Asep beranjak dari duduknya, berdiri tegap menghadap Rudin yang menatapnya garang. “Ngapel lah, apa lagi?” kata Asep, menaikkan satu alisnya, membuat Rudin makin emosi. “Kenapa? Kamu marah, Din?” Asep semakin menjengkelkan. Rudin jadi tak sabar, emosinya kian tersulut, dal hatinya dia mengumpat Asep kuat-kuat. Rudin tetap berusaha menahan muntahan amarah di hadapan Lastri, wanita itu menatapnya dan Asep dengan tatapan penuh rasa takut. “Kang Rudin, saya teh bisa jelasin semuanya,” kata Lastri, takut-takut. Tatapan Rudin beralih ke Lastri, ditatapnya wanita itu tajam. “Gak perlu, Neng. Akang akan pergi sekarang,” kata Rudin, tegas. “Maaf kalau Akang mengganggu malam mingguan Neng Lastri dengan tukang sayur ini!” Rudin menatap Asep dengan sorot mematikan. Sementara Lastri terhenyak meny

