Malam itu, suite 909 terasa sangat sunyi, namun bukan kesunyian yang menenangkan. Widya duduk di tepi tempat tidur, menatap kalung kunci emas di lehernya melalui pantulan cermin. Perkataan Keisha di studio tadi masih terngiang-ngiang: Hanya aku yang boleh memilikimu.
Tiba-tiba, suara bel pintu suite berbunyi. Bukan bunyi bel pelayan hotel yang sopan, melainkan bunyi yang ditekan berkali-kali dengan kasar.
Widya tersentak. Jantungnya berpacu cepat. Siapa yang berani datang ke lantai pribadi Keisha malam-malam begini? Ia melihat Keisha keluar dari ruang kerja dengan wajah yang sangat tenang, namun matanya berkilat tajam. Keisha membawa sebuah tablet yang terhubung dengan kamera pengawas di depan pintu.
"Little Bird, masuklah ke dalam kamar mandi. Sekarang," perintah Keisha tanpa menoleh. Suaranya dingin, jenis suara yang tidak menerima bantahan.
"Siapa itu, Keisha?" tanya Widya gemetar.
"Hanya tikus yang mencoba masuk ke istana. Masuk, Widya. Jangan keluar sampai aku memanggilmu."
Widya patuh. Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Dari balik pintu, ia bisa mendengar suara pintu suite terbuka, diikuti oleh suara teriakan yang sangat ia kenali.
"DI MANA DIA?! KELUARKAN KEPONAKANKU SEKARANG JUGA, JALANG!"
Itu suara Paman Darma. Widya menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis. Bagaimana pria itu bisa menemukan tempat ini? Bagaimana dia bisa melewati keamanan hotel?
"Tuan Darma," suara Keisha terdengar sangat santai, bahkan cenderung meremehkan. "Kamu lebih nekat dari yang aku kira. Apa uang hutangmu yang baru saja aku lunasi masih kurang untuk membuatmu diam?"
"Jangan coba-coba menyogokku! Widya itu aset keluargaku! Kamu pikir kamu bisa menculiknya begitu saja hanya karena kamu punya uang?!" Darma berteriak, suaranya terdengar semakin mendekat.
"Aset?" Keisha tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan. "Kamu menyebut manusia yang kamu hancurkan sebagai aset? Lucu sekali. Tapi sayangnya, di duniaku, barang yang sudah aku beli tidak bisa dikembalikan. Dan Widya... sudah menjadi milikku sepenuhnya."
"AKU AKAN MELAPORKANMU KE POLISI! PENCULIKAN!"
"Silakan," tantang Keisha. Widya bisa membayangkan Keisha sedang berdiri dengan gaya angkuhnya, menatap remeh pria kasar itu. "Tapi sebelum kamu sampai ke kantor polisi, aku punya sesuatu yang lebih menarik. Lihat layar ini."
Keheningan terjadi selama beberapa detik. Widya hanya bisa mendengar napasnya sendiri yang memburu.
"Itu... dari mana kamu mendapatkan itu?!" suara Darma tiba-tiba mengecil, berubah menjadi penuh ketakutan.
"Aku punya mata di mana-mana, Darma. Foto-fotomu saat menjual obat-obatan terlarang di klub malam, rekaman saat kamu mencoba menjual Widya kepada teman-teman judimu... semuanya ada di tanganku. Satu pesanku kepada pengacaraku, dan kamu tidak akan hanya membusuk di penjara, tapi kamu akan 'menghilang' bahkan sebelum sidik jarimu diambil."
Suara Keisha kini berubah menjadi bisikan yang mematikan. "Sekarang, pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku. Dan jika aku melihat wajahmu lagi, aku akan memastikan lidahmu tidak akan bisa berteriak lagi selamanya."
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru pergi, diikuti oleh bantingan pintu yang keras. Suasana kembali hening.
Pintu kamar mandi diketuk pelan. "Widya, keluar."
Widya membuka pintu dengan ragu. Ia melihat Keisha berdiri di tengah ruangan, merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. Keisha tampak seperti tidak baru saja mengancam nyawa seseorang. Ia menghampiri Widya dan memeluknya erat.
"Sudah berakhir. Dia tidak akan pernah kembali lagi," ucap Keisha lembut.
Widya mendongak, menatap Keisha dengan perasaan campur aduk. "Bagaimana kamu bisa tahu semua tentang dia? Kamu... kamu memata-matainya?"
Keisha tersenyum misterius, jemarinya mengelus bibir Widya. "Aku melakukan apa pun untuk melindungi apa yang menjadi milikku, Widya. Apa pun. Kamu tidak perlu takut pada pamanmu lagi. Kamu hanya perlu takut padaku jika kamu mencoba pergi dariku. Mengerti?"
Widya hanya bisa mengangguk pelan. Di satu sisi, ia merasa sangat lega karena pamannya telah pergi. Namun di sisi lain, ia baru menyadari bahwa penyelamatnya adalah wanita yang jauh lebih berbahaya dan memiliki kekuasaan yang tak terbatas.
Widya masih terpaku di pelukan Keisha, tubuhnya terasa lemas seperti jeli. Meskipun suara Paman Darma sudah hilang dari balik pintu, gema teriakannya masih berputar-putar di kepala Widya. Keisha bisa merasakan detak jantung Widya yang tak beraturan di dadanya. Dengan gerakan yang sangat protektif, Keisha membimbing Widya untuk duduk di sofa panjang yang menghadap ke arah jendela besar kota.
Keisha berlutut di depan Widya, melepaskan tangan Widya yang mencengkeram erat bantal sofa. Ia menatap Widya dengan pandangan yang sangat intens, seolah sedang mencoba menanamkan setiap kata yang akan ia ucapkan ke dalam alam bawah sadar gadis itu.
"Kenapa kamu masih gemetar, Little Bird? Bukankah aku sudah menyingkirkannya untukmu?" tanya Keisha, suaranya kini selembut sutra namun mengandung beban yang sangat berat.
"Aku... aku hanya takut jika dia kembali lagi dengan membawa lebih banyak orang," bisik Widya dengan suara parau.
Keisha tertawa kecil, suara tawa yang tidak mencapai matanya. Ia meraih jemari Widya dan menciumnya satu per satu dengan gerakan yang sangat lambat, sangat terencana. "Dia tidak akan kembali. Orang-orang seperti dia hanya berani pada orang yang lebih lemah. Begitu mereka bertemu dengan seseorang yang bisa menghapus keberadaan mereka dari muka bumi ini hanya dengan satu kedipan mata, mereka akan lari seperti tikus got."
Keisha memajukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Widya bisa mencium aroma parfum mahal Keisha yang kini bercampur dengan aroma kekuasaan yang mengintimidasi.
"Kamu harus paham satu hal, Widya. Di luar sana, dunia adalah tempat yang busuk. Pamanmu, teman-temannya, bahkan orang-orang di studio tadi... mereka semua hanya ingin mengambil sesuatu darimu. Hanya aku yang memberikan segalanya untukmu. Tapi sebagai gantinya, aku tidak ingin ada satu pun bayangan masa lalu yang masuk ke dalam ruang ini."
Keisha berdiri, menarik Widya untuk ikut berdiri, lalu membawanya menuju balkon suite yang sangat tinggi. Angin malam Jakarta yang dingin menerpa wajah mereka. Keisha memeluk Widya dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Widya dan meletakkan dagunya di bahu gadis itu.
"Lihat ke bawah sana, Widya. Semua lampu itu, semua orang itu... mereka tidak ada artinya bagiku. Bagiku, duniaku hanyalah apa yang ada di dalam pelukanku sekarang. Aku ingin kamu juga merasakan hal yang sama. Aku ingin kamu merasa bahwa jika kamu melangkah satu inci saja keluar dari jangkauanku, kamu akan jatuh ke dalam kegelapan yang tidak ada dasarnya."
Kalimat itu bukan sekadar kiasan; itu adalah sebuah peringatan. Keisha sedang membangun sebuah realitas di mana hanya ada dia sebagai satu-satunya pelindung dan sumber kehidupan bagi Widya.
"Mulai besok, aku akan mengganti semua kartu identitasmu. Aku akan memberikanmu nama baru, kehidupan baru, dan keamanan yang belum pernah kamu bayangkan. Tapi jangan pernah berpikir untuk mengkhianati kepercayaan ini, Little Bird. Karena jika pamanmu saja bisa aku buat menghilang, bayangkan apa yang bisa aku lakukan jika hatiku hancur karena dirimu."
Widya tidak menjawab. Ia hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan posesif itu. Ia merasa aman, ya, sangat aman. Namun di saat yang sama, ia merasa seperti seekor burung yang sayapnya baru saja dipotong dengan sangat rapi oleh seseorang yang mengaku sangat mencintainya.