BAB 8: Cemburu yang Membakar

1036 Words
Butik eksklusif di kawasan pusat perbelanjaan mewah itu telah dikosongkan secara khusus untuk Keisha. Tidak ada pelanggan lain, hanya deretan pakaian desainer yang menggantung seperti karya seni. Namun, kehadiran beberapa asisten pria yang bertugas menyiapkan koleksi terbaru membuat rahang Keisha tampak mengeras. Widya, yang kini telah berganti nama menjadi Aura, berjalan dengan langkah canggung di atas hak tingginya. Ia mengenakan terusan sutra putih yang membuatnya tampak sangat murni, kontras dengan Keisha yang selalu tampil dengan balutan pakaian gelap yang dominan. "Cobalah gaun ini, Aura," perintah Keisha sambil menunjuk sebuah gaun malam dengan punggung terbuka. "Aku ingin melihat bagaimana warna merah ini menyatu dengan kulitmu." Widya mengangguk dan berjalan menuju ruang ganti. Saat ia keluar, seorang asisten butik pria bernama Adrian mendekatinya dengan sopan untuk membantu merapikan ritsleting di bagian belakang gaun yang agak sulit dijangkau. "Permisi, Nona. Biarkan saya bantu merapikan bagian belakangnya agar jatuhnya sempurna di tubuh Anda," ucap Adrian ramah. Jarinya baru saja menyentuh ujung kain di punggung Widya saat sebuah bayangan gelap tiba-tiba menyambar. BRAK! Keisha telah berada di sana dalam sekejap. Ia mencengkeram pergelangan tangan Adrian dengan tenaga yang mengejutkan, lalu mendorong pria itu hingga menabrak rak pakaian di belakangnya. "Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya?!" desis Keisha. Suaranya rendah, namun penuh dengan kebencian yang murni. Matanya berkilat, memancarkan amarah yang membuat seluruh ruangan seketika terasa mencekam. "M-maaf, Nona Keisha. Saya hanya ingin membantu merapikan gaunnya—" "Aku tidak butuh bantuanmu! Tangannya, kulitnya, punggungnya... tidak ada satu pun inci dari dirinya yang boleh disentuh oleh tangan kotor seperti milikmu!" Keisha maju selangkah, menatap pria itu seolah ingin melenyapkannya saat itu juga. "Keluar dari sini. Sekarang! Sebelum aku memastikan karirmu berakhir di lantai ini." Pria itu gemetar hebat dan segera berlari menuju ruang belakang. Asisten butik lainnya hanya bisa berdiri mematung, tidak berani bernapas. Keisha berbalik ke arah Widya. Napasnya masih memburu. Ia menarik Widya dengan kasar ke arah cermin besar, memutar tubuh gadis itu hingga punggungnya menghadap cermin. Dengan tangan gemetar karena emosi, Keisha sendiri yang menarik ritsleting itu hingga tertutup sempurna. "Kenapa kamu diam saja saat dia menyentuhmu, Aura?" tanya Keisha, matanya menatap tajam melalui pantulan cermin. "Kenapa kamu membiarkan pria asing itu mendekatimu?" "Dia hanya ingin membantu, Keisha... aku tidak tahu kalau itu akan membuatmu marah," bisik Widya ketakutan. Keisha memeluk Widya dari belakang, namun pelukannya kali ini terasa sangat menyesakkan. Ia membenamkan wajahnya di leher Widya, menghirup aroma gadis itu seolah sedang menandai wilayah. "Aku benci melihat orang lain menatapmu, apalagi menyentuhmu. Kamu milikku, Aura. Aku sudah memberikan segalanya untuk menjagamu tetap bersih dari dunia luar. Jangan biarkan siapa pun merusaknya." Keisha membalik tubuh Widya sehingga mereka berhadapan. Ia mencengkeram kedua bahu Widya, memaksa gadis itu menatapnya. "Katakan padaku. Siapa pemilikmu?" Widya menelan ludah, air mata mulai menggenang. "K-kamu, Keisha." "Ulangi lagi. Lebih jelas." "Hanya kamu pemilikku, Keisha," ucap Widya dengan suara bergetar. Keisha tersenyum puas, sebuah senyum yang tampak begitu cantik sekaligus mengerikan. Ia mengusap air mata di pipi Widya dengan ibu jarinya. "Anak pintar. Jangan pernah lupakan itu. Di tempat ini, di duniaku, hanya ada aku yang boleh menyentuhmu. Aku akan membeli seluruh isi butik ini sekarang juga agar kita bisa pulang. Aku tidak suka caramu dilihat oleh orang-orang di sini." Widya hanya bisa terdiam saat Keisha memanggil manajer butik dan menyerahkan kartu kreditnya tanpa melihat angka yang tertera. Ia menyadari bahwa cemburu Keisha bukanlah bentuk cinta biasa; itu adalah bentuk obsesi yang ingin mengisolasi dirinya dari setiap interaksi manusia. Di bawah kemewahan kain sutra dan perhiasan mahal ini, Widya merasa dirinya semakin tenggelam dalam kegelapan yang bernama Keisha Aura—sebuah penjara yang terbuat dari emas dan obsesi yang membara. Suasana di dalam mobil sedan mewah itu terasa begitu berat, seolah udara di dalamnya membeku. Keisha mengemudi dengan kecepatan tinggi, jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Widya hanya bisa meringkuk, menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat jalanan. Ia masih bisa merasakan sisa-sisa getaran amarah Keisha yang meledak di butik tadi. Tiba-tiba, Keisha membanting setir ke bahu jalan yang sepi dan mengerem mendadak. Widya tersentak ke depan, napasnya memburu. "Kenapa kamu tidak menatapku, Aura?" suara Keisha terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman. Widya perlahan menoleh, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku hanya takut, Keisha. Kamu terlihat sangat marah." Keisha melepaskan sabuk pengamannya dan condong ke arah Widya, mengurung gadis itu di kursi penumpang. Ia meraih wajah Widya dengan kedua tangannya, tidak kasar, namun sangat posesif. Matanya yang tajam menelusuri setiap inci wajah Widya seolah-olah sedang mencari jejak sentuhan pria asisten butik tadi. "Aku marah karena aku tidak tahan membayangkan ada tangan lain yang menyentuh apa yang sudah aku bayar dengan seluruh hidupku," bisik Keisha. Napasnya yang beraroma mint dan kopi menerpa bibir Widya. "Aku menyelamatkanmu dari neraka itu bukan untuk membiarkan pria rendahan lain menyentuhmu. Kamu paham?" Widya mengangguk lemah. "Paham, Keisha." "Aku ingin kamu hanya bergantung padaku. Aku ingin kamu merasa bahwa tanpa aku, kamu akan hancur kembali," lanjut Keisha. Ia mengambil selembar tisu basah dari dashboard dan dengan gerakan yang sangat teliti, ia mengusap punggung tangan Widya dan pundak Widya yang tadi sempat berdekatan dengan asisten pria itu. Ia mengusapnya berkali-kali seolah-olah ingin menghapus kuman yang tidak terlihat. "Hanya aku, Aura. Hanya sentuhanku yang boleh kamu rasakan." Setelah merasa "bersih", ekspresi Keisha tiba-tiba melunak. Ia mengecup kening Widya dengan lembut, sebuah perubahan emosi yang sangat cepat dan membingungkan bagi Widya. Keisha menarik Widya ke dalam pelukannya di kursi sempit itu. "Maafkan aku jika aku menakutimu," gumam Keisha di rambut Widya. "Aku hanya terlalu mencintaimu. Aku tidak tahu bagaimana cara membagimu dengan dunia. Kamu adalah satu-satunya hal yang murni dalam hidupku yang kotor ini." Widya memejamkan mata, membalas pelukan Keisha. Di satu sisi, ia merasa sangat tercekik oleh kontrol Keisha yang luar biasa. Namun di sisi lain, ada perasaan candu saat menyadari bahwa seseorang begitu menginginkannya hingga menjadi gila. Widya mulai merasa bahwa mungkin, memang inilah harga yang harus ia bayar untuk sebuah perlindungan. Ia bukan lagi manusia merdeka; ia adalah objek pemujaan Keisha, dan perlahan-lahan, ia mulai menerima peran itu. Keisha menghidupkan kembali mesin mobilnya, senyum puas kembali terukir di bibirnya. Ia telah berhasil memastikan bahwa hari ini, Widya kembali belajar sebuah pelajaran penting: dunia luar adalah ancaman, dan hanya di pelukan Keishalah ia aman—meskipun pelukan itu perlahan-lahan mematahkan sayapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD