Jefri berhasil memegang tangan Dita dan membuat wanita itu terhenti dari langkahnya.
"Lepaskan tangan pacarku!" seru seorang lelaki yang berada tidak jauh dari mereka.
Jefri menolehkan kepalanya ke sumber suara dan kedua matanya terbelalak saat melihat orang yang baru saja berbicara adalah Paman Hendrik.
Dita mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Jefri yang saat ini pegangan tangannya melonggar karena kaget melihat kehadiran Paman Hendrik di tempat itu.
Dita berlari ke arah Paman Hendrik dan memeluk lengan lelaki dewasa itu dengan manja.
"Kalian ...." tunjuk Jefri dengan pandangan tidak percaya.
"Iya, kami telah berpacaran. Memangnya kenapa hah?" tanya Dita ketus.
"Jadi selama ini kalian telah berselingkuh di belakangku?!" Jefri benar-benar terpukul.
"Kalau iya memangnya kenapa? Kau keberatan?" sahut Paman Hendrik.
Jefri bergerak secepat yang dia bisa dan berniat untuk memukul kembali Paman Hendrik. Namun secepat kilat Paman Hendrik menahan serangan Jefri, sedangkan Dita sudah menjauh dari perkelahian dua lelaki itu.
Jefri berusaha memukul kembali namun Paman Hendrik dengan sigap menghindarinya lalu memukul balik Jefri. Paman Hendrik terus menerus memukuli Jefri dengan kepalan tangannya. Jefri tidak bisa menghindari semua serangan itu karena dia memang lemah di bidang ilmu beladiri.
Semakin lama Jefri semakin tersudut sampai di ujung trotoar yang berbatasan langsung dengan jalan raya.
Bukk!
Pukulan terakhir yang dilayangkan oleh Paman Hendrik mampu membuat tumbang tubuh Jefri dan tubuh pemuda itu tersungkur ke atas jalanan aspal yang ada di belakangnya.
Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh Jefri, dan dia tidak bisa bangkit dari posisinya saat ini.
Dari kejauhan ada sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali suara klakson dibunyikan agar Jefri segera menyingkir dari jalan yang akan dilalui oleh mobil hitam itu. Namun Jefri tetap bergeming, dia sudah pasrah dengan keadaannya saat ini karena dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.
Paman Hendrik dan Dita hanya melihat saja dari kejauhan dan tidak ada niatan sedikit pun untuk membantu Jefri yang saat ini akan tertabrak mobil.
"Ayo kita pergi!" ajak Paman Hendrik kepada Dita.
"Ayo!" angguk Dita setuju.
Paman Hendrik dan Dita pergi dari tempat itu agar mereka tidak disalahkan karena tidak membantu Jefri. Pemuda itu yang ditinggalkan begitu saja oleh mereka berdua hanya memejamkan kedua matanya karena dia sudah pasrah menerima semua takdir buruknya hari ini.
Ckiiit!
Mobil hitam itu berhenti di waktu yang tepat. Jarak antara mobil itu dengan tubuh Jefri hanya tinggal beberapa centimeter lagi bisa dengan mudahnya melindas tubuh pemuda itu yang sedang terkapar.
Pengemudi dan penumpang dari mobil hitam itu keluar.
"Hei, kau mau mati ya?!" pekik Jihan sang penumpang mobil hitam itu. "Kalau mau mati jangan di sini! Sana cari tempat yang sepi saja, yang tidak ada orang lain yang akan dirugikan dengan kematianmu!" omel Jihan. "Apa kau tahu jika tadi aku tidak menghentikan mobilku tepat waktu, aku pasti akan mengalami kerugian yang besar. Harus memberikan uang santunan, belum lagi harus berurusan dengan polisi, padahal yang salah adalah kau, bukan aku!"
Jefri yang sedang diomeli hanya diam terbaring di atas jalanan aspal.
"Sudahlah kak," seru Audi adiknya Jihan yang satu mobil dengannya mencoba meredakan amarah wanita itu. "Orang ini sepertinya terluka parah kak," lanjut Audi. "Wajar saja kalau dia tidak bisa bangun."
"Paling dia hanya pura-pura," timpal Jihan sinis.
"Dia sepertinya tidak sedang berpura-pura, Kak," sahut Audi. "Ayo kita tolong dia!" ajak Audi berniat untuk menolong Jefri.
"Jangan!" cegah Jihan. "Biarkan saja dia di situ. Kalau kamu mau nolongin dia jangan dimasukin ke mobil kita. Siapa yang tahu kan kalau dia itu penjahat."
"Lalu kita harus bagaimana kak?" tanya Audi cemas.
"Panggil saja ambulans dan kirim dia dengan ambulans itu ke Rumah Sakit," saran Jihan.
"Baiklah," angguk Audi cepat.
Audi menelepon mobil ambulan milik rumah sakit Ayahnya dan meminta agar segera dikirimkan sebuah ambulans ke tempat Audi saat ini.
Jihan dan Audi belum beranjak dari tempatnya karena sedang menunggu mobil ambulans itu datang. Untunglah jalanan sedang lengang sehingga tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang dan mobil hitam milik Jihan tidak menyebabkan kemacetan di jalanan ini.
Mobil ambulan yang Audi dan Jihan tunggu akhirnya tiba. Para petugas kesehatan mulai mengevakuasi Jefri. Audi berpesan kepada salah satu petugas yang membawa Jefri bahwa dia yang akan membayar semua biaya pengobatan lelaki itu.
"Dek," panggil Jihan. "Kamu tidak perlu membayar tagihan laki-laki itu. Dia kan terluka bukan karena kita."
"Aku hanya kasihan saja kak."
"Terserah kamu saja lah, Dek." Jihan akhirnya menyerah dan membiarkan Audi membayar semua tagihan biaya pengobatan Jefri.
Petugas kesehatan yang sudah selesai mengevakuasi Jefri lalu ikut naik ke atas mobil ambulans dan menutup pintu belakang mobil itu. Mobil yang di d******i putih itu mulai melaju menuju Rumah Sakit Citra Medika.
Audi dan Jihan pun mulai kembali masuk ke dalam mobil mereka dan melanjutkan perjalanan yang tadi sempat tertunda.
***
Di Rumah Sakit Citra Medika, Jefri telah selesai diobati dan diminta untuk beristirahat selama beberapa hari di Rumah Sakit ini.
Jefri yang sadar dirinya tidak mempunyai uang ingin pergi saja dari rumah sakit ini namun tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.
"Tenang saja! Semua biaya pengobatanmu sudah dibayar," terang Dokter yang menangani Jefri memberitahukan kabar bahagia itu.
Jefri merasa senang tapi jauh di lubuk hatinya dia merasa risau dan pusing. Besok setelah dia keluar dari Rumah Sakit dia akan tinggal di mana.
Jefri tidak bisa tidur karena peristiwa yang dia alami hari ini, bagaimana bisa dalam sehari dia kehilangan segalanya. Dia tidak menyangka Paman yang sangat dia hormati dan sangat dia percayai bisa melakukan hal yang setega dan sekejam itu padanya. Ditambah lagi Dita yang telah lama berpacaran dengan dirinya pun bisa setega ini mengkhianatinya dan berselingkuh dengan Pamannya sendiri.
"Kalian berdua benar-benar jahat," gumam Jefri tatkala mengingat perbuatan Paman Hendrik dan Dita yang begitu kejam terhadap dirinya.
Jefri yang sudah sangat kelelahan akhirnya mulai terpejam kedua matanya disaat Audi datang berkunjung menengoknya.
"Dia sedang tidur," gumam Audi saat melihat Jefri sedang tertidur.
"Jika Nona Audi datang lebih cepat mungkin pemuda ini belum tertidur. Sayang sekali ya," sahut Dokter yang menemani Audi.
"Tidak apa-apa. Oh iya, keadaan pemuda ini bagaimana?" tanya Audi penasaran.
"Dia hanya luka ringan, besok juga sudah bisa pulang," jawab Dokter itu.
"Syukurlah," timpal Audi.
"Pemuda ini siapanya, Nona?" tanya Dokter itu penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang tadi tidak sengaja hampir ditabrak Kak Jihan," jawab Audi.
"Oh," Dokter itu mengangguk-angguk.
"Oh iya, aku harus pergi karena Puput sebentar lagi pulang dari Singapura," pamit Audi.
"Oh iya. Silakan, Nona." Dokter itu mempersilakan Audi pergi.
***