Sinar matahari pagi menembus celah gorden suite mewah itu, menyentuh kulit Widya yang masih terlelap dalam balutan selimut sutra. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia terbangun bukan karena suara bentakan atau bau alkohol, melainkan karena aroma kopi yang segar dan keheningan yang menenangkan.
Namun, ketenangan itu hancur dalam sekejap ketika matanya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Layarnya terus menyala, menampilkan puluhan notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab.
Paman Darma: DI MANA KAMU, JALANG?! BERANI-BERANINYA KAMU TIDAK PULANG!
Paman Darma: JANGAN PIKIR KAMU BISA SEMBUNYI. AKU AKAN MENYeretmu PULANG DAN MEMBUATMU MENYESAL KARENA SUDAH LAHIR!
Tubuh Widya seketika gemetar hebat. Seluruh kehangatan yang ia rasakan semalam menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang. Ia meringkuk, menutup telinganya seolah suara pamannya itu benar-benar terdengar di ruangan itu. Trauma bertahun-tahun tidak bisa hilang hanya dalam satu malam yang indah.
"Widya?"
Suara lembut namun tegas itu membuat Widya tersentak. Keisha masuk ke kamar dengan mengenakan jubah mandi sutra hitam, memegang dua cangkir kopi. Ia segera menyadari perubahan drastis pada raut wajah Widya.
Keisha meletakkan kopi itu dan duduk di tepi tempat tidur, menarik Widya ke dalam pelukannya. "Dia menghubungimu, bukan?"
Widya hanya bisa mengangguk sambil terisak, menyerahkan ponselnya yang masih bergetar dengan tangan gemetar. Keisha mengambil ponsel itu, membaca pesan-pesan kasar tersebut dengan mata yang perlahan mendingin seperti baja. Tidak ada ketakutan di wajah Keisha, yang ada hanyalah kemarahan yang tenang namun sangat berbahaya.
"Little Bird, lihat aku," Keisha mengangkat dagu Widya. "Sudah kukatakan, dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Pesan-pesan ini hanyalah gonggongan anjing yang ketakutan karena kehilangan mainannya."
Tepat saat itu, ponsel Widya kembali berdering. Nama 'Paman Darma' terpampang jelas.
"Angkat," perintah Keisha tiba-tiba.
"T-tapi aku takut..."
"Angkat, Widya. Aktifkan pengeras suara. Aku ingin kamu mendengar betapa lemahnya dia di hadapanku," suara Keisha tidak terbantahkan.
Dengan jari gemetar, Widya menekan tombol hijau. Seketika, suara teriakan kasar memenuhi ruangan.
"WIDYA! DASAR ANAK TIDAK TAHU UNTUNG! PULANG SEKARANG ATAU AKU AKAN—"
"Atau kamu akan apa, Tuan Darma?" Keisha memotong kalimat itu dengan suara yang sangat tenang, namun penuh intimidasi.
Keheningan terjadi di seberang telepon. Darma sepertinya terkejut mendengar suara wanita asing yang begitu berwibawa. "Siapa ini?! Mana Widya? Jangan ikut campur urusan keluarga kami!"
Keisha tersenyum sinis. "Aku adalah orang yang baru saja membeli seluruh hutang judimu di klub bawah tanah semalam. Aku juga orang yang memegang rekaman CCTV saat kamu dan teman-temanmu melakukan tindakan 'menarik' di rumah itu terhadap keponakanmu sendiri."
Suara di seberang sana kini terdengar gagap. "A-apa maksudmu? Jangan main-main ya!"
"Aku tidak pernah main-main dengan milikku," Keisha merendahkan suaranya, memberikan penekanan pada setiap kata. "Dengarkan baik-baik. Jika kamu berani menghubungi nomor ini lagi, atau berada dalam radius satu kilometer dari Widya, aku tidak akan hanya mengirimmu ke penjara. Aku akan memastikan kamu memohon untuk mati karena aku akan menghancurkan hidupmu hingga tak tersisa sepeser pun. Apa aku cukup jelas, b******n?"
Tanpa menunggu jawaban, Keisha mematikan ponsel itu dan langsung melemparnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Widya terpaku. Ia menatap puing-puing ponselnya, lalu menatap Keisha. Ia tidak pernah melihat seseorang yang begitu berani melawan pamannya—pria yang selama ini ia anggap sebagai monster yang tak terkalahkan. Di mata Widya, Keisha bukan lagi sekadar model cantik; dia adalah pelindung yang memiliki kegelapan yang jauh lebih besar dan lebih kuat untuk menelan kegelapan pamannya.
"Ponsel itu sudah kotor karena pesannya. Aku akan membelikanmu yang baru," ucap Keisha sambil membelai pipi Widya yang masih basah. "Mulai hari ini, namamu adalah Widya Aura. Kamu adalah bagian dariku. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh membuatmu menangis lagi, kecuali aku yang menginginkannya."
Widya memeluk Keisha erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. "Jangan tinggalkan aku, Keisha... tolong jangan biarkan mereka mengambilku lagi."
Keisha membalas pelukan itu dengan sangat posesif, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar seolah sedang menantang dunia. "Mereka harus melangkahi mayatku terlebih dahulu, Little Bird. Tapi ingat satu hal... sebagai bayarannya, kamu tidak boleh lagi memikirkan jalan untuk pergi dariku. Kamu mengerti?"
Widya mengangguk tanpa ragu. Ia lebih memilih menjadi tawanan cinta di dalam istana Keisha daripada menjadi korban di neraka pamannya. Namun, Widya tidak menyadari bahwa perlindungan Keisha datang dengan harga yang sangat mahal: kebebasan jiwanya yang kini mulai terbelenggu oleh obsesi sang model.
Widya masih terisak di pelukan Keisha, tubuhnya masih sedikit bergetar karena sisa-sisa trauma dari suara pamannya di telepon tadi. Keisha tidak melepaskan pelukannya. Ia justru membawa Widya kembali berbaring di tempat tidur, menyelimuti gadis itu dengan kehangatan tubuhnya sendiri.
"Hush... sudah. Dia tidak bisa melukaimu lagi," bisik Keisha sambil mengecup puncak kepala Widya berkali-kali. "Dia hanya debu di bawah sepatuku, Widya. Mulai sekarang, setiap kali kamu merasa takut, ingatlah bahwa aku adalah pemilikmu. Dan tidak ada yang berani mencuri apa yang sudah menjadi milik Keisha Aura."
Keisha bangkit sedikit, meraih sebuah kotak beludru kecil dari laci nakas yang rupanya sudah ia siapkan. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk kunci kecil yang sangat indah dan berkilau.
"Ini apa?" tanya Widya dengan suara serak.
"Ini adalah tanda," jawab Keisha sambil memakaikan kalung itu ke leher Widya. Jemari Keisha yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Widya, membuat gadis itu merinding. "Kunci ini melambangkan bahwa hanya aku yang memegang kendali atas hatimu. Dan selama kalung ini melingkar di lehermu, seluruh dunia akan tahu bahwa kamu berada di bawah perlindunganku."
Widya menyentuh liontin kunci itu. Rasanya dingin, namun memberikan rasa aman yang aneh. Ia merasa seperti seekor burung yang baru saja diberi sangkar emas yang sangat kokoh. Ia tahu, dengan memakai kalung ini, ia telah menyerahkan kedaulatan atas dirinya sendiri kepada Keisha sepenuhnya.
Keisha menatap Widya dengan pandangan yang sangat puas. Ia meraih tangan Widya dan mengecup pergelangan tangannya, tepat di tempat di mana dulu paman Widya sering mencengkeramnya dengan kasar hingga memar.
"Mulai hari ini, aku akan mengganti semua memori buruk itu dengan memoriku," gumam Keisha. "Setiap kali kamu melihat cermin, kamu tidak akan lagi melihat seorang korban. Kamu akan melihat wanita yang dicintai dan dimiliki oleh seseorang yang paling berkuasa di hidupmu."
Keisha kemudian bangkit dan berdiri di samping tempat tidur, menatap Widya dengan otoritas seorang ratu. "Sekarang, hapus air matamu. Kita akan pergi ke studio foto. Aku ada jadwal pemotretan hari ini, dan aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian di sini meskipun hanya semenit. Kamu akan ikut bersamaku sebagai asisten pribadiku. Kamu akan melihat bagaimana duniaku bekerja, dan bagaimana aku akan menjadikanmu pusat dari duniamu yang baru."
Widya mengangguk patuh. Ia tidak punya alasan untuk menolak. Di matanya, Keisha adalah satu-satunya oksigen di tengah ruangan yang hampa. Meski ia sadar bahwa ketergantungan ini mungkin berbahaya, Widya tidak peduli. Ia lebih memilih tenggelam dalam obsesi Keisha daripada harus kembali ke daratan yang penuh dengan duri masa lalunya.
"Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau, Keisha," bisik Widya patuh.
Keisha tersenyum lebar, senyuman yang sangat cantik namun menyembunyikan sisi gelap yang sangat pekat. Ia tahu, Widya sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Burung kecil itu kini sudah berhenti mengepakkan sayap untuk kabur; ia justru mulai nyaman berdiam di dalam genggaman sang predator.