BAB 10: Retakan di Dinding Kaca

1147 Words
Kehidupan di dalam "Sangkar Emas" mulai terasa seperti rutinitas yang mematikan. Widya menghabiskan harinya dengan membaca buku yang dipilihkan Keisha, berlatih piano di bawah pengawasan guru yang sangat kaku, dan menunggu suara kunci pintu elektronik berdenting—tanda bahwa sang pemilik telah pulang. Namun, sore itu, segalanya berubah. Keisha sedang berada di kantor pusat untuk pertemuan darurat, dan untuk pertama kalinya, ia lupa membawa salah satu ponsel rahasianya yang tertinggal di atas meja kerja di dalam suite. Ponsel itu bergetar. Widya, yang awalnya ragu, akhirnya mendekat karena rasa penasaran yang tak terbendung. Sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama. “Apakah kamu sudah menemukan pengganti barumu, Keisha? Atau gadis malang itu sudah berakhir di rumah sakit seperti yang terakhir?” Darah Widya seolah membeku. Pengganti baru? Berakhir di rumah sakit? Siapa yang mengirim pesan ini? Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponsel itu berdering. Sebuah panggilan video. Tanpa sadar, Widya menekan tombol terima. Di layar muncul wajah seorang wanita cantik, namun tampak sangat lelah dan memiliki bekas luka tipis di sudut bibirnya. Wanita itu tertegun melihat Widya. "Siapa kamu?" tanya wanita di layar itu dengan suara bergetar. "Apakah kamu... mainan barunya?" "Aku... aku Aura. Siapa Anda?" suara Widya hampir tidak keluar. Wanita itu tertawa pahit. "Aura? Nama yang bagus. Keisha selalu suka mengganti nama kita sesuai seleranya. Namaku Sarah. Aku adalah 'Aura' sebelum kamu. Dengarkan aku, Gadis Kecil. Larilah selagi kamu masih punya kaki untuk berlari." "Apa maksud Anda? Keisha menyelamatkanku. Dia baik sekali padaku," bela Widya, meskipun tangannya gemetar hebat. "Dia menyelamatkanmu agar dia bisa memilikimu sendirian," Sarah mendekatkan wajahnya ke kamera, matanya memancarkan ketakutan yang murni. "Dia akan memberikanmu segalanya—emas, permata, cinta yang membakar—sampai kamu merasa tidak bisa bernapas tanpanya. Dan saat kamu mencoba meminta sedikit saja kebebasan, kamu akan melihat monster yang sebenarnya. Lihat bekas luka ini? Ini karena aku mencoba keluar dari hotel itu tanpa seizinnya." Tiba-tiba, suara pintu depan suite berbunyi. Klik. Widya segera mematikan ponsel itu dan meletakkannya kembali ke posisi semula, lalu berlari ke sofa dan berpura-pura membaca buku. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa pingsan. Keisha masuk dengan wajah yang tampak lelah namun langsung cerah saat melihat Widya. "Halo, Little Bird. Maaf aku terlambat." Keisha menghampiri Widya, mengecup keningnya, lalu matanya beralih ke meja kerja. Ia melihat ponselnya yang sedikit bergeser dari posisi awal. Suasana di ruangan itu mendadak berubah. Senyum di bibir Keisha tidak hilang, namun matanya mendingin. "Aura, sayang," panggil Keisha dengan nada yang sangat lembut namun terasa tajam. "Apakah ada yang menyentuh ponselku tadi?" Widya menahan napas. "T-tadi berdering... aku hanya ingin melihat siapa yang menelepon." Keisha berjalan perlahan menuju meja, mengambil ponsel itu, dan memeriksa log panggilan. Keheningan yang mengikuti terasa sangat mencekam, lebih berat dari badai mana pun yang pernah Widya alami. Keisha berbalik, wajahnya kini tanpa ekspresi, seolah-olah topeng manusianya baru saja jatuh. "Apa yang dia katakan padamu?" tanya Keisha. Suaranya sangat rendah, hampir seperti bisikan iblis. "Dia... dia bilang dia Sarah. Dia bilang aku harus lari," Widya mulai menangis. "Keisha, apa itu benar? Apa yang terjadi padanya?" Keisha berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman palu hakim. Ia mencengkeram rahang Widya, memaksanya mendongak. Tidak ada kelembutan kali ini. Hanya ada obsesi murni yang gelap dan menakutkan. "Sarah adalah seorang pengkhianat," desis Keisha. "Aku memberinya duniaku, dan dia mencoba menghancurkannya dengan mencoba pergi dariku. Dia tidak tahu cara berterima kasih. Apakah kamu juga ingin menjadi seperti dia, Aura? Apakah kamu ingin mengkhianati cinta yang sudah menyelamatkanmu dari selokan?" "Tidak, Keisha... aku hanya bertanya—" "Jangan pernah mendengarkan suara dari masa lalu," Keisha memeluk Widya dengan kekuatan yang menyakitkan, seolah ingin menyatukan tubuh mereka. "Hanya suaraku yang benar. Hanya aku yang mencintaimu. Jika kamu mendengarkan orang lain lagi, aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa mendengar suara apa pun lagi selamanya. Apa aku jelas?" Widya hanya bisa menangis sesenggukan dalam pelukan yang kini terasa seperti lilitan ular piton. Rahasia tentang Sarah telah membuka matanya: sangkar emas ini bukan hanya tempat perlindungan, tapi juga tempat di mana identitas manusia dihancurkan hingga hanya tersisa kepatuhan. Widya menyadari bahwa ia tidak sedang dicintai; ia sedang dikonsumsi. Keisha tidak berteriak. Ia tidak memukul. Namun, keheningan yang ia ciptakan jauh lebih menyiksa daripada kemarahan yang meledak-ledak. Ia melepaskan cengkeramannya pada rahang Widya, lalu berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Ia berdiri di sana mematung, membelakangi Widya, membiarkan rasa bersalah mulai merayap dan membakar hati gadis itu. "Setelah semua yang aku lakukan... kamu masih memilih untuk meragukanku karena ucapan seorang wanita gila," suara Keisha terdengar sangat terluka, sebuah nada yang dibuat dengan sangat rapi untuk memicu rasa iba Widya. "Keisha, maafkan aku... aku tidak bermaksud—" "Masuk ke kamarmu, Aura," potong Keisha tanpa menoleh. "Aku tidak ingin melihatmu malam ini. Mungkin kamu butuh waktu untuk merenungkan apakah kamu lebih memilih dunia luar yang kejam itu, atau tempat ini." Widya berjalan masuk ke kamarnya dengan langkah gontai. Namun, saat ia mencoba menutup pintu, ia menyadari sesuatu yang membuatnya merinding. Kunci pintu kamarnya kini dikendalikan secara otomatis dari luar. Klik. Suara pengunci elektronik itu terdengar sangat final. Keisha baru saja menguncinya di dalam. Malam itu, suite yang biasanya terang benderang menjadi gelap gulita. Keisha mematikan semua lampu dari panel kendali pusat. Widya duduk di pojok tempat tidurnya, memeluk lututnya dalam kegelapan. Tidak ada suara, tidak ada televisi, tidak ada internet. Keisha sedang melakukan "sensor sensorik"—sebuah metode untuk membuat Widya merasa benar-benar sendirian dan tidak berdaya tanpa kehadirannya. Tengah malam, pintu kamar terbuka sedikit. Cahaya dari lorong masuk, menampilkan bayangan tinggi Keisha yang berdiri di ambang pintu. Ia membawa segelas s**u hangat dan sebuah nampan kecil. Keisha mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Ia mengelus rambut Widya yang berantakan dengan sangat lembut, seolah-olah kemarahan tadi tidak pernah terjadi. "Kamu kedinginan, sayang?" Widya hanya bisa mengangguk sambil terisak pelan. Ia sudah terlalu lelah secara mental untuk melawan. "Lihat betapa rapuhnya kamu tanpa aku," bisik Keisha sambil menyuapkan s**u itu ke bibir Widya. "Dunia luar hanya akan menghancurkanmu dalam hitungan jam, Aura. Sarah mencoba pergi, dan lihat apa yang terjadi padanya? Dia kehilangan segalanya. Aku tidak ingin itu terjadi padamu karena aku sangat, sangat mencintaimu." Widya meminum s**u itu, merasakan kehangatan yang semu. Ia mulai merasa bingung. Apakah Sarah benar-benar gila? Ataukah Keisha adalah pelindung yang memang harus bersikap keras demi kebaikannya? Inilah kemenangan terbesar Keisha: ia berhasil membuat Widya mulai meragukan kewarasannya sendiri dan kembali bergantung pada satu-satunya orang yang memegang kendali atas hidupnya. "Tidurlah," ucap Keisha sambil menyelimuti Widya dan mencium keningnya dalam-dalam. "Besok pagi, kita akan melupakan semua ini. Kamu akan menjadi Aura-ku yang patuh lagi, kan?" "Iya, Keisha..." jawab Widya lirih, hampir tidak terdengar. Saat Keisha keluar dan kembali mengunci pintu, Widya menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia tahu ia harus lari, tapi ia juga sadar bahwa rantai yang mengikatnya sekarang bukan lagi terbuat dari besi, melainkan dari ketergantungan mental yang jauh lebih sulit untuk dipatahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD