BAB 31: Takhta di Atas Seine

1052 Words
Paris kembali menyambut mereka dengan kemegahan yang dingin. Namun kali ini, atmosfer di sekitar Widya dan Keisha telah berubah total. Tidak ada lagi keraguan di mata Widya, dan tidak ada lagi rahasia di balik sikap posesif Keisha. Mereka kembali ke apartemen Place Vendôme bukan sebagai penawan dan tawanan, melainkan sebagai dua ratu yang siap mengambil kembali takhta mereka. Pagi itu, Widya berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah sungai Seine. Ia memegang dokumen asli dari bank di Lyon. Di sampingnya, Keisha sedang menyesap kopi hitam, matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan persiapan konferensi pers di aula utama Grand Palais. "Dunia akan mencoba menjatuhkanmu saat mereka tahu kebenaran ini, Widya," ucap Keisha lembut. Ia melangkah mendekat, memeluk pinggang Widya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Mereka akan menggali setiap detail hidupmu. Apakah kamu benar-benar siap menjadi pusat badai?" Widya berbalik dalam dekapan Keisha, jarinya menelusuri rahang tajam wanita yang telah melindunginya dengan cara yang paling ekstrem itu. "Selama kamu ada di sampingku, badai itu hanya akan menjadi latar belakang lukisanku, Keisha. Aku ingin dunia tahu bahwa ayahku adalah orang baik, dan aku ingin mereka tahu bahwa aku adalah istrimu karena pilihanku sendiri, bukan karena paksaan." Keisha tersenyum—sebuah senyum langka yang penuh dengan kekaguman. Ia mencium bibir Widya dengan intensitas yang tenang namun membara, sebuah janji bahwa ia akan menjadi tameng terkuat Widya di hadapan ribuan kamera nanti. Konferensi pers itu menjadi peristiwa paling sensasional di Paris tahun ini. Ribuan jurnalis dari seluruh dunia berkumpul. Saat Widya melangkah masuk ke podium dengan gaun merah darah yang memukau, suasana seketika hening. Di belakangnya, Keisha berdiri dengan setelan jas hitam yang sangat berwibawa, memancarkan aura kekuasaan yang tak tergoyahkan. Widya berbicara dengan suara yang stabil dan berwibawa. Ia membongkar semua bukti pengkhianatan Jean-Paul, menunjukkan rekaman suara yang membuktikan sabotase terhadap ayahnya, dan menjelaskan bagaimana keluarga Keisha juga menjadi korban pemerasan selama puluhan tahun. "Ayahku bukan seorang pengkhianat. Dia adalah korban dari keserakahan yang tersembunyi di balik topeng persahabatan," tegas Widya. "Dan hari ini, saya berdiri di sini bersama istri saya, Keisha, untuk menyatakan bahwa kami tidak akan lagi hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Kami adalah masa depan." Kilatan lampu kamera membanjiri ruangan. Skandal yang tadinya dianggap akan menghancurkan mereka justru berubah menjadi kisah cinta dan keadilan yang paling epik. Reputasi ayah Widya pulih seketika, dan saham perusahaan Keisha justru melonjak karena publik mengagumi keberanian mereka. Setelah acara selesai, mereka kembali ke ruang privat di belakang panggung. Adrenalin dari kemenangan itu memicu gairah yang luar biasa di antara mereka. Keisha mendorong Widya ke pintu yang baru saja terkunci, menciumnya dengan rasa lapar yang liar—sebuah perayaan atas kebebasan mereka yang baru saja diraih. "Kamu luar biasa, Widya," desah Keisha di sela-sela ciumannya yang panas. "Kamu baru saja menaklukkan Paris." "Aku tidak menaklukkan Paris, Keisha," balas Widya sambil menarik dasi Keisha agar wajah mereka semakin merapat. "Aku menaklukkan rasa takutku. Dan sekarang, aku ingin merayakan kemenangan ini hanya bersamamu." Di ruang privat yang mewah itu, di tengah hiruk-pikuk dunia yang sedang membicarakan keberanian mereka, Widya dan Keisha menyatu dalam gairah yang paling jujur dan mendalam. Tidak ada lagi beban, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada dua jiwa yang telah memenangkan perang mereka sendiri dan kini siap untuk menguasai dunia bersama-sama. Di dalam ruang privat Grand Palais yang berhias dinding beludru dan emas, suara riuh rendah wartawan di luar sana terdengar seperti dengungan lebah yang jauh dan tak berarti. Widya bisa merasakan getaran di balik pintu yang ia sandari saat Keisha menekankan seluruh berat tubuhnya pada dirinya. Gairah yang meledak kali ini bukan lagi tentang pelarian atau rasa takut, melainkan tentang sebuah kemenangan mutlak—sebuah proklamasi bahwa mereka telah merdeka. Keisha melepaskan jas hitamnya dan membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai marmer. Matanya yang gelap menatap Widya dengan intensitas yang nyaris bisa membakar. "Kamu tidak tahu seberapa besar keinginanku untuk membawamu pergi dari podium itu saat melihat semua mata pria di ruangan itu memujamu, Widya," bisik Keisha, suaranya serak oleh obsesi yang kini bercampur dengan rasa bangga yang luar biasa. Widya tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh dengan kepercayaan diri yang baru. Ia melingkarkan lengannya di leher Keisha, menarik wanita itu semakin dekat hingga tak ada lagi udara di antara mereka. "Biarkan mereka melihat, Keisha. Biarkan dunia tahu siapa yang memiliki hatiku sepenuhnya. Tapi hanya kamu yang bisa memiliki sisa malam ini." Keisha tidak lagi menahan diri. Ia mencium Widya dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan pertahanan apa pun. Ciuman itu terasa sangat sensasional; rasa manis dari lipstik merah Widya berpadu dengan aroma kemenangan yang maskulin dari Keisha. Tangan Keisha yang kuat bergerak dengan sangat posesif, menjelajahi lekuk tubuh Widya di balik gaun merah darahnya, seolah sedang memetakan wilayah kekuasaan yang baru saja ia bebaskan dari bayang-bayang masa lalu. Mereka bergerak menuju sofa kulit yang terletak di sudut ruangan yang temaram. Di sana, di tengah kemewahan yang sunyi, mereka menyatu dalam sebuah tarian gairah yang sangat harmonis. Setiap sentuhan Keisha terasa seperti sebuah pujian, dan setiap balasan dari Widya adalah sebuah pengakuan bahwa ia adalah milik wanita ini karena cinta, bukan karena paksaan sejarah. Penyatuan mereka di ruang privat itu terasa sangat puitis namun liar. Widya merasakan ledakan kenikmatan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya, karena kali ini, hatinya benar-benar bebas. Ia menatap mata Keisha saat mereka mencapai puncak kenikmatan bersama, menemukan bayangannya sendiri yang tampak begitu kuat dan dicintai di sana. "Kita sudah menang, sayang," gumam Keisha sambil memeluk Widya yang masih terengah-engah. Ia menyeka keringat di kening Widya dengan jemarinya yang gemetar. "Mulai besok, tidak akan ada lagi orang yang berani mempertanyakan namamu atau cintaku padamu." Widya menyandarkan kepalanya di d**a Keisha, mendengarkan detak jantung wanita itu yang mulai melambat namun tetap kuat. "Dan mulai besok, aku akan melukis sesuatu yang baru. Bukan lagi tentang kegelapan, tapi tentang cahaya yang kita ciptakan bersama di atas reruntuhan masa lalu." Keisha mengecup bahu Widya yang terbuka, memberikan perlindungan yang kini terasa sangat menenangkan. Mereka tetap berada di sana, berpelukan di tengah keheningan yang mahal, menyadari bahwa di luar sana dunia mungkin sedang berubah karena pengakuan mereka, namun di dalam ruangan ini, dunia mereka telah sempurna. Inilah saat di mana Widya sang pelukis dan Keisha sang penguasa benar-benar menjadi satu—bukan lagi sebagai dua individu yang terluka, melainkan sebagai sebuah mahakarya abadi yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD