Studio foto itu tampak kacau dan bising. Kabel-kabel melintang di lantai, asisten lampu berlarian ke sana kemari, dan aroma kopi bercampur dengan aroma hairspray yang menyengat. Namun, begitu Keisha melangkah masuk dengan Widya di sampingnya, suasana seolah membeku. Keisha memiliki aura yang mampu menghentikan waktu.
Widya menunduk, tangannya menggenggam erat tali tas kecilnya. Ia merasa sangat kecil di tengah orang-orang yang tampak begitu modis dan percaya diri. Apalagi, kalung kunci emas putih pemberian Keisha terasa berat di lehernya—sebuah pengingat konstan tentang siapa pemiliknya sekarang.
"Keisha! Akhirnya kamu datang! Kita sudah telat sepuluh menit!" teriak seorang pria dengan gaya eksentrik, sang fotografer. Matanya kemudian beralih pada gadis di samping Keisha. "Dan siapa ini? Model baru? Wajahnya sangat... innocent."
Keisha merangkul pinggang Widya dengan posesif, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka menempel. "Ini Widya. Asisten pribadiku. Dan jangan pernah berpikir untuk menjadikannya model, Marco. Dia tidak untuk dipamerkan kepada dunia. Dia hanya untuk mataku."
Marco tertegun, lalu tertawa canggung. "Oke, oke. Sangat protektif seperti biasanya, ya? Ayo, cepat ganti baju!"
Keisha membawa Widya ke ruang ganti pribadinya yang luas. Di sana, ia mendudukkan Widya di sofa beludru. "Duduk di sini. Jangan pergi ke mana pun tanpa izinku. Jika ada yang mencoba mengajakmu bicara, jangan dijawab. Mengerti, Little Bird?"
Widya mengangguk patuh. "Iya, Keisha."
Selama dua jam berikutnya, Widya menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Di bawah lampu studio yang terang, Keisha berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia sangat profesional, dingin, dan sangat memikat. Setiap gerakannya di depan kamera adalah seni. Namun, di sela-sela pemotretan, mata Keisha tidak pernah benar-benar lepas dari Widya. Setiap kali ada jeda, Keisha akan menatap ke arah sofa, memastikan Widya masih di sana, masih dalam jangkauan pandangannya.
Tiba-tiba, seorang asisten pria mendekati Widya dan menawarkan sebotol air minum. "Kamu asisten baru Keisha? Kamu terlihat sangat tegang. Mau minum?"
Belum sempat Widya menjawab, suara dingin Keisha menggelegar dari tengah studio. "Jauhkan tanganmu darinya, Leo!"
Seluruh studio terdiam. Keisha berjalan mendekat dengan gaun high-fashion yang menjuntai, wajahnya tampak sangat marah. Ia menyambar botol air itu dari tangan si asisten dan melemparkannya ke lantai.
"Aku sudah bilang, jangan ada yang menyentuhnya atau mengajaknya bicara," desis Keisha tepat di depan wajah pria malang itu. "Dia asistenku, bukan teman bicaramu. Kembali bekerja!"
Widya gemetar. Ia merasa malu sekaligus takut karena menjadi pusat perhatian. Namun, saat Keisha kembali menatapnya, kemarahan itu menghilang, digantikan oleh tatapan obsesif yang dalam. Keisha berlutut di depan Widya, mengabaikan semua orang yang sedang menonton mereka.
"Kamu baik-baik saja? Dia tidak menyentuhmu, kan?" tanya Keisha sambil mengelus tangan Widya.
"T-tidak, dia hanya ingin memberi minum," jawab Widya lirih.
"Aku yang akan memberimu minum. Aku yang akan memberimu makan. Aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu," ucap Keisha dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Kamu tidak butuh bantuan orang lain selama ada aku. Ingat itu."
Keisha kemudian mencium kening Widya di depan semua orang—sebuah proklamasi kepemilikan yang sangat nyata. Semua orang di studio itu kini tahu bahwa gadis kecil yang tampak rapuh itu adalah wilayah terlarang.
Saat pemotretan berlanjut, Widya menyadari sesuatu. Di rumah pamannya, ia adalah tawanan yang disiksa. Di sini, di dunia Keisha, ia adalah tawanan yang dipuja. Namun tetap saja, ia adalah seorang tawanan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin ruang ganti, menyentuh kalung kunci itu, dan menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kehendak bebas. Tapi anehnya, di bawah tatapan tajam dan posesif Keisha, Widya merasa lebih "hidup" daripada sebelumnya.
"Ayo pulang," ucap Keisha setelah selesai, suaranya kembali melembut saat ia menarik Widya keluar dari studio. "Malam ini, aku punya kejutan lain untukmu. Sesuatu yang akan membuatmu lupa bahwa dunia di luar sana pernah ada."
Widya mengikuti langkah Keisha menuju mobil, membiarkan dirinya ditarik semakin jauh ke dalam labirin obsesi sang model, tanpa tahu bahwa di luar sana, sebuah badai baru sedang bersiap untuk menghancurkan kedamaian semu mereka.
Setelah insiden dengan asisten tadi, suasana di studio menjadi sangat canggung, namun Keisha tampak sama sekali tidak peduli. Ia justru terlihat lebih bersemangat dalam pemotretannya, seolah-olah amarahnya tadi memberinya energi tambahan. Widya hanya bisa duduk terpaku, menundukkan kepala sedalam mungkin. Ia bisa merasakan bisikan-bisikan halus dari para kru di pojok ruangan, namun ia terlalu takut untuk sekadar melirik ke arah mereka.
Tiba-tiba, Keisha menghentikan sesi pemotretannya meskipun sang fotografer belum selesai memberikan instruksi. Ia berjalan menghampiri Widya, melepaskan sepatu hak tingginya, dan menarik Widya untuk berdiri.
"Ikut aku," perintahnya singkat.
Keisha membawa Widya ke belakang background kain hitam yang besar, tempat yang agak tersembunyi dari pandangan orang-orang studio. Di sana, di antara kegelapan dan tumpukan peralatan lampu, Keisha menyudutkan Widya ke dinding. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Widya, mengurung gadis itu sepenuhnya.
"Kenapa kamu menunduk terus, Little Bird? Apa kamu malu menjadi milikku di depan mereka?" tanya Keisha, suaranya kini terdengar lebih rendah dan mengintimidasi.
"A-aku hanya merasa tidak enak... semua orang melihat kita," jawab Widya terbata-bata.
Keisha tersenyum miring, lalu jarinya mulai bermain dengan liontin kunci di leher Widya. "Biarkan mereka melihat. Aku ingin mereka semua tahu bahwa kamu adalah satu-satunya alasan aku masih ingin berada di tempat membosankan ini. Tapi ingat, Widya... jika aku melihatmu memberikan senyum sedikit saja pada pria lain seperti tadi, aku tidak akan segan-segan mengunci kamu di dalam suite-ku dan tidak akan membiarkanmu melihat cahaya matahari selama seminggu. Apa kamu ingin itu terjadi?"
Widya menggeleng cepat, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan aura kekuasaan yang begitu pekat memancar dari Keisha. "Tidak, Keisha... aku tidak mau."
"Bagus," Keisha mengecup leher Widya, tepat di atas kalung emas putih itu. "Aku ingin kamu hanya menatapku. Hanya mendengar suaraku. Di dunia ini, hanya ada aku dan kamu. Yang lainnya hanyalah figuran yang tidak penting."
Keisha menarik Widya kembali ke area tengah studio, namun kali ini ia tidak membiarkan Widya duduk di sofa. Ia menyuruh Widya berdiri tepat di samping fotografer, agar Widya bisa melihat setiap jepretan kamera yang menangkap kecantikan Keisha. Keisha ingin Widya terobsesi padanya, sama seperti ia terobsesi pada Widya.
Setiap kali lampu flash menyala, Keisha memberikan tatapan yang sangat tajam ke arah lensa, namun Widya tahu bahwa tatapan itu sebenarnya ditujukan padanya. Itu adalah tatapan seorang penakluk yang baru saja mendapatkan wilayah baru. Di tengah kebisingan studio, Widya menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar asisten. Ia adalah sebuah trofi yang sangat dijaga, sebuah benda berharga yang telah kehilangan suaranya sendiri di bawah bayang-bayang sang model papan atas.
Saat hari berakhir dan mereka berjalan menuju parkiran, Widya merasa lelah secara mental, namun ada perasaan candu yang mulai tumbuh. Ia mulai terbiasa dengan rasa aman yang aneh ini—rasa aman di dalam sangkar yang kian hari kian menyempit.