Pagi itu, suite 909 tidak lagi terasa seperti tempat persinggahan sementara. Saat Widya terbangun, ia menemukan beberapa tas belanja besar bermerek ternama sudah tertata rapi di sofa. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah map kulit berwarna hitam yang terletak di atas meja makan, tepat di samping sarapan mewah yang masih mengepulkan uap.
Keisha sedang berdiri di balkon, mengenakan jubah sutra panjang, membelakangi Widya sambil menyesap kopi hitamnya. Aura Keisha pagi ini terasa lebih dingin dan sangat berwibawa.
"Buka map itu, Widya," ucap Keisha tanpa menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepalanya.
Widya mendekat dengan ragu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen resmi: paspor baru, kartu identitas, dan sertifikat lahir. Namun, matanya terbelalak saat melihat nama yang tertera di sana.
Aura Widya Keisha.
"Ini... ini namaku?" tanya Widya dengan suara nyaris berbisik. "Kenapa namaku berubah?"
Keisha membalikkan tubuhnya, berjalan perlahan mendekati Widya. Ia mengambil dokumen itu dari tangan Widya dan mengelus nama baru yang tertera di sana. "Widya yang dulu sudah mati semalam, tepat saat pamanmu keluar dari pintu itu. Widya yang penuh luka, Widya yang menjadi korban... dia sudah tidak ada. Sekarang, kamu adalah Aura. Kamu adalah bagian dari namaku, bagian dari hidupku."
"Tapi, identitas asliku..."
"Identitas aslimu hanya akan membawamu kembali ke neraka itu, sayang," potong Keisha dengan lembut namun tegas. Ia menangkup wajah Widya, menatapnya dengan pandangan yang sangat posesif. "Dengan nama ini, tidak ada satu pun orang dari masa lalumu yang bisa melacakmu. Kamu bersih. Kamu baru. Kamu milikku sepenuhnya secara hukum dan secara jiwa."
Widya merasa pusing. Segala sesuatunya bergerak terlalu cepat. Keisha tidak hanya mengambil tubuhnya dan hatinya, tapi sekarang juga mengambil sejarah hidupnya. Ia merasa identitas aslinya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh label baru yang diberikan oleh wanita di depannya ini.
"Sekarang, buang semua pakaian lama yang kamu bawa dari rumah itu ke dalam tempat sampah," perintah Keisha sambil menunjuk ke arah tas plastik besar di pojok ruangan. "Aku sudah menyiapkan yang baru. Mulai hari ini, kamu hanya akan mengenakan apa yang aku pilihkan. Kamu akan makan apa yang aku berikan. Dan kamu akan pergi hanya ke tempat yang aku izinkan."
Widya menatap tas-tas belanja mewah itu. Gaun-gaun indah, perhiasan, dan sepatu mahal. Semuanya tampak sempurna, namun bagi Widya, itu semua terasa seperti seragam penjara yang sangat cantik.
"Keisha, apakah aku... apakah aku masih boleh menghubungi teman-teman lamaku? Atau setidaknya melihat dunia luar?" tanya Widya dengan penuh harap.
Keisha tersenyum, namun senyumnya tidak sampai ke mata. Ia memeluk Widya dari belakang, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Widya berdiri. "Teman? Little Bird, teman-temanmu tidak ada yang mencarimu saat kamu disiksa, bukan? Hanya aku yang datang. Hanya aku yang peduli. Di dunia ini, kamu tidak butuh siapa pun selain aku. Jika kamu rindu dunia luar, lihatlah dari jendela ini. Itu sudah cukup."
Keisha kemudian mengeluarkan sebuah ponsel baru yang sangat mahal dan memberikannya kepada Widya. "Ini ponselmu yang baru. Tidak ada nomor pamanmu, tidak ada nomor orang lain. Hanya ada nomor-nomorku: nomor pribadiku, nomor kantorku, dan nomor keamanan hotel. Gunakan ini hanya untuk bicara denganku."
Widya menerima ponsel itu dengan tangan yang terasa berat. Ia merasa seperti sedang dikurung di dalam menara gading. Keisha benar-benar sedang membangun tembok tinggi di sekelilingnya, memisahkannya dari realitas hingga satu-satunya realitas yang tersisa bagi Widya hanyalah Keisha.
"Jangan terlihat sedih begitu," Keisha mencium pipi Widya. "Hari ini kita akan pergi ke butik untuk menyesuaikan beberapa pakaianmu. Aku ingin dunia melihat betapa indahnya asisten pribadiku, meskipun mereka tidak akan pernah bisa memilikimu."
Saat mereka bersiap-siap, Widya menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan gaun sutra baru pilihan Keisha yang sangat pas di tubuhnya. Ia terlihat sangat cantik, jauh lebih cantik dari sebelumnya. Namun, saat ia melihat matanya sendiri, ia melihat kekosongan. Widya yang lama memang sudah mati, namun ia tidak yakin apakah Aura yang baru ini benar-benar hidup, atau hanya sebuah boneka cantik yang dikendalikan oleh benang-benang emas milik Keisha.
Widya berjalan menuju pojok ruangan, tempat tas plastik besar itu berada. Dengan tangan yang masih ragu, ia membuka tas lusuh miliknya yang ia bawa dari rumah pamannya. Di dalamnya hanya ada beberapa potong kaos oblong yang sudah menipis, sebuah buku harian kecil yang sampulnya sudah robek, dan selembar foto usang kedua orang tuanya yang diambil saat ia masih kecil.
"Buang semuanya, Widya," suara Keisha terdengar dingin dari arah meja makan.
Widya meremas foto itu. "Keisha, bolehkah aku menyimpan foto ini saja? Ini satu-satunya kenanganku bersama Ayah dan Ibu."
Keisha berjalan menghampiri Widya. Langkah kakinya yang anggun namun penuh penekanan terdengar jelas di atas lantai marmer. Ia berdiri tepat di hadapan Widya, menatap foto usang itu selama beberapa detik sebelum beralih menatap mata Widya yang mulai berkaca-kaca.
"Kenangan adalah beban, sayang," ucap Keisha pelan. Ia mengambil foto itu dari tangan Widya dengan gerakan yang halus namun tak bisa ditolak. "Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Mereka meninggalkanmu di tangan pamanmu yang kejam. Jika mereka benar-benar mencintaimu, mereka tidak akan membiarkanmu hancur seperti itu. Foto ini hanya akan mengingatkanmu pada rasa sakit dan kesepian."
Sebelum Widya sempat memprotes, Keisha merobek foto itu menjadi kepingan-kepingan kecil tepat di depan wajah Widya.
Widya tersentak, napasnya tertahan. Ia merasa seolah bagian terakhir dari jiwanya baru saja ikut hancur. Namun, sebelum ia bisa menangis, Keisha sudah memeluknya, membenamkan wajah Widya di bahunya yang wangi.
"Menangislah sepuasmu sekarang, Aura," bisik Keisha, sengaja menggunakan nama baru itu untuk memaksanya terbiasa. "Ini adalah tangisan terakhirmu untuk masa lalu. Mulai hari ini, aku adalah ayahmu, ibumu, dan duniamu. Kamu tidak butuh kertas tua itu untuk merasa dicintai. Aku di sini. Aku nyata."
Widya hanya bisa terisak dalam pelukan Keisha. Ia merasa hampa, namun di saat yang sama, ia merasa sangat bergantung pada kehangatan yang diberikan Keisha. Keisha sedang menghancurkan pondasi lama Widya agar ia bisa membangun bangunan baru di atasnya—bangunan yang pintunya hanya bisa dibuka oleh Keisha.
Setelah tangis Widya mereda, Keisha membimbingnya ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia memakaikan lip gloss tipis ke bibir Widya dan merapikan rambutnya.
"Sekarang, pakai sepatu ini," Keisha memberikan sepasang sepatu hak tinggi bermerek. "Kita akan keluar. Aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah milikku yang paling berharga. Ingat, saat kita di butik nanti, jangan lepaskan tanganku. Jangan menatap siapa pun kecuali aku. Aku tidak suka berbagi perhatianmu dengan orang lain, bahkan dengan bayangan di cermin sekalipun."
Widya mengangguk lemah. Ia merasa seperti robot yang baru saja diprogram ulang. Saat mereka melangkah keluar dari suite 909, Widya menatap pintu itu untuk terakhir kalinya. Ia tahu, gadis bernama Widya benar-benar telah tertinggal di dalam sana, terkunci selamanya, digantikan oleh Aura—sebuah mahakarya cantik yang diciptakan oleh obsesi Keisha Aura.