BAB 32: Rahasia Darah yang Terlarang

1069 Words
Satu tahun telah berlalu, namun kedamaian di Provence tidak benar-benar bisa menghapus bayang-bayang masa lalu. Widya sedang merapikan beberapa arsip lama yang dikirimkan dari Jakarta—sisa-sisa peninggalan orang tuanya yang baru saja selesai diproses oleh tim hukum. Di dalam sebuah amplop yang tersembunyi di balik sampul buku harian ibunya, Widya menemukan sebuah catatan medis dan surat pernyataan yang sudah menguning. Saat ia membacanya, tangannya gemetar. Keisha masuk ke dalam studio, merasakan perubahan atmosfer yang mendadak dingin. "Widya? Ada apa?" tanya Keisha, langkahnya terhenti saat melihat wajah Widya yang pucat pasi. Widya mengangkat surat itu. "Keisha... ini alasan kenapa keluarga kita dulu begitu keras melarang hubungan orang tua kita, dan kenapa mereka sangat menentang kita sekarang. Ini bukan hanya soal persaingan bisnis atau dendam." Widya menyerahkan surat itu. Di sana tertera sebuah rahasia medis yang selama ini ditutupi dengan rapat. Ibu Widya dan ayah Keisha ternyata pernah terikat dalam sebuah hubungan yang sangat gelap di masa muda mereka, sebuah hubungan yang hampir saja menyatukan darah mereka secara tidak sah. "Kakekmu tidak menjodohkan kita, Keisha," ucap Widya dengan suara parau. "Dia justru meninggalkan wasiat untuk memastikan kita tidak pernah bertemu. Karena bagi keluarga besar kita di Indonesia, hubungan kita dianggap sebagai aib yang melanggar norma darah. Mereka menganggap kita membawa kutukan." Keisha membaca dokumen itu dengan rahang yang mengeras. Ia melihat bagaimana keluarga mereka telah memanipulasi informasi agar mereka berdua saling membenci dan menjauh. Cinta mereka bukan hanya terlarang karena dendam, tapi karena ada garis keturunan yang hampir bersinggungan di masa lalu—sebuah tabu yang sangat besar bagi adat keluarga mereka. "Jadi... selama ini mereka mencoba menghancurkan kita karena mereka takut pada 'skandal darah' ini?" Keisha meremas kertas itu hingga hancur. Matanya berkilat oleh amarah yang membara. Keisha melangkah mendekat, mencengkeram bahu Widya dengan sangat posesif. "Aku tidak peduli pada apa yang mereka sebut kutukan atau tabu, Widya. Jika darah kita dianggap terlarang oleh mereka, maka biarlah kita menjadi satu-satunya alasan dinasti ini berakhir. Aku tidak akan membiarkan aturan kuno dari Indonesia mengatur siapa yang boleh aku cintai!" Gairah yang muncul kali ini terasa jauh lebih liar dan menantang. Mengetahui bahwa hubungan mereka dianggap sebagai "dosa besar" oleh keluarga mereka justru membuat api di antara mereka semakin besar. Mereka saling memiliki bukan karena restu, melainkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap dunia yang mencoba memisahkan mereka. Di tengah studio seni itu, di antara lukisan-lukisan yang menggambarkan perjuangan hidup, Keisha mencium Widya dengan rasa lapar yang menuntut. Ini adalah sebuah ciuman yang menyatakan bahwa mereka tidak lagi butuh pengakuan dari siapa pun. "Biarkan mereka menyebut kita terlarang," bisik Keisha di depan bibir Widya. "Karena bagi aku, kamu adalah satu-satunya kebenaran yang aku miliki." Malam itu, mereka merayakan cinta mereka dengan intensitas yang luar biasa—sebuah penyatuan yang terasa seperti sebuah pembangkangan terhadap takdir. Di bawah langit Prancis, mereka membuang semua beban adat dan norma yang mengekang mereka dari Indonesia, memilih untuk menulis sejarah mereka sendiri yang berdarah dan membara. Widya menatap surat di tangannya dengan perasaan yang hancur. Di Indonesia, tanah kelahirannya, hubungan mereka bukan hanya dianggap sebagai skandal, melainkan sebagai sebuah penyimpangan yang bisa membuat mereka dikucilkan secara total dari hukum adat maupun masyarakat. Ia membayangkan wajah-wajah kaku para tetua keluarganya di Jakarta yang akan menatapnya dengan rasa jijik jika tahu bahwa ia telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada seorang wanita. "Keisha... jika kita kembali, mereka akan menghancurkan kita. Di mata mereka, kita adalah aib yang harus dihapuskan," bisik Widya, suaranya gemetar membayangkan kekuatan hukum dan norma di negaranya yang tidak pernah memberi ruang bagi cinta sejender seperti mereka. Keisha melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. Ia mengambil surat itu dari tangan Widya dan, tanpa ragu sedikit pun, membakarnya dengan pemantik api perak miliknya. Ia membiarkan kertas itu menjadi abu di lantai marmer studio mereka. "Dengarkan aku baik-baik, Widya," suara Keisha terdengar rendah namun penuh dengan getaran otoritas yang mematikan. "Aku tidak peduli pada undang-undang yang mencoba mengatur detak jantungku. Aku tidak peduli pada keluarga yang hanya menghargai darah namun membuang cinta. Jika Indonesia menolak kita, maka kita akan menciptakan dunia kita sendiri di sini." Keisha mencengkeram pinggang Widya, menariknya masuk ke dalam pelukannya yang keras dan posesif. Matanya berkilat menantang, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan seluruh dewan keluarga besar mereka di Jakarta. "Aku sanggup menentang apa pun. Aku sanggup kehilangan seluruh asetku di Jakarta, aku sanggup dihapus dari silsilah keluarga, asalkan saat aku bangun di pagi hari, wajahmu adalah hal pertama yang aku lihat." Gairah yang meledak di antara mereka kali ini dipicu oleh rasa pemberontakan yang murni. Di tengah masyarakat yang menganggap hubungan mereka sebagai "cinta yang sakit", Keisha justru menjadikannya sebagai sebuah agama. Ia mencium Widya dengan liar—sebuah ciuman yang merupakan tantangan terbuka bagi siapa pun yang berani menyebut hubungan mereka salah. Widya merasakan panas tubuh Keisha meresap ke dalam kulitnya, memberikan keberanian yang sebelumnya tidak pernah ia miliki. Di tangan wanita ini, ia bukan lagi korban yang lemah. Ia adalah bagian dari sebuah aliansi cinta terlarang yang paling kuat. Di Paris, mereka mungkin telah sah sebagai pasangan, namun di batin mereka, perjuangan melawan dunia yang menolak mereka baru saja dimulai. Keisha mengangkat Widya, mendudukkannya di atas meja kerja yang penuh dengan sketsa lukisan. Di bawah cahaya lampu studio yang temaram, mereka menyatu dalam sebuah ritual penyembahan yang sangat intens. Sentuhan Keisha terasa begitu memuja, seolah ia ingin membuktikan bahwa tidak ada undang-undang di dunia ini yang sanggup menghentikan cara ia mencintai Widya. Penyatuan mereka malam itu terasa sangat sensasional dan penuh dengan amarah yang indah. Setiap desahan Widya adalah bentuk pembangkangan terhadap aturan yang mengekangnya di masa lalu. Keisha memberikan stimulasi yang sangat panas, menuntut pengabdian total dari Widya, sementara ia sendiri menyerahkan seluruh hidupnya demi melindungi hubungan ini. "Biarkan mereka menyebut kita berdosa," rintih Widya di sela-sela napasnya yang memburu. "Karena jika ini adalah dosa, aku tidak ingin pernah diampuni." Keisha membenamkan wajahnya di leher Widya, menghirup aroma keberanian istrinya. "Kita tidak butuh pengampunan mereka, Widya. Kita hanya butuh satu sama lain. Siapa pun yang mencoba memisahkan kita, baik itu hukum atau keluarga, mereka harus melewati mayatku terlebih dahulu." Malam itu, di dalam studio yang terisolasi dari dunia luar, Widya dan Keisha mengukuhkan sumpah mereka kembali. Mereka adalah dua wanita yang memilih untuk hidup dalam "kesalahan" yang paling indah menurut dunia, demi sebuah kebenaran yang hanya mereka berdua pahami. Cinta terlarang mereka kini bukan lagi sebuah rahasia yang memalukan, melainkan sebuah bendera kemenangan yang mereka kibarkan tinggi-tinggi di atas langit Eropa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD