Beberapa hari setelah insiden di butik, Widya—atau kini lebih dikenal sebagai Aura—menyadari bahwa duniaya telah menyusut. Ia tidak lagi dibawa ke studio foto atau pusat perbelanjaan. Keisha tampaknya telah memutuskan bahwa membawa Widya ke ruang publik terlalu berisiko bagi "ketenangan" mentalnya sendiri.
Pagi itu, Keisha menuntun Widya menuju sebuah pintu di sudut suite yang selama ini selalu terkunci. "Aku punya kejutan untukmu, Little Bird. Karena kamu sudah menjadi anak baik belakangan ini."
Keisha membuka pintu ganda itu, dan Widya terkesiap. Di hadapannya terbentang sebuah ruangan yang telah disulap menjadi perpaduan antara perpustakaan pribadi, studio seni, dan ruang santai yang sangat mewah. Dindingnya dilapisi rak buku yang menjulang tinggi, penuh dengan literatur klasik dan modern. Di sudut lain, terdapat peralatan lukis paling mahal dan sebuah piano besar berwarna putih.
"Kamu pernah bilang ingin belajar melukis dan membaca banyak buku, kan?" Keisha memeluk bahu Widya dari belakang. "Sekarang kamu punya segalanya di sini. Kamu tidak perlu pergi ke galeri, tidak perlu pergi ke perpustakaan kota. Semua yang kamu inginkan, aku bawa ke dalam ruangan ini."
Widya menyentuh tuts piano yang dingin. "Ini indah sekali, Keisha... tapi, apakah aku akan terus berada di sini?"
Keisha membalikkan tubuh Widya, menatapnya dengan pandangan yang dalam. "Di luar sana tidak ada apa-apa untukmu, Aura. Hanya ada orang-orang kasar seperti pamanmu, asisten butik yang lancang, dan polusi yang menyesakkan. Di sini, kamu aman. Di sini, kamu ratu. Aku sudah menyewa guru-guru terbaik untuk datang ke sini—tentu saja perempuan—untuk mengajarimu apa pun yang kamu mau."
Widya merasa hatinya mencelos. "Guru datang ke sini? Jadi aku tidak akan keluar lagi?"
"Kenapa kamu ingin keluar?" nada suara Keisha berubah sedikit lebih tajam. "Apa pelukanku tidak cukup hangat? Apa suite ini kurang luas untukmu? Aku memberikanmu dunia di atas langit Jakarta, Aura. Kamu tidak perlu menginjak aspal yang kotor lagi."
Keisha menuntun Widya ke arah meja kerja yang berisi sebuah laptop baru. "Aku sudah memasang koneksi internet khusus. Kamu bisa menjelajah dunia lewat layar ini, tapi aku sudah memblokir semua situs sosial media dan berita yang tidak perlu. Aku tidak ingin kamu terdistraksi oleh drama dunia luar yang tidak berguna."
Widya menatap laptop itu. Ia merasa seperti seorang putri di dalam menara, namun menaranya tidak memiliki tangga untuk turun. Keisha sedang mengisolasinya secara halus, memberikan segala kenyamanan materi agar Widya tidak menyadari bahwa ia sedang kehilangan kebebasan fundamentalnya.
"Malam ini, aku akan mengadakan jamuan makan malam kecil di sini," lanjut Keisha sambil membelai rambut Widya. "Hanya untuk kita berdua. Aku sudah memesan koki pribadi untuk memasak di dapur suite. Aku ingin merayakan 'kelahiran' Aura yang baru secara privat."
Keisha mencium kening Widya dengan sangat lama. "Jadilah cantik untukku malam ini. Pakai gaun merah yang kita beli kemarin. Aku ingin melihat karyaku yang paling indah bersinar di bawah lampu kristal ini."
Setelah Keisha pergi untuk bekerja di ruang sebelah, Widya duduk terdiam di tengah ruangan yang sangat indah itu. Ia dikelilingi oleh kemewahan yang diimpikan jutaan orang, namun ia merasa sangat kesepian. Ia mengambil sebuah buku, mencoba membaca, namun matanya terus tertuju pada pintu besar yang terkunci secara elektronik.
Ia mulai menyadari bahwa Keisha tidak hanya mencintainya; Keisha sedang mengoleksinya. Seperti lukisan mahal atau perhiasan langka, Widya disimpan dalam kotak yang aman dan indah, hanya untuk dinikmati oleh satu orang. Rasa aman yang dulu ia dambakan kini mulai terasa seperti beban yang sangat berat di pundaknya.
Malam itu, suite 909 berubah menjadi panggung teatrikal yang megah. Cahaya lampu kristal diredupkan, digantikan oleh puluhan lilin aromaterapi yang mengeluarkan wangi mawar hitam dan vanila—aroma favorit Keisha yang kini mulai meresap ke dalam pori-pori kulit Widya. Meja makan kayu jati itu telah ditata dengan peralatan makan perak dan gelas kristal yang berkilau di bawah cahaya temaram.
Widya berdiri di depan cermin, menatap pantulannya. Gaun merah sutra itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk bahunya yang kini tak lagi memar, namun di lehernya, kalung kunci emas itu seolah bersinar lebih terang dari biasanya. Ia merasa cantik, tapi ia juga merasa asing. Gadis yang dulu berlari ketakutan dari rumah pamannya kini tampak seperti bangsawan, namun matanya kehilangan binar liar yang dulu pernah ada.
Pintu terbuka, dan Keisha masuk dengan gaun malam hitam yang sangat elegan. Ia berhenti sejenak, menatap Widya dengan pandangan lapar yang tak tertutupi.
"Sempurna," bisik Keisha sambil berjalan mendekat. Ia meletakkan tangannya di pinggang Widya, menatap pantulan mereka berdua di cermin. "Lihat dirimu, Aura. Kamu bukan lagi gadis kecil yang malang. Kamu adalah mahakaryaku. Apakah kamu menyukai semua ini?"
"Ini... sangat indah, Keisha. Terima kasih," jawab Widya, suaranya terdengar seperti hafalan.
Keisha menuntunnya ke meja makan. Koki pribadi yang disewa Keisha telah menyajikan hidangan pembuka yang artistik, namun Keisha segera menyuruh koki itu pergi setelah semua makanan tersaji. Ia ingin privasi total. Hanya ada mereka berdua, suara musik klasik yang mengalun pelan, dan denting sendok yang sesekali beradu dengan piring.
"Aku sudah mengatur jadwalmu untuk minggu depan," ucap Keisha sambil menyesap wine merahnya. "Guru pianomu akan datang setiap Senin dan Rabu. Guru seni setiap Selasa. Dan sisanya... waktumu adalah milikku. Aku ingin kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengenal satu sama lain tanpa gangguan dunia luar."
Widya meletakkan garpunya. "Keisha, apakah aku boleh sesekali turun ke lobi? Hanya untuk melihat orang-orang atau sekadar menghirup udara yang tidak melewati filter AC?"
Keisha berhenti mengunyah. Suasana yang tadinya hangat tiba-tiba mendingin secara drastis. Ia meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras hingga membuat Widya berjengit.
"Kenapa, Aura? Apa semua yang ada di sini belum cukup?" tanya Keisha dengan nada rendah yang berbahaya. "Udara di luar sana penuh dengan kotoran. Orang-orang di bawah sana hanya akan mengingatkanmu pada rasa sakit. Apakah kamu begitu merindukan pamanmu hingga ingin melihat dunia yang membiarkanmu disiksa?"
"Bukan begitu, aku hanya—"
"Aku melakukan semua ini untukmu!" Keisha bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja, berdiri tepat di belakang Widya. Ia membungkuk, membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Widya. "Aku menghabiskan jutaan dolar untuk memastikan kamu aman. Aku mempertaruhkan reputasiku untuk melindungimu. Dan sekarang kamu memintaku untuk membiarkanmu pergi ke tempat di mana siapa pun bisa melihatmu, menyentuhmu, atau membawamu pergi dariku?"
Keisha mencengkeram bahu Widya, tidak cukup keras untuk menyakiti, namun cukup kuat untuk menunjukkan d******i. "Jangan pernah meminta itu lagi. Kamu tidak tahu betapa gelapnya dunia di luar sana bagi gadis sepertimu. Hanya di sini, di bawah pengawasanku, kamu tetap berharga."
Widya menunduk, air mata jatuh ke atas piring porselennya. Ia merasa bersalah karena telah bertanya, namun di saat yang sama, ia merasa jiwanya seperti sedang dicekik oleh kain sutra yang sangat halus.
Keisha menyadari air mata itu. Ia segera melunakkan sikapnya, berlutut di samping kursi Widya dan menggenggam tangannya. Inilah siklus yang selalu dilakukan Keisha: menekan, lalu memberikan kasih sayang yang berlebihan.
"Jangan menangis, sayang. Aku hanya sangat takut kehilanganmu," ucap Keisha dengan nada menyesal yang sangat meyakinkan. Ia menghapus air mata Widya dengan ibu jarinya. "Malam ini seharusnya menjadi perayaan. Aku punya satu hadiah lagi untukmu."
Keisha merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah cincin berlian kecil yang sangat indah. Ia memasangkannya di jari manis Widya. "Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah janjiku bahwa aku akan menjagamu selamanya. Dan janjimu... bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkanku."
Widya menatap cincin itu. Cahayanya memantulkan ribuan warna, namun bagi Widya, cincin itu terasa seperti borgol yang paling indah yang pernah diciptakan manusia. Ia tidak punya pilihan selain mengangguk dan tersenyum paksa.
"Aku tidak akan pergi, Keisha," bisik Widya.
Keisha tersenyum puas, sebuah kemenangan mutlak terpancar dari wajahnya. Ia menarik Widya berdiri dan membawanya menuju balkon, di mana mereka berdiri di bawah taburan bintang Jakarta. Di mata dunia, mereka adalah pasangan yang sempurna dan penuh kemewahan. Namun di dalam hati Widya, ia mulai menyadari bahwa ia telah menukar satu jenis penderitaan dengan jenis penderitaan lain yang lebih cantik: sebuah kepemilikan mutlak yang tak menyisakan ruang bagi dirinya sendiri untuk bernapas.