.
Dokter yang bertugas menjaga klinik ini segera keluar dari ruangan bagian dalam.
"Ada apa, Pak?" tanya Dokter itu yang saat ini masih mengenakan kaos oblong karena jam operasional belum dimulai.
"Ada orang yang tergigit ular berbisa, Pak Dokter," jawab Bapak penjaga makam itu yang tadi sudah diberitahu oleh Jefri.
"Cepat dudukkan Bapak-Bapak itu ke atas ranjang! Jangan ditidurkan ya, Mas! Soalnya kalau tiduran, takutnya bisa dari racun ular itu akan cepat menyebar keseluruh tubuh bagian atas, khususnya area jantung," perintah Dokter Pedro. "Itu akan sangat berbahaya sekali."
Jefri segera menurunkan orang yang berada di atas gendongannya ke atas ranjang.
Sang Dokter sempat kaget saat melihat orang yang sedang terluka saat ini. Dia mengenal betul orang ini.
"Tu-" ucapan Dokter itu terpotong karena melihat gerakan kedipan mata dari pasiennya yang memintanya untuk tidak membongkar identitasnya yang asli. Yang merupakan seorang konglomerat pemilik dari perusahaan besar dan juga Rumah Sakit yaitu Tuan Jaelani.
Dokter Pedro mulai bersikap santai kembali dan berpura-pura tidak mengenali Bapak tua itu.
"Ekhem," dehemnya. "Biar saya lihat dulu lukanya, Pak," Dokter Pedro memeriksa bekas luka gigitan ular berbisa di kaki Tuan Jaelani. "Ular yang tadi menggigit kaki Bapak ciri-cirinya seperti apa?" tanya Dokter itu agar bisa mengindentifikasi dengan benar dan bisa memberikan obat penawar yang tepat.
Tuan Jaelani menyebutkan ciri-ciri dari ular berbisa itu dan untung saja di klinik ini meskipun hanya klinik kecil tapi semua obat lengkap tersedia.
Dokter Pedro segera mengambil penawar racun ular berbisa dari lemari penyimpanan obat.
Alat suntik baru pun segera dia ambil, lalu disedotnya obat penawar itu menggunakan suntikan tadi.m
Setelah memastikan di jarum suntiknya terisi cairan obat dan sudah tidak ada udara lagi, dia mulai menyuntikkan penawar racun dari ular berbisa tersebut ke pembuluh darah Tuan Jaelani dan untungnya ular yang menggigit kaki Tuan Jaelani bukan jenis ular berbisa yang mematikan.
***
Beberapa saat kemudian.
Tuan Jaelani yang sudah mulai membaik diperbolehkan pulang, namun sebelum pulang mereka harus membayar biaya pengobatannya terlebih dahulu.
"Dok, saya tidak punya uang," tutur Tuan Jaelani. "Jangankan uang, rumah pun saya tidak punya. Saya baru saja diusir oleh keluarga saya dan saat ini saya hanyalah seorang tunawisma, Dok."
Tuan Jaelani sangat pintar sekali berakting berpura-pura menjadi orang melarat, sampai-sampai kedua lelaki lainnya iba melihat kondisi lelaki tua itu yang sangat memprihatinkan.
Jefri yang tidak tega setelah mendengar cerita Tuan Jaelani yang bernasib sama dengan dirinya mulai angkat bicara.
"Biar saya saja, Dok, yang membayar semua tagihan biaya pengobatan ini, tapi saya baru bisa membayarnya sore ini karena saat ini aku sedang tidak mempunyai uang!" pinta Jeffri menawar.
"Baiklah, kamu boleh membayarnya sore ini. Tapi Bapak ini harus berada di klinik ini dulu sebagai jaminan agar kamu tidak kabur."
"Insyaallah aku tidak akan kabur. Aku pasti akan segera kembali lagi ke sini," yakin Jefri.
"Hm," angguk Dokter Pedro.
"Kalau begitu saya pamit pergi dulu ya, Dok."
"Iya, silakan."
Jefri keluar dari dalam klinik dan mulai berjalan kembali menyusuri jalan raya untuk menuju tempat rahasia penyimpanan uang dan emas yang telah dikumpulkan oleh kedua orangtuanya sebelum mereka meninggal.
Di dalam klinik, Dokter Pedro menepuk pundak Tuan Jaelani dengan perasaan cemas.
"Tuan, kenapa Tuan bisa tergigit ular berbisa? Aku tebak, pasti Tuan sedang pergi diam-diam ya dari rumah?"
"Aku hanya sedang berjalan-jalan di area pemakaman karena ingin menjenguk mendiang istriku, tapi tiba-tiba aku dipatuk ular setelah tadi sempat menginjak tubuh ular itu. Kalau aku bisa memilih ... aku juga tidak akan mau digigit oleh ular."
Tuan Jaelani mengibaskan tangannya dan membuat Dokter Pedro sedikit menjauh darinya. "Dan untuk pertanyaanmu yang kedua, aku sedang mencari orang yang terpercaya makanya aku berkeliaran seperti ini."
"Tuan, apa anda tidak tahu betapa khawatirnya putri-putrimu? Tadi malam mereka berkeliling kota mencarimu ke mana-mana."
"Jangan beritahu mereka kalau aku ada di sini!"
"Tuan~" rengek Dokter Pedro yang sebenarnya ingin segera memberitahukan keberadaan lelaki tua itu pada kedua anak perempuannya Tuan Jaelani.
Tuan Jaelani lagi-lagi mengibaskan tangannya dan membuat Dokter Pedro kembali menjauh darinya.
"Oh iya, menurutmu kira-kira pemuda itu akan kembali lagi tidak ke sini?"
"Mana aku tahu." Dokter Pedro mengendikkan kedua bahunya. "Jika pemuda itu adalah pemuda yang baik, dia pasti akan kembali ke sini. Tapi jika dia adalah pemuda yang tidak baik, maka dia akan tetap membiarkanmu di sini, Tuan."
"Baiklah, aku akan mencoba peruntungan dengan pemuda itu dulu. Jika pemuda itu kembali lagi ke klinik ini maka aku akan memberikan dia tes tambahan."
"Tuan, kenapa Tuan tidak asal menunjuk saja sih orang-orang di sekitar Tuan. Pasti banyak kok yang bisa diandalkan untuk membantu kedua putri Tuan dalam menjalankan bisnis yang telah lama dibangun."
"Yang bisa diandalkan memang banyak. Tapi yang bisa dipercaya itu sangat sedikit sekali. Dan yang benar-benar tulus itu bisa dihitung pakai jari."
"Iya juga sih. Apalagi Tuan juga tidak bisa membedakan mana yang memang tulus dan mana yang hanya modus ingin mengincar harta Tuan saja."
"Nah itu dia. Jika banyak orang-orang kaya yang menjodohkan anaknya dengan anak rekannya yang sama-sama kaya raya juga, aku malah tidak ada niatan sedikit pun untuk menjodohkan anakku seperti halnya mereka. Aku ingin anak-anakku mendapatkan seorang suami yang benar-benar tulus mencintai mereka apa adanya, bukan ada apanya."
"Apakah itu sebabnya Tuan memaksa Nona Jihan dan Nona Audi untuk menyamar dan bekerja di toko kelontong milik Tuan yang ada di pasar kota ini?"
"Tentu saja itu alasannya. Tapi hanya Audi yang mau melakukan hal itu, sedangkan Kakaknya tidak ingin melakukan penyamaran seperti itu. Makanya akhirnya aku yang melakukan penyamaran ini, aku sedang mencari calon suami yang tepat untuk putri pertamaku, Jihan."
"Semoga berhasil, Tuan."
***
Setelah berjalan berjam-jam akhirnya Jefri sampai juga di sebuah rumah kecil tidak berpenghuni. Jefri mendekati rumah ini yang kelihatannya seperti rumah bobrok namun jika diteliti lagi, rumah ini tidak mudah untuk dimasuki karena sistem kunci pintunya menggunakan sistem terbarukan.
Jefri membuka pintu dengan cara menekan tombol-tombol angka yang ada didekat pintu itu. Dia mencobanya dengan kombinasi angka ulang tahunnya, namun gagal, lalu dia mencoba menggunakan kombinasi angka ulang tahun ibunya, namun gagal juga, terus dia mencoba menggunakan kombinasi angka ulang tahun ayahnya yang ternyata gagal juga.
"Sebenarnya kodenya itu apa?" Jefri mulai berpikir keras, lalu dia tiba-tiba teringat dengan ucapan Ibunya yang mengatakan kalau mereka bertiga itu adalah satu keluarga maka semua hal harus melibatkan semuanya.
Kini Jefri mulai menekan angka 3825 dan ternyata berhasil. Pintu rumah itu berhasil dibuka dengan kombinasi tanggal lahirnya dan kedua orangtuanya.
Tiga dari tanggal lahir Jefri, delapan dari tanggal lahir Ibunya, dan dua puluh lima dari tanggal lahir Ayahnya.
Jefri memandangi seisi ruangan yang perabotannya tidak banyak namun ditutupi oleh kain-kain berwarna putih. Debu sudah banyak menumpuk di permukaan kain-kain putih itu.
Jefri mulai menelusuri semua ruangan di rumah ini dan mencari tuas yang dipakai untuk membuka pintu rahasia di rumah ini.
"Ketemu," sorak Jefri bahagia saat melihat ada sebuah pedang di samping patung yang memiliki lambang aliran air.
Digerakannya pedang itu ke arah dalam dan ....
Drrt drrt drrt!
Suara derit pintu yang terbuka.
Saat ini sebuah pintu rahasia lainnya muncul dihadapan Jefri dan pemuda itu langsung meletakkan kedua tangannya disebuah alat pendeteksi sidik jari.
Tring!
Pintu kedua terbuka dan kini Jefri mulai memasuki sebuah ruangan yang di mana ada sebuah gundukan yang berbentuk persegi panjang dengan ketinggian satu meter dan lebar dua meter yang saat ini tertutup oleh sebuah kain putih yang sangat lebar sampai ujung-ujungnya menyentuh lantai di ruangan ini.
Jefri berjalan mendekat ke arah gundukan itu dan mulai menyentuh salah satu ujung kain itu lalu menyibakkannya secara perlahan.
Kedua bola mata Jefri membulat saat melihat benda yang ditutupi oleh kain lebar itu adalah ....
To be continued ....