31

4899 Words

Langkahnya tertatih saat ia memapaki jalan bebatuan pemakaman yang sepi. Selalu seperti ini. Setiap waktunya. Seakan mereka lupa jika suatu saat nanti mereka juga akan mengalami hal yang sama. Terbaring dengan tanah tertimbun di atas tubuh mereka. Bergelut dalam sepi dan kegelapan. Hari sudah malam. Angin yang berhembus terasa menyakitkan dibanding sebelumnya. Kalandra bersikeras untuk tetap pergi dari sana sejauh mungkin. Tapi ia tidak bisa. Ia tidak bisa meninggalkan wanita itu dengan segala kemungkinan yang ada. Tidak ada lagi tempat berteduh untuknya. Tidak ada atap tebal yang melindunginya. Tidak ada perapian yang menghangatkan tubuhnya. Tidak ada. Ini resikonya karena melarikan diri dari kenyataan. Kenyataan yang membuatnya harus kembali terpuruk karena pergolakan batin yang dialam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD